NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANIK NYA SANG PEMILIK STATUS MAX

Memasuki bulan ketiga kehamilan Alya, suasana di dalam gubuk kayu kecil di tengah Hutan Kelam mengalami perubahan yang cukup drastis. Jika sebelumnya Kayy menjalani hari-harinya dengan gaya yang santai, tenang, dan minim kesibukan, kini pria berusia dua puluh tahun itu berubah menjadi sosok paling siaga dan serba cepat di seluruh penjuru benua.

Bukan tanpa alasan. Status fisik dan mental Kayy yang berada di tingkat MAX absolut membuat persepsinya terhadap segala sesuatu di sekitarnya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam daripada manusia normal. Ia tidak hanya bisa mendengar detak jantung bayi di dalam perut Alya yang kini mulai sedikit membuncit, tetapi ia juga bisa merasakan perubahan fluktuasi mana, denyut nadi, hingga tingkat kelelahan fisik istrinya secara real-time.

Dan hal itu membuat Kayy kadang-kadang bersikap terlalu berlebihan hingga terkesan kocak.

Contohnya terjadi pada suatu pagi di awal musim dingin. Salju tipis mulai turun menutupi kanopi Hutan Kelam, membuat suhu di luar gubuk merosot drastis. Pepohonan besar di sekeliling pekarangan tampak diselimuti lapisan es putih yang berkilauan diterpa pendar sinar matahari pagi.

Di dalam ruang utama gubuk kayu yang hangat, aroma sup sayur dan rempah-rempah yang baru selesai dimasak mengepul pelan. Alya baru saja hendak melangkah turun dari tempat tidur untuk menyeduh teh hangat dan mengambil segelas air hangat di atas meja. Namun, sebelum kaki jenjangnya yang terbungkus kaos kaki wol sempat menyentuh lantai kayu...

Whoosh!

Dalam sepersekian detik, sebuah hembusan angin tipis tercipta di dalam kamar. Kayy sudah mendadak berlutut di lantai tepat di depan ranjang, merentangkan kedua tangannya bagaikan perisai hidup yang siap menahan serangan musuh.

"Jangan bergerak," ucap Kayy dengan nada amat serius, matanya menatap tajam ke arah papan lantai kayu seolah-olah lantai tersebut adalah musuh berbahaya yang siap menyerang.

Alya yang sedang mengenakan mantel wol tebal berwarna krem hanya bisa mengerjap kebingungan. Ia menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat, bingung bercampur gemas. "Kayy... aku cuma mau turun buat ambil minum dan mengecek sup. Lantainya bersih dan rata, kok. Kenapa ekspresimu tegang begitu?"

Kayy mendesah pelan, menatap Alya dengan pandangan penuh rasa khawatir yang teramat sangat. Pria itu berdiri, lalu dengan gerakan tanpa cela mengangkat tubuh Alya secara perlahan tanpa meminta persetujuan—memindahkan istrinya kembali ke atas tumpukan bantal empuk di atas ranjang.

"Lantai kamar ini dingin, Alya. Walaupun kita memakai sihir penghangat dari Sanctuary Domain, suhu di dekat permukaan papan lantai kayu bisa turun setengah derajat lebih rendah dari biasanya," protes Kayy dengan nada protektif yang luar biasa. "Biar aku saja yang ambilkan airnya. Kamu cukup duduk manis di sini, tidak boleh melakukan gerakan mendadak."

Alya hanya bisa menghela napas panjang sambil menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah sangat terbiasa dengan sikap overprotective suaminya selama dua bulan terakhir ini. Apa pun yang dikhawatirkan oleh Kayy selalu berakhir dengan tindakan yang kadang-kadang membuat Alya merasa seperti seorang putri raja yang terbuat dari kaca yang sangat rapuh.

"Kayy, aku ini cuma hamil, bukan sedang cedera parah," bisik Alya terkekeh pelan.

"Sama saja," sahut Kayy cepat sambil melangkah ke dapur. "Bagi pemilik status MAX, membiarkan istrinya yang sedang hamil merasa kedinginan adalah bentuk kegagalan terbesar."

Beberapa detik kemudian, Kayy kembali seraya membawa segelas air hangat yang suhu pastinya sudah diuji menggunakan sihir penyokong agar benar-benar pas di lidah Alya. Tak berhenti di situ, Kayy bahkan mengibaskan tangannya pelan, menciptakan sihir pemanas pasif berbentuk lingkaran bening yang melayang di sekeliling ranjang untuk memastikan suhu tubuh Alya tetap stabil di angka terbaik.

Setelah Alya meminum air hangat itu, Kayy duduk di tepi ranjang. Pria berambut hitam itu merapikan selimut wol tebal yang membungkus kaki istrinya dengan sangat teliti, menepuk-nepuk sudut kain seolah-olah sedang mengurusi barang yang amat berharga.

"Kayy, jujur ya..." kata Alya seraya tersenyum lembut. Jemari lentiknya terulur menyentuh pipi suaminya yang hangat. "Kamu ini sebenarnya sedang menjagaku dan calon bayi kita, atau sedang bersiap-siap menghadapi invasi pasukan iblis gelombang kedua?"

Kayy menangkap tangan Alya di pipinya, lalu mengecup telapak tangan wanita itu dengan lembut dan lama.

"Sama saja, Alya," jawab Kayy dengan wajah datar namun amat tulus. "Bagiku, keselamatanmu dan bayi kita jauh lebih penting daripada menghadapi seribu pasukan Kerajaan atau Raja Iblis sekalipun. Kalau ada satu ekor nyamuk saja yang berani menggigitmu di rumah ini, akan kuhancurkan sarangnya sampai ke akar-akarnya."

Mendengar ucapan tulus yang diucapkan dengan raut wajah sangat serius itu, pipi Alya merona merah. Dada mantan Saintess itu berdesir hangat. Rasa cinta yang mendalam mengalir deras di hatinya. Ia menarik kepalanya ke dada lapang Kayy, membiarkan suaminya mendekap tubuhnya dengan kehangatan yang tiada tanding.

Alya menyandarkan telinganya di dada Kayy, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak tenang dan stabil.

"Ngomong-ngomong, Kayy..." bisik Alya pelan di dada suaminya, menyapu lembut kain kemeja Kayy. "Kira-kira... bayi kita nanti laki-laki atau perempuan ya? Dan... apakah kamu sudah memikirkan sebuah nama untuknya?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Kayy terdiam seketika.

Di dalam benaknya, otak Kayy yang memiliki kapasitas pemrosesan informasi tingkat MAX langsung bekerja secepat kilat. Ribuan referensi nama dari dunia asalnya di bumi—mengingat masa lalunya sebagai pemuda yang terbunuh di lorong apartemen—bercampur dengan bahasa sihir kuno di dunia ini. Ia menyaring setiap nama yang memiliki arti perlindungan, kedamaian, keindahan, dan kehangatan.

Kayy mengusap lembut punggung Alya, mengecup puncak kepala istrinya yang harum.

"Kalau dia lahir sebagai perempuan..." suara Kayy terdengar begitu hangat dan dalam, "...aku ingin dia memiliki mata yang jernih dan senyuman yang sangat manis sepertimu, Alya. Aku ingin dia tumbuh menjadi gadis yang penuh dengan kebaikan."

"Lalu kalau laki-laki?" tanya Alya penasaran, mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap wajah tampan suaminya.

Kayy terkekeh pelan, ada kilatan jenaka di matanya. "Kalau laki-laki... yah, semoga saja sifatnya tidak terlalu mirip denganku yang suka malas-malasan berkebun wortel di rumah ini. Tapi yang jelas, aku akan mengajarinya cara melindungi orang yang dia cintai sejak dia bisa berjalan."

Alya tertawa renyah mendengar jawaban itu. Ia mencubit pinggang Kayy pelan karena gemas. "Mana boleh begitu! Kamu kan rajin, suka memasak, dan selalu merawat rumah dengan baik. Apapun jenis kelaminnya nanti, yang paling penting dia terlahir sehat, selamat, dan bisa tumbuh di dalam gubuk kecil yang penuh cinta ini bersama kita berdua."

Kayy mengangguk mantap. Ia merengkuh tubuh Alya sedikit lebih erat, membenamkan wajahnya di antara leher dan leher baju istrinya, menikmati momen-momen tenang di mana ia bisa merasakan kehadiran dua insan paling berharga dalam hidupnya.

Di dalam rahim Alya, detak jantung kecil itu terus berdenyut secara teratur—sebuah bukti nyata bahwa kehidupan baru sedang berkembang dengan sangat baik di bawah naungan perisai terkuat di dunia sihir tersebut.

Kayy melepaskan pelukannya perlahan, lalu menangkup kedua pipi Alya. "Mulai hari ini, aku juga sudah membatasi area pekarangan. Kalau kamu mau jalan-jalan ke luar gubuk untuk menghirup udara segar, kamu harus berjalan bersamaku. Tidak boleh ada alasan 'cuma sebentar'."

Alya mengangguk manis, mengedipkan matanya dengan manja. "Siap, Suamiku yang Paling Protektif."

Di luar gubuk kayu, angin musim dingin berhembus kencang membawa guguran salju tipis yang menari-nari di udara Hutan Kelam. Namun di dalam rumah kecil itu, di balik dinding-dinding kayu yang dilindungi sihir pasif tanpa batas, atmosfer terasa begitu hangat, penuh dengan canda tawa, serta harapan indah menyambut kelahiran buah hati mereka di masa depan.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!