NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Hebat

Jam perkuliahan terakhir baru saja usai. Matahari sore mulai menyirat batas horizon, membiaskan warna jingga kemerahan di atas langit Universitas Artha Persada.

Sabrina melangkah keluar dari lobi utama dengan helaan napas lega. Bahunya terasa begitu ringan setelah seharian bergelut dengan tumpukan modul Manajemen Operasional Hotel.

Ia berjalan pelan menyusuri trotoar menuju gerbang utama.

Di sekelilingnya, deretan mobil mewah dan motor berkapasitas mesin besar berlalu-lalang menembus area parkir kampus. Sebagai kampus elit ternama, mayoritas mahasiswa di UAP memang berasal dari kalangan berada yang membawa kendaraan pribadi setiap harinya.

Hanya Sabrina, satu dari sedikit mahasiswa yang berhasil menembus UAP melalui jalur beasiswa penuh, yang harus mengandalkan transportasi umum untuk mobilitas hariannya.

Sabrina berencana menunggu bus kota atau ojek di luar gerbang. Namun, sore itu arus lalu lintas di depan kampus terlihat sangat padat dan merayap.

Sabrina mendesah pelan seraya berdiri di tepi jalan, sibuk menatap layar ponselnya yang tak kunjung mendapatkan pengemudi ojek.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam berkilau melambat dan berhenti tepat di samping tempatnya berdiri. Kaca jendela bagian depan perlahan turun, memperlihatkan sosok pria yang tak asing lagi baginya.

"Sabrina?" panggil sebuah suara bernada hangat.

Sabrina agak tersentak dan menoleh. Di balik kemudi, Julian tersenyum ramah. Ia telah melepas blazer organisasinya, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku.

"Eh, Kak Julian," sapa Sabrina, mengulas senyum canggung.

"Mau pulang, kan? Ayo masuk, aku antar sekalian," tawar Julian seraya membukakan kunci pintu penumpang.

Sabrina mendadak serba salah. Rasa minder dan sungkan sebagai anak beasiswa mendadak menyergapnya.

"Ah, tidak usah, Kak. Makasih banyak. Aku mau naik bus atau tunggu ojek online saja."

Julian menatapnya heran, lalu melirik ke arah jalanan luar kampus yang macet total.

"Yakin? Jam segini jalanan macet parah, ojek online pasti susah dapetnya dan bus bakal lama banget. Ini juga udah mau gelap."

"Tapi... nanti malah merepotkan Kak Julian. Kostku lumayan jauh dari area kampus," tolak Sabrina halus, jemarinya meremas tali tasnya penuh ragu.

Julian tertawa pelan, suara renyah yang terdengar tulus seperti tadi pagi.

"Sama sekali nggak merepotkan, Sabrina. Lagian, anggap saja ini penebus dosaku yang tadi pagi bikin buku-bukumu berserakan dan bahumu sakit. Beneran, santai aja. Ayo naik."

Ia menatap Sabrina dengan pandangan menyejukkan yang jujur dan tanpa pretensi sedikit pun, membuat rasa canggung di hati mahasiswi tingkat awal itu perlahan luruh.

Melihat situasi jalanan yang kian padat dan langit sore yang meredup, Sabrina akhirnya mengangguk pelan seraya mengulas senyum tipis.

"Yaudah deh... kalau beneran nggak mengganggu, aku mau. Makasih banyak ya, Kak."

"Sama-sama. Nah gitu, dong," sahut Julian gembira.

Sabrina membuka pintu penumpang depan lalu masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan sejuk. Begitu pintu tertutup rapat, bisingnya arus kendaraan di luar seketika tergantikan oleh alunan musik instrumental pelan.

Julian melajukan sedannya perlahan, membelah gerbang kampus, menyisakan debar halus yang kembali berderu di dada Sabrina.

Julian memutar kemudi dengan santai saat mobilnya tertahan lampu merah di persimpangan jalan.

Ia melirik sekilas ke arah samping, melihat Sabrina yang duduk agak kaku seraya meremas lembut tali tasnya di atas pangkuan.

"Kamu ngekost di sini?" buka Julian kembali melontarkan pertanyaan, mencoba mencairkan kecanggungan yang masih membayang di antara mereka.

Sabrina menoleh tipis, lalu mengangguk mengiyakan.

"Iya, Kak," sahutnya dengan suara pelan dan santun.

"Aku kost."

Julian mengangguk-angguk mengerti, tangannya terangkat mengetuk-ngetuk setir kemudi secara teratur mengikuti ritme lagu.

Sorot matanya menunjukkan rasa tertarik yang ramah, bukan sekadar basa-basi kosong.

Lampu lalu lintas berganti hijau, dan ia kembali menginjak pedal gas secara perlahan.

Lalu, Julian bertanya lagi.

"Berarti nggak ada keluarga sama sekali di kota ini? Mungkin kerabat, paman, atau saudara jauh?"

Sabrina menggelengkan kepala perlahan. Wajah cantiknya membiaskan ketegaran yang samar di bawah temaram cahaya lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu.

"Tidak ada, Kak," jawab Sabrina, mengulas senyum tipis yang jujur.

"Aku benar-benar sendirian di kota ini. Kedua orang tuaku ada di desa."

Jawaban singkat itu membuat Julian terdiam sejenak. Pengakuan sederhana dari mahasiswi tingkat awal tersebut terasa begitu kontras dengan latar belakang sebagian besar mahasiswa Universitas Artha Persada yang datang dari keluarga bergelimang harta dan serba ada.

Julian menoleh sekilas, menatap Sabrina dengan binar tatapan yang mendadak berubah penuh rasa kagum.

"Hebat ya kamu," puji Julian tulus, suaranya terdengar begitu hangat dan menyejukkan.

"Berani merantau sendirian jauh-jauh dari desa ke kota besar. Nggak semua orang punya keberanian dan kecerdasan seperti kamu, Sabrina."

Mendengar pujian yang meluncur begitu alami tanpa kesan merendahkan sedikit pun dari seniornya, pipi Sabrina mendadak terasa hangat.

Warna kemerahan menyapu lembut parasnya yang ayu. Ia menunduk sebentar, berusaha menyembunyikan senyum malu-malu yang terukir di bibirnya.

"Makasih banyak, Kak Julian," bisik Sabrina lembut.

"Aku cuma berusaha sebisa mungkin supaya nggak mengecewakan orang tua di kampung."

"Dan aku yakin mereka pasti bangga banget punya anak seperti kamu," balas Julian mantap, mengulas senyum manis yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Percakapan sederhana itu perlahan-lahan mengikis dinding canggung di antara mereka.

Kehangatan sikap Julian membuat rasa minder yang sempat hinggap di hati Sabrina perlahan meluruh, menyisakan debar halus yang makin berdesir di dalam dadanya seiring mobil terus melaju menuju tempat kosnya.

Setelah menembus kemacetan kota yang cukup parah di jam pulang kantor, akhirnya satu jam berlalu hingga sedan hitam milik Julian berhenti tepat di depan sebuah gang yang agak sempit.

Di sudut gang tersebut, berdiri bangunan tempat kos Sabrina yang tampak sederhana namun rapi.

Julian mematikan mesin mobilnya, membuat kabin mendadak senyap diselimuti alunan musik instrumental pelan.

Ia menoleh ke arah Sabrina, lalu menatap sekeliling area permukiman itu dengan dahi sedikit berkerut, tampak mengamati situasi jalanan.

Sebelum Sabrina sempat melepaskan sabuk pengaman dan bersiap turun, Julian memajukan sedikit tubuhnya dan kembali membuka suara.

"Kok kamu nggak kost yang di dekat kampus aja?" tanya Julian penuh rasa penasaran.

"Ini lumayan jauh, lho. Dari kampus ke sini makan waktu hampir satu jam kalau lagi macet begini. Kasihan kamu harus bolak-balik tiap hari."

Sabrina menghentikan gerakannya sejenak. Ia berpaling menatap seniornya itu, lalu menyunggingkan senyum tipis yang jujur dan tanpa rasa malu sedikit pun.

"Kalau di dekat kampus, harga kos-kosannya mahal, Kak," sahut Sabrina santai, disertai kekehan pelan.

"Daerah sekitar UAP kan rata-rata fasilitasnya mewah, jadinya harganya melambung tinggi. Kurang masuk di kantong untuk anak beasiswa seperti aku. Kalau di sini harganya jauh lebih terjangkau, lagipula tempatnya lumayan tenang buat belajar."

Julian terdiam mendengar jawaban polos namun sangat realistis itu.

"Paham, sih..." gumam Julian pelan, mengangguk-angguk penuh empati. Senyum hangat kembali terukir di wajahnya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!