NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Luka Yang Terbiasa Ditekan

Siang itu, Ara sedang duduk di sofa dekat jendela ketika ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk. Pesan itu dari Alessia.

Ara menatap nama itu beberapa detik sebelum membukanya.

##Kenapa kau terus bersembunyi di mansion itu?##

Ara menghela napas. Belum sempat ia meletakkan ponsel, pesan berikutnya masuk.

##Betah sekali kau tinggal di mansion?##

Jari Ara membuka kunci layar lagi. Pesan ketiga muncul.

##Lucu. Dulu kau takut padaku. Sekarang kau bersembunyi di belakang laki-laki lain.##

Rahang Ara mengeras. Ia tidak membalas. Ia sebenarnya tidak pernah takut pada Alessia. Ia hanya tidak mau berebut dengan kakaknya. Lagipula keluarganya sangat menjunjung adat, dan percaya anak pertama yang dipilih meneruskan. Apa daya ia terlahir sebagai anak kedua, hanya ditakdirkan sebagai pengganti. Semenjak kecil ia diajar untuk mengalah pada kakaknya. Ia terbiasa berdiri di sudut dan tak menarik perhatian. Bahkan ia tidak pernah dibawa berkunjung ke perusahaan keluarga Milano. Ia diasingkan di rumahnya sendiri. Ia bahkan kadang bertanya apakah ayahnya benar-benar ayahnya. Apakah ibunya sungguh-sungguh ibunya. Dan ia sudah terbiasa menelan semua. Ia terbiasa menekan kepedihannya.

Ponselnya kembali bergetar. ##Kau tidak ingin menemui kakakmu?##

Ara menatap layar. Lalu ia tertawa pendek. Alessia mungkin berpikir adiknya sama berkuasa seperti Dante. Bagaimanapun ia menikahi Dante Theo penguasa yang ditakuti dunia atas dan dunia bawah. Nama Dante mungkin menggetarkan. Tapi harusnya kakaknya bisa berpikir, ia dan Dante bukan orang yang sama. Meski pahit, harusnya itu membuatnya celik kakaknya tidak pernah mengenal adiknya sebaik ia mengenal kakaknya. Kakaknya bahkan tidak mencari tahu bagaimana kehidupan adiknya di mansion ini. Mungkin Dante seolah memberinya kebebasan, tetapi kebebasan itu tetap memiliki batas. Tanpa persetujuan Dante, kemana ia bisa pergi.

Ponsel Ara kembali bergetar. Pesan demi pesan singkat beruntun masuk.

##Aku tahu kau membaca semua pesanku.##

##Kalau kau tidak datang, aku anggap kau pengecut.##

##Atau mungkin kau sudah terlalu nyaman menjadi boneka Dante.##

Ara menatap pesan itu lama. Kali ini ia membalas.

##Apa sebenarnya yang kau inginkan?##

Balasan Alessia datang seketika.

##Aku ingin bicara dengan adikku. Bukan dengan istri mafia.##

Ara mengernyit. Pesan berikutnya masuk.

##Datang ke tempat yang akan kukirim. Jangan beri tahu Dante.##

Ara hampir tertawa lagi. Alessia benar-benar mengira semuanya sesederhana itu. Di mansion ini, Dante bahkan tidak perlu secara terang-terangan mengatakan ia tidak boleh pergi. Ia sudah belajar dan tahu batasnya. Andaipun Dante mengijinkannya keluar, tentu tetap ada prosedur, pengawalan, dan persetujuan.

Dan jika Dante tahu Alessia sedang mencoba menariknya keluar? Mustahil pria itu akan membiarkan Ara pergi.

Alessia mungkin sedang mencoba memainkan emosinya. Masalahnya, saat Alessia ingin memanipulasinya, apakah ia tidak berpikir adiknya sudah belajar banyak dari luka yang kakaknya torehkan di hidupnya. Lagipula sekarang sudah ada Dante.

Setidaknya suaminya itu ibarat pagar bagi Ara sehingga ia tidak kehilangan akal dan termakan belas kasihan. Bahkan ia kadang berpikir selama ini sepertinya hanya ia yang menganggap Alessia saudara, terikat hubungan darah. Sementara Alessia, bahkan ia ragu kakaknya itu apakah pernah menganggapnya saudara. Mungkin kakaknya itu hanya menjadikannya sekedar alat yang bisa digunakan dan dibuang sesuka hati, sesuai kebutuhan.

Ponselnya kembali bergetar.

##Kau selalu seperti ini. Diam ketika seharusnya bertindak.##

##Kalau kau tidak datang hari ini, mungkin kesempatan berikutnya tidak akan ada.##

##Aku akan pergi. Dan kali ini kau tidak akan pernah menemukanku.##

Ara menatap layar. Sepertinya kakaknya tidak sekadar ingin bertemu. Alessia ingin membuat Ara takut kehilangan kesempatan, membuatnya merasa bersalah, mendesak adiknya mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat.

Alessia ternyata masih melakukan manipulasi yang sama. Hanya kemasannya yang berbeda.

Ara meletakkan ponsel di meja. Tidak membalas. Lima menit kemudian—Pesan baru masuk.

##Kau benar-benar tidak peduli padaku?##

Ara memejamkan mata sebentar. Dulu, kalimat seperti itu mungkin cukup untuk membuatnya luluh. Sekarang tidak. Ia mengambil ponselnya lagi dan mengetik.

##Kalau kau ingin bertemu denganku, kau bisa datang ke mansion.##

Pesan terkirim. Balasan datang beberapa detik kemudian.

##Kau berubah.##

Ara menatapnya. Kakaknya sepertinya marah.

#Tidak. Aku tidak pernah berubah. Kau yang tidak pernah mengenalku.##

Kali ini Alessia tidak langsung membalas.

Ara meletakkan ponsel. Hatinya sakit. Ia tidak ingin mengetik kata-kata terakhir itu. Ia tidak pernah punya keinginan merusak persaudaraan mereka. Selama ini ia terus mengalah, buat apa. Bukankah semua yang ia lakukan demi menjaga hubungan persaudaraan ini tidak retak dan tidak putus? Tetapi apa gunanya, sejauh ini hanya ia yang berjuang, dan memperjuangkan. Rasanya capek. Jujur ia capek hati. Sampai kapan ia terus menelan sakitnya.

Tanpa Ara sadari, air mata menetes ke pipinya. Tapi ia tidak sedang menangis. Hatinya hanya sedih. Ia membiarkan air mata menggenang di pelupuk mata sebentar, baru tangannya mengusap. Tidak ada sesenggukan. Tidak ada suara tangis. Ia sudah terbiasa menekan perasaan kasih dan lukanya yang saling membalut jauh di kedalaman hatinya.

Kepala pelayan muncul dan memberitahu makan siang sudah siap. Ara hanya mengangguk.

Kepala pelayan menyerahkan sapu tangan ke Ara.

"Untuk apa?" tanya Ara bingung.

"Sapu tangan ini dari Tuan," beritahu kepala pelayan lagi.

Ara melirik cctv yang lampu kameranya masih berkedip. Ia lupa ada cctv di ruang keluarga ini. Dante mungkin melihatnya meneteskan air mata dan mengira istrinya sedang menangis.

"Aku tidak menangis, katakan pada Tuan." Ara menepis saputangan itu. Ia tidak mau menerimanya.

Kepala pelayan itu bersikeras agar nyonyanya bersedia mengambil sapu tangan itu.

"Sungguh aku tidak menangis. Aku hanya lapar." Ara tetap tidak mau menerima sapu tangan itu.

Namun kepala pelayan tidak berani menentang perintah Dante. Dengan terpaksa, Ara mengambil sapu tangan itu. Ia memasukkannya ke dalam saku celana. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Dante sekarang. Ia juga tidak mau memikirkannya. Perutnya benar-benar lapar. Ia pergi ke ruang makan. Disana sudah ada nasi goreng dan telur serta ayam goreng yang ia inginkan.

Paling tidak, hal-hal seperti ini bisa ia nikmati dari mansion Dante. Ia tidak perlu kawatir akan makanan dan minuman. Dante mencukupi semuanya.

Ara duduk di kursi tempat biasa duduk. Meski tidak ada Dante, ia tidak bakal duduk di tempat Dante. Ia mengisi nasi goreng dan mengambil telur serta ayam ke dalam piringnya. Ia makan dengan lahap. Ia mematikan ponselnya agar ia bisa tenang makan tanpa gangguan pesan dari Alessia.

Sementara di kantor, Dante diam-diam sudah membaca pesan Alessia. Ia tidak tahu bagaimana pesan-pesan singkat itu bisa membuat istrinya menangis. Sekalipun Ara bersikeras ia tidak menangis. Tapi melihat Ara meneteskan air mata, entah kenapa hatinya ikut sedih.

Tak berapa lama Dante memanggil Luca. Ia meminta Luca mencari tahu sebenarnya bagaimana hubungan kedua saudara sedarah keluarga Milano ini. Lebih tepatnya ia ingin tahu semua tentang Ara.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!