NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Bukit Embun (Bagian 1)

Leon dan Riven saling berpandangan.

Kini mereka mengerti.

Setiap langkah sejak meninggalkan Desa Aster sebenarnya adalah bagian dari ujian.

Jembatan yang dipotong.

Lubang jebakan.

Bahkan kemungkinan adanya peserta yang saling menjatuhkan.

Semua itu dirancang untuk menguji cara berpikir seorang calon pemburu.

Pria berjubah hijau melompat turun dari batu besar dengan gerakan yang ringan.

Meski usianya tampak lebih dari lima puluh tahun, tubuhnya masih terlihat lincah.

"Aku Orion."

"Salah satu penguji Seleksi Pemburu Magang."

Leon dan Riven segera memberi hormat.

Orion mengangguk puas.

"Bagus."

"Setidaknya kalian masih ingat sopan santun."

Ia kemudian menunjuk ke arah lereng bukit.

"Bunga Fajar tumbuh di puncak."

"Tetapi..."

"...jalan menuju ke sana masih belum selesai."

Leon mengernyit.

"Maksudnya?"

Orion mengambil sebuah batu kecil, lalu melemparkannya ke jalur utama.

Klik.

Suara mekanisme terdengar pelan.

Sesaat kemudian...

Wuussh! Wuussh! Wuussh!

Belasan anak panah kayu melesat dari balik semak di kanan dan kiri.

Meski ujungnya tidak tajam, kekuatannya cukup untuk mematahkan tulang.

Anak-anak panah itu menghantam batang pohon di seberang hingga bergetar keras.

Riven menelan ludah.

"Kalau tadi kita lewat..."

Orion tersenyum tipis.

"Kalian hanya akan pulang dengan tangan dan kaki patah."

"Dan tentu saja..."

"...gugur."

Leon mengamati jalur itu dengan saksama.

Ia melihat beberapa batu memiliki warna yang sedikit berbeda.

Ada pula rumput yang tampak lebih pendek dibandingkan area di sekitarnya.

"Itu pemicunya..."

gumam Leon.

Orion meliriknya.

"Kau cepat belajar."

"Tapi jangan terlalu percaya diri."

"Masih ada jebakan lain yang tidak bisa dikenali hanya dengan mata."

Setelah mengatakan itu, Orion melangkah ke samping.

"Silakan lanjut."

"Aku hanya mengawasi."

Leon dan Riven mulai mendaki dengan sangat hati-hati.

Kali ini tidak ada yang terburu-buru.

Leon menggunakan ujung sarung pedangnya untuk mengetuk tanah di depan.

Sesekali ia melempar kerikil kecil.

Beberapa perangkap berhasil aktif lebih dulu.

Lubang tersembunyi.

Jaring yang jatuh dari atas pohon.

Batu gelinding berukuran besar.

Melihat semua itu, Riven tertawa pahit.

"Kalau aku ikut ujian seperti tahun-tahun sebelumnya..."

"...aku pasti sudah gugur lagi."

Leon tersenyum kecil.

"Bukan karena kau lemah."

"Kau hanya terlalu terburu-buru."

Riven mengangguk setuju.

Tak lama kemudian, mereka berhasil mencapai setengah lereng bukit.

Di sana, kabut mulai menebal.

Jarak pandang berkurang drastis.

"Leon."

"Ada yang aneh."

bisik Riven.

Leon mengangguk.

Suara burung menghilang.

Angin pun terasa berhenti.

Suasana menjadi sangat sunyi.

Insting Tempur Lv.1 mulai bereaksi.

Jantung Leon berdetak lebih cepat.

Namun kali ini...

Ia tidak merasakan niat membunuh.

Melainkan...

Perasaan sedang diawasi.

"Lagi?"

gumamnya.

Ia perlahan menoleh ke arah sebuah batu besar yang tertutup lumut.

Di atas batu itu...

Seekor rubah berbulu putih sedang duduk dengan tenang.

Matanya berwarna biru muda.

Ekornya berjumlah tiga.

Rubah itu tidak menggeram.

Tidak menunjukkan permusuhan.

Ia hanya memandang Leon dengan rasa ingin tahu.

Ding!

【Analisis Otomatis】

Nama: Moon Fox

Peringkat: Elite

Status: Penjaga Wilayah

Catatan: Makhluk yang sangat jarang menyerang manusia tanpa alasan.

Leon membeku.

"Penjaga..."

Satu lagi.

Alpha Dire Wolf.

Shadow Lynx.

Dan sekarang...

Moon Fox.

Rubah putih itu perlahan berdiri.

Kemudian, di luar dugaan Leon dan Riven, ia memutar tubuhnya dan berjalan pelan menuju puncak bukit.

Sesekali ia berhenti dan menoleh ke belakang.

Seolah memastikan Leon masih mengikutinya.

"Dia..."

"...mengajak kita?"

tanya Riven dengan bingung.

Leon tidak langsung menjawab.

Ia teringat petunjuk dalam Quest Rahasia.

"Saat para Penjaga mulai mengenalimu..."

Apakah ini maksudnya?

Moon Fox kembali melangkah.

Kabut di depannya perlahan terbelah, memperlihatkan sebuah jalur kecil yang sebelumnya sama sekali tidak terlihat.

Jalur itu...

Tidak ada di peta.

Dan tidak dijaga oleh satu pun jebakan.

Leon menarik napas panjang.

"Riven."

"Ya?"

"Kurasa..."

"...kita baru saja menemukan jalan yang sebenarnya."

Namun, jauh di balik kabut, Orion yang mengamati dari kejauhan perlahan mengernyit.

"Itu mustahil..."

bisiknya.

"Moon Fox..."

"...kenapa kau menunjukkan Jalan Penjaga kepada anak itu?"

Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai, salah satu penguji mulai menyadari bahwa Leon bukanlah peserta biasa.

Dan tanpa ia sadari, ujian yang awalnya sama untuk semua peserta mulai berubah menjadi ujian khusus bagi sang pewaris.

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!