Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
016
Di dalam dekapan tegap Braxley yang merengkuhnya begitu erat, Aurora tidak merasakan kehangatan yang seharusnya menenangkan.
Kata-kata Jonathan Carser di televisi nasional tadi bagaikan racun yang meresap cepat, memicu kembali seluruh trauma, prasangka, dan rasa hina yang terpendam di dasar jiwanya. Tubuhnya gemetar hebat, dan kepalanya berdenyut menolak kebenaran manis yang coba ditawarkan oleh Braxley.
Dengan napas yang berhembus patah-patah dan mata sembap yang dipenuhi air mata, Aurora menengadahkan wajahnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Braxley yang panik.
"Bukankah... dirimu bahkan pernah muntah hanya karena menyentuh ku?" bisik Aurora lirih, suaranya pecah namun bergema begitu tajam di tengah keheningan ruang keluarga yang mencekam. "Itu karena kau jijik padaku, Braxley... Kau juga jijik padaku, kan?"
Deg.
Kalimat singkat itu menghantam seluruh ruangan bagaikan ledakan bom yang meluluhlantakkan atmosfer.
Austin Jaxon—sang ayah—seketika memicingkan matanya tajam.
Wajahnya yang semula dipenuhi kemurkaan pada Jonathan Carser kini beralih sepenuhnya menatap sang putra tunggal dengan tatapan ketidakpercayaan yang membakar. Rahang Austin mengeras, tak menyangka bahwa di balik seluruh obsesi gila Braxley, pria itu pernah memperlakukan Aurora hingga seperti itu.
Zephyr Desmon bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangan, membelalak tak percaya. "Braxley... apa yang dikatakan Aurora? Kau... kau benar-benar melakukan hal sekejam itu?"
Braxley mematung. Wajahnya yang tampan seketika berubah pucat pasi. Ia bisa merasakan tatapan menghakimi dari kedua orang tuanya, namun yang lebih menghancurkan jiwanya adalah binar keputusasaan di mata Aurora.
Hal sensitif dan traumatis yang menjadi perang batin pribadinya kini terkuak di depan seluruh keluarga.
Tanpa mengutarakannya lewat kata-kata di hadapan orang tuanya, Braxley langsung menyelipkan lengan tegapnya di bawah lutut dan punggung Aurora. Ia menggendong wanita itu secara impulsif dalam pangkuannya.
"Braxley! Bicarakan ini baik-baik!" seru Zephyr cemas.
Akan tetapi, Braxley mengabaikan suara ibunya. Dengan langkah-langkah lebar dan napas yang tertahan, ia membawa Aurora membelah lorong panjang mansion, menuju ke kamar utama mereka di sayap kanan. Ia harus menghentikan kegilaan ini. Ia harus menyelamatkan Aurora dari jurang keputusasaan yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞...
Brak.
Pintu kamar ganda berlapis kayu jati tebal itu tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Braxley menurunkan Aurora dengan sangat hati-hati di atas ranjang king size yang empuk. Namun begitu kakinya menyentuh kasur, Aurora langsung bergerak mundur, berusaha menarik jarak seluas mungkin dari Braxley.
Air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi gaun pengantin yang kini terasa bagaikan beban berat di tubuhnya.
Braxley berlutut di tepi ranjang. Jemari tangannya yang gemetar terangkat, meraih kedua pergelangan tangan Aurora dan menggenggamnya erat-erat, menahan wanita itu agar tidak melarikan diri.
"Dengarkan aku, Aurora! Demi Tuhan, dengarkan aku!" suara Braxley bergetar parau, memohon dengan ketulusan yang teramat dalam. "Aku... aku sama sekali tidak jijik padamu! Demi Apapun, tidak pernah ada rasa jijik sedikit pun di dalam hatiku untukmu!"
"Lalu kenapa kau muntah, Axley?!" jerit Aurora dengan tangis yang meledak. "Kenapa tubuhmu menolakku?! Pria mana yang akan merasa mual saat hendak menyentuh wanita yang dicintainya jika bukan karena dia merasa kotor pada wanitanya?!"
"Karena aku membenci diriku sendiri!" bentak Braxley dengan mata yang memerah padam. "Aku menyayangkan diriku yang pengecut, Aurora! Mual itu adalah reaksi psikologis dari rasa bersalahku karena telah membiarkanmu menderita di tangan Jonathan! Aku jijik pada kebodohanku di masa lalu, bukan padamu! Kumohon... jangan pernah berpikir hal seperti itu!"
Aurora menggelengkan kepalanya perlahan, tatapannya menyusur ke sudut ruangan dengan keputusasaan yang begitu pekat.
"Jonathan benar..." gumam Aurora lagi, suaranya meluncur dingin dan membuat darah Braxley berhenti mengalir. "Aku tidak pantas bersanding denganmu, Braxley. Aku kotor... aku cacat untuk mu..."
Deg.
Pikiran-pikiran gila ini—rasa minder, ketakutan akan perbedaan status, dan anggapan bahwa dirinya adalah beban—adalah racun persis yang dulu menghancurkan hubungan mereka bertahun-tahun lalu hingga menghasilkan perpisahan dan penderitaan Draco.
"Jangan katakan seperti itu, Sayang! Kumohon, stop!" napas Braxley memburu, panik luar biasa melihat benteng pertahanan mental Aurora yang hampir roboh sepenuhnya.
Pria itu berdiri, matanya menyala oleh kehendak mutlak untuk membuktikan cintanya. Ia tidak akan membiarkan bayangan Jonathan Carser atau rasa trauma konyol menghancurkan masa depan mereka untuk kedua kalinya.
"Kau ingin bukti?" kata Braxley dengan nada tegas, sarat akan hasrat dan pengabdian yang tak terbantahkan. "Kita akan melakukannya sekarang. Hari ini juga."
Aurora tersentak saat tangan tegap Braxley mulai melepas simpul gaun pengantinnya dengan gerakan yang pasti namun lembut. "Axley... apa yang kau lakukan? Jangan..."
"Aku akan membuktikan padamu bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini—bahkan perkataan si brengsek Jonathan sekalipun—yang bisa mengubah rasa cintaku padamu," bisik Braxley di depan wajah Aurora.
Dengan ketangkasan dan dominasi yang intens, Braxley menyisihkan pakaian yang menghalangi kebersamaan mereka. Tubuh Aurora yang halus dan ringkih kini terpapar sepenuhnya di bawah pendar lampu kamar yang temaram.
Sebelum ketakutan Aurora kembali memuncak, Braxley mendaratkan bibirnya di atas bibir Aurora.
Ia melayangkan ciuman yang panas, dalam, dan menggebu-gebu—sebuah ciuman yang menampung seluruh kerinduan, hasrat yang ditahan selama bertahun-tahun, serta rasa protektif yang meledak-ledak.
Braxley menyapu setiap inci kelembutan bibir Aurora, membakar seluruh keraguan wanita itu dengan kehangatan lidah dan napasnya yang memburu.
Jemari tegap Braxley menelusuri lekuk tubuh Aurora dengan kelembutan yang memuja, seolah-olah ia sedang menyembah sebuah mahakarya paling suci di muka bumi. Aurora terbuai, dadanya naik turun dengan desah napas yang tertahan, membiarkan sentuhan Braxley perlahan meruntuhkan dinding ketakutannya.
Namun... tepat saat kehangatan itu mencapai puncaknya, saat Braxley hendak melakukan penyatuan yang sesungguhnya—saat tubuh mereka berjarak tipis dari puncak keintiman murni—gelombang serangan psikosomatis itu kembali menghantam Braxley tanpa ampun.
Nyut!
Rasa pusing yang hebat mendadak menekan tempurung kepalanya. Lambungnya bergejolak hebat, dan rasa mual yang amat sangat mendadak merayap naik ke tenggorokannya. Reaksi otak absurdnya kembali memproyeksikan bayangan kelam trauma masa lalu.
Perasaan gila apa ini?! batin Braxley meraung dalam kegelapan pikirannya sendiri. Katup rahangnya mengeras hebat, buku-buku jarinya yang menopang tubuh di atas Aurora mencengkeram sprei hingga robek.
Tidak! Tidak boleh! Demi Tuhan, aku tidak boleh muntah sekarang! Aku tidak boleh membuat istriku merasa hina lagi!
Braxley memejamkan matanya rapat-rapat. Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang menahan rasa mual dan sakit yang mencabik-cabik perutnya. Ia melawan rasa sakit psikosomatis itu dengan seluruh sisa kesadaran dan kehendak cintanya.
Ia menelan paksa rasa pahit di tenggorokannya, memblokir seluruh bayangan buruk, dan memfokuskan seluruh jiwanya hanya pada satu hal: Aurora adalah miliknya, dan ia mencintai wanita ini melebihi nyawanya sendiri.
Jleb.
Braxley berhasil. Ia menembus batas rasa sakit psikosomatisnya dan menyatukan tubuh mereka secara utuh.
Sebuah helatan napas berat dan dalam lolos dari bibir Braxley. Penyatuan yang pernah menghasilkan Draco tahun lalu di dalam kegelapan rahasia, kini terulang kembali di bawah naungan rasa cinta dan pengakuan yang utuh.
Pria itu bergerak dengan ritme yang teratur, lembut, namun dipenuhi oleh intensitas emosional yang begitu pekat. Ia membuktikan keberadaannya, memiliki Aurora secara fisik dan jiwa tanpa ada lagi penghalang.
Namun, di bawah tubuh tegapnya, Aurora menangis.
Bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena keharuan dan kepedihan mendalam yang meremas dadanya. Melalui tatapan matanya yang linang oleh air mata, Aurora menyaksikan secara langsung bagaimana wajah pria di atasnya berubah begitu pucat pasi.
Aurora melihat bagaimana Braxley tersiksa saat menyentuhnya. Pria itu sesekali memejamkan matanya erat-erat, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, dan menahan napasnya berulang kali untuk menekan dorongan mual yang terus menyerangnya dari dalam.
Braxley bertahan. Pria itu melewati seluruh proses keintiman itu tanpa lari, tanpa menyerah, dan tanpa perlu drama melangkah ke kamar mandi. Ia bertahan hingga pelepasan hangat itu akhirnya diraih bersama—sebuah penyatuan yang diselesaikan bukan semata-mata karena kenikmatan, melainkan karena perjuangan gila seorang pria yang bertarung melawan monster di dalam kepalanya demi menjaga harga diri wanita yang dicintainya.
Keheningan melingkupi kamar mandi dan area tempat tidur beberapa saat setelah badai emosi itu mereda.
Braxley berbaring miring di samping Aurora, menyandarkan dahinya di bahu halus wanita itu. Napasnya masih terengah-engah, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya yang polos, dan wajahnya masih tampak sangat pucat serta lelah luar biasa.
Lengannya yang tegap melingkar protektif di pinggang Aurora, tidak membiarkan ada jarak sedikit pun di antara mereka.
Aurora mengusap rambut hitam Braxley yang basah oleh keringat dengan jemarinya yang lembut. Air mata bening masih menetes dari sudut matanya, jatuh menetesi kening Braxley.
"Maafkan aku..." kalimat itu keluar dari mulut halus Aurora, bergetar oleh rasa bersalah yang kini berganti arah.
Braxley membuka matanya perlahan, menatap Aurora dengan binar mata yang redup namun dipenuhi kehangatan murni. "Kenapa kau meminta maaf, Sayang? Kau tidak salah..."
Aurora tersenyum tipis dalam tangisnya, menangkup pipi Braxley yang dingin. Ia telah melihat bagaimana pria ini berjuang bertaruh nyawa dan mental hanya untuk membuktikan cintanya tadi. Ia tahu betapa besarnya usaha Braxley untuk melindunginya dari rasa hina.
"Mau konsultasi bersama?" bisik Aurora lembut, menyapu peluh di dahi pria itu. "Aku tidak apa-apa, Axley. Aku tidak akan merasa egois lagi... Kau benar-benar membutuhkan dokter, dan aku akan mendampingimu melaluinya."
Deg.
Braxley menatap Aurora tanpa kedip. Kata-kata lembut wanita itu bagaikan penawar racun yang paling mujarab, meruntuhkan sisa-sisa rasa mual dan beban yang selama ini menyiksanya.
Pria itu menyunggingkan senyum tipisnya yang tulus, lalu mengecup telapak tangan Aurora dengan rasa syukur yang tak terhingga.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳