Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel mewah itu.
Deni sedang sibuk memasukkan beberapa bungkus sisa camilan ke dalam tas ranselnya.
Srek srek.
Suara bungkus plastik itu membuat Clara yang sedang duduk di sofa menoleh ke arahnya.
"Kamu ini mau pulang atau mau buka warung kelontong sih Deni," tegur Clara melihat isi tas pengawalnya itu.
"Sayang Nona bos kalau dibuang, camilan hotel ini harganya mahal jadi harus dibawa pulang semua," jawab Deni dengan santai.
Clara hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan pemuda itu.
Wanita cantik itu lalu mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari atas meja kaca di depannya.
"Deni kemarilah sebentar, aku punya tugas yang sangat penting untukmu pagi ini," panggil Clara dengan nada serius.
Deni segera menutup ritsleting tasnya dan berjalan menghampiri bosnya itu.
Sret.
"Ada tugas apa Nona, apakah Tuan Hermawan mengajak kita duel memperebutkan proyek lagi," tanya Deni dengan mata berbinar.
"Bukan soal Tuan Hermawan, tapi ini menyangkut dokumen kontrak asli proyek resor kita semalam," jelas Clara sambil menyodorkan amplop itu.
"Dokumen ini harus sampai di tangan Siska di kantor pusat kota sebelum jam dua belas siang ini juga."
Deni mengambil amplop cokelat itu dan menimbang-nimbangnya dengan sebelah tangan.
"Kenapa tidak dibawa sekalian sama Nona bos saat pulang naik mobil nanti," tanya Deni merasa bingung.
"Aku masih harus menghadiri rapat penentuan lokasi di balai kota pesisir ini sampai sore nanti," jawab Clara menghela nafas panjang.
"Aku khawatir pihak pesaing akan menyewa orang jahat lagi untuk merampas kontrak ini di tengah jalan jika aku membawanya."
Deni langsung tersenyum lebar sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Puk puk.
"Nona bos tenang saja, serahkan urusan antar mengantar barang pada kurir bintang lima ini," ucap Deni sangat percaya diri.
"Aku jamin dokumen ini akan sampai di meja Siska tanpa ada satu debu pun yang menempel."
Clara tersenyum lega mendengar janji mutlak dari pengawal andalannya itu.
"Tapi bagaimana caramu pulang ke kota Deni, jaraknya kan lumayan jauh kalau naik angkutan umum," tanya Clara sedikit cemas.
Deni mengibaskan tangannya santai.
"Aku sudah meminjam motor sport milik satpam hotel di bawah dengan uang sewa seratus ribu Nona," jawab Deni cengengesan.
"Motor itu larinya lumayan kencang jadi aku bisa potong jalan lewat jalur perbukitan yang sepi."
Clara menatap Deni dengan sorot mata yang penuh dengan kekhawatiran.
"Jalur perbukitan itu rawan sekali Deni, kamu harus sangat berhati-hati di jalan nanti," pesan Clara mewanti-wanti.
"Tentu saja Nona bos, tapi sebelum aku berangkat Nona jangan lupa buka aplikasi kurir ya," tagih Deni mengeluarkan ponsel bututnya.
"Pesan jasaku lewat aplikasi agar nanti saat Siska menerima barang ini dia bisa langsung memberiku ulasan bintang lima."
Clara tertawa kecil karena pemuda ini tidak pernah lupa soal ulasan sistemnya dalam keadaan apa pun.
"Iya iya dasar kurir gila ulasan, aku sudah memesannya dari tadi pagi," balas Clara sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Ting.
Ponsel butut Deni berbunyi menandakan pesanan pengantaran dokumen VIP telah masuk ke dalam daftarnya.
"Baiklah Nona bos, aku berangkat sekarang dan Nona hati-hati juga rapatnya di sini ya," pamit Deni melambaikan tangannya.
Deni lalu keluar dari kamar hotel dan turun ke area parkir tempat motor sport pinjamannya berada.
Brum brum.
Suara knalpot motor sport merah itu menggelegar membelah jalanan pesisir pantai saat Deni memacu kendaraannya.
Angin laut perlahan berganti menjadi angin pegunungan yang sejuk saat motor Deni mulai memasuki jalur lintas perbukitan.
Jalanan aspal di daerah itu memang terkenal sangat sepi dan diapit oleh tebing batu serta jurang yang cukup curam.
Wush.
Deni sangat menikmati perjalanan ini sambil bersenandung lagu dangdut kesukaannya.
Namun tiba-tiba indra pendengarannya yang tajam menangkap suara desingan aneh dari arah tebing di sebelah kanannya.
Syu syu.
Dua buah panah besi melesat sangat cepat mengarah tepat ke ban depan dan ban belakang motor yang sedang dikendarai Deni.
Trang trang.
Deni langsung menekan tuas rem dalam-dalam sambil memiringkan badan motornya untuk menghindari panah tersebut.
Ckiit.
Ban motor bergesekan keras dengan aspal hingga menimbulkan asap putih yang tipis.
Motor sport itu berhenti dengan posisi melintang tepat di tengah jalanan perbukitan yang sunyi tersebut.
"Wah ada yang mau mengajak main panahan rupanya pagi-pagi begini," gumam Deni tanpa merasa panik sedikitpun.
Dari atas tebing berbatu itu melompat turun tiga orang pria berpakaian jubah abu-abu.
Tap tap tap.
Ketiga pria itu mendarat dengan sangat ringan di atas aspal tanpa menimbulkan suara yang keras.
"Ternyata benar laporan dari anak buahku, kau memang pemuda yang sangat peka terhadap serangan tiba-tiba," ucap salah satu pria berjubah abu-abu itu.
Pria yang berbicara itu memiliki janggut panjang dan membawa sebuah busur panah hitam di tangan kirinya.
Deni mematikan mesin motornya lalu turun dan menyandarkan motor itu perlahan pakai standar samping.
Cetek.
"Kalian ini siapa lagi sih paman, apa kalian ini temannya paman jarum merah yang di jalan tol kemarin itu," tanya Deni sambil meregangkan lehernya.
Pria berjanggut itu mendengus marah mendengar ucapan Deni yang meremehkan.
"Jangan samakan kami dengan murid tingkat rendah seperti mereka kurir bodoh," bentak pria berjanggut itu.
"Aku adalah tetua sekte Elang Hitam, dan kami disewa oleh Tuan Rian untuk membawa dokumen di dalam tasmu itu."
Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa sangat bosan dengan penjelasan klise penjahat bayaran ini.
"Tuan botak itu sepertinya punya banyak uang ya sampai bisa menyewa sekte-sekte aneh terus," komentar Deni santai.
"Tapi maaf saja paman janggut, dokumen ini harus segera kuantar karena aku butuh ulasan bintang limanya."
Dua pria berjubah abu-abu lainnya langsung mencabut pedang panjang dari sarung di pinggang mereka.
Sring.
"Jangan sombong kau bocah, hari ini nyawamu akan melayang bersama kesombonganmu itu," ancam salah satu pemegang pedang.
Kedua pemegang pedang itu langsung melesat maju menyerang Deni dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan.
Wush.
Gerakan mereka memang terlihat jauh lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pembunuh bayaran di jalan tol sebelumnya.
Mereka menebaskan pedang itu menyilang mengincar leher dan kaki Deni untuk menutup semua jalan keluar.
Tapi Deni sama sekali tidak berniat mundur atau menghindar dari serangan mematikan itu.
"Kalian ini lambat sekali seperti siput sedang jalan-jalan sore," ejek Deni sambil menguap.
Deni hanya menjulurkan kedua tangannya ke arah depan dan mencengkeram bilah tajam kedua pedang itu menggunakan tangan kosong.
Trang.
Kedua pria pemegang pedang itu melotot tidak percaya melihat senjata pusaka mereka ditahan pakai tangan kosong tanpa meninggalkan luka gores sedikitpun.
"A-apa yang terjadi, tangan bocah ini terbuat dari baja murni atau bagaimana," batin salah satu penyerang dengan tubuh bergetar.
Deni tersenyum miring lalu meremas bilah pedang itu dengan sedikit tenaga dalamnya.
Krak krak.
Kedua pedang panjang baja itu langsung hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu godam.
Pecahan besi tajam berjatuhan ke atas aspal jalanan dengan suara yang nyaring.
Ting ting.
Sebelum kedua penyerang itu sempat bereaksi kabur, Deni langsung melepaskan dua pukulan ringan ke arah dada mereka.
Bug bug.
"Arghh," jerit kedua pria itu bersamaan sambil memuntahkan darah.
Tubuh mereka berdua terpental jauh ke belakang dan berguling-guling di atas aspal hingga akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Kini di tengah jalan raya itu hanya tersisa pria berjanggut yang wajahnya sudah berubah pucat seperti mayat.
Tangan pria berjanggut itu gemetar hebat saat memegang busur panahnya karena ketakutan melihat kekuatan monster dari sang kurir.
"M-monster dari mana sebenarnya kau ini anak muda," tanya pria berjanggut itu dengan suara bergetar.
Deni berjalan perlahan menghampiri pria berjanggut itu dengan kedua tangan santai di dalam saku jaketnya.
Tap tap tap.
"Aku cuma kurir makanan biasa paman, kalian saja yang terlalu lemah karena jarang makan sayur," jawab Deni jujur namun terasa seperti hinaan telak.
Pria berjanggut itu merasa terdesak dan langsung menarik tiga anak panah sekaligus ke tali busurnya.
"Mati kau iblis," teriaknya putus asa sambil melepaskan ketiga anak panah itu dari jarak yang sangat dekat.
Syu syu syu.
Tiga anak panah besi itu melesat lurus mengincar wajah dan jantung Deni dengan kecepatan maksimal.
Tapi Deni hanya menghela nafas panjang dan meniup anak panah yang melesat itu dengan kencang dari mulutnya.
Fuhhh.
Hembusan nafas yang bercampur tenaga dalam murni itu langsung mengubah arah ketiga anak panah tersebut.
Anak-anak panah itu berbelok arah ke atas dan menancap keras di batang pohon besar di pinggir jurang.
Tancap.
Pria berjanggut itu menjatuhkan busurnya ke aspal dan kakinya langsung lemas hingga jatuh berlutut.
Bruk.
Dia tidak pernah melihat atau membayangkan ada manusia yang bisa membelokkan panah besi hanya dengan sebuah tiupan nafas.
"Ampun, tolong ampuni nyawaku Tuan yang sakti," mohon pria berjanggut itu bersujud sampai kepalanya menyentuh aspal jalanan.
Deni berhenti tepat di depan pria yang sedang bersujud ketakutan itu.
"Aku sedang buru-buru paman, jadi aku tidak punya waktu untuk mengurus kalian berlama-lama di sini," kata Deni menatap dingin.
"Sampaikan salamku pada paman botak itu, suruh dia berhenti mengirim lalat pengganggu kalau masih sayang dengan nyawanya."
Pria berjanggut itu mengangguk cepat berkali-kali dengan air mata ketakutan yang menetes membasahi aspal.
"B-baik Tuan sakti, saya akan sampaikan pesannya dan sekte kami tidak akan pernah berani mengganggu Tuan lagi," janjinya dengan suara serak.
Deni lalu berbalik arah dan berjalan kembali menuju motor sport pinjamannya.
Deni menyalakan mesin motornya dan melirik sebentar ke arah pria tua yang masih bersujud itu.
"Jangan lupa bereskan jalanan ini ya paman, pecahan pedangnya nanti bisa membuat ban kendaraan orang bocor," pesan Deni memberi perintah terakhir.
Brumm.
Motor sport merah itu kembali melaju kencang meninggalkan area perbukitan dan sekte pembunuh bayaran yang sedang menangis ketakutan tersebut.
Dua jam kemudian Deni sudah sampai di lobi gedung perkantoran Grup Nirvana di ibu kota dengan selamat.
Dia berjalan masuk ke dalam gedung dengan santai seolah baru saja kembali dari warung kopi biasa.
Ting.
Lift membawanya naik ke lantai atas dan Deni langsung menuju ke meja kerja Siska yang ada di depan ruangan CEO.
"Selamat siang Siska yang manis, paket dokumen super VIP pesanan Nona Clara sudah mendarat dengan aman," sapa Deni sambil meletakkan amplop cokelat di atas meja.
Siska yang sedang sibuk mengetik langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan pemuda itu.
"Wah kamu cepat sekali sampainya Deni, aku pikir kamu baru akan tiba di sini sore nanti," puji Siska mengambil amplop tersebut.
"Aku kan kurir andalan Siska, kecepatan dan keamanan adalah moto utama hidupku," jawab Deni menepuk dadanya bangga.
"Oh iya Siska, tolong buka aplikasinya dong dan klik tombol selesai agar aku bisa dapat ulasannya."
Siska tertawa renyah mendengar permintaan wajib dari kurir berjaket oranye di depannya ini.
"Iya Deni bawel, ini aplikasinya sudah kubuka dan aku kasih kamu bintang lima plus pujian selangit," ucap Siska sambil menekan layar ponselnya.
Ting.
Suara notifikasi merdu itu langsung berbunyi di dalam kepala Deni dan membuatnya tersenyum sangat lebar.
[Sistem Raja Kurir Merespon Pelanggan Siska mewakili Clara memberikan ulasan bintang lima atas pengantaran dokumen VIP lintas kota]
[Progres Tuan bertambah menjadi tiga belas dari seribu ulasan bintang lima]
Deni melompat kecil kegirangan karena targetnya mengumpulkan seribu ulasan kini bertambah satu angka lagi.
"Terima kasih banyak Siska ulasannya, kalau ada makanan sisa di pantri tolong sisakan buatku ya, aku mau numpang tidur di sofa dulu," pamit Deni langsung berjalan masuk ke ruangan CEO yang kosong.
Siska hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan santai Deni lalu kembali fokus mengecek dokumen penting dari Clara tersebut.
Hari itu Deni kembali berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa hambatan yang berarti.
Namun jauh di suatu tempat rahasia, seseorang yang jauh lebih berbahaya dari sekte Elang Hitam mulai merencanakan sesuatu untuk menghentikan sang kurir.