**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Tenggat Melahirkan
"Tekanan turun. Siapkan adrenalin kedua kalau responsnya tidak bertahan."
Kayla berdiri di sisi ranjang IGD ketika seorang perempuan muda berjuang menarik napas. Wajah pasien membengkak setelah memakan kue yang mengandung kacang.
"Oksigen terpasang," lapor Tiana.
"Pantau jalan napas. Hubungi anestesi, beri tahu kemungkinan intubasi sulit."
Suami pasien menangis di dekat pintu. "Dok, istri saya sedang program hamil. Obatnya aman?"
Kayla tidak mengalihkan pandangan dari monitor. "Sekarang prioritas kami menyelamatkan nyawanya. Adrenalin adalah terapi utama untuk reaksi alergi berat."
Beberapa menit kemudian, suara napas pasien mulai membaik. Tekanan darahnya perlahan naik. Tim anestesi tiba saat ancaman terburuk sudah lewat, tetapi tetap bersiap sampai kondisi stabil.
Kayla menjelaskan kepada suami pasien bahwa istrinya perlu observasi, obat lanjutan, dan rujukan alergi setelah pulang. Ia juga meminta keluarga membawa daftar bahan kue agar pemicu dapat dicatat.
"Program hamil kami bagaimana, Dok?" tanya laki-laki itu lagi.
"Bicarakan dengan dokter kandungan setelah kondisi istri Bapak pulih. Hari ini jangan membuat keputusan apa pun untuk tubuhnya saat dia belum bisa ikut bicara."
Laki-laki itu tampak malu, lalu mengangguk.
Pasien membuka mata dan mencari tangan suaminya. Kayla memastikan ia dapat menyebutkan nama serta tempat, kemudian menyerahkan pemantauan kepada Tiana.
Di IGD, perempuan itu adalah manusia yang harus diselamatkan lebih dulu. Bukan calon ibu, bukan penerus nama keluarga, bukan alat untuk memenuhi rencana orang lain.
Kayla baru melepas sarung tangan ketika ponselnya bergetar di saku.
Ci Michelle mengirim pesan suara.
Maaf, Kayla. Ema memaksa aku menyampaikan ini karena Adrian memblokir nomor rumah. Dengarkan kalau kamu sudah siap.
Kayla menekan tombol putar.
Suara Ema Lanny terdengar dingin.
"Kalau dia ingin diakui sebagai istri Adrian, beri keluarga seorang anak dalam satu tahun. Kalau tidak bisa, pergi sebelum kami yang mengeluarkannya."
Suara Melinda muncul di belakang.
"Setidaknya dengan anak, pernikahan kilat itu punya manfaat bagi keluarga."
Pesan berhenti.
Tiana yang sedang menulis catatan medis menatapnya. "Saya boleh pura-pura tidak dengar, tapi wajah saya mungkin gagal."
Kayla menyimpan ponsel. "Tidak perlu pura-pura."
"Mereka memberi tenggat untuk punya anak?"
"Satu tahun. Sangat murah hati."
Tiana meletakkan pena. "Kamu baru menikah. Kamu bekerja di IGD. Mereka bahkan tidak bertanya apakah kamu ingin hamil."
"Karena bagi mereka, keinginanku bukan bagian dari perhitungan."
Panggilan berikutnya datang dari Michelle.
"Aku minta maaf," katanya begitu Kayla menjawab. "Aku sudah menolak, tapi Ema mengancam datang langsung ke rumah sakit."
"Ci tidak perlu minta maaf."
"Adrian sudah tahu."
"Dari siapa?"
"Aku. Aku tidak mau kamu menghadapinya sendirian."
Di ujung lain, terdengar suara pintu dibuka. Michelle berbisik bahwa Adrian baru pulang dari penerbangan dan sedang menuju rumah lama.
Kayla langsung menelepon suaminya.
Adrian menjawab pada dering pertama. "Aku akan menghentikannya."
"Jangan datang sambil marah."
"Aku tidak marah."
"Suaramu seperti saat ada windshear."
"Karena seseorang mencoba mengatur tubuh istriku melalui pesan suara."
Kayla bersandar pada dinding ruang istirahat. "Aku tidak akan menerima tenggat itu."
"Bagus. Karena aku juga tidak."
"Kalau suatu hari kita punya anak, keputusan itu harus datang dari kita. Bukan untuk mempertahankan posisi, bukan untuk menyenangkan keluarga."
"Setuju."
"Aku juga tidak akan mengorbankan spesialisasi atau jadwal kerjaku hanya karena seseorang menetapkan satu tahun. Kalau nanti aku hamil, kita merencanakan kesehatan, pekerjaan, dan pengasuhan bersama."
"Kita rencanakan bersama," ulang Adrian. "Dan kalau kita memutuskan tidak punya anak, tidak ada orang lain yang boleh mengubahnya."
Kayla terdiam. Ia tidak sedang meminta janji manis. Ia sedang menetapkan syarat hidup yang akan memengaruhi tubuh dan kariernya, dan Adrian menjawab seperti rekan yang setara.
"Dan kalau aku tidak ingin hamil dalam waktu dekat?"
"Kamu tetap istriku."
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Kayla menutup mata sesaat. Sesak yang muncul ketika mendengar pesan Ema perlahan surut.
"Pulanglah ke PIK," katanya. "Aku masih bertugas dua jam."
"Aku akan menjemput."
"Kamu baru mendarat. Istirahat."
"Aku bisa beristirahat di mobil."
"Adrian."
"Baik. Aku akan beristirahat sambil menjemputmu."
Panggilan berakhir sebelum Kayla bisa membantah.
Di Cluster Peony, Adrian tidak pergi ke Menteng. Ia menelepon Ema Lanny di hadapan Michelle dan menyalakan pengeras suara.
"Saya sudah menerima pesan Ema," katanya.
"Bagus. Pastikan istrimu mengerti kewajibannya."
"Dia tidak punya kewajiban melahirkan untuk keluarga Gunawan."
"Adrian, kamu cucu tertua."
"Saya sudah mundur dari posisi itu."
"Suratmu belum mengubah darahmu."
"Darah saya juga tidak memberi Ema hak mengatur kapan Kayla hamil. Kalau Ema menghubungi rumah sakit atau menekan pekerjaannya, saya akan menganggapnya gangguan terhadap tenaga medis."
Melinda mengambil alih telepon. "Kamu terlalu membela dia. Kami hanya memikirkan kelanjutan keluarga."
"Pikirkan anak Tante sendiri. Jangan jadikan tubuh istri saya alat untuk perebutan saham."
Adrian memutus panggilan.
Michelle bersiul pelan. "Aku hampir kasihan pada telepon Ema."
"Kenapa mereka tahu jadwal Kayla?"
Michelle kehilangan senyum. "Aku akan cari tahu."
Nico datang membawa kabar lain. Penyelidikan internal Grand Regalia menemukan Amanda memanipulasi daftar tamu dan menyuruh staf menyiapkan perempuan untuk kamar Adrian pada malam kejadian. Hotel telah memecatnya dan menyimpan rekaman serta catatan minuman untuk proses hukum.
"Belum cukup membuktikan siapa memasukkan zat ke gelas," kata Nico. "Tapi akses dan kebohongannya tercatat."
"Apakah Kayla perlu memberi keterangan sekarang?" tanya Michelle.
"Belum. Pengacara menyarankan semua bukti diamankan dulu. Kalau laporan resmi dilanjutkan, kami akan menyesuaikan dengan jadwalnya dan tidak membiarkan hotel menekan."
Adrian mengangguk. "Kayla yang memutuskan kapan siap memberi keterangan. Kirim salinan berkas kepadanya, bukan hanya kepada saya."
"Teruskan melalui pengacara. Jangan hubungi dia langsung," perintah Adrian.
"Baik."
Dua jam kemudian, seorang perawat masuk ke IGD membawa setangkai mawar merah.
"Untuk dr. Kayla. Pengirimnya menunggu di parkiran."
Tidak ada kartu panjang. Hanya satu kalimat dengan tulisan Adrian.
Tidak ada tenggat. Pulang kalau sudah selesai menyelamatkan dunia.
Kayla tersenyum sambil memutar tangkai bunga di antara jari.
Adrian mengirim foto dari parkiran. Ia duduk di kursi belakang dengan mata tertutup dan kotak makan malam di pangkuan.
Kayla membalas: Katanya istirahat.
Jawaban datang beberapa detik kemudian.
Aku sedang istirahat. Mobilnya kebetulan berada di rumah sakitmu.
Kayla menyimpan foto itu, lalu meminta perawat menaruh mawar dalam gelas berisi air. Ia tetap menyelesaikan catatan pasien sebelum berganti pakaian. Menjadi istri seseorang tidak menghapus pekerjaannya, dan dicintai tidak berarti ia harus meninggalkan dirinya sendiri.
Tiana mendekat, tetapi matanya justru tertuju pada layar ponsel Kayla. Foto gala masih terbuka di percakapan mereka. Di dalam foto itu, Vanessa berdiri beberapa langkah dari Kayla.
"Kay," kata Tiana pelan. "Kamu pernah memperhatikan wajah Vanessa?"
"Kenapa?"
Tiana memperbesar foto. "Entahlah. Tapi kalau dilihat begini, aku merasa dia dan kamu punya sesuatu yang mirip."