NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Dua hari berlalu sejak perjanjian mereka dimulai, dan hari ini adalah ujian nyata pertama bagi topeng yang mereka pakai. Acara resepsi peringatan dua puluh lima tahun berdirinya Asosiasi Pengusaha Sulawesi Tengah digelar di ballroom hotel termewah di Palu—tempat di mana semua nama besar, semua kekuatan ekonomi, dan semua rahasia kotor wilayah ini berkumpul di bawah satu atap, menyembunyikan niat jahat di balik senyum sopan dan pakaian mahal.

Lukas berdiri di depan cermin besar di kamar apartemennya, menatap bayangannya sendiri dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang pas di badan, kainnya halus dan dingin di kulit, dasi yang diikat rapi melengkapi penampilannya. Rambutnya yang dulu acak-acakan kini disisir rapi, wajahnya tampak lebih segar dan tenang. Namun di balik penampilan yang berubah total itu, tangannya masih mengepal erat—ingatannya kembali pada saat ia berdiri di depan pintu rumah keluarga Chandra dengan tas ransel usang, lalu diusir dengan kata-kata bahwa ia tak pantas berada di tempat yang layak.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Kirana masuk. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang jatuh anggun hingga ke lantai, berhias manik-manik halus yang berkilau lembut setiap kali ia bergerak. Rambutnya disusun rapi ke belakang, menampakkan kalung sederhana namun berharga yang melingkar di lehernya. Saat melihat Lukas, senyumnya yang tenang muncul di bibirnya.

“Kamu terlihat sangat baik, Lukas,” ucapnya tulus. “Ingat apa yang kita bahas? Kamu bukan tamu yang diundang belas kasihan. Kamu adalah suamiku, dan pewaris sah keluarga Wijaya. Jangan biarkan tatapan orang lain mengubah apa yang kamu tahu tentang dirimu sendiri.”

Lukas mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya. “Saya ingat. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

Perjalanan menuju hotel berlangsung hening. Saat mobil berhenti di depan pintu utama, petugas valet segera membukakan pintu dengan hormat. Kamera wartawan yang sudah menunggu di seberang jalan segera berkedip bersahut-sahutan, memotret momen saat Lukas keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangan membantu Kirana turun. Ia melakukannya dengan gerakan yang berusaha ia buat tenang, meski hatinya berdegup kencang.

Begitu melangkah masuk ke dalam ballroom, suasana riuh rendah sejenak mereda. Puluhan pasang mata beralih menatap mereka—menatap wanita paling berkuasa di kota ini, dan pria tak dikenal yang berjalan berdampingan dengannya, menggenggam tangannya erat. Bisik-bisik pelan mulai terdengar di antara kerumunan, menyebar seperti api kecil dari satu kelompok ke kelompok lain.

“Siapa dia? Tidak pernah terlihat sebelumnya.”

“Katanya suami barunya. Menikah mendadak tanpa pesta.”

“Lihat cara dia berdiri… pasti bukan dari kalangan kita. Mungkin hanya orang asing yang dia angkat demi alasan tertentu.”

Lukas berusaha mengabaikan bisikan itu, berjalan tegak di samping Kirana menuju meja resepsi. Namun saat ia menuliskan namanya di buku tamu, tatapan tajam dari arah pintu masuk membuatnya berhenti sejenak.

Di sana berdiri Tuan dan Nyonya Chandra, bersama keponakan laki-laki mereka yang selama ini sering mengejek Lukas di rumah. Wajah mereka pucat pasi, mata mereka terbelalak tak percaya seolah melihat hantu. Nyonya Chandra bahkan tanpa sadar melangkah mundur selangkah, tangannya menekan bibirnya yang terbuka lebar.

Kirana menyadari hal itu, lalu dengan sengaja mempererat genggaman tangannya pada tangan Lukas. Ia berjalan langsung menuju keluarga Chandra, dengan senyum ramah namun dingin yang membuat orang lain sekelilingnya ikut menatap.

“Selamat malam, Tuan dan Nyonya Chandra,” sapanya tegas. “Sepertinya kalian sudah mengenal suamiku, Lukas Wijaya?”

Nama belakang itu diucapkan dengan suara lantang, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di dekat mereka. Tuan Chandra menelan ludah susah payah, matanya terus beralih dari wajah Lukas ke wajah Kirana, tak tahu harus menjawab apa.

“Lukas…?” gumam Nyonya Chandra akhirnya, suaranya bergetar. “Kami… kami tidak menyangka…”

“Tidak menyangka bahwa anak yang kalian usir itu kini berdiri di sini sebagai suami saya?” potong Lukas pelan, namun matanya menatap lurus ke mata mantan ibu angkatnya tanpa rasa takut sedikit pun. “Atau tidak menyangka bahwa nama keluarga Wijaya yang selama ini kalian sembunyikan, kini saya pakai dengan bangga?”

Kata-kata itu membuat suasana di sekitar mereka semakin hening. Beberapa rekan bisnis lain yang mengetahui hubungan keluarga Chandra dengan Grup Wijaya di masa lalu mulai menyadari ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Keponakan keluarga Chandra, Dika, yang selama ini sering memandang Lukas rendah, akhirnya memberanikan diri berbicara dengan nada meremehkan, berusaha menutupi kegugupan hatinya.

“Suami? Jangan bercanda, Nona Kirana. Orang ini cuma anak angkat yang kami buang karena tidak berguna. Dia bahkan hampir tidur di jalanan beberapa hari lalu. Apa mungkin dia benar-benar suami Anda? Atau mungkin Anda tertipu oleh penampilannya yang sok berkelas ini?”

Tawa sinis terdengar dari beberapa orang di sekitarnya yang ikut meremehkan. Namun Kirana tidak tersentak sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, lalu menatap Dika dengan tatapan tajam yang langsung membuat tawa itu terhenti di tenggorokan.

“Apakah menurutmu saya tidak bisa mengenali siapa yang pantas berada di samping saya?” tanyanya dingin. “Atau mungkin kamu berpikir bahwa kekayaan dan nama keluarga saja yang menentukan harga diri seseorang? Ketahuilah, Lukas memiliki hak waris yang nilainya jauh lebih besar daripada seluruh aset keluarga Chandra digabungkan. Dan ketahuilah juga: saya tidak pernah tertipu. Saya justru menemukan apa yang selama ini kalian sembunyikan dengan sangat buruk.”

Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi keluarga Chandra. Wajah mereka semakin pucat, tak berani lagi membuka mulut. Orang-orang di sekitar mulai berbisik lebih keras, menebak-nebak apa rahasia yang tersembunyi di balik pertemuan ini.

Lukas merasa lega sekaligus bangga. Ia tidak perlu berteriak atau marah-marah untuk membuktikan nilainya. Cukup dengan berdiri di sini, di tempat yang dulu dianggap terlalu tinggi baginya, di samping wanita yang mempercayainya, ia sudah membuktikan bahwa tuduhan mereka salah besar.

Sore itu hingga malam berjalan dengan berbagai ujian lain. Ada yang mendekat dengan senyum palsu untuk memuji, ada yang menjauh dengan curiga, ada yang mencoba memancing informasi tentang siapa dirinya sebenarnya. Lukas belajar banyak hal: orang-orang di dunia elit ini seringkali menilai seseorang bukan dari kebaikan hatinya, melainkan dari kekuatan yang dimilikinya. Selama ia dianggap lemah, ia diinjak-injak; begitu ia berdiri tegak dengan status yang jelas, mereka mulai berhati-hati bahkan takut padanya.

Saat acara hampir berakhir, Tuan Chandra menyempatkan diri berbicara sebentar dengannya di sudut yang agak sepi. Ia tampak tua dan lelah, tidak lagi berwibawa seperti saat mengusirnya.

“Kamu benar-benar berubah, Lukas,” ucapnya pelan. “Kami tidak bermaksud jahat… kami hanya takut. Tolong pahami posisi kami.”

Lukas menatapnya dalam-dalam, lalu menggeleng pelan.

“Ketakutan tidak memberi kalian hak untuk merampas masa depan orang lain, Tuan. Dan kebenaran tidak akan pernah bisa disembunyikan selamanya.”

Ia berbalik pergi meninggalkan pria itu, berjalan kembali menuju Kirana yang sudah menunggu di pintu keluar. Malam ini ia telah melewati gerbang dunia yang dulu menutup rapat baginya. Ia tahu perjalanan masih panjang, dan bahaya belum berakhir. Namun kini ia tahu satu hal pasti: ia tidak lagi merasa rendah diri di hadapan siapa pun. Karena ia tahu siapa dirinya, dan ia tahu ke mana ia akan melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!