Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suasana restoran masih ramai oleh suara percakapan para pengunjung ketika seseorang berhenti di dekat meja mereka.
"Bu Kanaya?"
Kanaya yang sedang menuangkan air minum untuk Anaya langsung menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan senyum ramah di wajahnya.
"Pak Gilang?" Kanaya tampak sedikit terkejut. "Kebetulan sekali."
Pria itu tertawa kecil. "Saya juga tidak menyangka bertemu Bu Kanaya di sini."
Arkana yang duduk di seberang meja diam-diam menaik turunkan pandangannya. Matanya mengamati pria tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Sementara itu, Anaya yang sedang makan es krim menoleh penasaran.."Bunda, itu siapa?"
"Om Gilang," jawab Kanaya lembut. "Beliau sering pesan katering untuk acara keluarga dan perusahaannya."
"Oh ...." Anaya mengangguk paham.
Gilang tersenyum kepada kedua anak itu. "Ini pasti Abinaya dan Ayana."
Anaya langsung tersenyum lebar. "Iya. Aku Aya!"
"Kalau aku Abi, Om," lanjut Abinaya.
Gilang terkekeh melihat tingkah keduanya. "Wah, ternyata benar, ya. Foto kalian memang lucu, tapi aslinya lebih lucu lagi."
Abinaya dan Anaya saling berpandangan bangga.
Arkana yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman melihat keakraban mereka. Pria itu tampak mengenal Kanaya cukup baik. Bahkan mengetahui nama kedua anaknya. Entah kenapa dadanya terasa panas.
"Kanaya Sayang," panggil Arkana tiba-tiba.
Kanaya menoleh dan spontan membalas, "Iya?"
"Boleh tolong ambilkan tisu?" Nada suaranya terdengar sengaja dilembutkan.
Kanaya mengernyit heran. "Tisunya ada di sampingmu."
"Oh, iya."
Anaya langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Ayah lupa."
Abinaya juga terlihat menahan senyum.
Sementara Gilang tampak baru benar-benar memperhatikan Arkana. Wajahnya mendadak berubah.
"Tunggu sebentar ...." Ia menatap Arkana lebih lama. "Pak Arkana?"
Kali ini Arkana yang mengangkat alis. "Ya?"
Mata Gilang langsung membesar. "Wah, saya kenal Bapak."
Arkana tersenyum tipis. "Saya tidak yakin mengenal Anda."
"Wajar. Kita belum pernah bertemu langsung."
Gilang tertawa kecil. "Tapi siapa yang tidak kenal pengusaha muda yang sering masuk majalah bisnis."
Kanaya yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Arkana. Untuk sesaat pikirannya kembali teringat pada banyak hal yang belum pernah ia ketahui tentang pria itu.
Sementara Gilang masih terlihat terkejut. "Jadi Bu Kanaya ini istri Pak Arkana?"
Kali ini yang menjawab justru Arkana. Jawabannya cepat, "Iya."
Seolah takut ada orang lain yang mengakuinya lebih dulu.
Kanaya hanya menghela napas pelan.
Gilang tertawa. "Wah, dunia memang sempit."
Setelah berbincang sebentar, pria itu akhirnya pamit karena harus menemui keluarganya yang sedang menunggu di meja lain.
Begitu Gilang pergi, Anaya langsung menoleh kepada Arkana. "Ayah cemburu, ya?"
Kanaya hampir tersedak air minumnya dan Arkana langsung batuk-batuk.
"Siapa bilang?" Arkana mencoba membantah.
"Aku lihat tadi," balas Anaya dengan menahan tawa.
Abinaya yang biasanya cuek sampai tertawa pelan.
Kanaya menunduk menyembunyikan senyum..Sedangkan Arkana hanya bisa pasrah menghadapi putrinya yang terlalu jujur.
Keesokan paginya suasana rumah jauh berbeda. Biasanya Anaya yang paling sulit bangun tidur. Namun, hari itu justru Abinaya yang masih terbaring di tempat tidur.
Kanaya yang masuk ke kamar langsung menyentuh dahinya. Seketika wajahnya berubah.
"Abi, kamu demam?"
Anak laki-laki itu membuka mata perlahan. "Bunda ...." Suaranya terdengar lemah.
Kanaya segera mengambil termometer. Beberapa saat kemudian angka yang muncul membuat dahinya berkerut. Tiga puluh delapan derajat.
Tidak lama kemudian Arkana masuk ke kamar. "Ada apa?"
"Abi demam." Kanaya menunjukkan termometer itu.
Arkana langsung mendekat. "Tinggi sekali."
Kanaya mengangguk. "Sepertinya kecapekan kemarin."
"Kita bawa ke dokter," kata Arkana.
"Abi paling anti minum obat. Aku akan kompres, dulu. Semoga nanti demamnya turun," balas Kanaya.
Anaya yang baru masuk ke kamar langsung panik. "Abi sakit?"
Abinaya mengangguk lemah. "Aku cuma panas."
Anaya langsung memegang tangan saudaranya. "Jangan sakit lama-lama, ya."
Biasanya Abinaya akan menjawab dengan jahil. Namun, kali ini ia hanya mengangguk pelan.
Menjelang siang, suhu tubuhnya justru semakin tinggi. Wajah Kanaya mulai terlihat cemas. Ia terus mengganti kompres dan memastikan putranya cukup minum.
Arkana juga tidak pergi ke mana-mana. Laptop kerjanya bahkan dipindahkan ke kamar agar tetap bisa membantu menjaga Abinaya.
"Ayah ...." panggil Abinaya lirih.
Arkana yang sedang duduk di samping ranjang langsung menoleh. "Iya?"
"Pusing."
Hati Arkana langsung mencelos. Ia mengambil handuk kecil lalu mengompres dahi putranya dengan hati-hati. "Sebentar lagi turun panasnya."
Kanaya yang hendak masuk kamar, memperhatikan dari balik pintu. Untuk pertama kalinya ia melihat Arkana merawat anak mereka dalam keadaan sakit. Pria itu bahkan terlihat lebih panik daripada dirinya.
Saat sore tiba, karena demamnya tidak turun juga, Kanaya berniat memberikan obat sirup penurun demam. Dan inilah bagian yang paling sulit.
Begitu mencium aroma obat sirup, Abinaya langsung memalingkan wajah. "Enggak mau."
"Biar kamu cepat sembuh," kata Kanaya lembut.
"Enggak mau." Abinaya menutup mulutnya.
Kanaya menghela napas. "Kalau enggak minum obat, demamnya tidak turun."
Abinaya menggeleng kuat-kuat. "Aku mau dikompres aja."
Arkana yang baru kembali dari dapur membawa segelas air ikut membujuk. "Sedikit saja."
"Enggak mau." Abinaya bersikukuh.
Anaya yang berdiri di samping tempat tidur ikut menimpali. "Abi kayak bayi."
"Aku bukan bayi," bantah Abinaya.
"Kalau bukan bayi minum obat."
Kanaya memijat pelipisnya sendiri. Sudah hampir setengah jam mereka membujuk Abinaya. Namun, hasilnya nol.
"Sudah, jangan dipaksa. Nanti malah semakin parah," bisik Arkana. "Aku akan ikut menjaga Abi."