Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Diluar Pintu
Malam makin melarut saat deru mobil Haris akhirnya memasuki halaman rumah. Langkah kakinya terburu-buru menyusuri lorong berlantai marmer, membawa rasa gelisah yang menumpuk sejak siang tadi di tepi jalan. Tanpa mengetuk, Haris langsung mendorong pintu kamar utama yang luas dan mewah.
Namun, kamar itu kosong. Tempat tidur berukuran king size itu tertata rapi, bersih, dan dingin—seolah tak tersentuh penghuninya sejak pagi.
Haris mematung sejenak, menatap kehampaan di dalam kamarnya sebelum akhirnya membalikkan badan menuju kamar Arka. Ia memutar gagang pintu kamar bernuansa biru itu pelan-pelan. Di sana, di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia mendapati pemandangan yang membuat dadanya kian berdenyut nyeri.
Nindya sedang berdiri di samping tempat tidur berwujud mobil-mobilan, membungkuk pelan untuk merapikan selimut tebal yang membalut tubuh Arka yang sudah terlelap. Gaun tidurnya yang anggun melambai halus. Potongan rambut ash brown sebahunya membingkai wajah cantiknya dari samping.
Haris menarik napas panjang, mencoba menguasai suaranya yang mendadak gemetar.
"Bisa kita bicara?" tanya Haris pelan namun tegas pada Nindya yang baru saja menyelimuti Arka.
Nindya tidak terkejut. Ia mengusap dahi putranya sekali lagi, membetulkan letak guling di samping Arka, lalu berdiri dengan sangat tenang. Nindya menoleh, menatap Haris tanpa ada riak emosi—tidak ada amarah, tidak ada kekecewaan, apalagi rasa cemburu. Hanya ada tatapan datar yang amat dalam.
Nindya menunjuk ke arah luar kamar dengan dagunya, lalu melangkah lebih dulu tanpa mengeluar kata. Ia tidak ingin suara mereka mengganggu tidur nyenyak pangeran kecilnya.
Haris mengikuti langkah Nindya keluar dari kamar Arka. Begitu pintu kamar anak mereka tertutup rapat, Nindya membalikkan badan di lorong sepi itu, bersedekap dengan penuh keanggunan.
"Bicara apa, Mas?" tanya Nindya datar. Suaranya halus namun begitu dingin, memantul di dinding-dinding lorong yang sepi.
Haris menatap wajah istrinya rapat-rapat. Jarak di antara mereka hanya dua langkah, tetapi Haris merasa Nindya sedang berdiri di puncak gunung es yang tak tertembus.
"Penampilanmu... dan kejadian tadi siang di jalan," Haris memulai, tenggorokannya terasa ganjil saat mengucapkannya. "Kenapa kamu memotong rambutmu tanpa bilang padaku? Dan kenapa kamu bicara seperti itu di depan Arka tentang 'kerja'? Kamu sengaja menyindirku, Nindya?"
Nindya terkekeh tipis—sebuah tawa kecil tanpa nada bahagia yang terdengar sangat ironis di telinga Haris.
"Memotong rambut harus izin kamu, Mas?" Nindya menatap mata Haris lurus-lurus. "Seingatku, selama empat tahun ini kamu tidak pernah peduli dengan apa yang aku pakai atau bagaimana bentuk rambutku. Dan tentang tadi siang..." Nindya menyunggingkan senyum dingin. "Bukankah aku hanya mengatakan hal yang memang biasa kamu katakan padaku? Kamu selalu sibuk 'kerja', kan?"
"Nindya!" Haris menaikkan nadanya, merasa egonya terpojok oleh ketenangan istrinya. "Aku tahu aku salah karena tadi siang bersama Siska! Tapi tidak bisakah kamu menegurku langsung? Kenapa harus bersikap seolah aku ini orang asing di rumah ini? Kamu tidur di kamar Arka, kamu mengabaikanku, dan kamu berubah seperti orang lain!"
Nindya menatap pria di hadapannya dengan tatapan iba—bukan kasihan pada dirinya sendiri, melainkan kasihan pada betapa naifnya Haris.
"Aku tidak berubah, Mas. Aku hanya berhenti berharap," jawab Nindya pelan namun setiap katanya menancap tajam. "Kamu ingin aku marah? Cemburu? Menangis seperti dulu? Maaf, tapi rasa itu sudah habis. Kalau kamu mau bersama Siska, silakan. Lakukan sesukamu. Tapi jangan atur bagaimana cara aku menjalani hidupku dan membesarkan Arka."
Haris membisu. Kata-kata Nindya terkunci di dadanya seperti hantaman keras. Sebelum Haris sempat membalas, Nindya sudah memutar badannya, kembali melangkah masuk ke kamar Arka, dan menutup pintunya rapat—meninggalkan Haris sendirian di lorong yang dingin.