Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Itu berarti permainan telah berubah.
Mulai hari itu, perlindungan terhadap Alyssa bukan lagi sekadar bentuk tanggung jawab kepada seorang tamu.
Melainkan awal dari konfrontasi terbuka antara keluarga Laurent dan Patrick, sebuah konflik yang perlahan akan mengungkap rahasia terbesar tentang masa lalu Alyssa, ibunya Elena, dan alasan mengapa begitu banyak orang rela mempertaruhkan nyawa demi menyembunyikan kebenaran.
Malam kembali turun di atas Mansion Laurent.
Setelah kejadian penyusup sore tadi, suasana mansion berubah jauh lebih tegang.
Jumlah pengawal ditambah.
Setiap gerbang dijaga ketat.
Bahkan kendaraan yang keluar masuk harus melalui pemeriksaan berlapis.
Namun di balik seluruh peningkatan keamanan itu...
Ada satu hal yang tidak bisa dikendalikan siapa pun.
Perubahan kecil yang perlahan tumbuh di antara Lucas dan Alyssa.
Alyssa berdiri di depan jendela kamarnya.
Tatapannya mengarah ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman berwarna keemasan.
Pergelangan kakinya masih sedikit sakit.
Namun pikirannya jauh lebih tidak tenang dibanding luka di tubuhnya.
Ia masih memikirkan surat ibunya.
Nama Elena.
Patrick.
Rahasia masa lalu.
Dan...
Lucas.
Ia memejamkan mata sejenak.
Mengapa setiap kali mengingat pria itu, jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat?
Padahal mereka baru saling mengenal.
Bahkan beberapa jam lalu Lucas masih memarahinya.
Namun justru kemarahan itu membuatnya sadar.
Tidak ada seorang pun yang pernah begitu takut kehilangannya.
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Yang masuk adalah seorang pelayan wanita.
"Nona Alyssa, Tuan Lucas meminta Anda makan malam."
Alyssa sedikit terkejut.
"Dengan beliau?"
Pelayan itu mengangguk.
"Ya."
Alyssa menelan ludah.
Entah mengapa ia mendadak gugup.
Ruang makan utama Mansion Laurent begitu besar.
Lampu kristal menggantung indah di langit-langit.
Meja panjang yang biasanya mampu menampung belasan orang malam itu hanya diisi dua piring.
Lucas sudah duduk lebih dulu.
Masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku.
Ketika melihat Alyssa masuk...
Tatapannya terangkat.
"Bagaimana kakimu?"
tanyanya singkat.
"Sudah lebih baik."
Lucas mengangguk.
"Duduklah."
Alyssa perlahan duduk di seberangnya.
Suasana hening beberapa saat.
Pelayan menyajikan makanan lalu pergi.
Menyisakan mereka berdua.
Alyssa memainkan garpunya pelan.
Lucas memperhatikannya.
"Kau gugup?"
Alyssa langsung mengangkat kepala.
"Aku? Tidak."
Lucas mengangkat alis.
"Kau sudah menusuk kentang itu lima kali."
Alyssa langsung membeku.
Pipinya memanas.
Lucas menahan senyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak Alyssa mengenalnya...
Ia terlihat sedikit lebih santai.
Mereka mulai makan perlahan.
Di tengah suasana tenang itu...
Lucas tiba-tiba berkata,
"Aku minta maaf."
Alyssa terkejut.
"Untuk apa?"
"Aku terlalu keras semalam."
Alyssa menatapnya.
"Tidak."
"Anda benar."
"Aku memang bertindak gegabah."
Lucas terdiam beberapa saat.
"Aku tidak terbiasa mengkhawatirkan seseorang."
Kalimat itu membuat Alyssa kehilangan kata-kata.
Lucas melanjutkan tanpa menyadari dampak ucapannya.
"Jadi aku mungkin tidak pandai menunjukkannya."
Jantung Alyssa berdetak semakin cepat.
Untung saja Lucas kembali fokus pada makan malam sehingga tidak melihat wajahnya yang mulai memerah.
Setelah makan malam selesai...
Alyssa memutuskan kembali ke kamar.
Namun ketika berjalan di koridor...
Tongkat penyangganya tersangkut karpet.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Aah!"
Refleks...
Seseorang langsung menangkap pinggangnya.
Alyssa membelalak.
Lucas.
Pria itu berdiri sangat dekat.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Satu tangannya masih melingkar di pinggang Alyssa.
Tangan lainnya menahan bahunya.
Napas mereka nyaris bertabrakan.
Alyssa bisa mencium aroma parfum lembut bercampur aroma kayu yang khas dari tubuh Lucas.
Sementara Lucas membeku beberapa detik.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Jantung Alyssa terasa seperti akan melompat keluar.
Lucas baru tersadar beberapa saat kemudian.
Ia langsung membantu Alyssa berdiri tegak.
"Maaf."
Suara Lucas terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.
Alyssa menggeleng cepat.
"A-aku yang harusnya minta maaf."
Keheningan canggung langsung muncul.
Bahkan Lucas yang biasanya selalu tenang terlihat sedikit salah tingkah.
Adrian yang kebetulan berjalan melewati koridor berhenti beberapa meter dari mereka.
Ia berkedip.
Lalu perlahan berbalik arah.
Ia memutuskan tidak melihat apa pun.
Malam semakin larut.
Namun Alyssa sama sekali tidak bisa tidur.
Ia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Malu sekali..."
Ia masih mengingat tangan Lucas di pinggangnya.
Tatapan mata itu.
Jarak yang begitu dekat.
"Kenapa aku jadi seperti ini..."
Sementara di sisi lain mansion...
Lucas juga belum tidur.
Ia berdiri di balkon ruang kerjanya.
Tangannya memegang secangkir kopi.
Namun sejak tadi kopinya tidak berkurang sedikit pun.
Pikirannya justru terus mengingat kejadian di koridor.
Pinggang Alyssa yang terasa begitu kecil di tangannya.
Ekspresi panik gadis itu.
Dan wajah yang memerah.
Lucas mengusap pelipisnya.
"Aku benar-benar kehilangan akal."
Ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Tidak pernah.
Keesokan paginya...
Dokter keluarga datang memeriksa kondisi Alyssa.
"Pergelangan kaki Anda sudah jauh membaik."
"Namun jangan terlalu banyak berjalan."
Alyssa mengangguk.
Setelah dokter pergi...
Ia memutuskan membaca buku di perpustakaan mansion.
Ruangan itu sangat besar.
Dipenuhi rak-rak tinggi.
Alyssa berjalan perlahan sambil mencari buku.
Sebuah buku di rak atas menarik perhatiannya.
Ia berjinjit.
Masih kurang.
Ia mencoba sedikit lebih tinggi.
Namun sebelum berhasil mengambilnya...
Sebuah tangan panjang lebih dulu mengambil buku tersebut.
Alyssa menoleh.
Lucas lagi.
Pria itu berdiri tepat di belakangnya.
Jarak mereka kembali terlalu dekat.
Lucas menyerahkan buku itu.
"Buku ini?"
Alyssa mengangguk cepat.
"Iya."
Saat menerima buku...
Jari mereka tanpa sengaja bersentuhan.
Refleks keduanya sama-sama menarik tangan.
Alyssa langsung menunduk.
Sementara Lucas berdeham pelan.
"Sepertinya perpustakaan ini mulai berbahaya."
Alyssa mengangkat kepala.
"Apa?"
Lucas menatapnya beberapa detik.
"Lantai licin."
"Karpet."
"Rak tinggi."
"Lalu seseorang yang suka membuatku khawatir."
Alyssa membeku.
Wajahnya kembali memanas.
Lucas baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Lucas Laurent kehabisan kata-kata.
Dan itu membuat Alyssa tanpa sadar tersenyum kecil.
Senyum tulus.
Senyum yang sudah lama tidak muncul.
Lucas memandang senyum itu cukup lama.
Terlalu lama.
Hingga akhirnya Adrian masuk ke perpustakaan.
"Tuan."
Lucas langsung kembali tenang.
"Ada apa?"
Adrian mendekat.
Ekspresinya serius.
"Kami mendapat informasi baru."
"Seseorang dari dalam mansion kemungkinan sedang memberikan informasi kepada Patrick."
Senyum Alyssa perlahan menghilang.
Lucas pun berubah serius.
Ancaman ternyata semakin dekat.
Namun kali ini...
Berbeda dari sebelumnya.
Karena tanpa mereka sadari...
Bukan hanya keselamatan Alyssa yang mulai dipertaruhkan.
Melainkan juga hati yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Malam kembali turun di Mansion Laurent.
Namun suasananya sudah jauh berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya.
Penjagaan kini diperketat di seluruh area.
Setiap gerbang dijaga lebih banyak pengawal.
Kamera tambahan dipasang.
Bahkan akses menuju taman belakang pun dibatasi.
Setelah kejadian penyusup yang mengaku diperintah Patrick, tidak seorang pun lagi menganggap ancaman itu sebagai sesuatu yang bisa diremehkan.
Di ruang kerja...
Lucas berdiri di depan jendela besar.
Tatapannya tertuju pada halaman mansion yang diterangi lampu taman.
Di tangannya masih terdapat laporan hasil interogasi.
Patrick.
Nama itu terus muncul.
Terlalu banyak orang yang takut padanya.
Terlalu banyak jejak yang sengaja dihapus.
Dan yang paling mengganggu...
Semakin dalam ia menyelidiki masa lalu Alyssa, semakin besar kemungkinan bahwa gadis itu berada dalam bahaya jauh lebih serius daripada yang mereka bayangkan.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Lucas menoleh.
Adrian masuk sambil membawa beberapa dokumen.
"Tim investigasi menemukan sesuatu."
Lucas menerima map itu.
"Elena pernah bekerja sebagai peneliti di perusahaan farmasi dua puluh tahun lalu."
Lucas mengangkat alis.
"Itu belum semuanya."
Adrian membuka halaman berikutnya.
"Perusahaan itu pernah memiliki hubungan bisnis dengan Patrick."
Tatapan Lucas langsung berubah tajam.
"Sejak kapan?"
"Sebelum Patrick membangun kekuasaannya seperti sekarang."
Lucas menutup map perlahan.
Semakin banyak potongan teka-teki yang mulai tersusun.
Namun masih ada terlalu banyak bagian yang hilang.
"Tetap lanjutkan penyelidikan."
"Baik, Tuan."
Adrian hendak pergi.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
"Lalu bagaimana dengan Nona Alyssa?"
Lucas terdiam sesaat.
"Apa maksudmu?"
Adrian tersenyum tipis.
"Anda terlalu khawatir."
Lucas menatapnya datar.
"Itu karena dia berada di bawah perlindunganku."
Adrian hanya mengangguk pelan.
"Tentu saja."
Setelah pintu tertutup...
Lucas menghela napas panjang.
Ia sendiri mulai mempertanyakan perasaannya.
Kenapa setiap kali Alyssa terluka, ia merasa begitu marah?
Kenapa setiap kali gadis itu menangis, ia merasa ingin menghentikan semua hal yang membuatnya sedih?
Dan kenapa...
Ia tidak menyukai gagasan bahwa Alyssa suatu hari nanti akan pergi dari mansion ini?
Sementara itu...
Di kamar tamu.
Alyssa sedang berdiri di depan jendela.
Pergelangan kakinya sudah jauh membaik.
Meski masih sedikit nyeri, ia sudah bisa berjalan perlahan tanpa bantuan.
Di tangannya terdapat surat dari Elena.
Ia telah membacanya berkali-kali.
Namun tetap saja...
Masih terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Tok.
Tok.
Alyssa menoleh.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Seorang pelayan membawa secangkir cokelat hangat.
"Tuan Lucas meminta saya mengantarkannya."
Alyssa sedikit terkejut.
"Lucas?"
Pelayan itu tersenyum.
"Beliau bilang cuaca malam ini cukup dingin."
Setelah pelayan pergi...
Alyssa memandangi cangkir itu cukup lama.
Perhatian kecil seperti ini...
Sudah lama tidak pernah ia rasakan.
Tanpa sadar...
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Beberapa menit kemudian...
Alyssa memutuskan turun ke perpustakaan mansion.
Ia tidak bisa tidur.
Mungkin membaca buku akan sedikit menenangkan pikirannya.
Koridor mansion begitu sunyi.
Hanya suara langkah kakinya yang terdengar pelan.
Saat memasuki perpustakaan...
Ia mendapati lampu masih menyala.
Dan di sana...
Lucas sedang berdiri di depan rak buku.
Mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku.
Tanpa jas.
Tanpa ekspresi dingin seperti biasanya.
Untuk sesaat...
Pria itu tampak jauh lebih santai.
Lucas menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
"Kau belum tidur."
Alyssa menggeleng pelan.
"Begitu juga denganmu."
Lucas berjalan mendekat.
"Aku memang jarang tidur cepat."
Alyssa tersenyum kecil.
"Aku sudah minum cokelatnya."
Lucas sedikit terdiam.
"Lalu?"
"Itu enak."
Entah kenapa...
Jawaban sederhana itu membuat sudut bibir Lucas terangkat tipis.
Keheningan nyaman mulai tercipta.
Sesuatu yang sebelumnya hampir tidak pernah terjadi di antara mereka.
Alyssa berjalan menuju rak buku.
Namun saat hendak mengambil salah satu buku di bagian atas...
Jarinya tidak cukup tinggi untuk meraihnya.
Lucas yang berdiri di belakangnya secara refleks mengulurkan tangan.
Tangannya melewati bahu Alyssa.
Mengambil buku yang dimaksud.
Jarak mereka mendadak begitu dekat.
Sangat dekat.
Alyssa bahkan bisa merasakan hangat tubuh Lucas.
Napasnya langsung tertahan.
Sementara Lucas sendiri baru menyadari posisi mereka.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Untuk beberapa detik...
Tak seorang pun bergerak.
Jantung Alyssa berdetak sangat cepat.
Begitu pula Lucas.
Ia segera mundur satu langkah dan menyerahkan buku itu.
"Ini."
Suara Lucas terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.
"Terima kasih."
Alyssa menerima buku itu dengan pipi yang mulai memanas.
Suasana mendadak canggung.
Sangat canggung.
Dan entah mengapa...
Tidak ada satu pun dari mereka yang ingin segera pergi.
Di luar perpustakaan...
Adrian yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya.
Ia melihat pintu perpustakaan sedikit terbuka.
Kemudian melihat Lucas dan Alyssa berdiri saling berhadapan dalam diam.
Adrian langsung menutup kembali pintu itu perlahan.
Lalu berbalik.
"Sepertinya aku tidak seharusnya masuk."
gumamnya pelan.
Di dalam perpustakaan...
Alyssa membuka buku yang baru saja diberikan Lucas.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Ia masih mengingat betapa dekatnya mereka beberapa detik lalu.
Lucas berdeham pelan.
"Kakimu sudah lebih baik?"
Alyssa mengangguk.
"Sudah jauh lebih baik."
"Lain kali..."
Lucas berhenti sejenak.
"Jangan melompat dari balkon lagi."
Alyssa langsung menundukkan kepala.
"Aku janji."
Lucas menatapnya beberapa saat.
Lalu berkata pelan,
"Bagus."
Tidak ada kemarahan lagi dalam suaranya.
Hanya kekhawatiran.
Dan Alyssa bisa merasakannya.
Untuk pertama kalinya...
Ia tidak merasa sendirian menghadapi semuanya.
Hujan tiba-tiba kembali turun.
Suara rintiknya terdengar jelas dari jendela perpustakaan.
Alyssa berjalan mendekati jendela besar.
Lucas berdiri di sampingnya.
Mereka memandang taman yang diterangi lampu.
"Aku selalu menyukai hujan."
kata Alyssa pelan.
Lucas menoleh.
"Kenapa?"
Alyssa tersenyum tipis.
"Karena saat hujan turun..."
"Orang-orang tidak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata."
Lucas terdiam.
Kalimat itu terasa begitu menyakitkan.
Ia menoleh menatap Alyssa.
"Alyssa."
"Hm?"
"Kau tidak harus selalu kuat."
Alyssa perlahan menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Lucas melanjutkan,
"Setidaknya..."
"Kau tidak perlu kuat setiap saat ketika berada di sini."
Mata Alyssa langsung berkaca-kaca.
Kalimat sederhana itu...
Entah mengapa terasa jauh lebih menenangkan dibanding apa pun yang pernah ia dengar.
Tanpa sadar...
Alyssa sedikit tersandung karena posisi kakinya yang masih belum benar-benar pulih.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Lucas langsung menangkapnya.
Refleks.
Satu tangan melingkari pinggang Alyssa.
Tangan lainnya menahan bahunya.
Alyssa membelalak.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Detak jantung Alyssa terasa begitu keras.
Sementara Lucas sendiri membeku.
Untuk sesaat...
Tidak ada suara selain hujan di luar jendela.
Mata mereka saling menatap.
Dan tanpa disadari...
Perasaan yang selama ini berusaha mereka abaikan mulai perlahan tumbuh semakin jelas.
Namun sebelum salah satu dari mereka sempat mengatakan sesuatu...
Ponsel Lucas berdering.
Suasana langsung terpecah.
Lucas segera melepaskan Alyssa dengan perlahan.
Ia mengambil ponselnya.
Tatapannya berubah dingin begitu melihat nama yang muncul di layar.
Patrick.
Senyum hangat yang baru saja muncul di wajah Lucas menghilang seketika.
Karena mereka berdua belum menyadari...
Bahwa ancaman yang mendekat jauh lebih besar daripada perasaan yang baru mulai tumbuh di antara mereka.