NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. MASIH DIBUAT PENASARAN

BAB 25. Masih Dibuat Penasaran.

Hari Kamis berlalu lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Seluruh agenda yang harus dimajukan telah selesai, sementara pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan sudah berada di tangan orang-orang yang dipercaya Kalandra. Sesekali Haris masih masuk membawa beberapa dokumen terakhir untuk ditandatangani, tetapi tidak lagi ada rapat tambahan ataupun telepon yang memaksanya mengubah jadwal.

Menjelang sore, Kalandra menutup map terakhir.

"Selesai."

Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat napasnya terasa jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar meninggalkan kantor tanpa membawa pulang pekerjaan.

Di dalam mobil, Hagia memperhatikan pria di sampingnya beberapa saat.

"Hari ini lebih tenang."

"Memang harus begitu."

"Karena besok cuti?"

"Iya."

Hanya itu jawaban yang diberikan Kalandra. Mobil tidak berbelok menuju rumah sakit seperti biasanya. Sejak pagi, Kalandra sudah menghubungi Bu Hesti dan meminta wanita itu menemani Pak Arshaka hingga mereka kembali. Keputusan itu sempat membuat Hagia ingin bertanya, tetapi akhirnya ia mengingat janjinya sendiri untuk berhenti menebak-nebak.

Sesampainya di penthouse, suasana terasa jauh lebih santai. Beberapa kantong belanja yang kemarin dibeli masih tersusun rapi di sudut dapur. Sebagian sudah dipindahkan Kalandra ke dalam tas penyimpanan, sementara sisanya diletakkan di meja makan untuk diperiksa sekali lagi.

"Kamu lihat saja kalau ada yang kurang."

Hagia mendekat. Pandangan mereka bergantian memeriksa isi tas. Tidak banyak percakapan. Sesekali Hagia hanya memindahkan beberapa barang agar lebih rapi, sementara Kalandra mencentang daftar yang tersimpan di ponselnya.

"Sudah."

Kalandra memasukkan kembali ponselnya ke saku.

"Berarti tinggal berangkat."

Hagia menatapnya. "Masih tidak mau memberi tahu tujuan kita?"

"Tidak."

"Sedikit saja?"

"Simpan saja penasarannya. Besok juga tahu "

Hagia menggeleng kecil sambil tersenyum pasrah. "Lama-lama, naik juga ke ubun-ubun." Dia bergumam pelan.

"Makin penasaran, biasanya perjalanan terasa lebih singkat."

"Itu teori dari mana?"

"Dari saya."

Jawaban itu membuat Hagia terkekeh pelan.

Malam itu tidak ada pekerjaan yang dibuka lagi. Tidak ada laptop yang menyala. Setelah makan malam sederhana, Kalandra justru lebih banyak duduk di ruang tengah sambil membaca beberapa berita bisnis di tablet. Sesekali ia melirik jam dinding, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Menjelang pukul sembilan, ia akhirnya menutup tablet tersebut.

"Cukup."

Hagia yang sedang merapikan cangkir di meja menoleh.

"Sudah waktunya tidur."

"Masih jam sembilan."

"Besok kita berangkat pagi-pagi."

"Sekarang, boleh tahu kita berangkat jam berapa?"

"Setelah sarapan."

"Habis itu?"

Kalandra berdiri sambil mengambil gelas kosongnya.

"Jangan nanya terus. Nanti nggak bisa tidur."

Hagia mengembuskan napas panjang. "Keras kepala."

Kalandra hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

"Istirahat yang cukup Nona Hagia Zehra."

"Baik, Tuan Kalandra Arshaka yang keras kepala."

Kalandra hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

***

Keesokan paginya, aroma kopi hangat lebih dulu memenuhi ruang makan penthouse sebelum Hagia keluar dari kamarnya. Kalandra telah siap lebih dahulu. Sebuah tas perjalanan berukuran sedang terletak di dekat pintu. Ia duduk tenang di meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam. Tidak ada setelan jas, tidak ada dasi, tidak pula sepatu pantofel yang biasa dikenakannya ke kantor.

Hari itu ia mengenakan kemeja linen berwarna navy dengan lengan digulung hingga siku, dipadukan celana chino gelap dan sepatu kasual. Penampilannya jauh berbeda dari CEO Arshaka Group yang setiap hari dikenal semua orang.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Hagia keluar dari kamar dengan blus putih dan celana bahan hitam. Penampilannya jauh lebih santai dibanding biasanya, tetapi tetap terlihat rapi, seperti seseorang yang bersiap menghadiri pertemuan penting.

Kalandra memperhatikannya beberapa detik.

"Kamu mau berangkat pakai itu?"

Hagia menunduk melihat pakaiannya. "Memangnya kenapa?"

Kalandra melirik jam tangannya.

"Kalau mau ganti, masih ada waktu."

"Salah ya?"

"Bukan salah."

"Lalu?"

"Terlalu formal."

"Kalau dari kemarin Anda memberi tahu tujuan kita, saya pasti tidak akan salah pilih pakaian."

"Karena yang kamu tanyakan tujuan perjalanannya, bukan pakaian."

Hagia terdiam beberapa detik.

Lalu mengembuskan napas panjang.

"Oke, saya kalah lagi."

Tanpa membantah, ia berbalik menuju kamar untuk mengganti pakaian. Dari balik pintu kamar, terdengar suara lemari yang dibuka dan ditutup bergantian.

Kalandra kembali menyesap kopinya. Pandangannya sesaat berhenti pada tas perjalanan yang telah berdiri di dekat pintu. Semua persiapan yang diam-diam disusunnya selama berminggu-minggu akhirnya mencapai tahap terakhir. Tinggal beberapa menit lagi sebelum perjalanan itu benar-benar dimulai.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Hagia melangkah keluar dengan pakaian yang jauh lebih santai. Kali ini ia mengenakan kaus rajut lengan panjang berwarna sage dipadukan celana jeans gelap dan sepatu kets putih. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana, sementara sebuah tas selempang kecil menggantung di bahunya.

Begitu melihat Kalandra, ia langsung membuka mulut.

"Tuan, coba kalau dari kemarin Anda--"

Kalimat itu terhenti. Kalandra mengangkat telunjuknya pelan tepat di depan bibir Hagia.

"Syut."

Hagia mengerutkan dahi.

"Sarapan dulu." Kalandra menunjuk piring di atas meja.

"Saya cuma--"

"Sarapan."

Nada bicaranya tetap tenang. Tidak tinggi. Namun cukup untuk membuat Hagia menelan kembali seluruh protesnya.

Ia mendengus pelan sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk.

Sepanjang sarapan, Hagia benar-benar mematuhi ucapan Kalandra. Ia tidak berbicara sama sekali. Hanya sesekali melirik Kalandra dari balik cangkir teh hangatnya, lalu kembali menunduk. Wajahnya masih terlihat sedikit kesal karena sejak dua hari terakhir semua pertanyaannya selalu berakhir tanpa jawaban yang memuaskan. Kalandra tentu menyadarinya. Namun, ia memilih tetap diam. Sesekali hanya menyendok sarapan, meminum kopinya, lalu melihat jam tangan.

Sekitar lima belas menit kemudian, keduanya meninggalkan penthouse. Tas perjalanan dimasukkan ke bagasi. Kalandra mengambil tempat di balik kemudi, sementara Hagia duduk di kursi penumpang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mobil meluncur meninggalkan kawasan apartemen. Jakarta perlahan tertinggal di belakang mereka. Kemacetan pagi berganti jalan tol yang lebih lengang. Gedung-gedung tinggi berubah menjadi hamparan sawah, deretan pepohonan, dan perbukitan yang mulai terlihat di kejauhan.

Selama hampir dua jam perjalanan, hanya suara musik instrumental pelan yang menemani mereka. Hagia tetap memandang ke luar jendela. Sesekali memainkan ujung sabuk pengamannya. Sesekali menghela napas. Namun, tidak pernah lagi bertanya.

Kalandra melirik sekilas ke arahnya. "Tumben diam."

Tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian Hagia hanya melirik sebentar sebelum kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

"Kamu marah?"

"Enggak."

Jawabannya pendek. Datar. Itu justru membuat Kalandra hampir tersenyum.

"Dari wajahmu kelihatannya iya."

Hagia akhirnya menoleh. "Terus buat apa tanya?"

"Untuk memastikan."

"Kalau saya bilang saya memang kesal, Tuan mau apa?"

Kalandra tetap fokus menyetir.1d

"Saya minta maaf."

Jawaban itu membuat Hagia menoleh lebih cepat.

"Minta maaf?"

"Ya."

"CEO Arshaka minta maaf pada asistennya? Sejak kapan ada aturan begitu?"

Kali ini Kalandra benar-benar tersenyum tipis. "Bukan sebagai CEO Arshaka."

"Lalu?"

"Sebagai suami... kepada istrinya."

Mobil tetap melaju lurus. Namun, di dalamnya mendadak sunyi. Hagia menatap pria di sampingnya beberapa saat, seolah memastikan kalimat tadi benar-benar keluar dari mulut Kalandra. Perlahan ia mengangkat punggung tangannya, lalu menyentuh dahi Kalandra.

Kalandra mengernyit. "Ngapain?"

Hagia memasang wajah sangat serius. "Sebentar."

"Kenapa?

"Siapa Anda sebenarnya?"

Kening Kalandra semakin berkerut.

"Ini benar-benar Tuan Kalandra?" Hagia masih mempertahankan ekspresi seriusnya. "Cepat keluar dari tubuh Tuan saya."

Kalandra ikut mengangkat sebelah alis.

"Kalau saya tidak mau keluar?"

Hagia langsung menjawab,

"Berarti saya turun." Sambil pura-pura meraih handle pintu.

Kalandra spontan mengulurkan tangan ke arah pundaknya, baru dia tertawa.

Ia menatap pria itu tanpa berkedip.

"Ya Allah..." gumamnya lirih. "Benar-benar kerasukan ternyata. Sejak kapan Anda bisa tertawa?"

Kalandra masih tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Sementara Hagia justru perlahan menggeser tubuhnya mendekati pintu mobil, menciptakan jarak beberapa sentimeter lagi dari pria di sampingnya.

"Duduk yang benar."

"Saya belum tahu yang menyetir di samping saya ini mahluk macam apa."

Untuk kesekian kalinya, Kalandra kembali tertawa. Dan tanpa mereka sadari, dua jam perjalanan yang sebelumnya terasa begitu panjang mulai berlalu jauh lebih ringan.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!