NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

balasan Budi yang penuh keraguan

Namun aku tidak beranjak sedikit pun dari tempatku. “Kau baru saja menolongku dari bahaya. Izinkanlah aku membalas sedikit kebaikan itu.”

Ia menoleh sejenak menatapku dengan pandangan yang sangat tajam. “Jangan pernah merasa dirimu begitu berharga. Aku tidak menolongmu karena rasa iba. Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran!”

Meski diusir dengan kata-kata yang begitu tajam, aku tetap diam di tempat. Aku melirik sekilas ke kiri dan ke kanan, namun di sini benar-benar sepi, tak ada seorang pun yang lewat, dan tak ada benda apa pun yang bisa kugunakan untuk membantunya. Dengan tekad yang bulat, aku merobek sedikit bagian bawah bajuku, secukupnya saja untuk dijadikan perban. Saat aku kembali berusaha mendekat guna mengikat lukanya, tiba-tiba ia mendorongku cukup kasar hingga aku terhuyung mundur beberapa langkah.

“Kubilang pergilah!” bentaknya sekali lagi dengan nada yang semakin meninggi.

Aku menatapnya dengan penuh keraguan namun tetap berdiri teguh di tempatku. “Ibu pernah berpesan kepadaku: jika seseorang telah berbuat baik kepadamu, maka kau wajib membalas kebaikan itu sebaik mungkin. Aku hanya ingin melaksanakan apa yang pernah diajarkan ibuku itu.”

Pria itu menyeringai sinis mendengarnya, menatapku dengan tatapan yang sulit kucerna apa maksudnya sebenarnya.

“Kalau kau benar-benar ingin membalas budi kepadaku… bagaimana kalau kau menemaniku dan melayaniku di sini malam ini?”

Aku spontan mundur selangkah, tumit kakiku bergeser di atas permukaan aspal yang kasar itu. Wajahku seketika berubah pucat pasi, napasku terasa tercekat di kerongkongan, mataku terasa memanas hingga air mata hampir tumpah kembali — rasa takut, heran, dan kecewa bercampur aduk membuat dadaku terasa sesak luar biasa. Namun tak lama kemudian pria itu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, suaranya terdengar kaku dan berat menahan rasa sakit saat ia berkata: “Baiklah… lakukan saja apa yang kau mau.” Ia mengangguk samar memberi izin, namun tangannya masih tetap mencengkeram lengan itu dengan erat, dan ia sama sekali tak berani kembali menatap ke arahku sedikit pun.

Aku menghela napas lega secara perlahan, lalu kembali melangkah mendekat ke arahnya. Sesekali aku mencuri pandang ke arah wajahnya, namun setiap kali ia sedikit saja menggerakkan tubuhnya, aku langsung mundur kaget karena rasa canggung dan takut. Perlahan ia mulai membuka kancing bajunya satu per satu hingga bagian itu terbuka lebar, memperlihatkan tubuh berototnya yang terlihat kokoh namun kini ada noda darah yang mulai menyebar. Aku buru-buru memalingkan wajahku ke arah lain, tak berani menatapnya lebih lama — rasa malu, canggung, dan rasa takut bercampur menjadi satu memenuhi dadaku.

“Jangan berlagak segan atau malu begitu. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan itu,” ucapnya dengan nada yang tetap dingin dan datar.

Aku memberanikan diri kembali maju perlahan, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan: “Maaf ya kalau aku menyakitimu… izinkan aku melihat lukanya sebentar.”

Mataku kini tertuju sepenuhnya pada luka di lengannya, di mana darah masih terus merembes keluar membasahi kulit. Tanganku gemetar hebat saat hendak menyentuhnya, keringat dingin mulai membasahi seluruh telapak tanganku. Dengan sangat hati-hati aku membentangkan kain sobekan dari bajuku tadi, lalu mulai mengikatnya perlahan pada bagian luka itu agar darahnya segera berhenti mengalir. Sepanjang waktu itu aku hanya fokus sepenuhnya pada lengan itu saja, tak berani melirik ke arah mana pun yang lain, takut jika gerakanku keliru dan malah menambah rasa sakitnya. Namun jarak tubuh kami saat ini terasa begitu dekat, hingga setiap kali ia meringis menahan rasa sakit, aku bisa merasakan hembusan napasnya yang terasa berat. Tanpa kusadari, selama aku sibuk merawat lukanya, ia justru terus menatapku dengan pandangan yang tajam namun tenang, seolah sedang meneliti setiap inci wajah dan tingkah lakuku secara diam-diam.

Begitu selesai mengikatnya dengan cukup kuat namun tetap tidak terlalu menekan, dadaku terasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Saat aku hendak mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya secara tiba-tiba, ekspresiku seketika menjadi kaku dan bingung manakala pandangan mata kami langsung bertemu. Kami sadar bahwa jarak wajah kami saat ini terasa terlalu dekat, hingga napas kami hampir saling bersentuhan. Secara refleks aku hendak mundur menjauh, namun tangan kanannya bergerak sangat cepat melingkar di bagian pinggangku, lalu menarikku kembali hingga tubuhku jatuh tepat di dalam pelukannya yang kokoh. Tanpa sadar kedua telapak tanganku tertekan pada dadanya untuk menahan jarak sedikit saja, sementara seluruh tubuhku masih terasa gemetar hebat. Detak jantungku berpacu dengan sangat liar, hingga rasanya seolah mau melompat keluar dari kerongkonganku saat itu juga.

Suaranya terdengar berat, dalam, dan penuh dengan rasa curiga yang nyata.

“Bukankah ini sebenarnya yang kau inginkan?”

Aku berusaha melepaskan diri dari genggamannya, namun lengannya terasa sekuat baja — tak bergeser sedikit pun meski aku sudah berusaha sekuat tenaga.

“Bukankah kau memang sengaja datang ke sini untuk memancingku?” tanyanya sekali lagi, bibirnya nyaris menyentuh telingaku. “Berpura-pura polos dan tidak tahu apa-apa di depanku, padahal diam-diam kau sudah menyiapkan segala cara agar aku tertarik padamu. Kenapa sekarang tiba-tiba kau bersikap seolah menolak?”

Wajahnya makin mendekat, dan hembusan napasnya terasa hangat namun berat di pipiku. Rasa takut seketika menguasai diriku, pikiranku menjadi kosong melompong. Tanpa sadar tanganku terulur dan menekan tepat pada bagian luka di lengannya. Ia tersentak kaget hebat, dan genggamannya di tubuhku pun langsung terlepas seketika.

Aku segera mundur terhuyung ke belakang, jantungku berdegup kencang seolah mau meledak. Sekilas aku melihat ia meringis menahan rasa sakit yang tajam, namun rasa takut yang meliputiku jauh lebih besar daripada rasa iba yang ada di hatiku. Aku tahu aku tak boleh berlama-lama lagi berada di dekatnya. Tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun, aku segera berbalik arah dan berlari sekuat tenaga, meninggalkannya sendirian di tengah lorong yang gelap itu.

Aku terus berlari sekuat tenaga tanpa henti, napasku memburu dan kacau, hingga akhirnya bangunan rumah sakit mulai terlihat samar di kejauhan. Langkah kakiku makin dipercepat, seluruh pikiranku kini hanya tertuju pada satu hal: Aslan. Aku sudah pergi terlalu lama dari sisinya, pasti ia sudah merasa cemas dan bingung menungguku sendirian.

Aku segera masuk kembali ke dalam rumah sakit, suara langkah kakiku terdengar cukup nyaring di atas permukaan lantai keramik yang dingin dan mengkilap. Sesampainya di depan pintu ruangan tempat Aslan dirawat, aku berhenti sejenak untuk mengusap wajahku yang terlihat berantakan, merapikan sedikit pakaianku yang kusut, barulah aku memberanikan diri memutar gagang pintu itu dengan perlahan.

Pasien-pasien lain yang ada di ruangan itu semuanya sudah terlelap dalam tidurnya. Di sisi ranjang yang kami tempati, Aslan juga terlihat sedang tidur dengan cukup tenang. Aku hanya berdiri diam menatap wajahnya yang masih tampak pucat itu cukup lama, hingga perlahan mataku kembali berkaca-kaca. Pikiranku kembali kusut seketika — biaya untuk operasinya belum terpenuhi sama sekali, dan aku pun belum tahu dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu.

Aku pun duduk di kursi kayu yang ada tepat di tepi ranjang, menyandarkan punggungku ke dinding yang dingin, lalu perlahan memejamkan mataku sejenak untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat lelah ini.

Keesokan paginya aku terbangun karena terdengar suara riuh rendah obrolan orang-orang dan suara langkah kaki yang lalu lalang di lorong luar. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela yang terbuka, bercampur dengan suara klakson kendaraan serta kicauan burung yang terdengar dari arah jalan raya. Ternyata aku tertidur dalam keadaan duduk semalaman, dengan kepala tertekuk bersandar pada tepi kasur tempat Aslan berbaring. Aku mengucek mataku yang masih terasa berat, pandanganku masih agak kabur dan berbayang. Aku meluruskan tubuhku perlahan, lalu mendongak ke arah ranjang — dan ternyata Aslan sudah bangun lebih dulu, matanya menatap lurus ke arahku tanpa berkedip.

“Sejak kapan kau sudah bangun? Apakah tubuhmu masih terasa sakit?” tanyaku dengan sedikit rasa bingung.

Ia hanya menggelengkan kepalanya perlahan. “Tidak terasa sakit lagi, Kak.”

Tiba-tiba perutku berbunyi cukup keras memecah keheningan, dan tak lama kemudian terdengar bunyi serupa dari arah perut Aslan. Wajahku seketika terasa panas karena malu. Aku segera bangkit berdiri sambil berusaha tersenyum sebisaku. “Kalau begitu… Kakak pergi sebentar untuk membeli makanan ya.”

“Iya, Kak.”

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!