Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kehangatan yang Tak Pernah Kurasa
Debu perlahan mengendap di jalan tanah, dan keheningan kembali menyelimuti desa—namun bukan lagi keheningan ketakutan, melainkan kelegaan yang dalam. Punggung pasukan pengejar itu lenyap di balik pepohonan di kejauhan, namun tak satu pun warga desa langsung beranjak pergi. Mereka semua masih berdiri di sana, menatap Laras dengan tatapan campuran rasa ingin tahu, rasa hormat, dan kehangatan yang membuat dada wanita itu terasa sesak.
Kepala desa berjalan mendekat perlahan, memegang tongkat kayunya dengan tenang. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan atau keterkejutan berlebihan, melainkan senyum lembut yang menenangkan.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun kepada kami, Laras," ucapnya pelan sebelum Laras sempat membuka mulut. "Kami tidak tahu siapa dirimu dulu, dan mungkin kami tidak perlu tahu semua detailnya. Yang kami lihat selama dua tahun ini hanyalah wanita yang rajin membantu tetangga, yang menyembuhkan luka anak-anak yang jatuh bermain, dan yang selalu menanam bunga agar desa ini terlihat lebih indah. Itulah Laras yang kami kenal."
Kata-kata sederhana itu terasa lebih berat daripada pedang mana pun yang pernah ia hadapi. Mata Laras berkaca-kaca, sesuatu yang hampir tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup di dunia yang keras. Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.
"Terima kasih," ucapnya lirih. "Aku... aku takut kalian akan menjauh setelah tahu siapa aku dulu."
"Manusia berubah," potong seorang ibu desa sambil tersenyum. "Dan tempat yang baik bisa mengubah siapa saja menjadi lebih baik."
Perlahan warga mulai bubar kembali ke rumah masing-masing, meski masih ada yang menyempatkan diri melambaikan tangan atau mengucapkan dukungan singkat. Laras dan Dika pun berjalan kembali menuju rumah kayu di ujung desa. Udara siang mulai terasa hangat, namun beban berat yang selama ini menggelayuti hati Laras terasa jauh lebih ringan.
Sesampainya di teras, Laras duduk di kursi kayu panjang yang biasa ia tempati. Ia menatap kebun bunganya yang sedikit berantakan karena keributan tadi, namun hatinya terasa penuh. Dika duduk di sebelahnya, memberi jarak yang cukup namun tetap terasa dekat.
"Kau lihat sendiri kan?" tanyanya pelan. "Kau tidak perlu terus-menerus menyembunyikan dirimu seolah kau monster. Di sini, kau menemukan apa yang dulu kau perjuangkan—tempat di mana kau diterima apa adanya."
Laras menoleh ke arahnya, menatap mata Dika yang teduh. "Kau tahu hal apa yang paling aku takutkan selama ini? Bukan kematian, bukan juga ditangkap oleh musuhku. Tapi aku takut jika aku kembali menjadi diriku yang dulu, aku akan menghancurkan segala hal baik yang ada di sekitarku."
"Kekuatan itu sendiri tidak jahat," jawab Dika mantap. "Yang menentukan baik atau buruk adalah hati yang memegangnya. Dan hatimu sudah memilih jalan yang berbeda sejak lama."
Angin berhembus lembut mengibaskan rambut hitam Laras. Ia menyadari satu hal penting hari ini: perlindungan bukan berarti harus menutup diri dari dunia. Perlindungan sejati adalah berani berjuang demi orang yang berharga, bahkan jika itu berarti harus menghadapi masa lalu sendiri.
"Besok kita berangkat," ucap Laras tiba-tiba, suaranya tegas namun tenang. "Aku akan menemui pengkhianat itu sendiri. Tapi sebelum itu, aku harus menutup semua urusan yang belum selesai di sini, dan... aku ingin tahu kebenaran penuh tentang apa yang terjadi lima tahun lalu, sebelum aku memutuskan langkah selanjutnya."
Dika tersenyum lega. Ia tahu, Laras yang dulu yang dingin dan penuh keraguan perlahan menghilang, digantikan oleh wanita yang berani menghadapi takdirnya.
"Aku akan menemanimu," janjinya. "Sampai akhir."
bersambung....