TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 18: JERAT UTAMAMU*
*Toxic and Control*
*BAB 18: JERAT UTAMAMU*
Derap langkah kaki Kinara Jose yang cepat menggema di sepanjang koridor lantai tiga gedung tua. Rasa bersalah yang teramat besar pada Randy mengalahkan seluruh rasa paranoia yang selama ini mengurung dirinya.
Dengan napas memburu, Kinara berdiri di depan pintu ganda kayu ek tebal basecamp Garuda Nusantara. Tanpa mengetuk, dia mendorong pintu itu dengan sentakan kasar hingga terbuka lebar dan berdentum keras menghantam dinding.
Brak!
Di dalam ruangan yang temaram, Rian Pradifta sedang berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela besar. Begitu mendengar hantaman pintu, cowok bertubuh tinggi tegap itu perlahan membalikkan tubuhnya.
Detik itu juga, sepasang mata elang Rian melebar sempurna untuk sepersekian detik. Jantung di dalam dada bidangnya berdegup gila-gilaan. Ada rasa senang yang membubung tinggi di sudut hatinya. Kinara datang menemuinya secara sukarela. Gadis yang terus mengusik pikirannya, kini sedang berdiri di dalam wilayah kekuasaannya.
Namun, binar kegembiraan di mata Rian padam secepat kilat.
Saat melihat sepasang mata jernih Kinara yang berkilat penuh amarah dari balik kacamata murahnya, Rian tersadar. Ego sang tuan muda langsung memasang tameng pelindung berupa dinding es yang teramat dingin.
Rian tahu persis tujuan Kinara ke sini bukan untuk menyerah atau merindukannya, melainkan murni untuk membela Randy—bajingan basket yang paling dia benci.
Rian menyembunyikan badai emosinya dengan sangat sempurna. Dia berjalan perlahan menuju sofa kulit hitamnya, mendudukkan diri dengan gerakan santai yang teramat angkuh. Di sudut bibir bawah Rian, sisa luka robek akibat pukulan Randy kemarin sore masih terlihat jelas.
Rian menatap datar ke arah Kinara yang separuh wajahnya tertutup masker medis putih, berpura-pura tidak tahu kalau di balik masker itu terdapat luka bengkak akibat perbuatannya sendiri di Aston Club semalam.
"Kamu tidak diundang. Untuk apa datang ke sini?" tanya Rian dengan suara baritonnya yang rendah, datar, dan teramat dingin.
Kinara melangkah maju beberapa kali, mengabaikan Rama dan Rangga yang berdiri di sudut ruangan dengan rahang mengeras waspada. Kinara berhenti tepat di depan meja kaca, menatap Rian penuh kilat perlawanan.
"Kak Rian, kenapa kamu tega melakukan ini?!" tuntut Kinara, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang nyaris pecah. "Kenapa kamu mencabut beasiswa Kak Randy dan mengeluarkannya dari tim basket secara sepihak?! Dia tidak salah apa-apa! Kenapa kamu harus menghancurkan masa depannya?!"
Di dalam hatinya, Kinara menjerit frustrasi, meyakini bahwa semua ini terjadi akibat kebohongannya di perpustakaan kemarin. Namun, dia mati-matian menahan diri agar tidak membongkar bahwa cowok yang dia suka itu sebenarnya tidak ada.
"Kamu mau tahu kenapa beasiswanya dicabut?"
Rian perlahan berdiri, membuat tubuh jangkungnya setinggi 188 sentimeter kembali menjulang mengintimidasi ruang gerak Kinara. Dia memutari meja kaca, melangkah pelan mendekati Kinara hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
Rian menunduk, menatap lekat-lekat ke arah manik mata jernih Kinara. Sebuah senyuman miring yang teramat tipis dan dingin terukir di wajah tampannya.
"Sederhana. Karena dia tidak sadar posisi bahwa dia tidak akan pernah bisa menang melawanku," bisik Rian dengan nada rendah yang teramat kejam di samping telinga Kinara.
"Garuda Nusantara adalah wilayahku, Kinara Jose. Dan apa pun yang ada di sini bergerak atas kehendakku. Katakan pada cowok yang kamu sukai itu... jangankan beasiswa, menghancurkan seluruh eksistensi keluarganya pun sangat mudah bagiku jika dia masih berani menapakkan kakinya di sekitarmu."
Kinara tersentak mundur satu langkah. Jantungnya bertalu hebat di balik rongga dadanya. Secara refleks, jemari Kinara bergerak naik, meremas ujung masker medisnya yang menutupi bibir bawahnya yang bengkak.
Di dalam kepalanya, ketakutan Kinara bercabang dua. Dia takut Rian menghancurkan Randy, tetapi dia jauh lebih takut jika Rian menyadari luka di bibirnya. Dia harus memastikan cowok gila kontrol ini tidak curiga bahwa cewek bergaun seksi yang dia cium secara brutal di Aston Club semalam adalah Kinara si anak beasiswa.
"Kak Rian, tolong jangan sewenang-wenang!" sela Kinara, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut kelopak matanya yang jernih. Harga diri Kinara runtuh perlahan demi menyelamatkan masa depan Randy.
"Dia tidak bersalah! Hukum saja aku jika kamu mau ganti rugi atas kejadian di basecamp waktu itu, tapi tolong kembalikan beasiswa Kak Randy!"
Mendengar Kinara yang rela menyerahkan dirinya sendiri untuk dihukum murni demi membela Randy, darah Rian seakan mendidih hebat di dalam dada. Kilat amarah yang pekat membakar manik mata elangnya. Rasa cemburu masif yang sejak tadi dia tahan kini meledak menjadi kegilaan yang absolut di dalam benaknya.
Rahang tegasnya mengeras kokoh hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Namun, di tengah badai amarah yang nyaris merusak seluruh sisa kewarasannya, sisi manipulatif sang penguasa sekolah langsung bekerja dengan sangat taktis dan dingin.
Gadis ini menawarkan diri untuk dihukum. Dan Rian Pradifta tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas yang disodorkan langsung ke tangannya.
Rian perlahan mencondongkan tubuh tegapnya, memangkas jarak yang tersisa hingga embusan napas beratnya terasa di permukaan masker medis Kinara. Sebuah senyuman miring yang teramat kejam, dingin, dan sarat akan kemenangan mutlak perlahan terukir di wajah tampannya.
"Hukum kamu?" desis Rian dengan suara bariton yang teramat rendah dan berbahaya, membuat Rama dan Rangga di sudut ruangan kompak menahan napas.
Rian mengulurkan tangan kekarnya, jemari panjangnya bergerak lancang mencengkeram dagu Kinara dari balik masker, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang menggelap pekat.
"Baik. Aku akan melepaskan Randy," ujar Rian datar, nadanya terdengar seperti malaikat maut yang sedang menawarkan perjanjian terlarang.
"Dengan syarat... kamu jauhi dia. Jangan pernah biarkan tangan kotornya menyentuhmu lagi. Dan mulai sekarang, aku mau kamu jadi pelayanku."
Kinara tersentak, sepasang matanya membelalak sempurna di balik lensa kacamata murahnya. Jantungnya melewatkan satu detakan.
"P-pelayan...?" cicit Kinara dengan suara yang gemetar hebat.
"Ya. Pelayan pribadiku," tekan Rian dengan nada kejam yang mutlak. Cengkeramannya di dagu Kinara semakin mengerat, memaksa gadis itu menatap langsung sisa luka di bibirnya sendiri.
Rian terkekeh sinis, menyembunyikan gejolak sesak di dadanya. "Kenapa? Apa kamu berharap perlakuan spesial dariku? Aku mau kamu membersihkan basecamp dan menjadi pelayan yang patuh. Bawakan bekal makan siangku setiap hari, siapkan buku-buku pelajaranku, dan turuti semua perintahku di sekolah ini tanpa bantahan."
Rian melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, membuat tubuh kecil Kinara terhuyung mundur ke dekat meja kaca.
"Jika kamu melanggar satu saja aturan dariku," lanjut Rian dengan binar mata elang yang menggelap pekat, "kupastikan bukan cuma beasiswa Randy yang lenyap, tapi perusahaan keluarga milik orang tuanya juga akan bangkrut dalam waktu semalam."
Kinara memejamkan matanya erat-erat, membiarkan sebutir air mata frustrasi lolos membasahi pipinya yang memucat. Demi keselamatan Randy, dia terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menerima sangkar tak terlihat milik sang tuan muda.
"Baik... aku setuju," ucap Kinara akhirnya dengan suara pelan yang terdengar sangat pasrah dan kalah total.
Melihat kepatuhan mutlak yang berhasil dia dapatkan, binar kepuasan yang teramat pekat berkilat di sepasang mata elang Rian. Dia melepaskan cengkeramannya di dagu Kinara dengan sentakan pelan, lalu kembali menegakkan tubuh tegapnya.
"Pilihan yang cerdas, Anak Beasiswa. Sekarang, keluar dari ruangan ini. Dan bersiaplah menerima perintah pertamamu besok pagi."
Kinara berbalik dengan tubuh yang gemetar dan langkah yang lunglai. Dia berlari kencang keluar dari ruangan temaram itu dengan napas yang sesak, menahan isak tangis kehinaan yang nyaris pecah di tenggorokannya.
Keesokan paginya, awan mendung yang menggantung rendah di langit seolah menjadi cerminan sempurna dari nasib Kinara yang kini telah tergadaikan. Hari ini adalah hari pertamanya resmi menjadi pelayan pribadi Rian Pradifta.
Ting!
Ponsel di dalam saku seragamnya bergetar pendek. Jantung Kinara seketika mencelos sampai ke perut saat membaca sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.
`"Ke basecamp sekarang. Bawakan es kopi hitam tanpa gula dari kantin belakang."`
Sifat gila kontrol Rian langsung bekerja tanpa ampun bahkan sebelum bel masuk berbunyi. Kinara menghela napas panjang, memutar arah langkahnya menuju kantin, lalu berjalan setengah berlari menyusuri lorong menuju lantai tiga gedung tua tempat basecamp berada.
Cklek.
Kinara mendorong pintu basecamp yang sepi. Di dalam ruangan temaram itu, Rian sedang duduk santai di sofa kulit hitamnya, menyilangkan satu kaki di atas lututnya yang lain.
Begitu Kinara masuk, sepasang mata elang Rian langsung terangkat. Ada binar kepuasan yang teramat pekat berkilat di manik matanya, namun ekspresi wajah tampannya tetap ditekuk datar dan sedingin es karena sisa amarah cemburu yang masih membakar hatinya.
Kinara berjalan mendekat, meletakkan cup es kopi hitam itu di atas meja kaca dengan gerakan kaku.
"Ini pesanannya, Kak," ucap Kinara, suaranya teredam dari balik masker.
Rian tidak menyentuh kopi itu. Dia justru menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada sembari menatap lekat-lekat ke arah Kinara, mengunci pandangannya pada masker medis yang membungkus rapat separuh wajah gadis itu.
"Kenapa masih memakai benda bodoh itu?" tanya Rian dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin. "Buka maskermu saat melayaniku."
Kinara seketika menegang. Tangan dan jarinya refleks naik menyentuh permukaan maskernya dengan panik.
"Aku... aku sedang flu, Kak. Aku tidak ingin menulari orang lain," dusta Kinara, ketakutan jika Rian menyadari luka bengkak di bibirnya akibat kejadian di Aston Club malam itu.
Rian terkekeh rendah—sebuah kekehan sinis yang teramat menjengkelkan. Di balik topeng dinginnya, batin Rian sebenarnya berdenyut perih karena dia tahu persis luka apa yang sedang disembunyikan Kinara di balik kain putih itu. Namun, amarah dan egonya saat ini jauh lebih mendominasi.
"Aku tidak suka dibantah, Anak Beasiswa," desis Rian kejam, matanya menyipit tajam memberikan emosi intimidasi mutlak.
"Kamu di sini untuk menuruti perintahku, bukan untuk bernegosiasi. Buka, atau surat pencabutan beasiswa Randy akan kembali ditempel di mading dalam hitungan lima menit."
Ancaman itu menghantam telak pertahanan Kinara. Dengan hati yang hancur dan tangan yang gemetar hebat, Kinara terpaksa menurunkan tali masker dari telinganya, mengekspos wajah polosnya sepenuhnya di bawah pencahayaan ruangan.
Di sudut bibir bawah Kinara yang ranum, terdapat sebaris luka robek yang membengkak kemerahan dengan sisa darah yang mengering pekat.
Rian membeku di tempat duduknya. Jantungnya berdegup gila melihat mahakarya destruktif yang dia tinggalkan di wajah jelita gadis ini. Ada rasa tidak rela dan bersalah yang luar biasa asing berkecamuk di dadanya. Namun, dia mati-matian menahan diri, mengunci rahangnya kokoh agar sisi rapuhnya tidak terlihat.
Rian mengalihkan pandangannya dengan lambat ke arah tumpukan buku paket tebal di sudut meja kaca.
"Salin seluruh bab empat buku biologi ini ke dalam buku catatanku. Pastikan selesai sebelum jam istirahat pertama," perintah Rian datar, suaranya sengaja dibuat sekejam mungkin untuk menutupi gejolak batinnya.
"Sekarang, kembali ke kelasmu."
Kinara tidak menjawab. Dia langsung menyambar buku paket tebal dan buku catatan milik Rian, memakai kembali maskernya dengan terburu-buru, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan basecamp tanpa menoleh lagi.
Cobaan bagi Kinara belum berakhir. Saat jam istirahat pertama tiba, dia harus mengantarkan buku catatan yang sudah selesai dia salin ke kelas Rian di ujung koridor lantai tiga.
Namun, tepat di dekat belokan tangga, sebuah suara bariton yang lembut dan sangat familiar menghentikan langkah kaki lunglainya.
"Kinara?"
Kinara menoleh dan mendapati Randy sedang berdiri di sana. Wajah cowok basket itu tampak jauh lebih lega karena beasiswanya mendadak dipulihkan pagi ini. Randy melangkah mendekat dengan senyuman hangat yang teramat tulus.
"Beasiswaku tidak jadi dicabut, Kinara. Pihak yayasan bilang ada kesalahan administrasi," ujar Randy senang, matanya berbinar menatap Kinara.
"Ini semua pasti karena keajaiban. Oh iya, pipimu yang kemarin ditampar Silla, apa sudah tidak apa-apa?"
Melihat wajah baik Randy, dada Kinara terasa seperti diremas dengan sangat menyakitkan. Air mata keputusasaan menyengat pelupuk matanya.
_Ini bukan keajaiban, Kak. Ini karena aku baru saja menjual kebebasanku pada monster itu_, batin Kinara menjerit perih.
Mengingat janji mutlaknya pada Rian untuk menjauhi Randy, Kinara terpaksa mengeraskan hatinya demi melindungi masa depan cowok di depannya.
Kinara mundur dua langkah besar, memotong jarak di antara mereka secara sepihak. Tatapan dinginnya kini tertuju lurus pada Randy.
"Baguslah kalau begitu, Kak," ucap Kinara dengan nada suara yang teramat dingin, menusuk keheningan lorong.
"Mulai sekarang, tolong jangan dekati aku lagi, Kak Randy. Aku tidak ingin terlibat masalah dengan anak-anak tingkat tiga lagi karena kehadiranmu. Permisi."
Setelah menumpahkan kalimat kejam yang membohongi batinnya sendiri itu, Kinara langsung berjalan cepat melewati Randy yang seketika terpaku membeku di tempatnya berdiri dengan rahang mengeras karena syok dan kecewa.
Kinara terus berjalan setengah berlari sembari menggigit bibir bawahnya yang bengkak hingga rasa perihnya kembali menyengat.
Dia tidak menyadari, bahwa dari kejauhan di balik pilar koridor, sepasang mata elang Rian Pradifta telah mengawasi seluruh interaksi tersebut dengan kepuasan yang teramat pekat.
Jerat kendalinya telah bekerja dengan sempurna, memutus satu per satu dunia luar Kinara hingga gadis itu tidak punya pilihan lain selain berputar di dalam poros kekuasaannya.
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk