Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sha Nuo Menerima Misi
Lan Suya tampak benar-benar terkejut.
"Permaisuri... diculik?"
Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.
Beberapa saat kemudian, ia segera menatap Zhou Ren.
"Yang Mulia... Apakah Yang Mulia sudah mengetahui siapa pelakunya?"
Zhou Ren menggeleng pelan.
"Belum. Sampai saat ini, kami belum menemukan petunjuk yang mengarah kepada siapa dalang di balik semua ini."
Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.
"Saat para pelayan memasuki kamar Permaisuri Liu Meiyun tadi malam... permaisuri sudah tidak berada di sana."
Ruangan kembali sunyi. Liu Meiyun adalah permaisuri Kekaisaran Zhou yang dikenal lembut dan dicintai rakyat. Sulit membayangkan seseorang mampu menculik wanita yang tinggal di pusat pertahanan paling ketat di seluruh kekaisaran.
"Tetapi..."
Zhou Ren mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam lengan jubahnya.
"Ada sesuatu yang ditinggalkan."
Ia membuka gulungan itu di atas meja.
Semua orang segera mengalihkan pandangan. Di atas kertas itu tergambar sebuah peta wilayah Kekaisaran Zhou.
Namun perhatian mereka langsung tertuju pada delapan tanda berwarna merah. Delapan simbol X tersebar di berbagai penjuru peta. Di bagian bawahnya terdapat sebuah kalimat sederhana.
"Permaisuri berada di salah satu dari delapan tempat ini."
"..."
Ruangan kembali diliputi keheningan. Lan Suya mengernyit.
"Delapan tempat... Apakah semuanya berada di wilayah Kekaisaran Zhou?"
Zhou Ren mengangguk.
"Benar."
Yuang Dao memperhatikan peta itu dengan saksama.
"Jika ini benar... berarti pelaku memang sengaja memaksa kita membagi kekuatan."
Go Mu ikut berbicara.
"Atau... sejak awal, mereka memang ingin mengulur waktu."
Gao Rui yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut memandang peta tersebut.
"Kalau begitu... bagaimana Yang Mulia menentukan lokasi yang benar?"
Zhou Ren mengembuskan napas panjang.
"Itulah masalahnya. Kami tidak bisa."
"Delapan titik itu sama-sama memiliki kemungkinan."
"Bahkan kami tidak tahu apakah salah satunya benar-benar tempat Permaisuri ditahan, atau justru semuanya hanyalah tipu muslihat."
Lan Suya perlahan menganggukkan kepala. Ia akhirnya memahami mengapa Zhou Ren sampai meminta bantuan kepada Kelompok Harta Langit.
Zhou Ren kemudian kembali membuka suara.
"Sejak pagi tadi, istana sebenarnya sudah mulai bersiap. Kami telah membentuk tim pencari untuk menuju lokasi-lokasi tersebut."
"Tiap tim dipimpin oleh pendekar dan jenderal terbaik yang dimiliki Kekaisaran Zhou."
Tatapan Zhou Ren sedikit meredup.
"Namun... kami hanya mampu membentuk enam tim."
Mendengar itu, Lan Suya sedikit mengernyit.
"Hanya enam?"
Zhou Ren mengangguk pelan.
"Sebagian besar pasukan elit tidak mungkin meninggalkan ibu kota. Aku, Jenderal Go Mu, serta sejumlah jenderal lainnya juga harus tetap berada di sini."
"Ada kemungkinan semua ini hanyalah jebakan."
"Apabila seluruh kekuatan utama keluar dari ibu kota, lalu musuh menyerang istana... maka akibatnya akan jauh lebih buruk."
Ia mengepalkan tangan di atas meja.
"Sejujurnya... aku sendiri ingin memimpin pencarian Permaisuri."
Sorot matanya dipenuhi kegelisahan.
"Namun aturan kekaisaran tidak mengizinkannya."
"Begitu seorang kaisar meninggalkan ibu kota, ribuan prajurit pengawal dan banyak pendekar istana wajib ikut mengawalnya."
"Itu justru akan mengurangi jumlah orang yang dapat dikirim ke lokasi-lokasi tersebut."
Ruangan kembali hening.
Lan Suya akhirnya menatap Zhou Ren.
"Jadi... Yang Mulia ingin Kelompok Harta Langit mengirimkan tim tambahan untuk mencari Permaisuri?"
Zhou Ren menganggukkan kepala.
"Benar."
Tatapannya perlahan beralih kepada Yuang Dao. Lalu kepada Sha Nuo yang sejak tadi masih duduk dengan tenang.
"Aku mengetahui kemampuan Senior Yuang Dao."
"Kemudian..."
Tatapannya berhenti pada Sha Nuo.
"...aku juga telah melihat sendiri kemampuan Senior Sha Nuo siang tadi."
Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh.
"Apabila Senior Yuang Dao dan Senior Sha Nuo masing-masing bersedia memimpin satu tim pencarian... maka kami akan memiliki delapan tim."
"Delapan lokasi dan delapan kesempatan."
"Dengan begitu, seluruh titik yang ditinggalkan pelaku dapat kami selidiki secara bersamaan."
Zhou Ren menangkupkan kedua tangannya dengan penuh hormat.
"Karena itulah... aku memohon bantuan kalian."
Ruangan kembali diliputi keheningan. Lan Suya tidak segera menjawab. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sementara tatapannya tertuju pada peta yang masih terbentang di hadapan mereka.
"..."
Di dalam benaknya, berbagai pertimbangan bermunculan silih berganti. Membantu istana bukanlah keputusan sederhana.
Mereka sama sekali tidak mengetahui siapa dalang di balik penculikan Permaisuri. Mereka juga tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan yang akan dihadapi. Apabila ternyata semua ini adalah jebakan yang disiapkan oleh kekuatan besar, maka orang-orang Kelompok Harta Langit pun bisa ikut terseret ke dalam bahaya.
Namun, di sisi lain, apabila mereka berhasil membantu menyelamatkan Permaisuri, hubungan Kelompok Harta Langit dengan keluarga kekaisaran tentu akan menjadi jauh lebih erat. Keuntungan seperti itu tidak dapat dinilai hanya dengan harta.
Setelah berpikir beberapa saat, Lan Suya akhirnya mengangkat kepalanya.
"Yang Mulia."
Tatapannya mantap.
"Kelompok Harta Langit bersedia membantu."
Wajah Zhou Ren sedikit berubah lega.
Lan Suya melanjutkan,
"Kalau begitu... biarkan aku sendiri yang memimpin satu tim pencarian."
Namun...
"Tidak boleh."
Suara berat Sha Nuo tiba-tiba terdengar. Semua orang langsung menoleh kepadanya. Sha Nuo sendiri tampak sedikit terdiam setelah mengucapkan kalimat itu.
"..."
Baru beberapa saat kemudian ia berdeham pelan.
"Eh... maksudku..."
Ia buru-buru mencari alasan.
"Nyonya Ya tetap harus berada di ibu kota."
Semua orang masih memandangnya. Sha Nuo kemudian melanjutkan dengan wajah yang berusaha tetap tenang.
"Operasional Kelompok Harta Langit di Kekaisaran Zhou berada di bawah pengawasannya."
"Kalau ia ikut pergi..."
"...siapa yang akan mengurus semua urusan di sini?"
Ia menunjuk pelan ke arah Lan Suya.
"Kalau pemimpinnya pergi, kegiatan Harta Langit pasti akan terganggu. Keputusan penting akan tertunda."
Ruangan kembali sunyi. Go Mu menganggukkan kepala pelan.
"Itu memang masuk akal."
Bahkan Zhou Ren pun tampak setuju.
Lan Suya sendiri sedikit berkedip. Entah mengapa, ia merasa alasan Sha Nuo terdengar terlalu dipaksakan. Namun, semakin dipikirkan, ucapan pria itu memang benar.
Seluruh cabang Harta Langit di Kekaisaran Zhou saat ini berada di bawah kendalinya. Jika ia pergi selama beberapa hari, tentu akan ada banyak pekerjaan yang tertunda.
Pada saat itulah, Yuang Dao yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Kalau begitu... biarkan aku saja yang memimpin satu tim."
Tatapannya beralih kepada Lan Suya.
"Nyonya Ya tetap tinggal di ibu kota."
"Selain demi mengawasi Harta Langit... juga demi keselamatanmu."
Lan Suya sedikit terkejut.
Yuang Dao kembali berkata,
"Aku tidak membutuhkan terlalu banyak orang. Cukup beberapa orang saja."
"Bai Kai ikut bersamaku. Kami berdua, ditambah beberapa orang lain, sudah lebih dari cukup."
Nada suaranya tetap tenang.
"Dengan tim yang kecil, pergerakan kami juga akan lebih cepat."
Zhou Ren segera berdiri lalu menangkupkan kedua tangannya.
"Terima kasih..."
Senyum tulus muncul di wajahnya.
"...Paman Dao."
Sapaan yang begitu akrab itu membuat suasana ruangan sedikit menghangat.
Yuang Dao hanya tersenyum tipis.
"Kau tidak perlu sungkan."
Setelah itu, semua pandangan perlahan beralih kepada satu orang, Sha Nuo.
Kini hanya tinggal dirinya yang belum memberikan jawaban. Sha Nuo menggaruk pipinya pelan.
Namun alih-alih langsung menjawab, ia justru menoleh ke samping. Tatapannya jatuh kepada Gao Rui.
"Rui’er"
"Hm?"
Sha Nuo menunjuk dirinya sendiri.
"Menurutmu... aku harus ikut misi ini?"
Pertanyaan itu membuat semua orang sedikit terdiam.
Gao Rui sendiri tidak berpikir lama. Ia langsung menganggukkan kepala.
"Tentu saja, Paman."
Nada suaranya terdengar mantap.
"Ini menyangkut keselamatan Permaisuri tanah air kita."
"Kalau Paman bisa membantu... menurutku Paman memang sebaiknya ikut."
Sha Nuo menatap bocah itu beberapa saat.
Kemudian...
"Hah..."
Ia mengembuskan napas panjang.
"Baiklah."
Tatapannya kembali kepada Zhou Ren.
"Aku ikut."
Wajah Zhou Ren langsung menunjukkan kegembiraan.
Namun kalimat Sha Nuo belum selesai.
"Aku... dan Gao Rui..."
"...akan menuju salah satu titik lokasi itu."
"..."
Ucapan itu membuat seluruh ruangan kembali membeku. Bahkan Gao Rui sendiri langsung membelalakkan matanya.
"Eh?"
Ia spontan menunjuk dirinya sendiri.
"A-aku juga?"