Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presentasi di Hadapan Dewan Penguji
Pagi itu, ketegangan terasa tebal membungkus ruang rapat utama SMA Wijaya. Ruangan berpanel kayu jati dengan meja oval besar di tengahnya itu tampak amat formal. Di ujung meja, duduk tiga orang penguji internal yang terdiri dari Pak Hartawan selaku Kepala Sekolah, Pak Bambang sebagai koordinator akademis, dan Ibu Ratna, guru senior pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris dan Hubungan Internasional.
Callista membetulkan posisi blazer seragam sekolahnya, menata napas yang mendadak terasa sedikit memburu. Di sampingnya, Kenzo berdiri tegap dengan gestur tubuh yang sangat tenang dan penuh percaya diri. Berkas proposal tebal bersampul emas kini sudah tergeletak di meja masing-masing penguji, bersama dengan paparan slide presentasi yang sudah siap ditayangkan lewat proyektor.
"Kalian punya waktu lima belas menit untuk memaparkan garis besar proposal proyek sosial ini, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sepuluh menit," ujar Pak Hartawan seraya mengetukkan pulpennya di meja. "Silakan dimulai, Kenzo, Callista."
Kenzo mengangguk sopan, melangkah satu tindak ke depan. "Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan, Bapak dan Ibu Dewan Penguji. Pagi ini, kami akan mempresentasikan gagasan proyek sosial bertajuk ‘Bridge of Generations’—sebuah inisiatif integrasi sosial berbasis komunitas..."
Dengan artikulasi yang sangat jernih dan nada suara yang berwibawa, Kenzo membuka presentasi mereka. Penjelasannya mengenai latar belakang, urgensi masalah, serta kerangka teoretis mengalir tanpa hambatan sedikit pun.
Ketika giliran Callista mengambil alih mikrofon untuk memaparkan bagian teknis pelaksanaan, metodologi, dan alokasi anggaran, fokus Callista langsung mengunci perhatian para penguji. Ketelitian data yang ia susun bersama Kenzo disampaikannya dengan nada penuh empati namun tetap bertumpu pada indikator keberhasilan yang terukur.
"Melalui sistem buddying interaktif ini, kami tidak hanya membawa bantuan material, tetapi juga membangun ekosistem pendampingan emosional yang berkelanjutan bagi para lansia," tutup Callista mantap, menyunggingkan senyum profesionalnya yang paling yakin.
Ruangan itu hening selama beberapa detik setelah layar slide berganti menjadi ucapan terima kasih.
Ibu Ratna membuka kacamatanya, menatap Callista dan Kenzo secara bergantian dengan binar mata terkesan. "Penyampaian yang sangat komprehensif. Penguasaan materi dan struktur argumentasi kalian sangat matang untuk tingkat siswa SMA."
Namun, Pak Bambang kemudian mengangkat tangannya, mengajukan pertanyaan krusial. "Skema yang kalian tawarkan sangat ideal. Tapi bagaimana kalian menjamin bahwa proyek ini tidak akan mengganggu fokus belajar kalian dan anggota tim lain menjelang ujian semester?"
Kenzo menjawab pertanyaan itu tanpa ragu. "Kami telah menyusun timeline kerja yang mengadopsi sistem manajemen fleksibel, Pak. Seluruh operasional lapangan akan ditunjang oleh platform digital yang membagi beban kerja secara merata, sehingga efisiensi waktu tetap terjaga tanpa mengorbankan kewajiban akademis."
Jawaban yang lugas dan solutif itu disambut anggukan puas dari Pak Hartawan. "Luar biasa. Hasil verifikasi internal hari ini menyatakan bahwa proposal kalian resmi disetujui dan dinyatakan layak menjadi wakil tunggal SMA Wijaya untuk maju ke seleksi tingkat provinsi minggu depan."
Seketika, perasaan lega yang luar biasa membanjiri dada Callista. Ia menahan napas sejenak, menatap Kenzo yang juga sedang menatapnya dengan senyum puas yang amat tipis namun hangat.
"Selamat, Kenzo, Callista. Persiapkan diri kalian untuk tahap karantina dan wawancara tingkat kota," pesan Pak Hartawan seraya menjabat tangan mereka berdua secara bergantian.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang rapat utama menuju koridor tengah, beban besar yang menggelayuti pundak Callista selama sepekan terakhir seolah terangkat sepenuhnya.
"Kerja bagus, Callista," ujar Kenzo sambil menghentikan langkahnya di dekat jendela koridor. "Penjelasan lo di bagian anggaran dan mitigasi risiko tadi benar-benar mengunci keputusan mereka."
Callista tersenyum lega. "Lo juga luar biasa, Kenzo. Pembukaan dan cara lo jawab pertanyaan Pak Bambang tadi tenang banget. Gue rasa kita bener-bener tim yang kompak."
Kenzo mengangguk pelan. Ada binar rasa bangga dan hormat yang tulus di matanya. "Sekarang tinggal melangkah ke tahap provinsi. Lawan kita dari sekolah lain bakal lebih berat, tapi gue yakin proposal kita punya taji buat bersaing."
Tepat pada saat itu, dari arah tangga menuju lapangan olahraga, sosok Sean muncul. Cowok itu masih mengenakan seragam olahraga yang sedikit basah oleh keringat setelah jam pelajaran Penjaskes. Begitu melihat Callista dan Kenzo berdiri di koridor dengan wajah berseri-seri, Sean langsung mempercepat langkah kakinya mendekat.
"Gimana hasilnya?" tanya Sean antusias, matanya menatap Callista penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
Callista tak sanggup menahan senyum mewahnya lagi. "Lolos, Sean! Proposal kita disetujui penuh sama dewan penguji! Minggu depan kita resmi maju ke seleksi tingkat provinsi!"
Mendengar kabar bahagia itu, wajah Sean seketika berbinar cerah. Tanpa ragu, Sean tertawa lepas dan refleks menepuk bahu Callista dengan rasa bangga yang meluap-luap.
"Gila! Mantap banget, Cal!" seru Sean girang. Ia lalu menoleh ke arah Kenzo dan mengulurkan tangannya secara terbuka. "Selamat ya, Nzo! Keren banget kalian berdua!"
Kenzo menyambut uluran tangan Sean, menjabatnya dengan erat dan mantap. "Makasih, Sean. Ini baru langkah awal."
"Langkah awal tapi udah mantap begini!" sahut Sean terkekeh. Ia lalu menatap Callista dengan tatapan usilnya yang khas. "Sesuai janji, karena berita bahagia hari ini, sore nanti makan es krim di kedai Pak Min gue yang tanggung!"
Callista tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Deal! Jangan kapok ya kalau gue pesen porsi jumbo!"
"Gak masalah, khusus buat calon perwakilan provinsi," balas Sean penuh kehangatan.
Kenzo memperhatikan interaksi riang di depannya. Tidak ada cemburu dalam hatinya, melainkan sebuah kedamaian mendalam. Ia melihat betapa Sean adalah sosok yang selalu sanggup menjadi tempat Callista melepaskan seluruh ketegangan, sementara ia sendiri bangga bisa menjadi mitra sejajar Callista di panggung akademis yang tinggi.
Matahari siang menerobos masuk melewati celah tirai koridor, menyinari tiga remaja yang berdiri bersama itu. Meski jalan menuju seleksi provinsi dan persaingan masa depan masih membentang panjang dengan segala tantangannya, untuk saat ini, mereka bertiga tahu bahwa mereka melangkah di atas pijakan yang makin kokoh dan dewasa.