Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanvas Darah dan Debu
Hujan di Reruntuhan Kuil Tinta tidak pernah berhenti sepenuhnya. Ia hanya berubah intensitas, dari deru yang memekakkan telinga menjadi desisan halus yang merayap masuk ke dalam celah-celah tulang belulang bangunan kuno. Bagi Ren Zexian, suara itu adalah penghitung waktu. Setiap tetesan adalah detik yang mendekatkan dirinya pada ujian pertama yang sesungguhnya.
Ia bersembunyi di balik pilar batu yang retak, napasnya ditahan hingga paru-parunya terasa terbakar. Di tangannya, pisau obsidian Master Wei terasa dingin dan licin karena keringat. Di saku lainnya, kuas patahnya siap ditarik keluar kapan saja.
Di tengah aula utama yang terbuka ke langit malam, tiga sosok bergerak dengan gelisah. Mereka bukan praktisi sekte besar. Mereka adalah "Pemakan Sisa"—preman tingkat rendah yang mengais sisa-sisa artefak rusak dari reruntuhan untuk dijual di pasar gelap. Pakaian mereka compang-camping, dipenuhi tambalan kulit hewan, dan wajah-wajah mereka kasar, penuh bekas luka dan keserakahan.
"Sepi sekali malam ini," gerutu salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan kapak besi tumpul di punggungnya. Ia menendang tumpukan pecahan genting. "Aku berharap ada tikus besar yang tersesat ke sini. Aku butuh uang untuk membeli pil penyembuh lututku."
"Diamlah, Bao," sahut temannya, seorang pria kurus dengan mata jelalatan yang memegang tombak bambu runcing. "Master Wei bilang area ini angker. Ada roh-roh kaligrafer gagal yang berkeliaran."
"Begitu-begitu saja kau," ejek Bao. "Roh? Aku akan menghancurkan roh siapa pun yang mencoba mengambil harta karunku!"
Ren mengamati mereka dari kegelapan. Mata Void-nya bekerja otomatis, memetakan struktur tubuh ketiga pria itu. Ia melihat aliran Qi mereka yang kacau, postur kuda-kuda yang buruk, dan celah-celah defensif yang lebar seperti pintu gerbang yang dibiarkan terbuka. Secara teknis, mereka lemah. Sangat lemah dibandingkan dengan Master Wei, atau bahkan dibandingkan dengan para penjaga elit di Paviliun Awan.
Tapi kelemahan bukan berarti tidak berbahaya. Seekor anjing gila tetap bisa menggigit lehermu sampai putus jika kau lengah. Dan Ren tahu, dia tidak boleh lengah. Ini bukan latihan di mana Wei akan menghentikan serangan tepat sebelum mengenai vitalnya. Ini adalah pertarungan hidup dan mati. Jika ia kalah, Lin akan sendirian. Dan Lin tidak akan bertahan lama tanpa obat.
"Ingat," suara Wei bergema dalam ingatannya, "Jangan melawan kekuatan dengan kekuatan. Temukan kesalahan dalam kalimat mereka, lalu hapus kata itu."
Ren menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan nyeri di tulang rusuknya akibat latihan semalam, tapi ia mengubah rasa sakit itu menjadi fokus. Ia membuka matanya kembali. Dunia menjadi hitam putih. Garis-garis struktur muncul.
Ia memilih targetnya: si pria kurus dengan tombak. Dia yang paling waspada, tapi juga yang paling gemetar. Ketakutan adalah tinta yang encer; mudah tersebar.
Ren melangkah keluar dari bayangan.
Langkah kakinya tidak bersuara, tapi kehadiran seseorang di ruang kosong selalu terasa. Si pria kurus, yang bernama Jiro, segera menoleh. Matanya membelalak saat melihat sosok muda berbaju lusuh berdiri di tengah hujan.
"Siapa kau?!" teriak Jiro, mengangkat tombaknya. Ujung bambu yang diruncingkan itu bergetar, menunjuk langsung ke dada Ren.
Bao dan rekan ketiganya, seorang pendekar pedang kecil, berbalik dengan sigap. Mereka mengelilingi Ren, membentuk formasi segitiga longgar.
"Aku hanya lewat," kata Ren, suaranya datar, tanpa emosi. "Letakkan barang-barang curian itu, dan kalian bisa pergi dengan nyawa utuh."
Bao tertawa terbahak-bahak, suara yang kasar dan memecah keheningan malam. "Dengar itu, anak kecil! Dia minta kita meletakkan harta! Kau pikir kau siapa? Pahlawan dari cerita rakyat?"
"Aku adalah orang yang tidak punya waktu untuk omong kosong," jawab Ren. Tangannya bergerak cepat ke pinggang, namun bukan untuk mengambil pisau. Ia mengambil kuas patahnya.
Jiro, yang merasa diremehkan, menerjang lebih dulu. "Mati saja kau!"
Tombak bambu itu menusuk ke arah tenggorokan Ren dengan kecepatan yang mengejutkan bagi seorang amatir. Angin dari ujung tombak menyayat udara.
Ren tidak mundur. Ia melangkah maju, masuk ke dalam jangkauan serangan. Dengan gerakan pergelangan tangan yang minimal, ia menggoreskan kuasnya di udara, tepat di jalur lintasan tombak.
Karakter "Belok" (Wan).
Goresan itu tipis, hampir tak terlihat, tapi efeknya instan. Ujung tombak Jiro tiba-tiba terpental ke samping, seolah-olah menabrak dinding kaca tak kasat mata. Jiro kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhuyung ke depan.
Dalam sepersekian detik, Ren sudah berada di sampingnya. Ia tidak menggunakan teknik mematikan. Ia menggunakan gagang kuasnya untuk menekan titik saraf di belakang leher Jiro.
Tek.
Jiro roboh seperti boneka kain, lumpuh total, matanya masih terbuka lebar dalam kebingungan sebelum kesadaran menghilang.
Satu down.
"Jiro!" teriak Bao. Wajahnya berubah dari ejekan menjadi kemarahan murni. Ia mencabut kapak besinya dan menerjang Ren dengan gaya banteng yang mengamuk. Rekan ketiganya, si pendekar pedang, menyerang dari sisi kiri, mencoba menjepit Ren.
Ren menyadari kesalahannya. Ia terlalu fokus pada satu target. Sekarang ia terjepit.
Ia melompat ke belakang, menghindari ayunan kapak Bao yang menghancurkan lantai batu di tempat ia berdiri sebelumnya. Serpihan batu beterbangan, melukai pipinya. Dari sisi kiri, bilah pedang pendek itu menebas udara, nyaris mengiris lengan bajunya.
Ren mendarat dengan kaki yang goyah. Napasnya mulai memburu. Dua lawan sekaligus. Formasi mereka buruk, tapi jumlah mereka memberikan keunggulan tekanan.
"Panik adalah tinta yang menodai kertas," bisik hati Ren. "Tenang. Lihat strukturnya."
Ia mengamati gerakan Bao. Kapak itu berat. Setiap ayunan membutuhkan momentum besar. Setelah ayunan gagal, ada jeda setengah detik di mana Bao harus menarik kembali senjatanya. Itu adalah celah.
Si pendekar pedang lebih cepat, tapi serangannya dangkal. Ia takut terluka. Itu adalah kelemahan psikologis.
Bao mengayunkan kapaknya lagi, kali ini secara horizontal, mencoba memotong Ren menjadi dua. Ren tidak menghindar ke belakang—itu akan membawanya ke jalur pedang si pendekar. Sebaliknya, ia melompat ke atas, menginjak kepala kapak Bao yang sedang melayang.
Untuk sesaat, Ren berdiri di atas senjata lawannya. Bao terbelalak, tidak percaya.
Dalam momen suspensi itu, Ren mengarahkan kuasnya ke wajah si pendekar pedang yang sedang panik melihat temannya digunakan sebagai pijakan. Ia tidak menulis karakter kompleks. Ia hanya melemparkan cipratan tinta sisa dari ujung kuasnya ke mata si pendekar.
"Ahh! Matanya!" jerit si pendekar, blindly mengayunkan pedangnya ke segala arah.
Ren melompat turun dari kapak Bao, mendarat di belakang pria kekar itu. Sebelum Bao bisa berbalik, Ren menempelkan telapak tangannya yang telah dialiri Qi dingin ke tulang belakang Bao.
Karakter "Beku" (Dong).
Energi dingin itu menyusup ke dalam meridian Bao, membekukan aliran Qi-nya seketika. Otot-otot Bao menegang keras, lalu menjadi kaku. Kapaknya jatuh dari genggamannya dengan bunyi dentuman logam yang nyaring. Pria itu terjatuh ke lutut, giginya bergemeretak karena menahan rasa dingin yang menusuk sumsum tulang.
Tinggal satu. Si pendekar pedang yang masih menggosok-gosok matanya, berusaha membersihkan tinta.
Ren berjalan mendekatinya perlahan. Kuasnya masih meneteskan tinta hitam pekat. Hujan semakin deras, mencuci darah kecil yang mengalir dari luka di pipi Ren.
Si pendekar itu akhirnya bisa membuka matanya sedikit. Saat ia melihat Ren mendekat, ketakutan murni menguasai wajahnya. Ia menjatuhkan pedangnya dan mundur hingga punggungnya menabrak dinding reruntuhan.
"Jangan... jangan bunuh aku," rengeknya, suaranya bergetar. "Aku punya anak... aku cuma butuh uang..."
Ren berhenti dua langkah di depannya. Ia menatap pria itu dengan Mata Void-nya. Ia melihat ketakutan itu sebagai gumpalan tinta hitam yang kacau di dada pria itu. Ia bisa menghabisinya sekarang. Satu goresan "Hapus" ke jantung, dan masalah selesai. Tidak ada saksi. Tidak ada ancaman.
Tapi ia mengingat Lin. Ia mengingat bagaimana rasanya menjadi lemah, menjadi korban keadaan. Membunuh pria pengecut ini tidak akan membuatnya lebih kuat. Itu hanya akan membuatnya menjadi monster yang sama dengan mereka yang ingin ia hancurkan.
Ren menurunkan kuasnya.
"Pergi," kata Ren dingin. "Bawa temanmu. Dan jangan pernah kembali ke sini. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku tidak akan sekadar membekukan darahmu. Aku akan menghapus namamu dari ingatan semua orang yang kau cintai."
Ancaman itu lebih menakutkan daripada kematian. Si pendekar itu mengangguk-ngguk dengan cepat, lalu menyeret tubuh Bao yang masih kaku dan tubuh Jiro yang pingsan, lari terbirit-birit ke dalam kegelapan hutan di luar reruntuhan.
Ren menghela napas panjang, bahunya merosot. Adrenalin surut, meninggalkan rasa lelah yang mendalam. Lututnya gemetar. Ia duduk di atas batu yang dingin, memandangi tangan kanannya yang masih memegang kuas.
Ia berhasil. Ia menang tanpa membunuh. Ia menggunakan strategi, lingkungan, dan pemahaman tentang struktur musuh.
"Tidak buruk," suara Master Wei terdengar dari kegelapan di atas pilar.
Ren tidak terkejut. Ia sudah merasakan kehadiran pria tua itu sejak awal pertarungan.
"Mereka lemah," kata Ren, mencoba menyembunyikan kelelahannya.
"Mereka manusia," koreksi Wei, turun dengan ringan. "Dan manusia yang takut selalu lebih berbahaya daripada binatang yang lapar. Kau beruntung mereka pengecut. Tapi kau membuat pilihan yang benar."
Wei mendekati Ren dan memeriksa luka di pipinya. "Kau hesistasi sebentar sebelum memutuskan untuk tidak membunuhnya. Mengapa?"
"Karena membunuhnya tidak menyelesaikan apa-apa," jawab Ren. "Itu hanya menambah noda pada jiwaku. Dan aku sudah cukup kotor."
Wei tersenyum, kali ini senyuman yang tulus. "Filsafat yang mahal untuk seorang pemulung. Tapi ingat, Ren. Di dunia ini, belas kasih adalah kemewahan. Pastikan kau mampu membayar harganya."
Wei melemparkan sebuah botol kecil berisi cairan hijau ke pangkuan Ren. "Minum ini. Ini akan mempercepat pemulihan meridianmu. Besok, kita akan berlatih bergerak lebih cepat. Karena musuh berikutnya tidak akan memberimu waktu untuk berpikir."
Ren menangkap botol itu. Cairannya berbau pahit, tapi ia meminumnya tanpa ragu. Rasa hangat menyebar di seluruh tubuhnya, meredakan nyeri di otot-ototnya.
"Siapa musuh berikutnya?" tanya Ren.
Wei menatap ke arah langit, di mana awan hitam mulai menyelimuti bulan.
"Klan Kaligrafi Naga sedang mengadakan audisi terbuka di Kota Tengah," kata Wei. "Mereka mencari bakat baru. Dan rumor mengatakan, salah satu pewaris utama Klan itu akan hadir secara pribadi. Jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang The Fade dan mengapa adikmu sakit, kau perlu masuk ke dalam lingkaran mereka. Kau perlu menjadi salah satu dari mereka."
Ren menelan ludah. Masuk ke sarang singa? Itu gila. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Aku akan melakukannya," kata Ren.
"Bagus," kata Wei, berbalik untuk pergi. "Siapkan dirimu, Ren. Mulai besok, kau bukan lagi pemulung. Kau adalah calon murid yang akan mencoba mencuri api dari para dewa. Dan para dewa... tidak suka dicuri."
Ren duduk sendiri di tengah reruntuhan, mendengarkan hujan yang terus turun. Ia memandang kuas patahnya, lalu mengepalnya erat. Perjalanannya menuju Paviliun Awan baru saja mendapatkan peta. Dan peta itu ditulis dengan darah.