Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Bisa bicara
Mata Devano sama sekali tidak menangkap ada sesuatu yang Felix tarik dari dalam mulut Mama Susi saat ini, namun pada kenyataannya tangan Felix sedang menarik benang berwarna merah dan itu terlihat begitu panjang sekali sehingga membuat dia sampai berdiri dan bergerak kesusahan untuk memutuskan tali yang ada di dalam sana.
''Apa yang dia tarik sehingga sampai sejauh itu?'' batin Devano di dalam hati ketika melihat Felix sampai di balkon.
Sementara tubuh Mama mertua dia kejang-kejang tidak karuan di atas ranjang ini dan Devano sendiri merasakan bahwa ranjang itu mulai bergetar seolah akan terbang, karena takut nanti akan terjadi sesuatu maka Devano segera turun dari atas ranjang tersebut.
Wuuuuuuttt.
Wuuuttt.
''Ya allah!'' teriak Devano kaget bukan main.
Sebab firasat dia bahwa ranjang itu akan segera terbang ternyata memang benar, selama ini dia juga sudah sering menonton film dengan tema horor seperti itu sehingga tadi dia kepikiran saja bahwa ranjang itu akan terbang di udara, beruntung ketika dia sudah turun dari ranjang tersebut maka ini ranjang itu berputar-putar di dalam kamar.
Felix masih tetap tampak terlihat tenang dan dia mengambil sesuatu dari dalam saku celana dan berwarna mengkilat, benda tajam itu segera memutus benang berwarna merah sehingga saat ini suara mama Susi terdengar begitu menggema di dalam kamar.
''Aaaaaah, aaaaaaaa!'' pekik Mama Susi yang ketakutan setengah mati.
''Allahu akbar, Allahu akbar!'' Zayn masih tetap menyebut nama Allah menghadap kiblat sana.
Braaaaak.
Braaaaak.
Suasana cuma ini terasa begitu mending Kakak karena mendadak saja angin datang dari segala arah dan membuka tutup jendela kamar secara paksa sehingga menimbulkan suara yang begitu besar sekali, dan bahkan pintu kamar juga berulang kali terbanting sekolah ada seseorang yang keluar masuk dalam di dalam kamar tersebut. namun Devano tidak bisa melihat karena dia tidak pernah melihat setan selama ini, Jadi wajar saja bila tidak melihat sesuatu yang datang.
''Aaaaaaaaaaaa!''
''Ya allah!'' Devano segera menutup telinga ketika dia mendengar suara jeritan yang sangat melengking itu.
Pyaaaaar.
Semua kaca yang ada di sana menjadi hancur berantakan tidak tersisa sama sekali, bahkan lampu juga hancur berantakan karena tidak sanggup menahan getaran teriakan yang keluar dari mulut Mama Susi itu sehingga wajar saja bila Devano sampai menutup telinga.
''Apa yang kau inginkan sehingga membuat kegaduhan yang sangat besar seperti ini?'' Felix bertanya dengan suara yang sangat tenang.
''Huahaaaaaaaa......
''Mama?!'' kaget Devano karena mama Susi yang tertawa begitu kencang.
''Kenapa kau menyiksa orang tua ini sampai sangat parah?'' Felix kembali bertanya.
Bruuuuuuaaak.
Bukan nya mendapat jawaban dari pertanyaan yang keluar dari mulut dia saat ini, malah ranjang kayu itu hancur berantakan ketika jatuh kembali menimpa lantai, tubuh Mama Susi tetap melayang di udara dan bahkan sekarang dia bisa berdiri tegak dengan pandangan begitu tajam kepada Felix dan juga Ustadz Zayn yang sedang duduk tersebut.
''Sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum nanti menyesali Bagaimana perbuatanku kepada dirimu.'' Mama Susi mengancam kepada Felix.
''Yang aku sesali sudah terlewat sehingga saat ini tidak pernah ada penyesalan di dalam diriku.'' Felix menjawab dengan mantap.
''Hahahaha.... apakah masih menaruh dendam kepada dia yang telah membunuh ibu kandung kau itu sendiri?'' Mama Susi menyeringai menampakan barisan gigi berwarna kuning itu.
''Hemz, kau ingin memancing aku dengan hal seperti itu?'' Felix tersenyum dengan santai Karena dia sudah tidak terpancing meski dendam yang ada di dalam diri dia begitu menyala.
Wuuuuut.
Wuuutt.
Sraaaaaaak.
Dieeeeek.
Tinju balik tepat mengantar pada bagian kening sehingga Mama Susi terpental dan dengan cepat Felix menangkap tubuh tersebut, kini orang tua itu sudah terkulai kembali karena sosok iblis yang sempat merasuki tubuh dia pergi begitu saja sehingga tubuh tua itu kembali seperti semula yang tidak memiliki tenaga lagi dan hanya bisa pasrah menerima segala sesuatu yang akan mengganggu.
Byuuuuuur.
Creeeeesh.
''Ya allah.'' Devano hanya bisa berulang kali menyebut nama Tuhan melihat pemandangan ini.
''Pergi ambil air hujan yang ada di belakang rumah sana.'' Felix menyuruh Devano untuk bergerak sekarang.
''Ak.. aku mengambil air itu sendirian?'' Devano bertanya dengan gugup karena dia takut juga.
''Dengan allah yang selalu ada di sisimu itu.'' jawab Felix.
Mendengar jawaban itu tentu saja Devano merasa sedikit lega dan dia memberanikan diri untuk menuju halaman belakang rumah, meski dia sendiri tahu bahwa di belakang sana pasti akan ada sesuatu yang menurut dia secara menakutkan sekali karena saat siang saja terasa begitu mencekam..
...****************...
Kraaaaaaaak.
''Hah.'' Zora kaget karena dari luar dia mendengar suara dinding yang digaruk menggunakan cakar.
Kraaaaaaaak.
''Zoraaaaaahhhhhh....
''Ya allah.'' Zora memeluk Alquran yang ada di dalam kamar itu karena untuk menenangkan diri.
''Sakit sekali, Apa kau tahu bahwa aku selalu saja kesakitan seperti ini?'' suara itu terdengar begitu jelas di telinga Zora.
Rasa dia ingin bertanya tentang Siapa wanita ini sehingga terus saja menghantui dia dari dulu hingga sampai sekarang, namun lidah wanita ini terasa begitu keluh karena dia tahu ketika mengeluarkan suara maka sama saja Dia sedang berbicara dengan iblis yang terus bergentayangan di dalam rumah ini.
''Hiyaaaaaaaaaaa......
Kraaaaaak.
Pyaaaaar.
''Ya allah!'' Zora menjerit kaget dan juga kesakitan karena lampu yang ada di dalam sana pecah dan hancur berantakan sehingga serpihan itu mengenai wajah wanita ini.
''Suatu saat kau akan merasakan apa yang telah aku rasakan dulu, Aku tidak akan pernah bisa menerima ini.'' suara itu berbisik tepat di belakang telinga.
''Siapa kau?!'' Zora menjerit dan dia berbalik karena berharap bisa melihat Siapa yang datang.
Namun dia sama sekali tidak melihat ada orang atau sosok lain di dalam kamar tersebut sehingga wanita ini Kian merasa bingung serta ketakutan, belum lagi suara berisik yang ada di lantai dua juga dapat dia dengar sehingga membuat dirinya semakin merasa bingung harus bersikap bagaimana.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya, terima kasih.
Zora ,Devano ,kenapa lah ga cepat cepat pergi dari rumah yang jadi sarang iblis ?