NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya

Kabar tentang putusnya pertunangan Arga Wijaya dan Bianca Prasetyo tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebar.

Dalam hitungan hari, berita itu sudah berpindah dari ruang rapat para direksi, meja makan para komisaris, hingga obrolan santai para kerabat keluarga Wijaya. Bagi keluarga biasa, batalnya sebuah pertunangan mungkin hanya menjadi urusan pribadi. Namun bagi keluarga Wijaya, segala sesuatu yang menyangkut pewaris tunggal perusahaan selalu berubah menjadi pembicaraan banyak orang.

Terlebih ketika nama Arga dikaitkan dengan surat wasiat mendiang Wijaya Surya, pendiri Wijaya Group.

Di ruang keluarga rumah utama Wijaya, suasana sore itu jauh dari kata santai.

Ruangan bergaya klasik modern itu didominasi warna krem dan cokelat tua. Sebuah lukisan berukuran besar karya pelukis Italia menggantung megah di dinding utama. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau hangat pada lantai marmer putih yang mengilap.

Aditya Wijaya meletakkan cangkir tehnya perlahan. "Aku dengar Bianca sudah benar-benar mengakhiri hubungan kalian."

Arga yang duduk di sofa tunggal hanya mengangguk singkat. "Sudah." Jawaban pendek itu membuat keheningan memenuhi ruangan.

Beberapa detik kemudian suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ratih Wijaya muncul dengan gaun rumah berbahan satin berwarna emerald, dipadukan kalung mutiara yang melingkari lehernya. Perempuan itu masih terlihat anggun di usia lima puluhan, meski sorot matanya selalu menyiratkan ketegasan yang sulit ditentang.

"Aku baru dengar kabarnya."

Ratih duduk di sofa seberang Arga. "Sayang sekali. Padahal keluarga Prasetyo sudah cocok dengan keluarga kita."

Arga tidak menanggapi. Ia terlalu lelah mengulang penjelasan yang bahkan dirinya sendiri belum benar-benar memahami alasannya.

Ratih melirik sang kakak. "Terus bagaimana soal wasiat Papa?"

Pertanyaan itu membuat Aditya menghela napas panjang.

"Kamu sudah tahu?" Ratih tertawa pelan. "Rumah sebesar ini tidak pernah bisa menyimpan rahasia terlalu lama."

Tatapan perempuan itu kini beralih kepada Arga. "Kalau sampai tenggat waktunya habis, bukankah hak penuhmu atas perusahaan ikut tertunda?"

Arga mengangguk. "Tiga puluh hari."

Ratih mengangkat kedua alisnya. "Hanya tiga puluh hari?" Wanita itu menghitung jari. "Kini tinggal dua puluh enam."

Di luar rumah, suara gemericik air dari kolam koi terdengar samar, tetapi tidak cukup mengurangi ketegangan yang memenuhi ruang keluarga.

Ratih bersandar santai. "Kalau begitu cari saja perempuan lain." Ucapan itu terdengar begitu mudah. Seolah memilih pasangan hidup tidak berbeda dengan memilih rekan bisnis.

Arga menatap bibinya datar. "Tidak sesederhana itu."

"Buat keluarga seperti kita, semuanya bisa disederhanakan." Ratih mengangkat bahu." Banyak keluarga besar yang pasti berebut menikahkan anak perempuannya denganmu."

Aditya menggeleng pelan. "Papa tidak pernah mengajarkan kita memperlakukan pernikahan seperti transaksi."

Ratih tersenyum tipis. "Tapi surat wasiat itu sendiri sudah menjadikannya transaksi."

Kalimat tersebut menggantung cukup lama. Bahkan Arga tidak mampu membantahnya. Bukankah benar begitu kenyataannya? Seandainya bukan karena wasiat, ia tidak mungkin berpikir untuk menikah secepat ini.

Ponsel Arga bergetar di atas meja. Nama Dimas Prakoso muncul di layar. Arga segera mengangkat panggilan itu.

"Selamat sore, Pak Dimas."

"Selamat sore, Tuan Arga. Saya hanya ingin memastikan keputusan Anda."

Arga berdiri, berjalan mendekati jendela. "Saya sudah menemukannya."

Ucapan itu membuat Aditya maupun Ratih otomatis mengalihkan perhatian kepadanya.

"Apakah beliau bersedia?"

"Masih dalam proses."

"Kalau begitu saya akan mulai menyiapkan seluruh dokumen."

"Baik."

Sambungan telepon berakhir.

Ratih tidak menunggu sedetik pun. "Jadi benar sudah ada calon?"

Arga memasukkan kembali ponselnya. "Ya."

"Siapa?"

"Nanti juga tahu."

Ratih mendecakkan lidah. "Kamu benar-benar seperti kakakmu."

"Apa maksudmu?"

"Sama-sama suka membuat orang penasaran."

Aditya hanya tersenyum kecil. "Kalau memang sudah ada calon, ajak makan malam keluarga."

Ratih mengangguk setuju. "Betul. Setidaknya kami harus mengenalnya sebelum kalian menikah."

Arga terdiam sejenak. Ia memang sudah memperkirakan tahap ini akan datang. Memperkenalkan Nadira kepada keluarganya bukan perkara mudah. Perempuan itu berasal dari dunia yang sangat berbeda.

Dunia yang jauh dari pesta amal, rapat direksi, ataupun jamuan makan bersama para pengusaha. Namun cepat atau lambat, Nadira memang harus memasuki dunia itu.

"Besok malam,” tegas Arga.

Semua orang menoleh.

"Aku akan membawanya besok malam."

Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul empat sore ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan Toko Buku Senja.

Nadira yang sedang menata buku di etalase depan mengangkat kepalanya. Mobil itu terlihat begitu asing dibanding kendaraan yang biasanya parkir di sepanjang jalan kecil tersebut.

Beberapa detik kemudian pintu belakang terbuka. Bukan Arga yang turun. Melainkan tiga orang perempuan berpakaian serba hitam membawa beberapa koper besar.

Nadira mengernyit bingung. "Ada yang bisa saya bantu?"

Salah satu perempuan tersenyum ramah. "Selamat sore, Nona Nadira. Saya Livia. Kami dikirim Pak Arga."

Nadira mengedip beberapa kali. "Dikirim?"

"Iya."

"Kami diminta membantu Nona bersiap untuk makan malam."

"Makan malam?"

"Pak Arga bilang beliau akan menjemput satu setengah jam lagi."

Nadira masih belum benar-benar memahami situasinya. "Apa harus seperti ini?"

Livia tersenyum. "Kalau boleh jujur..." Ia memandang toko buku sederhana di belakang Nadira. "...keluarga Pak Arga cukup memperhatikan penampilan."

Kalimat itu membuat Nadira semakin gugup. "Mereka ... keluarga besar?"

Ketiga perempuan itu saling berpandangan sebelum tertawa kecil.

Satu jam kemudian, ruang tamu rumah Nadira berubah menjadi ruang rias dadakan. Kotak-kotak makeup bermerek internasional memenuhi meja.

Deretan kuas dengan berbagai ukuran tersusun rapi di atas kain beludru hitam. Aroma hairspray, parfum floral, dan foundation memenuhi udara. Sementara Nadira hanya bisa duduk diam di depan cermin besar.

"Apa ini tidak berlebihan?"

"Tidak sama sekali."

Livia sedang merapikan helaian rambut Nadira yang digulung membentuk sanggul rendah elegan.

"Tuan Arga hanya berpesan satu hal."

"Apa?"

"Beliau ingin Nona merasa percaya diri."

Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat hati Nadira sedikit menghangat.

Gaun yang dipilihkan berwarna dusty blue dengan potongan A-line panjang menyentuh lantai. Kain satin premium dipadukan lapisan tulle transparan pada bagian lengan, sementara sulaman bunga berwarna silver menghiasi pinggang hingga menjalar lembut ke bagian rok.

Tidak berlebihan. Namun cukup elegan untuk membuat siapa pun yang melihatnya berhenti beberapa detik. Riasannya pun dibuat natural.

Kulit wajah Nadira tampak lebih segar dengan sentuhan complexion tipis, pipi bersemu peach, serta lipstik nude rose yang mempertegas senyum lembutnya. Bulu matanya dibuat lentik tanpa terlihat berlebihan, sementara alisnya dibentuk mengikuti garis alami wajahnya.

Ketika seluruh proses selesai, Nadira hampir tidak mengenali bayangan dirinya sendiri di cermin.

"Itu... aku?"

Livia tersenyum puas. Bel rumah berbunyi. Semua orang spontan menoleh. Livia tersenyum. "Sepertinya Tuan Arga sudah datang."

Nadira menghela napas pelan sebelum melangkah ke ruang tamu. Begitu pintu terbuka, Arga yang berdiri di ambang pintu seketika terdiam.

Gaun dusty blue yang dikenakan Nadira jatuh anggun hingga mata kaki. Riasan natural mempertegas wajah teduhnya tanpa menghilangkan kesan sederhana yang selama ini melekat padanya.

Untuk beberapa detik, Arga hanya menatap hingga akhirnya berkata, “Ayo beraangkat, kita sudah telat.” Dia langsung menuju mobilnya, membiarkan Nadira berjalan sendiri.

Mereka saling menatap dalam diam selama perjalanan. Masing-masing bergelut dengan pikirannya sendiri.

Sesampainya di kawasan rumah, Arga menampakkan perilaku yang sedikit berbeda. Nadira sangat menyadari perbedaan itu.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam membungkukkan badan hormat ketika mereka memasuki rumah.

"Selamat malam, Tuan Arga."

"Malam, Pak Yusuf."

Tatapan kepala pelayan itu kemudian beralih kepada Nadira. "Silakan masuk, Nona."

Nadira membalas dengan senyum tipis. Jemarinya semakin dingin ketika langkahnya memasuki foyer rumah Wijaya. Langit-langit menjulang hampir dua lantai dengan lampu kristal raksasa yang memancarkan cahaya keemasan. Lantai marmer putih memantulkan setiap langkah mereka, sementara aroma bunga lily bercampur kayu cedar memenuhi ruangan.

"Ayo," ujar Arga pelan.

Mereka berjalan menuju ruang makan. Begitu pintu kayu jati dibuka, percakapan yang semula terdengar langsung berhenti. Enam pasang mata serempak menoleh.

Arga melangkah lebih dulu. "Maaf membuat semua menunggu."

Aditya Wijaya tersenyum tipis. Tatapan pria itu kemudian beralih kepada sosok wanita di belakang Arga.

"Inikah gadis yang kamu ceritakan?"

Arga mengangguk. "Iya."

Nadira segera menundukkan kepala sedikit. "Selamat malam... Om."

"Selamat malam." Senyum Aditya terasa hangat, berbeda dengan perempuan yang duduk di sampingnya.

Ratih Wijaya menatap Nadira dari ujung kepala hingga kaki tanpa berusaha menyembunyikan penilaiannya. Tatapan itu begitu tajam hingga membuat Nadira merasa seolah sedang diwawancarai.

"Duduklah," ujar Aditya.

Arga menarikkan kursi untuk Nadira sebelum duduk di sampingnya. Keheningan kembali menguasai meja makan beberapa saat. Ratih menjadi orang pertama yang memecahnya.

"Namamu Nadira, ya?"

"Iya, Tante."

"Kerja di mana?"

"Aku mengelola Toko Buku Senja peninggalan ayah."

"Oh." Hanya satu suku kata. Namun cara Ratih mengucapkannya terdengar seperti kesimpulan.

"Toko buku?"

"Iya."

"Kecil?"

Nadira tersenyum sopan. "Tidak terlalu besar."

"Berarti usaha keluarga?"

"Benar, melanjutkan usaha ayah saya dulu."

Ratih mengangguk pelan sambil mengaduk sup di mangkuk porselennya.

"Arga biasanya bergaul dengan orang-orang yang memimpin perusahaan."

Ucapan itu membuat suasana mendadak canggung.

Nadira menundukkan pandangan. "Maaf kalau..."

"Bibi."

Suara Arga terdengar tenang, tetapi cukup membuat Ratih berhenti berbicara. "Aku mengundang Nadira sebagai tamuku."

Ratih tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku hanya bertanya."

Aditya segera mengalihkan suasana. "Jadi, Nadira, sejak kapan mengelola toko?"

"Kurang lebih setahun sendiri, Om. Sebelumnya bersama ayah."

"Berarti kamu suka membaca?"

Nadira mengangguk. "Sangat."

"Buku favorit?"

"Wah..." Nadira tersenyum kecil. "Kalau disuruh memilih satu rasanya sulit."

Jawaban itu justru membuat Aditya tertawa. "Jawaban pecinta buku."

Suasana mulai sedikit mencair. Di ujung meja, seorang pria berkacamata yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat kepala.

"Aku Kevin." Nada bicaranya datar. "Salam kenal." Setelahnya Kevin kembali menikmati makan malamnya tanpa mengatakan apa pun lagi.

Sebaliknya, pria yang duduk di sebelah Aditya justru tersenyum ramah. "Aku Bram." Ia mengulurkan tangan. "Nggak usah tegang. Keluarga ini memang kadang kelihatannya menyeramkan,” ucapnya membuat beberapa orang tertawa pelan. Termasuk Nadira.

Untuk pertama kalinya sejak datang, bahunya terasa sedikit lebih ringan. Bram memperhatikan Nadira beberapa saat.

"Arga jarang sekali membawa seseorang ke rumah."

Seketika semua mata kembali tertuju kepada Arga. Ratih bahkan menyunggingkan senyum tipis penuh arti.

"Berarti gadis ini memang spesial." Kali ini Aditya membela putranya.

Arga dan Nadira sama-sama terdiam.

Hanya mereka berdua yang mengetahui kenyataan sebenarnya. Makan malam itu bukan karena cinta. Melainkan sebuah kesepakatan yang bahkan belum sempat dijelaskan kepada keluarga.

Arga meletakkan garpunya perlahan. "Aku memang membawa Nadira karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan."

Ruangan kembali sunyi.

"Aku berniat menikah."

Kalimat itu membuat Ratih membeku. Kevin akhirnya mengangkat wajahnya. Bahkan Bram yang sejak tadi santai ikut terdiam.

Tatapan semua orang bergantian mengarah kepada Arga dan Nadira.

Sementara Nadira hanya mampu menggenggam erat ujung gaunnya di balik meja, berusaha menyembunyikan jantungnya yang berdegup begitu keras hingga rasanya semua orang bisa mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!