Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Jantung yang Lemah
Keesokan paginya, Rayhan benar-benar datang.
Bukan hanya datang. Ia datang dengan satu mobil utama, satu mobil pengawal, Adi yang membawa map pemeriksaan, dan ekspresi tenang seolah menjemput Kiara ke rumah sakit adalah agenda bisnis paling wajar di dunia.
Kiara berdiri di balik pagar rumah Tanuwijaya dengan cardigan semalam masih tersampir di bahunya.
Hendra keluar lebih dulu dari ruang depan. Begitu melihat Rayhan, wajah marahnya berubah menjadi senyum kaku yang sangat cepat.
"Pak Rayhan. Ada keperluan pagi-pagi begini?"
Rayhan menatapnya sebentar. Tidak kasar, tapi tidak hangat.
"Saya menjemput Kiara."
Hendra jelas tidak menyukai jawaban itu. "Untuk apa?"
"Pemeriksaan di RS Pondok Indah."
Lina yang baru datang dari belakang langsung melihat perban di tangan Kiara. Baru kali ini wajahnya tampak sedikit terganggu.
"Kiara, tanganmu masih sakit?"
Kiara belum menjawab ketika Rayhan berkata, "Bukan hanya tangan."
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Kiara menoleh padanya, panik kecil muncul di dadanya. Ia tidak pernah mengatakan pada Rayhan soal sesak di dada, soal jantung yang kadang berdetak seperti kehilangan ritme, soal tubuh ini yang sejak ia bangun terasa terlalu ringan dan terlalu rapuh.
Rayhan tidak menjelaskan di depan keluarga Tanuwijaya.
Ia hanya membuka pintu mobil.
"Ayo."
Kiara tahu Hendra ingin melarang. Tapi di depan Rayhan Purnawan, larangan itu tersangkut di tenggorokannya. Pada akhirnya, Hendra hanya berkata dingin, "Jangan membuat masalah."
Kiara menatap ayah biologis tubuh ini.
"Aku pergi periksa, Pa. Bukan pergi perang."
Untuk pertama kalinya, Hendra tidak langsung punya jawaban.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi. Rayhan duduk di samping Kiara, tidak menyentuhnya, tapi kehadirannya memenuhi ruang sempit itu. Adi di kursi depan membuka jadwal pemeriksaan dengan suara rendah.
"EKG, ekokardiografi, pemeriksaan darah lengkap, lalu konsultasi dengan spesialis jantung. Dokter sudah menunggu."
Kiara memeluk tas kecilnya. "Kamu menyiapkan semua ini sejak kapan?"
"Semalam."
"Koh Rayhan, orang normal tidak membuat jadwal rumah sakit lengkap hanya karena seseorang menangis."
Rayhan menoleh.
"Aku bukan orang normal."
Jawaban itu membuat Kiara kehilangan bantahan.
Di RS Pondok Indah, semua berjalan terlalu lancar. Mereka tidak perlu menunggu lama. Perawat membawa Kiara dari satu ruangan ke ruangan lain, memasang alat di dadanya, mengambil darah, memintanya berbaring saat layar monitor menunjukkan garis-garis yang tidak ia pahami.
Rayhan menunggu di luar setiap ruangan.
Setiap kali pintu terbuka, Kiara selalu melihatnya berdiri di tempat yang sama. Tidak bermain ponsel. Tidak menerima panggilan. Hanya menunggu.
Entah kenapa, itu membuat tenggorokannya lebih sakit daripada semua jarum dan kabel pemeriksaan.
Hasil awal keluar menjelang siang.
Dokter spesialis jantung itu seorang perempuan berusia matang dengan suara tenang. Ia meletakkan beberapa lembar hasil pemeriksaan di meja, lalu menatap Kiara dengan hati-hati.
"Secara struktur, tidak ada kelainan besar yang langsung mengancam. Tapi fungsi jantung Anda lemah untuk usia Anda. Ritmenya mudah kacau saat stres, kelelahan, atau perubahan emosi yang terlalu tajam."
Kiara menggenggam ujung kursi.
Rayhan duduk di sampingnya. Wajahnya tidak berubah, tapi buku-buku jarinya memutih.
"Bisa ditangani?" tanya Rayhan.
"Bisa dipantau dan dijaga. Istirahat cukup, jangan kerja berlebihan, hindari stres ekstrem, kontrol rutin. Untuk sementara, kami sarankan tidak mengambil jadwal syuting terlalu padat."
Kiara hampir langsung memprotes.
Kariernya bahkan belum benar-benar mulai. Jika ia mundur sekarang, Wenny akan semakin mudah mengambil semuanya.
Dokter itu seolah membaca ekspresinya.
"Saya tidak melarang bekerja. Tapi tubuh Anda punya batas yang harus dihormati."
Tubuh ini.
Kiara menunduk.
Dalam novel, ada satu penjelasan samar tentang tubuh Kiara yang tidak sepenuhnya cocok dengan jiwa yang tinggal di dalamnya. Tiga jiwa tujuh roh, istilah aneh yang dulu ia anggap bumbu mistis. Sekarang, duduk di ruang konsultasi rumah sakit dengan hasil pemeriksaan di depan mata, istilah itu terasa terlalu dingin untuk dianggap khayalan.
Rayhan bertanya lagi, "Apa risiko terburuk?"
Dokter menatap Kiara, lalu Rayhan.
"Kalau dipaksa dalam kondisi berat, bisa pingsan, aritmia, bahkan gagal jantung akut. Dan ada satu hal yang harus saya sampaikan sejak awal."
Kiara merasakan udara di ruangan berubah.
"Jika suatu hari Anda menikah dan merencanakan kehamilan, itu harus dikonsultasikan sangat serius. Dengan kondisi sekarang, kehamilan bisa membebani jantung Anda secara berbahaya. Setidaknya dua sampai tiga tahun ke depan, saya tidak menyarankan kehamilan."
Wajah Kiara langsung panas.
"Dokter..."
Ia ingin mengatakan bahwa ia belum menikah, bahkan belum pacaran. Tapi Rayhan di sampingnya terlalu diam.
Kiara menoleh.
Baru kali ini ia melihat ketakutan di wajah Rayhan.
Bukan panik besar. Bukan ekspresi yang mudah dibaca orang luar. Hanya mata yang mendadak kehilangan cahaya, seolah sebuah kemungkinan telah menusuk tempat paling gelap dalam dirinya.
"Tidak akan," kata Rayhan pelan.
Dokter mengira ia menjawab soal rencana kehamilan. Kiara tidak yakin.
Rayhan menatap hasil pemeriksaan, lalu menatap Kiara.
"Tidak akan kubiarkan apa pun membahayakanmu."
Kalimat itu seharusnya terdengar menenangkan.
Tapi Kiara merasakan sesuatu yang lain di bawahnya.
Sebuah janji yang terlalu kuat.
Sebuah ketakutan yang terlalu dalam.
Dalam perjalanan pulang, Kiara menyandarkan kepala ke kaca mobil. Jakarta bergerak di luar jendela, macet, klakson, matahari siang yang memantul di gedung-gedung tinggi.
Rayhan tiba-tiba menyodorkan botol air hangat.
"Minum."
Kiara menerimanya. "Kamu dengar dokter. Aku bukan boneka kaca."
"Aku dengar dokter bilang kamu tidak boleh dipaksa."
"Aku juga tidak mau dikurung."
Rayhan memandangnya lama.
"Aku akan belajar membedakan menjaga dan mengurung."
Kiara menatapnya.
Untuk pria seperti Rayhan Purnawan, kalimat itu mungkin lebih sulit daripada janji membeli rumah atau mengubah nasib seseorang.
Ia membuka botol air, minum sedikit, lalu berkata pelan, "Kalau begitu aku juga akan belajar bilang saat aku sakit."
Rayhan tidak menjawab.
Tapi tangannya yang sejak tadi terkepal perlahan mengendur.