Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
Dua hari menjelang pernikahan, Istana The Frosthold disibukkan oleh persiapan yang megah namun terasa mencekam. Pelayan-pelayan berlarian membawa kain beludru putih, perak, dan dekorasi bunga es yang dipahat langsung oleh para seniman terbaik Utara. Namun, bagi Aurelia, keindahan ini terasa seperti hiasan di atas altar pengorbanan.
Sore itu, Aurelia sedang berada di dalam ruang konservasi istana—satu-satunya tempat di mana tanaman dari Selatan bisa tumbuh berkat bantuan sihir penghangat tanah. Di tengah kepungan mawar es yang kelopaknya sekeras kristal, Aurelia dikejutkan oleh suara langkah kaki sepatu bot yang tegas.
Saat berbalik, ia menemukan Lady Kara berdiri di sana. Wanita berrambut merah itu tidak lagi mengenakan zirah perang, melainkan gaun malam berwarna hijau zamrud yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis. Di tangannya, ia membawa nampan perak berisi teko dan dua cawan perak berukir.
"Saya rasa, seorang Putri dari Selatan merindukan kehangatan tanaman hijau," ujar Kara, suaranya terdengar manis namun menyimpan nada sinis yang kental. "Saya membawakan teh madu khas pegunungan untuk menghangatkan tubuh Anda, Yang Mulia."
Aurelia menatap cawan yang diulurkan Kara dengan waspada. Pengalaman hidup di Oakhaven mengajarinya untuk tidak pernah menerima makanan atau minuman dari orang yang menatapnya seperti mangsa. "Terima kasih, Lady Kara. Anda sangat perhatian untuk seseorang yang beberapa hari lalu menatap saya seolah ingin memenggal kepala saya."
Kara terkekeh pelan, meletakkan nampan itu di atas meja batu di antara mereka. Ia menuangkan teh berwarna kuning keemasan itu ke dalam kedua cawan. "Di Utara, kami menghormati kekuatan. Anda membuktikannya di hadapan Raja. Namun, menjadi istri dari Cassian membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berbicara. Anda harus tahu cara bertahan dari konspirasi yang paling halus."
Kara mengangkat salah satu cawan, meminumnya sedikit untuk membuktikan bahwa teh itu tidak beracun, lalu menyodorkan cawan yang satu lagi kepada Aurelia. "Silakan, Putri. Anggap ini sebagai tanda perdamaian."
Aurelia mengambil cawan perak itu. Logamnya terasa dingin di jemarinya yang masih terbalut kasa. Ia mendekatkan cawan itu ke bibirnya, namun indra penciumannya yang tajam—yang terlatih sejak kecil untuk mengenali ramuan herbal—menangkap aroma samar yang asing. Aroma itu manis seperti madu, namun ada jejak bau seperti kelopak bunga Nightshade yang layu.
Aconite. Racun pelumpuh jantung yang bekerja lambat.
Aurelia tidak meminumnya. Ia menurunkan cawan itu perlahan, menatap lurus ke dalam sepasang mata hijau Kara yang kini berkilat penuh antisipasi.
"Teh yang luar biasa, Lady Kara," ujar Aurelia dengan senyuman tenang yang mematikan. "Namun di Selatan, kami memiliki tradisi unik sebelum meminum teh bersama sahabat baru. Kami bertukar cawan sebagai tanda bahwa tidak ada pengkhianatan di antara kita."
Sebelum Kara sempat bereaksi, Aurelia dengan gerakan anggun namun cepat menukar cawan di tangannya dengan cawan milik Kara yang masih terisi setengah.
Wajah Kara seketika berubah pucat pasi. Rahangnya mengeras, dan matanya membelalak menatap cawan yang kini berada di hadapannya.
"Kenapa, Lady Kara? Apakah Anda keberatan meminum sisa teh dari cawan yang Anda klaim aman ini?" tanya Aurelia, nadanya menyindir dengan tajam.
"Anda... Anda menuduh saya?" bisik Kara, suaranya bergetar antara kemarahan dan ketakutan.
"Aku tidak menuduh. Aku hanya menguji," balas Aurelia dingin. "Jika kau tidak bersalah, minumlah."
Tangan Kara bergetar di atas meja. Ia tahu jika ia meminumnya, nyawanya akan berakhir dalam hitungan jam. Namun jika ia menolak, itu adalah pengakuan tidak langsung atas percobaan pembunuhan terhadap calon permaisuri Valenica—sebuah pengkhianatan tingkat tinggi yang sanksinya adalah hukuman mati di tiang es.
"Cukup, Kara."
Suara berat dan dingin itu membuat kedua wanita itu menoleh. Cassian berdiri di ambang pintu konservasi, bersedekap dengan wajah yang digelapkan oleh amarah. Ia telah berdiri di sana cukup lama untuk menyaksikan seluruh permainan psikologis tersebut.
Cassian melangkah maju, setiap ketukan botnya terdengar seperti vonis mati bagi Kara. Ia meraih cawan yang dipegang Kara, lalu menuangkan isinya ke atas tanah hangat tempat mawar es tumbuh. Dalam hitungan detik, kelopak mawar es yang terkena tetesan teh itu berubah menjadi hitam dan hancur menjadi abu.
Kara langsung berlutut di lantai batu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Pangeran... saya... saya hanya ingin menguji apakah dia layak—"
"Kau telah melewati batasmu, Kara," potong Cassian, suaranya begitu rendah hingga nyaris berupa geraman serigala. "Kau adalah jenderal yang hebat di medan perang, tetapi jika kau menyentuh tunanganku lagi, aku sendiri yang akan memastikan kepalamu digantung di gerbang Frosthelm. Keluar dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran."
Tanpa membantah sepatah kata pun, Kara bangkit dan bergegas pergi dengan tubuh yang gemetar, meninggalkan atmosfer yang pekat di dalam ruangan tersebut.
Aurelia menghela napas panjang, meletakkan cawan peraknya yang kosong ke atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir saja mati jika ia tidak mempercayai instingnya.
Cassian berjalan mendekati Aurelia, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan atas tindakan Kara, namun ada juga rasa hormat yang mendalam atas bagaimana Aurelia mengatasi situasi tersebut sendirian.
"Kau bisa saja meminumnya jika kau tidak waspada," ujar Cassian, tangannya terulur untuk memeriksa jemari Aurelia, memastikan tidak ada setetes pun racun yang mengenai kulitnya.
"Aku dibesarkan di istana Oakhaven, Cassian. Di sana, racun disajikan bersama makanan penutup setiap malam," balas Aurelia, mencoba tersenyum meski bibirnya sedikit bergetar karena syok. "Aku sudah terbiasa."
Cassian menatapnya lekat-lekat, lalu dengan perlahan, ia menarik Aurelia ke dalam pelukannya. Pelukan itu protektif, hangat, dan untuk pertama kalinya, Aurelia merasa benar-benar aman di tempat yang paling dingin di dunia ini.
"Aku berjanji padamu, Aurelia," bisik Cassian di atas rambut keperakan sang Putri. "Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun di Utara yang bisa menyentuhmu tanpa harus berhadapan dengan pedangku lebih dulu. Kau adalah urusanku sekarang."
Di balik dinding kaca konservasi, salju terus turun, namun di dalam hati Aurelia, sebuah fondasi kepercayaan yang baru saja terbangun di antara mereka berdua mulai mengikis rasa dingin yang selama ini mengurungnya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"