Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Arga yang sejak tadi menonton pertunjukan komedi gratis itu langsung memegangi perutnya yang kram karena menahan tawa.
"Hahaha ya ampun sistem, kau benar-benar kejam dan sangat menghibur." Arga tertawa pelan dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Biarin saja mereka berendam di selokan lumpur semalaman sebagai hukuman karena berani macam-macam dengan kebunku."
[Ancaman Hama Raksasa berhasil dinetralisir.]
[Sisa durasi perlindungan Semprotan Hama Gaib: 29 Hari 23 Jam.]
Layar sistem berkedip sejenak memberikan laporan sebelum akhirnya menghilang kembali menjadi partikel cahaya biru.
Arga berjalan kembali ke kamarnya dengan perasaan yang sangat lega dan hati yang sangat puas.
Dia tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk memberi pelajaran kepada anjing-anjing suruhan Pak Bowo.
Arga merebahkan dirinya kembali di atas kasur dan langsung tertidur lelap melupakan insiden konyol barusan.
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan kembali berkokok menyambut datangnya pagi yang cerah.
Arga membuka matanya dengan semangat yang menggebu-gebu menyadari bahwa hari ini adalah hari panen kedua.
Dia segera duduk dan memanggil sistem untuk melakukan rutinitas paginya.
"Sistem, lakukan check-in harian hari keenam sekarang juga."
[Check-in Hari Keenam Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Harian: 10 Botol Minuman Stamina Pekerja Keras.]
"Minuman stamina ya, lumayan buat menyegarkan badan kalau nanti siang cuacanya terlalu panas." Arga menyimpan botol-botol itu ke dalam inventarisnya.
Arga segera mandi dan berpakaian rapi menggunakan kemeja flanel kebanggaannya.
Dia berjalan menuju halaman belakang dan melihat dua jerigen bensin masih tergeletak utuh di depan pagar seng.
"Barang bukti kejahatan Pak Bowo ini akan kubiarkan saja di sini sebagai pajangan peringatan." Arga tersenyum sinis menendang pelan jerigen tersebut.
Dia membuka gembok pintu pagar dan masuk ke dalam area kebun yang langsung menyambutnya dengan hawa panas yang tidak biasa.
Udara di sekitar petak tanaman cabai itu terasa hangat seperti berdiri di dekat tungku perapian yang menyala.
Mata Arga terbelalak lebar penuh kekaguman melihat pemandangan dua puluh tanaman cabainya yang kini sudah berbuah sangat lebat.
Di sela-sela daun hijaunya yang rimbun bergelantungan ratusan buah cabai berukuran sebesar jempol orang dewasa.
Warna cabai itu sangat merah menyala dan pekat seolah ada bara api yang menyala di bagian dalam kulitnya.
Kulit cabainya terlihat sangat licin dan mengkilap memantulkan sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari atas pagar.
Aroma pedas yang sangat khas namun menyegarkan menguar kuat menggelitik hidung Arga.
"Luar biasa indah bentuknya, Cabai Api Naga ini benar-benar tidak terlihat seperti sayuran biasa dari bumi." Arga berjongkok dan mengamati salah satu buah cabai tersebut.
[Peringatan: Panen Cabai Api Naga Tingkat A telah siap dilakukan.]
[Gunakan sarung tangan biasa untuk memetik agar tangan Host tidak kepanasan akibat efek residu pedasnya.]
"Bahkan memetiknya saja butuh peringatan khusus, sayuran sistem ini memang selalu penuh dengan kejutan."
Arga segera memanggil Keranjang Anyaman Spasial miliknya dari dalam inventaris yang langsung muncul di tanah.
Dia tidak repot-repot mencari sarung tangan kain dan langsung memanggil Sarung Tangan Tenaga Badak miliknya saja.
Setelah kedua tangannya terbungkus sarung tangan hitam bersisik itu Arga mulai memetik cabai-cabai naga tersebut dengan cekatan.
Kres kres kres.
Suara patahan tangkai cabai terdengar berirama saat Arga memindahkan buah merah menyala itu ke dalam keranjang.
Meskipun kulit cabai itu terasa cukup panas namun efek perlindungan dari sarung tangannya membuat Arga tidak merasakan sakit sedikit pun.
Hanya dalam waktu lima belas menit seluruh buah dari dua puluh tanaman cabai itu berhasil dipanen hingga bersih tanpa sisa.
Total ada sekitar dua ratus buah Cabai Api Naga yang kini tersimpan aman di dalam ruang dimensi keranjang bambunya.
[Panen Kedua Berhasil Dilakukan Oleh Host!]
[Seluruh hasil panen telah tersimpan dalam kondisi kesegaran maksimal di dalam Keranjang Anyaman Spasial.]
Arga melepaskan sarung tangannya dan tersenyum puas menatap kebun cabainya yang kini tinggal menyisakan dedaunan saja.
"Dua ratus buah cabai super, kalau satu buahnya kuhargai lima ratus ribu maka nilainya mencapai seratus juta rupiah." Arga bergumam menghitung potensi kekayaan barunya dengan mata berbinar.
"Semoga saja Nona Siska membawa uang yang cukup banyak hari ini untuk menebus janjinya kemarin."
Arga kemudian beralih melihat kondisi sepuluh pohon tomat kristalnya di sudut sebelah sana.
Ternyata pohon tomat itu juga sudah mulai memunculkan kuncup bunga baru yang menandakan ronde panen kedua akan segera tiba dalam beberapa hari ke depan.
"Siklus panen yang luar biasa cepat, aku benar-benar akan menjadi petani miliarder dalam waktu singkat."
Arga membawa keranjangnya keluar dari pagar seng dan mengunci kembali gemboknya dengan rapat.
Dia berjalan menuju teras depan dan duduk bersantai sambil menunggu kedatangan sang manajer restoran dari kota.
Sementara itu di seberang desa tepatnya di pos ronda dekat rumah Pak Bowo suasana sedang sangat tegang.
Pak Bowo berdiri dengan wajah merah padam memarahi ketiga preman suruhannya yang penampilannya sangat berantakan.
Kardi Tono dan Jono berdiri gemetaran dengan pakaian yang dipenuhi lumpur sawah yang sudah mengering dan bau busuk.
Wajah Kardi penuh dengan bekas cakaran kemerahan dan matanya terlihat sangat sembab seperti orang yang kurang tidur berhari-hari.
"Kalian ini preman atau kumpulan badut sirkus bodoh." Pak Bowo membentak sambil menunjuk wajah Kardi dengan cerutunya.
"Disuruh bakar pagar seng saja tidak becus, malah pulang pagi-pagi dengan bau kotoran sapi dan baju compang-camping begini."
"Sumpah Pak Bowo kami tidak bohong, kebun si Arga itu ada penunggunya yang sangat ganas." Kardi menjawab dengan suara bergetar dan bibir pucat.
"Tiba-tiba ada kabut busuk yang bikin gatal luar biasa, lalu muncul siluman tomat raksasa yang mengejar kami sampai ke sawah." Tono ikut menimpali dengan wajah ketakutan yang masih tersisa.
Plak.
Pak Bowo menampar kepala Tono dengan sangat keras hingga pria gempal itu meringis kesakitan.
"Siluman tomat matamu itu, kalian pasti mabuk minuman keras dulu kan sebelum berangkat kerja." Pak Bowo sama sekali tidak percaya dengan alasan mistis tersebut.
"Aku tidak mau tahu, hari ini kalian tidak akan kubayar sepeser pun karena tugas kalian gagal total." Pak Bowo membalikkan badannya dengan kesal meninggalkan ketiga preman itu yang hanya bisa meratapi nasib sial mereka.
Pak Bowo berjalan kembali ke rumahnya dengan otak yang terus berputar keras mencari cara lain yang lebih mematikan.
"Arga benar-benar membuatku muak, kalau cara kasar tidak mempan aku akan pakai cara halus untuk menghancurkan bisnisnya dari dalam."
Senyum licik dan jahat kembali mengembang di wajah Pak Bowo saat sebuah rencana licik baru terlintas di kepalanya yang botak.