NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Cahaya Dua Dunia dan Janji di Ambang Gerbang

Suasana di dalam ruangan tua itu seketika berubah menjadi hening yang menyesakkan. Hanya suara napas berat Erlan yang terikat, dan derap langkah kaki Paman Haris yang perlahan mendekat ke arah meja batu di tengah ruangan. Senyumnya yang lebar namun penuh kebencian menyiratkan bahwa dia sudah mempersiapkan momen ini selama puluhan tahun, dan tidak ada yang bisa menghalanginya sekarang atau setidaknya itulah yang dia yakini. Dimas berdiri tegak di sampingku, tubuhnya membentengi aku dari pandangan tajam orang-orang itu, tangannya terkepal erat namun matanya kini tenang dan penuh tekad, bukan lagi penuh keraguan seperti tadi.

"Kau pikir dengan berdiri di sampingnya kau bisa mengubah takdir, Dimas?" ejek Paman Haris pelan sambil menyilangkan tangan di dada. "Kau hanyalah sisa kesalahan masa lalu yang aku manfaatkan. Dan kau, Dian... kau mungkin mengira kau adalah pahlawan yang datang untuk menyelamatkan segalanya, padahal kau hanyalah wadah yang sempurna untuk kekuatan itu. Tanpa darahmu, benda-benda ini hanyalah batu dan logam biasa yang tidak berharga."

Kata-katanya menusuk tajam, namun kali ini aku tidak lagi merasa takut. Aku melangkah selangkah ke depan, tidak lagi bersembunyi di belakang siapa pun, mataku menatapnya lurus tanpa gentar. "Kau salah besar. Kekuatan itu tidak pernah memihak pada siapa yang hanya menginginkannya demi kekuasaan. Dia memihak pada mereka yang siap menjaganya dengan hati yang tulus, bukan mereka yang ingin menggunakannya untuk menghancurkan nyawa orang lain demi kepentingan sendiri."

Paman Haris tertawa keras, suaranya bergema hingga membuat debu dari langit-langit jatuh berhamburan. "Cukup omong kosong! Serahkan cincin dan liontin itu sekarang, atau aku akan memerintahkan anak buahku untuk menghabisi Erlan di depan matamu saat ini juga!" Dia memberi isyarat dengan jari, dan salah satu anak buahnya langsung menekan gagang pisau ke leher Erlan hingga kulitnya tergores sedikit dan meneteskan darah merah segar.

Erlan meringis menahan sakit, namun matanya tetap menatapku lembut dan penuh peringatan. "Jangan dengarkan dia, Dian. Biarkan aku pergi jika itu harus terjadi. Tapi tolong... jangan biarkan dia mendapatkan kekuatan itu. Dunia ini akan hancur jika dia memegang kendali atas waktu. Ingatlah apa yang kita perjuangkan selama ini bukan hanya untuk hidup kita, tapi untuk setiap nyawa yang berhak mendapatkan takdirnya sendiri tanpa campur tangan orang yang serakah."

Air mata hampir menetes melihat pengorbanannya yang begitu tulus, namun aku tahu dia tidak ingin aku menyerah begitu saja. Saat aku sedang bingung mencari jalan keluar, mataku kembali tertuju pada tulisan-tulisan kuno yang terukir di sekeliling meja batu itu. Sebagian besar sudah terhapus dimakan waktu, namun satu kalimat masih terbaca jelas: "Saat Matahari dan Bulan bersatu dalam satu hati yang rela berkorban tanpa pamrih, Gerbang Kebenaran akan terbuka dan menunjukkan jalan yang tak terduga."

Tanpa berpikir dua kali lagi, aku menggenggam erat liontin di tangan kiri dan cincin pusaka di tangan kanan. Dimas menyadari apa yang akan kulakukan dan langsung berteriak memperingatkan: "Dian, jangan! Kita belum tahu apa yang akan terjadi jika kau menyatukannya sekarang!"

"Kita tidak punya pilihan lain lagi!" jawabku mantap, lalu dengan sekuat tenaga aku menyatukan kedua benda itu tepat di tengah ukiran matahari dan bulan di atas meja batu.

Seketika itu juga, cahaya menyilaukan mata memancar hebat dari titik pertemuan keduanya. Tidak ada ledakan atau suara menggelegar, melainkan gelombang kehangatan yang lembut namun kuat mendorong semua orang mundur hingga terhuyung-huyung ke dinding. Paman Haris berteriak marah namun tidak bisa melangkah maju sedikit pun. Cahaya itu perlahan membentuk bayangan transparan di hadapan kami bukan sosok dewa atau roh jahat, melainkan potongan-potongan kejadian yang belum pernah kami saksikan sebelumnya.

Kami melihat kembali kematian orang tua Erlan dengan jelas: Paman Haris sendiri yang menyabotase kendaraan mereka, bukan sekadar menyuruh orang lain. Kami melihat bagaimana dia memalsukan surat wasiat agar terlihat sah, bagaimana dia menanamkan kebencian ke hati Dimas sejak masih kecil, dan bahkan bagaimana dia yang memerintahkan agar kecelakaan pada diriku di kehidupan pertama terjadi karena dia tahu jika aku hidup, suatu saat aku akan menemukan kebenaran ini dan menghancurkan rencananya.

Namun kejutan terbesar muncul saat bayangan itu menampilkan percakapan terakhir kakek Erlan dan nenek buyutku puluhan tahun lalu. "Kekuatan ini bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi," kata kakek Erlan dalam bayangan itu. "Tapi untuk memperbaiki apa yang sedang rusak karena keserakahan manusia. Jika suatu saat keturunan kita berhadapan dengan bahaya besar, kekuatan ini tidak akan memberikan kemenangan instan. Dia hanya akan memberikan satu kesempatan untuk memilih jalan yang benar—dan sisa perjuangannya harus dilakukan dengan hati dan keberanian mereka sendiri."

Cahaya perlahan meredup kembali, menyisakan udara yang berubah menjadi sejuk dan jernih. Tali pengikat di tangan Erlan tiba-tiba terlepas sendiri seiring berakhirnya pesan itu. Dia segera bangkit berdiri dan berlari mendekat ke arahku dan Dimas, melindungi kami berdua di belakang punggungnya saat dia kembali menatap tajam ke arah Paman Haris yang kini berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi. Rencananya gagal total, dia tidak mendapatkan kekuatan mutlak yang dia inginkan, melainkan hanya bukti tak terbantahkan dari segala kejahatan yang telah dia lakukan seumur hidup.

"Tidak mungkin... ini tidak benar!" serunya histeris, mengayunkan tangannya ke arah kami dengan belati yang dia sembunyikan di balik punggung. "Aku sudah merencanakan ini sempurna! Kalian tidak boleh merampas semuanya dariku!"

Namun sebelum dia sempat melangkah mendekat, suara sirine mobil polisi terdengar nyaring dari kejauhan mendekat ke arah bukit itu. Dimas yang sudah mengetahui kebenaran sejak tadi diam-diam mengirimkan pesan singkat ke kantor kepolisian berisi bukti-bukti yang dia baca di buku harian itu sebelum kami bertemu Paman Haris. Paman Dika yang sudah ditahan sebelumnya juga akhirnya mengakui segala perbuatannya dan menyebut nama Paman Haris sebagai dalang utama.

Wajah Paman Haris runtuh seketika. Dia sadar dia sudah tidak punya jalan keluar lagi. Dia merosot jatuh ke lantai, menatap kosong ke arah cahaya yang masih samar-samar memancar dari liontin dan cincin yang kini tergantung menyatu di leherku. Orang-orang yang membantunya segera menyerah saat mendengar suara polisi semakin dekat, meninggalkannya sendirian menanggung segala akibat dari ambisinya yang membutakan mata hati.

Saat pintu rumah tua itu terbuka lebar dan cahaya lampu sorot polisi menerangi ruangan itu, Erlan langsung memelukku erat seolah takut aku akan menghilang. Dia mencium puncak kepalaku dengan penuh rasa syukur dan ketakutan yang baru saja berlalu. "Kau hebat sekali, sayang. Kau tidak hanya menyelamatkan nyawa kita, kau juga menyelamatkan masa depan dari kesalahan yang terulang lagi."

Namun saat aku menatap kembali ke arah meja batu itu, aku melihat sesuatu yang membuatku merinding. Di tempat tadi benda itu diletakkan, kini tertulis pesan baru yang belum pernah ada sebelumnya: "Kesempatan kedua telah diberikan dan digunakan dengan benar. Namun ingatlah, takdir tidak pernah sepenuhnya berubah tanpa ada bayarannya. Satu benang merah masih terjalin di antara masa lalu yang seharusnya sudah selesai dan masa depan yang baru saja kalian bangun. Waspadalah, karena pengorbanan terakhir masih menanti di ujung jalan."

Jantungku mencelos ke dasar perut. Paman Haris mungkin sudah tertangkap, rahasia besar sudah terungkap, dan kami kini bisa hidup bebas dari ancaman mereka. Namun pesan itu memperingatkan bahwa cerita kami belum berakhir sepenuhnya. Masih ada satu hal yang belum selesai, satu rahasia yang bahkan para leluhur kami pun tidak sempat selesaikan, dan pengorbanan berat apa yang dimaksud oleh pesan itu? Apakah salah satu dari kami harus mengorbankan nyawanya demi menjaga keseimbangan yang baru saja kami temukan?

Erlan melihat ke arah pandanganku yang kosong dan membaca tulisan itu juga. Genggamannya di tanganku mengerat perlahan, dia tidak bertanya apa-apa, hanya menatapku dengan janji tegas di matanya: apa pun yang terjadi nanti, dia tidak akan membiarkan aku menghadapinya sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!