Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Usah Buru-buru
Langit di atas Vila Mahitala perlahan berubah jingga. Semburat cahaya matahari yang sejak siang menghangatkan perbukitan kini mulai tengelam.
Niken berdiri di teras vila sambil menikmati pemandangan yang perlahan diselimuti kabut tipis. Udara yang berubah semakin dingin, memaksa Niken merapatkan kardigan rajut yang dikenakannya.
Danendra yang baru keluar dari dalam vila, langsung menghampiri, kemudian ikut bersandar di pagar kayu teras.
Niken menoleh singkat. "Mas, nggak heran tamu-tamu Mas betah di sini. Lihat saja, pemandangan sore saat cerah, rasanya bikin malas pulang."
"Aku juga sering sengaja menunggu matahari tenggelam di sini." Kata Danendra.
Tak lama kemudian, lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu. Cahayanya yang temaram memantul di antara pepohonan, membuat suasana vila terasa semakin hangat.
Tidak lama setelahnya, terdengar suara langkah pelan dari belakang. "Permisi, Pak."
Keduanya menoleh. Seorang karyawan berdiri sambil membawa termos air panas, dua cangkir, serta keranjang kecil berisi jagung rebus dan ubi kukus.
"Pak Surya titip ini, Pak. Katanya malam di sini akan terasa lebih nikmat kalau ditemani minuman hangat."
Danendra tersenyum sambil menerimanya. "Sampaikan terima kasih kepada Pak Surya," kata Danendra yang dijawab anggukan kepala oleh karyawan itu.
"Baik, Pak."
Setelah karyawan itu pergi, Danendra meletakan nampan ke meja kecil yang berada di teras. Ia lalu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Uap tipis yang mengepul, menghangatkan udara yang mulai menusuk.
Niken menerima cangkirnya dengan kedua tangan. "Jadi hangat," katanya.
"Pegang saja dulu, badanmu pasti lebih nyaman."
Niken mengangguk sambil meniup pelan permukaan teh. Ia menyesapnya sedikit, kemudian berkata. "Mas, terima kasih, ya. Kalau bukan karena Mas, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau ternyata ada tempat seindah ini."
Danendra menatap lembut wajah istrinya. "Kapan pun kita punya waktu luang, kita bisa datang lagi. Anggap saja sebagai suami istri yang sedang mencari waktu untuk beristirahat."
Niken menjawab dengan senyum kecil serta anggukan pelan.
Angin kembali berhembus yang membuat Danendra refleks menggeser kursinya sedikit lebih dekat. "Boleh aku pinjam tanganmu?"
Niken menatapnya bingung, tetapi tetap mengulurkan tangan. "Mas?" Lirihnya ketika Danendra menggenggamnya perlahan.
"Biar kuhangatkan tanganmu yang dingin ini." Kata Danendra yang membuat Niken tersenyum malu.
Ia tak menarik tangannya, namun pandangannya beralih kepada hamparan lampu kota Wonosobo yang mulai terlihat berkelip dari kejauhan.
Kemudian mereka saling bertukar cerita tentang masa kecil, kebiasaan masing-masing, dan hal-hal sederhana yang belum sempat mereka bicarakan sejak menikah.
Saat itu tidak dipenuhi kata-kata manis yang berlebihan. Namun setiap tawa kecil, tatapan, dan jeda percakapan terasa cukup untuk membuat keduanya semakin mengenal satu sama lain.
Lampu-lampu di kejauhan mulai berpendar samar. Niken tampak kedinginan yang membuat Danendra langsung berdiri. Ia masuk ke dalam vila, kemudian kembali sambil membawa sebuah selimut kecil.
Tanpa banyak bicara, Danendra membentangkan selimut itu, lalu menyampirkannya perlahan di bahu Niken.
Niken memegang kedua sisi selimut itu sambil tersenyum. "Terima kasih, Mas."
Danendra kembali duduk di sampingnya. "Kamu memang tidak pandai bilang kalau sedang kedinginan."
"Aku hanya tidak ingin merepotkan." Kata Niken.
Beberapa detik kemudian, ia menguap pelan sambil menutup mulutnya.
Danendra meliriknya, "sudah mengantuk?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Niken.
"Sedikit, tapi rasanya masih betah di luar."
Danendra menatap langit yang kini mulai hitam pekat. "Besok pagi, kita masih bisa menikmati pemandangan. Kalau terlalu lama di sini, nanti bisa masuk angin."
"Iya juga."
Danendra berdiri lebih dulu, ia lalu mengulurkan tangannya. "Ayo."
Niken menerima uluran tangan suaminya. Namun begitu berdiri, langkahnya sedikit goyah karena kaki yang mulai terasa dingin. Beruntung, Danendra dengan sigap menahan lengannya.
"Hati-hati," kata Danendra yang dijawab anggukan oleh Niken.
"Iya, Mas."
Lelaki itu tidak langsung melepaskan tangannya. "Tidak perlu terburu-buru. Kita jalannya pelan-pelan saja."
Niken hanya menjawab dengan anggukan patuh. Kemudian dengan langkah pelan mereka memasuki vila.
Danendra menutup pintu teras rapat-rapat agar udara dingin tidak masuk. Di dalam vila, suasana terasa hangat diterangi cahaya lampu berwarna kekuningan.
Niken duduk di tepi ranjang, tangannya terangkat perlahan ke bawah dagu, berniat melepas peniti jilbabnya sendiri. Namun sebelum sempat melakukannya, Danendra bertanya dengan suara yang lembut.
"Boleh aku membantumu?"
Niken menatap suaminya beberapa saat. Semburat malu masih saja muncul ketika Danendra mulai berbicara dengan nada sedikit menggodanya.
"Asal pelan-pelan." Jawab Niken lembut.
Danendra mengangguk. "Tentu."
Lalu dengan gerakan hati-hati, ia membuka peniti yang terpasang di bawah dagu Niken, kemudian menyerahkannya ke telapak tangan Niken agar tidak jatuh dan hilang. Setelah itu, jemarinya membantu merapikan lipatan jilbab yang menyampir di bahu Niken.
"Sudah."
Niken sendiri yang kemudian melepaskan jilbabnya perlahan, melipatnya dengan rapi, lalu meletakannya di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Rambutnya yang terikat rapi kini terlihat, sementara beberapa helai rambut di dekat pelipis terlepas membingkai wajah.
Danendra menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya mendekatkan wajah. Ada rasa hangat yang menjalar sampai ke dada, ketika bibir keduanya menyatu. Lalu beberapa saat kemudian, Danendra perlahan menjauhkan wajahnya. Penyatuan bibir mereka berakhir begitu lembut hingga Niken masih terpaku beberapa detik, seolah belum menyadari apa yang baru saja terjadi.
Tatapannya jatuh ke lantai dengan pipi yang memanas hingga ke ujung telinganya. "Mas..." suara Niken nyaris hanya berupa bisikan.
Danendra tertawa kecil melihat reaksi istrinya, perempuan itu memang tak pandai menyembunyikan rasa gugupnya.
"Nik, kamu sangat lucu," kata Danendra yang membuat Niken langsung mendorong pelan dadanya.
Danendra justru menahan pegelangan tangannya, lalu dengan genggaman hangat tanpa menyakiti itu, Danendra membuat Niken berdiri dari duduknya.
"Mas," ucapnya lagi.
"Mau lagi?" goda Danendra.
Niken kembali mendorong dadanya, sebagai bentuk protes karena dirinya jadi salah tingkah. Namun dalam sekejap dunia terasa oleng, jantung Niken serasa mau copot ketika ranjang berderit, dan dirinya lah yang jatuh di atas Danendra.
Pipinya semakin memanas, Niken buru-buru ingin bangun, tetapi Danendra menahan bahunya pelan.
"Hati-hati, tidak usah buru-buru," bisiknya sambil menahan tawa.
Danendra menatapnya lekat, tanpa ejekan. Rasa sayangnya justru terpancar dari tatapnya saat itu.
"Ini bagaimana sih." Bathin Niken menahan malu.
Danendra menghela napas kecil kemudian memeluknya erat. "Ya sudah, begini lebih baik."
Perempuan itu kini tengkurap dengan nyaman di atas tubuh sang suami, ia hendak merubah posisi namun Danendra menguncinya erat.
Untuk beberapa saat itu, waktu seolah terhenti bagi keduanya. Tubuh yang tadi diselimuti rasa dingin kini perlahan menghangat.
Jantung Niken berdetak lebih cepat dari biasanya, sementara Danendra tidak kunjung mengatakan apa pun, ia justru semakin mempererat pelukannya.
...****************...