NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Perut Bintang yang Rapuh

"Papa..."

Bintang baru melangkah satu kali ketika wajahnya berubah. Tangan kecilnya lepas dari genggaman Senja dan menekan perut.

"Sakit."

Tubuhnya langsung berjongkok di depan pintu.

Damar bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Ia mengangkat Bintang ke dada dan menyentuh kening anak itu.

"Di mana sakitnya?"

"Perut. Papa, sakit banget."

"Bik Inah! Hubungi dokter keluarga. Sekarang."

Senja mengikuti mereka menaiki tangga. "Kita bawa ke IGD saja. Saya bisa telepon ambulans."

Damar tidak menoleh. "Apa yang dia makan?"

Pertanyaan itu membuat langkah Senja tersendat.

"Es krim."

Damar berhenti di anak tangga terakhir. Tatapannya tajam, tetapi Bintang merintih di bahunya sehingga ia segera berbalik dan masuk kamar.

Bik Inah datang sambil menelepon. Ketika mendengar tentang es krim, wajahnya langsung cemas.

"Aduh, Bu. Non Bintang tidak boleh makanan dingin. Perutnya sensitif sekali. Sedikit saja bisa kram, muntah, kadang diare."

Senja merasa darah meninggalkan wajahnya. "Saya enggak tahu."

"Bik kira Pak Damar sudah bilang."

Dari dalam kamar terdengar suara muntah.

Senja berlari masuk. Bintang meringkuk di tempat tidur, rambut menempel di dahi. Damar menyangga bahunya sambil membiarkan anak itu muntah ke baskom. Sebagian mengenai lengan kemeja mahalnya. Ia tidak peduli.

"Air hangat," perintahnya.

Senja mengambil gelas, memeriksa kesadaran Bintang dan napasnya, lalu meraba perut dengan hati-hati. Otot perut anak itu tegang ketika kram datang.

"Bintang, lihat Kakak. Ada darah di muntahnya?"

Anak itu menggeleng sambil menangis. "Mama, jangan tinggalin aku."

Panggilan itu menusuk lebih dalam daripada bentakan apa pun.

"Mama di sini." Senja mengusap pipinya. "Tarik napas pelan."

Ia menghitung napas bersama Bintang, satu sampai lima, lalu mengulanginya. Di sela kram, anak itu mengikuti dengan suara patah-patah. Senja menaruh handuk hangat di dahinya dan meminta Bik Inah mencatat berapa kali ia muntah, satu-satunya hal berguna yang bisa dilakukan sambil menunggu dokter.

Damar menatapnya. "Kamu perawat, tetapi hal begini saja tidak tahu?"

"Saya belum tahu riwayatnya. Kalau kramnya terus, sebaiknya ke IGD untuk cairan dan pemeriksaan."

"Dokter sedang datang. Jangan membuat dia makin panik."

Senja menelan jawaban. Tangan Bintang meraih kerah kemeja Damar, lalu menggigit bahunya ketika gelombang nyeri datang. Damar hanya mengeratkan pelukan.

"Gigit saja, Nak. Papa di sini."

Pemandangan itu membuat Senja mengerti satu hal. Di hadapan anaknya, pria ini tidak punya batas kesabaran. Kesalahan Senja barusan pasti tidak akan dilupakan.

Dua puluh menit kemudian, dr. Regina datang membawa tas medis. Perempuan berkerudung abu-abu itu bergerak tenang, memeriksa suhu, denyut, abdomen, dan tanda dehidrasi.

"Kemungkinan spasme saluran cerna. Belum ada tanda abdomen akut," katanya. "Saya beri obat antispasmodik dan antiemetik. Cairan oral sedikit-sedikit. Kalau muntah berlanjut atau kesadarannya turun, langsung ke IGD."

Senja membantu menahan lengan Bintang saat obat diberikan. Anak itu menjerit, lalu memeluk Damar sambil terisak.

Regina melepas sarung tangan. Pandangannya berhenti sejenak pada Senja.

"Perawat baru?"

Damar menjawab sebelum Senja sempat membuka mulut. "Orang yang pernah menolong Bintang. Sekarang menumpang di sini untuk menemani dia."

Menumpang.

Kata itu tidak salah. Senja datang tanpa membawa apa-apa dan bahkan uang mahar sudah pindah ke tangan keluarganya. Namun mendengarnya diucapkan suaminya di depan orang lain membuat telapak kakinya seperti kehilangan pijakan.

Regina mengangguk tipis. "Pastikan dia tidak makan es, susu berlebih, atau gorengan dulu. Saya tulis menunya."

"Saya akan ingat," kata Senja.

"Sebaiknya memang begitu."

Regina menuliskan dosis serta tanda bahaya pada selembar kertas. Senja membacanya dua kali, lalu meminta foto hasil pemeriksaan lama agar bisa mengenali pola serangan berikutnya.

"Kamu menangani dia sehari-hari?" tanya Regina.

Senja belum tahu harus menjawab sebagai apa. Pengasuh, istri rahasia, atau orang yang menumpang.

"Saya akan lebih banyak bersama Bintang mulai sekarang."

Regina menyerahkan kertas tanpa tersenyum. "Kalau begitu, jangan mengandalkan ilmu magang saja. Anak tidak selalu bisa menjelaskan sakitnya."

Senja menerima teguran itu. Ia membuka catatan di ponsel dan menulis: es, susu berlebih, gorengan, gejala awal, nomor Regina, IGD bila muntah berlanjut. Tangannya masih gemetar, tetapi daftar konkret membuat kepalanya sedikit lebih jernih.

Entah kenapa, kalimat datar Regina terdengar seperti penilaian.

Setelah obat bekerja, tubuh Bintang mulai rileks. Napasnya masih sesenggukan, tetapi ia tidak lagi meringkuk kesakitan. Damar membaringkannya dan menarik selimut sampai dada.

"Papa jangan pergi. Mama juga."

"Papa di sini," jawab Damar.

Senja duduk di ujung ranjang. "Kakak juga di sini."

"Mama," koreksi Bintang dengan mata terpejam.

Senja tidak sanggup membantah.

Regina berpamitan. Damar mengantar sampai pintu kamar, lalu kembali dengan wajah yang sudah dingin lagi.

"Ke ruang kerja setelah dia tidur."

Hampir satu jam kemudian, Senja berdiri di hadapan meja besar di ruang kerja. Jemarinya saling mencengkeram di depan perut.

Damar tidak menyuruhnya duduk.

"Aku membawa kamu ke rumah ini karena Bintang menginginkanmu," katanya. "Tugasmu hanya memastikan dia baik-baik saja."

"Saya tahu. Ini salah saya."

"Kamu bahkan tidak bertanya apa yang boleh dan tidak boleh dia makan."

"Bik Inah juga mengira Pak Damar sudah memberi tahu."

"Jangan bawa orang lain untuk membela kesalahanmu."

Senja menutup mulut. Di kepalanya ada banyak jawaban: ia baru dua hari tinggal di rumah itu, Damar tak pernah menjelaskan apa pun, dan Bintang sendiri yang berkata Papa hanya suka melarang. Namun anak itu memang berada dalam tanggung jawabnya saat membeli es krim.

"Maaf. Besok saya minta seluruh catatan kesehatannya. Saya akan buat daftar makanan dan nomor darurat."

Damar berdiri. Tekanan dari tubuhnya membuat Senja tanpa sadar mundur setapak.

"Aku tidak butuh janji. Aku butuh hasil." Suaranya turun. "Kalau kejadian seperti ini terulang, tidak ada tempat lagi buat kamu di rumah ini. Posisi sebagai Nyonya Adiwangsa bukan sesuatu yang bisa kamu pegang hanya karena akad."

Wajah Senja memutih. Ia belum punya tabungan untuk mengembalikan mahar. Tidak punya tempat tinggal tetap. Jika dikeluarkan sekarang, Bapak dan Emak mungkin akan kembali memaksanya pulang.

"Saya mengerti."

"Jaga Bintang baik-baik."

Senja membungkuk kecil lalu keluar. Di lorong, ia menekan telapak tangan ke dada sampai napasnya kembali teratur. Dari kamar Bintang terdengar panggilan lemah.

"Mama?"

Ia segera masuk dan menutup pintu pelan.

Damar masih berdiri di ruang kerja. Ia menatap pintu yang baru tertutup, lalu mengepalkan tangan di sisi tubuh.

Jangan pernah lembek kepada perempuan itu, katanya dalam hati. Sekali saja ia percaya, Senja mungkin akan mengambil lebih banyak daripada Rp 288 juta.

Ia belum tahu bahwa tuduhan itu kelak menjadi penyesalan pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!