NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Mantan Jodoh

Keesokan harinya, cahaya pagi menyinari Paviliun Utara. Ibu Suri duduk di kursi utamanya, menikmati teh pagi dalam cangkir porselen berukir emas. Di sisinya, Putri Seana duduk dengan sikap anggun, sesekali tersenyum tipis saat berbicara dengan ibunya. Suasana tampak tenang, tapi di balik itu ada ketegangan yang tersembunyi.

Tidak lama kemudian, dayang mengumumkan kedatangan tamu. “Yang Mulia Ibu Suri, Putri Lilina dari Kerajaan Timur telah tiba.”

Seorang gadis cantik masuk dengan langkah lembut. Rambutnya pirang keemasan tergerai indah, wajahnya lembut dan penuh belas kasihan. Gaun biru mudanya sederhana namun elegan. Dia memberi hormat dalam kepada Ibu Suri dan Seana.

“Yang Mulia Ibu Suri, Putri Seana… maafkan kedatangan saya yang mendadak,” kata Lilina dengan suara lembut. “Saya mendengar kabar Yang Mulia Raja terluka parah. Saya tidak bisa tinggal diam. Izinkan saya datang untuk menjenguk dan… mendoakan kesembuhannya.”

Ibu Suri tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. “Lilina, anakku. Kau selalu tahu waktu yang tepat. Duduklah.”

Seana juga tersenyum, meski matanya sedikit menyipit. “Sudah lama tidak bertemu, Lilina. Kau masih sama cantik dan lembutnya.”

Lilina duduk di kursi yang disediakan. “Terima kasih. Saya hanya khawatir. Meski perjodohan kita gagal, saya tetap menganggap Yang Mulia Raja sebagai seseorang yang penting.”

Ibu Suri menghela napas, menyesap tehnya. “Perjodohan itu gagal karena pilihan putraku. Dia lebih memilih… seseorang yang kemudian meninggalkannya.”

Nada suaranya sengaja ditekan di kata terakhir. Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka lagi.

Alena masuk. Dia mengenakan gaun sederhana berwarna putih gading, rambutnya diikat rapi. Dia memberi hormat dalam.

“Selamat pagi, Ibu Suri. Putri Seana.” Lalu dia menoleh pada Lilina dan memberi hormat juga. “Putri…”

Lilina membalas hormatnya dengan senyum lembut. “Anda pasti Yang Mulia Ratu Alena. Senang akhirnya bisa bertemu.”

Seana tidak memberi kesempatan suasana tetap damai. Dia tersenyum sinis, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras agar semua mendengar. “Wah, Ratu akhirnya turun dari kamar kakakku. Saya kira kau akan terus mengurung diri di sana, pura-pura merawat sambil menunggu kesempatan.”

Alena menegakkan tubuh. “Saya hanya ingin memberi salam pagi pada Ibu Suri, seperti yang seharusnya.”

Seana tertawa kecil. “Seharusnya? Setelah kemarin membuat keributan saat tengah malam? Kau memang pandai membuat masalah, Alena. Bahkan seorang dayang menjadi korban karena ulahmu.”

Ibu Suri hanya diam, menonton dengan tatapan tajam, seolah membiarkan putrinya berbicara.

Lilina terlihat tidak nyaman, jari-jarinya menggenggam cangkir teh sedikit lebih erat.

Alena menatap Seana tenang, meski rahangnya mengeras. “Saya hanya melindungi Raka dari percobaan pembunuhan.”

Seana berdiri, menatap Alena dari atas. “Masih berani membela diri? Di depan Ibu dan tamu kita? Kau tidak tahu malu. Kakakku terluka karena segel melemah—segel yang seharusnya kau jaga sebagai Ratu. Tapi kau malah lari ke dunia manusia bertahun-tahun. Sekarang kembali hanya untuk pura-pura jadi pahlawan.”

Suasana paviliun menjadi tegang. Lilina akhirnya membuka mulut dengan lembut. “Putri Seana… mungkin kita bisa bicarakan ini dengan lebih tenang. Yang Mulia Ratu baru saja kembali, dan Yang Mulia Raja masih membutuhkan ketenangan.”

Seana menoleh pada Lilina, senyumnya kaku. “Kau selalu terlalu baik, Lilina. Itulah kenapa dulu Ibu memilihmu. Sayangnya, kakakku lebih memilih yang ini.”

Tatapannya kembali menusuk Alena. Ibu Suri akhirnya berbicara, suaranya dingin dan tenang. “Cukup untuk saat ini. Alena, kau sudah memberi salam. Kembalilah ke tempatmu. Jangan buat suasana pagi ini lebih keruh.”

Alena menunduk hormat. “Baik, Ibu Suri.”

Dia berbalik dan keluar dari paviliun tanpa menoleh lagi. Tapi di belakangnya, dia masih mendengar suara Seana yang sengaja ditinggikan. “Lihat, Lilina… itulah wanita yang menggantikanmu. Tidak tahu diri dan selalu membawa masalah.”

Alena mengatupkan tangan di sisi tubuh, menahan emosi. Langkahnya semakin cepat menuju kamar Raka. Di belakangnya, di paviliun yang mewah itu, tiga wanita dengan kepentingan berbeda terus berbincang… dan bayangan ancaman terhadapnya semakin tebal.

Suasana masih tegang setelah Alena pergi. Lilina menyesap tehnya pelan, lalu meletakkan cangkir dengan gerakan lembut. Senyumnya tetap ramah, tapi matanya menatap Ibu Suri dan Seana dengan kejujuran yang terkesan polos.

“Saya tadi mendengar…” katanya dengan suara lembut, hampir seperti sedang khawatir, “bahwa Yang Mulia Ratu tinggal di istana utara bersama Yang Mulia Raja? Bahkan di kamar yang sama,”

Seana langsung tersenyum, seolah menunggu kalimat itu. Lilina melanjutkan, masih dengan nada lembut namun setiap kata terasa menusuk. “Bukankah Yang Mulia Raja dan Ratu belum menikah secara resmi? Upacara pernikahan kerajaan dibatalkan dulu karena… kepergian Yang Mulia Ratu. Jika begitu, bukankah tidak pantas jika Ratu terus tinggal di tempat Raja tanpa ikatan yang sah di mata istana dan dewan?”

Ibu Suri yang sejak tadi diam, kini tersenyum tipis. Senyum itu penuh arti. “Lilina benar,” katanya tenang. “Aku juga sudah memikirkan hal itu. Di mata rakyat dan dewan, status mereka masih… menggantung. Alena kembali sebagai Ratu, tapi secara resmi ikatan pernikahan belum disempurnakan. Tinggal serumah, merawat di kamar yang sama… bisa menimbulkan salah paham besar.”

Seana langsung menimpali dengan semangat. “Bahkan bisa dianggap melecehkan adat istana. Jika sampai terdengar ke kerajaan lain, reputasi kakakku yang akan rusak. Lilina, kau memang selalu bijak. Aku setuju sekali.”

Lilina menunduk sedikit, seolah merasa tidak enak sudah mengangkat topik itu. “Saya tidak bermaksud menyinggung. Hanya… khawatir pada kehormatan Yang Mulia Raja. Dan juga pada Yang Mulia Ratu sendiri. Jika nanti ada yang mempermasalahkan, dia yang akan lebih dirugikan.”

Ibu Suri mengangguk pelan, jari-jarinya mengetuk tepi cangkir. “Kau selalu tahu cara berbicara yang halus tapi tepat, Lilina. Aku semakin menyesal perjodohan dulu gagal.”

Seana tersenyum puas, menatap ke arah pintu yang baru saja dilalui Alena. “Kalau begitu, kita harus segera membicarakan ini dengan dewan,” katanya. “Atau… memisahkan mereka dulu sampai semuanya jelas. Tidak pantas membiarkan situasi seperti ini berlarut-larut.”

Lilina hanya tersenyum lembut, tidak menambahkan kata lagi. Tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang sulit dibaca—bukan kebencian terbuka seperti Seana, melainkan pisau yang dibungkus sutra. Di luar paviliun, angin pagi berembus pelan membawa kabut abadi. Dan di kamar Raka, Alena yang baru saja tiba kembali tidak tahu bahwa di kejauhan… sebuah isu baru tentang ketidakpantasan sudah mulai diracik untuk menjeratnya.

Sesaat setelah Alena kembali ke kamar Raka, ketukan tegas terdengar di pintu. Jenderal Kael masuk setelah diizinkan. Wajahnya serius, zirahnya masih terpasang lengkap. Ia memberi hormat singkat pada Alena, lalu melirik ke arah Raka yang masih terbaring. “Yang Mulia Ratu, maaf mengganggu. Saya datang membawa laporan terkait kejadian semalam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!