NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Perlindungan Pak Yanto

"Bos," katanya akhirnya, "kalau Kevin sampai tahu perusahaan kita berkembang, dia pasti akan ganggu."

"Dia boleh mencoba," jawab Raka.

Nada Raka tidak tinggi, tetapi seluruh ruang rapat seperti ikut diam mendengarkan. Adi menatapnya, Yuli berhenti memainkan spidol, dan Agus berdiri lebih tegak.

"Yang penting," lanjut Raka, "saat dia mencoba, kita sudah punya bukti, prosedur, dan saksi."

Kesempatan itu datang seminggu kemudian.

Pak Yanto membuka kiosnya lebih pagi dari biasa. Gerobak sate ayamnya sudah diperbaiki, cat merah ancaman yang dulu mengotori papan nama telah ditutup warna baru. Tetapi tangan Pak Yanto masih gemetar saat menyalakan arang. Orang yang pernah diperas lama tidak langsung sembuh hanya karena ada kontrak keamanan.

Di seberang jalan, dua anggota Garuda Shield duduk seperti pembeli biasa. Seragam mereka tidak dipakai penuh, tetapi body camera kecil aktif di dada. Agus berada di mobil operasional yang diparkir tidak jauh. Raka datang sendiri menjelang siang, memakai kemeja gelap dan celana biasa.

Sebelum operasi dimulai, Agus sudah mengulang pengarahan tiga kali. Tidak boleh memancing. Tidak boleh mengejar lawan yang sudah mundur. Tidak boleh memukul setelah lawan terkendali. Setiap kata ancaman harus terekam, setiap kontak fisik harus bisa dijelaskan, dan setelah kejadian selesai harus ada laporan ke Polsek. Raka sengaja membuat aturan itu keras karena ia tahu batas antara perusahaan keamanan dan preman hanya terlihat jelas ketika situasi panas.

Pak Yanto mendengar pengarahan itu dari dekat. Awalnya ia tidak mengerti kenapa orang yang dibayar untuk melindungi justru membicarakan larangan. Tetapi semakin lama ia mendengar, semakin ia merasa dadanya lega. Preman selalu datang dengan kalimat, "Ikuti kami atau hancur." Garuda Shield datang dengan kalimat, "Ikuti prosedur agar semua aman."

"Pak Yanto," sapa Raka.

Pak Yanto hampir menjatuhkan kipas bambu. "Pak Raka. Maaf, saya agak gugup."

"Gugup boleh. Bayar preman jangan."

Pak Yanto tertawa kecil, lalu cepat-cepat mengangguk.

Raka memeriksa sekitar. Jalan itu ramai oleh motor, pedagang kaki lima, dan pembeli makan siang. Tempat seperti ini sempurna untuk pemerasan kecil: cukup ramai untuk menakut-nakuti korban, cukup kacau untuk membuat orang lain pura-pura tidak melihat.

Pukul dua belas lewat sedikit, tiga pria datang.

Yang paling depan memakai kaus ketat dan rantai imitasi. Lehernya penuh tato lama yang mulai pudar. Dua orang di belakangnya membawa helm. Benda itu memberi alasan bagi tangan mereka untuk menggenggam sesuatu yang keras.

Pak Yanto langsung membeku.

Pria berantai itu mengetuk etalase kaca dengan buku jarinya. "Yanto. Sudah waktunya setoran."

Pak Yanto menelan ludah. Ia melirik Raka.

Raka tidak bergerak dari kursinya.

"Saya sudah tidak bayar," kata Pak Yanto, suara gemetar tetapi jelas. "Kalau ada tagihan resmi, kirim surat."

Pria berantai itu tertawa. "Surat? Kamu sekarang pintar?"

Ia mengangkat tangan hendak menampar etalase lebih keras, tetapi Agus sudah berdiri di sampingnya.

Tidak ada yang melihat kapan Agus turun dari mobil.

"Pak," kata Agus, "tolong mundur dari gerobak."

Pria itu menoleh. "Siapa lo?"

Agus menunjukkan kartu identitas perusahaan dan salinan surat tugas. "Garuda Shield Security. Kami dikontrak untuk pengamanan dan pendampingan usaha Pak Yanto. Area ini sedang direkam. Jika ada pemerasan atau ancaman, kami akan lapor ke Polsek."

Dua pria di belakang saling melirik.

Pria berantai tidak mundur. Justru ia mendekat ke Agus. "Security kecil berani ikut campur urusan orang?"

Agus menjawab, "Pemerasan bukan urusan pribadi."

Raka berdiri.

Gerakan itu membuat pria berantai menoleh. Mungkin ia mengenali wajah Raka dari laporan seseorang. Mungkin hanya karena postur Raka terlalu tenang untuk pembeli sate biasa.

"Oh," kata pria itu. "Ini bosnya?"

Raka berjalan mendekat. "Nama?"

"Buat apa?"

"Supaya laporan saya tidak salah."

Wajah pria itu mengeras. "Nama gue Roni. Ingat baik-baik. Kalau kalian mau cari makan di jalan ini, jangan sok bersih."

Nama itu mengunci banyak hal.

Yuli pernah menyebut Roni. Aruna Lounge. Lingkaran Kevin.

Raka tidak menunjukkan reaksi. "Roni, kamu dan temanmu diminta pergi. Kalau ada tuntutan legal ke Pak Yanto, ajukan lewat jalur hukum."

Roni meludah ke samping. "Hukum? Di sini hukum itu siapa yang pegang jalan."

Ia mendorong dada Agus.

Dorongan itu cukup untuk menjadi bukti ancaman fisik. Agus tidak membalas dengan pukulan. Ia menangkap pergelangan Roni, memutar sedikit, dan mengunci tangannya ke belakang dengan gerakan pendek. Roni menjerit.

Dua temannya maju.

Anggota Garuda Shield yang sejak tadi duduk sebagai pembeli langsung berdiri. Satu menghalangi pria berhelm kanan. Satu lagi menahan pria kiri. Semuanya cepat, terlatih, dan tidak berlebihan. Tidak ada tendangan ke kepala, tidak ada pukulan setelah lawan jatuh, tidak ada gaya preman melawan preman.

Hanya kontrol.

Namun pria kiri mencoba mengayunkan helm ke arah wajah anggota Garuda Shield.

Raka bergerak.

Bagi orang biasa, gerakannya seperti satu bayangan gelap lewat. Bagi Raka sendiri, dunia melambat sepersekian detik. Peningkatan fisik sepuluh kali lipat masih harus dikendalikan; ia tidak boleh mematahkan tulang hanya karena mampu.

Tangannya menangkap pergelangan pria itu sebelum helm turun. Ia menekan titik keseimbangan, memutar tubuh lawan, lalu menjatuhkannya ke tanah dengan punggung lebih dulu. Helm terlepas dan menggelinding ke kaki Pak Yanto.

Pria itu mengerang, kaget lebih besar daripada sakit.

Pembeli di sekitar mundur. Beberapa ponsel terangkat. Tetapi kali ini, ponsel itu merekam preman yang datang memeras dan tim legal yang menahan serangan.

Roni masih terkunci oleh Agus. Wajahnya merah karena malu.

"Lepasin gue!" teriaknya. "Kalian nggak tahu lagi ganggu siapa!"

Agus berkata datar, "Tenang. Nanti bicara di kantor polisi."

Mendengar kata polisi, dua teman Roni langsung kehilangan keberanian. Salah satu berkata, "Bang, udah, Bang..."

Raka mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Polsek yang sudah disiapkan. Ia bicara singkat: lokasi, dugaan pemerasan, ancaman fisik, pihak yang diamankan, rekaman tersedia.

Pak Yanto berdiri di belakang gerobaknya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya berubah. Selama bertahun-tahun ia melihat orang seperti Roni datang dan pergi seperti pemilik jalan. Hari ini, untuk pertama kalinya, Roni menunduk dengan tangan terkunci.

"Pak Raka," bisiknya, "terima kasih."

"Terima kasih nanti," kata Raka. "Sekarang tetap tenang. Kita selesaikan sesuai prosedur."

Sirene pendek terdengar beberapa menit kemudian. Bukan sirene besar, hanya kendaraan patroli mendekat. Roni mendengar itu dan mulai panik.

Ia menoleh ke Raka, lalu menyeringai buruk meski napasnya berat.

"Kalian pikir ini selesai?" katanya. "Kalian cuma security baru. Sekali telepon, kalian habis."

Raka menatapnya. "Telepon siapa?"

Roni tertawa kasar. Di bibirnya ada darah tipis karena tadi menggigit sendiri saat dikunci.

Preman kepala itu meludah darah tipis, lalu menyeringai. "Kalian sudah cari mati. Tuan Muda Kevin yang suruh kami."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!