NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Barang

"S-sayang... g-gimana k-kalau a-aku t-tidak usah i-ikut?" tanya Elvan pelan sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak, Mas. Kamu harus ikut bersamaku," jawab Naresta lembut.

"N-nanti... m-mereka a-akan..."

"Akan apa?" sela Naresta. "Menghina kamu lagi?"

Elvan menganggukkan kepalanya pelan.

"I-iya."

"Jangan dipikirkan. Aku sudah biasa, Mas. Setidaknya, suamiku selalu bersamaku. Itu sudah

cukup."

Elvan masih tampak ragu.

"T-tapi... a-aku t-tidak m-mahu m-malukan k-kamu."

Naresta menghampiri suaminya, lalu menggenggam kedua tangannya dengan hangat.

"Mas, dengarkan aku."

Elvan perlahan mengangkat wajahnya.

"Aku tidak pernah merasa malu mempunyai suami seperti Mas."

"M-masa?"

"Iya."

Naresta tersenyum tulus.

"Mas itu suamiku, bukan barang yang harus aku sembunyikan karena takut dihina orang lain."

Elvan terdiam. Dadanya terasa hangat mendengar ucapan istrinya.

"Orang-orang boleh saja melihat kekurangan Mas. Tapi mereka tidak pernah melihat bagaimana Mas selalu memperlakukanku dengan lembut, tidak pernah membentakku, tidak pernah menyakitiku, dan selalu berusaha membantu aku setiap hari."

Air mata Elvan mulai menggenang.

"A-aku..."

Naresta mengusap pelan pipinya.

"Kalau nanti ada yang menghina lagi, biarkan saja. Yang menjalani hidup ini kita, bukan mereka."

"M-makasih... s-sayang."

Naresta tersenyum, lalu merapikan kerah baju

suaminya.

"Ayo berangkat."

"I-iya."

Elvan pun mengangguk pelan. Meski rasa takut itu masih ada, kali ini ia melangkah keluar rumah dengan sedikit lebih percaya diri karena istrinya selalu berada di sisinya.

**

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di salah satu tempat acara di desa itu. Kedatangan Naresta dan Elvan langsung disambut oleh tuan rumah.

"Terima kasih sudah datang, Mbak Naresta."

"Iya, Bu. Sama-sama," jawab Naresta sambil tersenyum ramah.

"Ayo, Mbak, masuk. Ajak suaminya juga. Nikmati hidangannya, Mbak."

Naresta menganggukkan kepalanya.

"Iya, Bu."

Ia kemudian menggandeng tangan Elvan memasuki tempat acara.

Di dalam, suasana sudah cukup ramai. Para tamu tampak menikmati hidangan sambil berbincang dengan satu sama lain.

Naresta menyapu pandangannya ke sekeliling hingga akhirnya menemukan sebuah meja yang masih kosong.

"Ayo, Mas. Kita duduk di sana."

"I-iya."

Keduanya berjalan menuju meja tersebut.

Sesampainya di sana, Naresta menarikkan kursi untuk suaminya.

"Mas, duduk di sini. Jangan ke mana-mana. Aku ambilin makanan dulu."

Elvan menganggukkan kepalanya.

"I-iya... h-hati-hati."

Naresta tersenyum lembut, lalu berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil makanan. Sementara itu, Elvan duduk dengan tenang sambil menunggu istrinya kembali. Tatapannya mengikuti langkah Naresta hingga sosok istrinya menghilang di antara kerumunan tamu.

Tak lama kemudian, Naresta kembali dengan membawa dua piring berisi makanan dan dua botol air mineral di kedua tangannya.

"Mas."

Elvan yang sejak tadi duduk sambil menunggu langsung mengangkat kepalanya.

"I-iya?"

Naresta meletakkan kedua piring dan botol air mineral di atas meja.

"Maaf ya, Mas. Tadi antre, jadi agak lama."

"G-gak a-apa."

Naresta tersenyum, lalu mendorong salah satu piring ke hadapan suaminya.

"Nih, buat Mas."

Elvan menatap isi piringnya. Ada nasi, ayam goreng, sayur, mie goreng, dan beberapa potong buah.

"B-banyak..."

Naresta terkekeh pelan.

"Mas kan makannya banyak."

"G-gak..."

"Iya, banyak. Makanya harus dihabiskan."

Elvan menganggukkan kepalanya.

"I-iya."

Naresta kemudian membuka tutup botol air mineral dan meletakkannya di dekat piring Elvan.

"Kalau haus tinggal diminum."

"I-iya... m-makasih."

"Sama-sama."

Keduanya pun mulai menikmati makanan yang telah disediakan sambil sesekali saling tersenyum.

"Eh, kamu berani datang juga, toh, Naresta? Mana bawa suaminya lagi," ujar Dewi dengan nada mengejek.

Naresta yang tadinya menikmati hidangan perlahan mengangkat wajahnya. Ternyata yang berdiri di hadapannya adalah Dewi.

"Namanya juga menghargai orang yang sudah mengundang," jawab Naresta tenang.

"Iya sih, tapi nggak malu apa bawa suami kamu keluar?"

Naresta hanya mengembuskan napas pelan. Ia memilih tidak menanggapi ucapan itu.

Tiba-tiba, seorang wanita lain yang duduk di meja sebelah ikut menyela.

"Eh, Mbak Naresta. Gimana kalau suami Mbak tukar sama uang seratus juta? Nanti aku transfer ke Mbak."

"Yang benar aja kamu, Clara," sahut Dewi sambil tertawa.

Clara hanya tersenyum sambil memandang Elvan.

"Soalnya, suami Mbak Naresta itu langka, ya. Walaupun dia autisme, tapi dia tampan. Mana dia juga kalem. Biasanya orang autisme itu banyak aja tingkahnya."

Naresta langsung menggeleng pelan.

"Maaf, Mbak Clara."

Clara menoleh.

"Suami saya bukan barang yang bisa ditukar dengan uang."

Senyum di wajah Clara perlahan memudar.

"Maksudku cuma bercanda, Mbak."

Naresta tetap tersenyum sopan.

"Saya tahu Mbak bercanda. Tapi bercandaan seperti itu kurang pantas."

Ia kemudian menggenggam tangan Elvan yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.

"Jangankan seratus juta."

Naresta menatap mereka satu per satu.

"Satu miliar, sepuluh miliar, bahkan berapa pun jumlahnya, saya tetap tidak akan pernah menukar suami saya."

Elvan perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju pada wajah sang istri.

Naresta melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

"Karena suami bukan untuk diperjualbelikan. Suami adalah pasangan hidup yang harus dihargai, dicintai, dan dijaga."

Suasana di meja itu seketika menjadi hening.

Sementara Elvan hanya menggenggam tangan istrinya lebih erat. Meski tidak banyak bicara, ia tahu Naresta selalu berdiri di pihaknya, apa pun yang terjadi.

"Naresta, jangan lebay. Clara hanya bercanda, lho. Lagian ini di acara orang," ucap Dewi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Terus apa harusnya bercandanya seperti itu, Mbak Dewi? Kalau Mbak di posisi saya bagaimana?" balas Naresta dengan suara yang masih berusaha tenang.

"Kalau suaminya nggak mau dihina, ya nggak usah diajak keluar, dong, Mbak."

"Nah, benar kata Dewi itu," timpal Clara.

Naresta mengepalkan tangannya di bawah meja. Bibirnya bergetar menahan emosi yang sejak tadi ia pendam.

"Jadi salahnya di mana, ha?" seru Naresta dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Salah kalau saya membawa suami saya menghadiri acara ini?"

Suasana yang tadinya ramai perlahan berubah hening. Beberapa tamu mulai menoleh ke arah

mereka.

"Saya hanya datang memenuhi undangan. Saya

tidak mengganggu siapa pun."

Tatapan Naresta beralih kepada Dewi dan Clara.

"Suami saya juga duduk diam sejak tadi. Dia tidak membuat keributan, tidak mengganggu tamu lain, bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada kalian."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Lalu kenapa kalian terus menjadikannya bahan ejekan?"

Dewi mendecak pelan.

"Ya karena memang kenyataannya begitu."

"Kenyataan yang mana?" tanya Naresta. "Kalau suami saya penyandang autisme?"

Dewi terdiam.

"Iya, saya tidak pernah menyangkal itu. Tapi menjadi penyandang autisme bukan berarti harga dirinya hilang."

Naresta menggenggam tangan Elvan yang mulai gemetar.

"Dia juga manusia. Dia punya hati. Dia bisa sedih. Dia bisa terluka."

Elvan tetap menundukkan kepalanya. Jemarinya menggenggam tangan Naresta dengan pelan, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Naresta mengusap punggung tangan suaminya, lalu kembali menatap Dewi dan Clara.

"Kalau hari ini yang duduk di samping saya adalah suami Mbak yang memiliki kondisi seperti Mas Elvan, apakah Mbak juga akan berkata, 'Jangan diajak keluar'?"

Tak ada satu pun dari mereka yang langsung menjawab.

Suasana di meja itu berubah sunyi. Para tamu yang sedari tadi mendengar percakapan mereka mulai saling berpandangan, sementara Naresta berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan semua orang.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!