NovelToon NovelToon
Menikah Dulu Lalu Jatuh Cinta

Menikah Dulu Lalu Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.

​Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.

​Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guling Yang Tergeser

​Riana menyendok es krim stroberinya perlahan, menunduk menatap lelehan manis di dalam wadah plastiknya. Di balik senyum tipis yang ia tunjukkan, benaknya tak berhenti berputar.

​Dia begini cuma karena takut dicoret dari ahli waris Papanya, batin Riana pahit.

​Logikanya terus menegaskan bahwa perubahan sikap Reza yang mendadak manja, perhatian, bahkan berani pasang badan di depan publik kampus hanyalah bagian dari sandiwara agar pernikahan ini tetap utuh di mata keluarga besar mereka. Riana menahan diri agar tidak terbawa perasaan terlalu jauh, membentengi hatinya dari harapan kosong yang bisa saja melukainya sewaktu-waktu.

​Sementara itu, Reza yang duduk di kursi meja belajar terus memperhatikan Riana dalam diam. Pria itu mengamati bagaimana jemari lentik istrinya memegang sendok, serta helaian rambut Riana yang masih agak lembap.

​Jauh di lubuk hatinya, ucapan Riana tentang 'takut dicoret dari ahli waris' sama sekali tidak melintas di pikirannya lagi. Reza menyadari sebuah kenyataan baru: ia mulai menikmati setiap detik keberadaan Riana di hidupnya. Kehadiran gadis itu di rumah ini, omelan kecilnya, hingga tawa nyaringnya di kantin tadi pagi telah memberi warna hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Ri," panggil Reza pelan, membuat Riana mendongak menatapnya. "Nanti malam mau makan apa? Biar aku yang beli atau kita masak bareng?"

​Riana mengedipkan matanya beberapa kali, agak terkejut dengan tawaran yang tak biasa itu. "Masak bareng? Kamu bisa masak emang?"

​Reza terkekeh tipis, menunjuk dirinya sendiri dengan penuh percaya diri meski bibirnya yang berplester sedikit tertarik nyeri. "Jangan remehkan aku. Kalau cuma goreng telur atau bikin nasi goreng, aku masih bisa."

​Riana tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Rasa curiga yang sempat bersarang di dadanya perlahan-lahan luntur oleh aura hangat yang dipancarkan Reza.

​"Boleh," jawab Riana akhirnya. "Tapi kamu yang cuci piringnya nanti."

​"Deal," sahut Reza cepat tanpa ragu.

​Malam itu, di dalam rumah minimalis yang menjadi saksi bisu pernikahan rahasia mereka, jarak yang dulu terbentang lebar perlahan merapat. Meski Riana masih menyimpan keraguan dan Reza belum sepenuhnya berani mengungkapkan rasa nyaman yang tumbuh di dadanya, guling pembatas di atas kasur mereka kini terasa tak lagi setinggi kemarin.

​Pukul tujuh malam, dapur rumah minimalis itu mendadak riuh oleh denting sutil dan panci. Riana yang mengenakan kaus santai berdiri di samping kompor, memperhatikan Reza yang sibuk mengupas bawang merah dengan raut wajah sangat serius—seolah sedang membedah dokumen penting.

​"Za, ngupas bawangnya gak usah pakai emosi gitu," goda Riana sembari tertawa kecil, melihat mata Reza yang mulai berkaca-kaca akibat perih.

​"Ini bawangnya pedas banget, Ri," keluh Reza pelan, mengusap matanya dengan lengan kaus bagian atas. Pria yang biasanya tampil gagah dan dingin di kampus itu kini terlihat begitu polos di depan talenan dapur.

​Riana menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengambil alih pisau dari tangan Reza. Tanpa disadari, jarak berdiri mereka sangat dekat di depan meja dapur. Reza mematung sejenak, menghirup aroma wangi sampo dari rambut Riana yang kini sudah benar-benar kering. Ada desir hangat yang kian kuat merayapi dadanya—perasaan nyaman yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ancaman pencoretan ahli waris dari sang Papa.

​Aroma gurih nasi goreng buatan berdua akhirnya memenuhi ruang makan kecil mereka. Dua piring nasi goreng telur hangat tersaji rapi di atas meja.

​Mereka makan dalam suasana tenang yang menyenangkan. sesekali Riana menceritakan tugas kuliahnya yang menumpuk, dan Reza mendengarkan dengan seksama sembari memberikan beberapa saran sebagai mahasiswa senior. Tidak ada bahasan tentang Sela, rumor kampus, ataupun tekanan keluarga. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar menikmati peran sebagai pasangan yang tinggal di bawah satu atap.

​Usai makan, Reza menepati janjinya. Ia berdiri melipat lengan bajunya dan mulai membasuh piring-piring kotor di wastafel. Riana yang berdiri menyandar di pintu dapur menatap punggung suaminya dengan perasaan campur aduk.

​Kenapa dia manis banget malam ini? batin Riana, mencoba menepis getaran di dadanya yang kian sulit dikendalikan.

​Malam makin larut saat keduanya kembali ke dalam kamar. Udara dingin dari AC menyelimuti ruangan. Riana sudah berbaring lebih dulu di sisi kasurnya, menyelimuti tubuh hingga sebatas dada.

​Reza mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram, lalu naik ke sisi kasurnya sendiri. Di antara mereka, guling pembatas itu masih membentang tegap. Namun saat Reza berbaring miring menghadap Riana, tangannya secara tidak sengaja mendorong guling itu sedikit menggeser ke arah tengah.

​"Ri... belum tidur?" bisik Reza pelan di tengah kegelapan remang.

​"Belum..." jawab Riana halus, membalikkan badannya hingga mereka kini saling berhadapan, terpisah hanya oleh guling yang sudah tak sebarik dulu.

​"Makasih ya buat hari ini," tutur Reza tulus, matanya menatap lekat paras Riana. "Soal di kampus tadi... dan soal nasi gorengnya."

​Riana tersenyum tipis di balik selimutnya. "Sama-sama, Kak Reza."

​Sebutan 'Kak' yang disengaja Riana membuat Reza terkekeh pelan. Tanpa sadar, jemari Reza terulur di atas guling pembatas, mengusap pelan ujung jemari Riana yang dingin. Kali ini, Riana tidak menarik tangannya kembali.

1
Waaaaaa_
hehe gpp,selamat membacaa😍
bsjelfjbrndsabdvr
tapi suka ceritanya😍😍😍
bsjelfjbrndsabdvr
wahhh saking serius baca sampai lupa like dari awal Bab. Maafken ya Thor😂😂😍😍❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!