NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Di Balik Fitnah

Bab 12

Langit pagi diselimuti awan kelabu ketika Karin memasuki area kampus. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, tetapi bukan itu yang membuat langkahnya terasa berat.

Pikirannya masih dipenuhi kejadian kemarin karena Kai dituduh memukul seorang mahasiswa. Padahal, petugas kebersihan yang ditemuinya dengan jelas mengatakan bahwa Kai hanya membela diri.

Sayangnya, kesaksian itu tidak akan pernah keluar.

Orang tua petugas itu bergantung pada pekerjaannya. Tidak mungkin ia mau mengambil risiko hanya demi membela seorang mahasiswa yang bahkan tidak dikenalnya.

Karin mengepalkan tangannya.

"Aku harus membantu Kai. Kalau tidak, dia akan menjadi korban."

Baru beberapa langkah memasuki gedung fakultas, Nia sudah melambaikan tangan dari kejauhan.

"Karin! Pagi."

"Pagi."

Nia langsung menarik tangan Karin ke sudut lorong.

"Kamu dengar belum?"

"Dengar apa?"

"Kai dipanggil lagi sama bagian kemahasiswaan."

Jantung Karin langsung berdegup lebih cepat.

"Lagi?"

"Iya. Katanya bakal diberi surat peringatan."

Karin tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia langsung berlari menuju gedung administrasi.

"Karin! Tunggu!"

Nia buru-buru mengejarnya.

Di depan ruang kemahasiswaan, beberapa mahasiswa tampak berkumpul. Mereka saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah pintu.

"Itu pasti Kai lagi."

"Memang nggak kapok."

"Dari dulu juga tukang cari gara-gara."

Karin menghentikan langkahnya. Ia menatap satu per satu mahasiswa yang sedang bergosip.

Tak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang terjadi. Namun mereka sudah sibuk menghakimi.

"Permisi."

Karin membuka pintu ruang kemahasiswaan. Di dalam ruangan, Kai duduk sendirian di depan meja. Sementara di hadapannya duduk seorang bagian administrasi paruh baya berkacamata. Dia adalah Pak Dharman.

"Maaf."

"Kamu tidak boleh masuk."

Karin membungkukkan badan.

"Pak, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."

Pak Dharman menghela napas.

"Cepat."

Karin menatap Kai sesaat.

Pria itu hanya menggeleng pelan, seolah meminta Karin untuk tidak ikut campur.

Namun Karin mengabaikannya.

"Pak. Saya yakin Kai tidak memulai perkelahian."

"Apa kamu melihat sendiri?"

"...Tidak."

"Lalu atas dasar apa kamu membelanya?"

Karin terdiam. Ia memang tidak memiliki bukti.

"Kalau tidak punya bukti, lebih baik jangan ikut campur." Nada suara Pak Dharman mulai meninggi. "Kampus tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan perasaan."

Karin menundukkan kepala. Ia tahu itu benar. Namun ia juga tahu Kai sedang dijebak.

"Saya akan mencari buktinya."

Suara Karin terdengar pelan tetapi tegas.

Pak Dharman menghela napas.

"Silakan. Tapi sampai ada bukti, keputusan tetap berlaku. Kamu boleh keluar."

Kai akhirnya berdiri.

"Sudah, Karin. Ayo keluar."

Mereka berjalan meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Kai menghentikan langkah.

"Kenapa kamu melakukan itu?"

"Aku cuma ingin membantu."

"Kamu malah mempermalukan diri sendiri."

"Aku tidak peduli."

Kai menatap wajah Karin beberapa saat.

"Kamu terlalu keras kepala."

"Yang bicara juga sama."

Jawaban spontan itu membuat Kai tersenyum tipis.

Sementara itu...

Di sebuah ruangan lain, Gio sedang berbincang santai dengan Pak Dharman yang baru saja memanggil Kai.

"Terima kasih sudah membantu."

Pak Dharman tersenyum tipis.

"Kamu terlalu khawatir. Anak seperti Kai memang sering bermasalah."

"Kalau begitu saya tenang."

Gio meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.

"Ini titipan dari Ibu."

Pak Dharman tidak langsung membukanya. Namun senyumnya semakin lebar.

"Sampaikan terima kasih saya."

"Tentu."

Gio berdiri. Sebelum keluar, ia sempat melihat ke arah jendela.

Dari sana terlihat Karin dan Kai sedang berbicara di halaman kampus.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Semakin dekat..." gumamnya pelan. "Tapi tidak akan lama."

Jam makan siang tiba.

Kai duduk sendirian di taman belakang kampus sambil membaca buku. Ia memang sengaja menghindari keramaian.

Sejak pagi, banyak mahasiswa memandangnya dengan tatapan sinis. Sebagian bahkan sengaja menjauh.

Bruk.

Seseorang meletakkan dua kotak makan di atas bangku.

Kai mendongak.

"Karin."

"Aku bawa makan siang."

Karin memberanikan diri.

"Aku sudah makan."

"Bohong."

Karin menunjuk perut Kai yang baru saja berbunyi pelan.

"Itu suara apa?"

Kai langsung salah tingkah.

Karin tertawa kecil.

"Ayo makan. Kalau nggak dimakan, Mama marah."

"Kok Mama?"

"Beliau sengaja masak lebih banyak. Kata Mama, kasihan kalau kamu cuma makan mi instan terus."

Kai terdiam.

Sudah lama sekali..., tidak ada orang yang memedulikan hal-hal kecil seperti itu.

"Terima kasih."

"Itu juga titipan Mama."

Mereka mulai makan bersama. Suasana terasa jauh lebih hangat dibanding biasanya.

"Kai."

"Hm?"

"Aku akan cari bukti."

"Bukti apa?"

"Kalau kamu dijebak. Aku sudah tahu dari petugas kebersihan."

Kai menggeleng pelan.

"Percuma."

"Kenapa?"

"Karena orang-orang sudah memutuskan untuk tidak percaya."

"Tapi aku percaya."

Kai menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap Karin. Tatapan gadis itu begitu tulus. Tidak ada sedikit pun keraguan di matanya.

Untuk pertama kalinya...

Ada seseorang yang memilih berdiri di sisinya tanpa meminta imbalan apa pun.

"Kenapa?" tanya Kai pelan. "Kamu percaya padaku?"

Karin tersenyum tipis.

"Karena..., aku tahu kamu bukan orang jahat. Kamu juga percaya padaku, ketika aku minta bantuan mu. Padahal aku nggak bisa jelasin alasan ku ke kamu."

Jawaban itu membuat hati Kai bergetar. Ia tidak tahu mengapa Karin bisa begitu yakin. Namun ucapan sederhana itu terasa lebih berarti daripada seribu pembelaan.

Beberapa waktu kemudian, kotak makan yang dibawakan Karin hampir kosong. Sesekali mereka mulai mengobrol ringan, tetapi lebih banyak menikmati suasana yang tenang.

Keakraban itu mulai terjalin. Bukan dari banyaknya jumlah kata yang terucap, tapi dari kepercayaan yang mulai terbangun.

"Kamu nanti langsung kerja?" tanya Karin.

Kai mengangguk.

"Jam tiga sudah harus di bengkel."

"Kamu nggak capek kuliah sambil kerja?"

"Capek."

"Lalu kenapa tetap dijalani?"

Kai tersenyum tipis.

"Kalau aku menyerah, siapa yang membayar uang kuliahku?"

Jawaban sederhana itu membuat Karin terdiam. Ia kembali teringat kehidupan sebelumnya.

Saat itu Kai memang lulus dengan nilai yang sangat baik meski harus bekerja keras setiap hari.

Sayangnya, mereka tidak pernah benar-benar saling mengenal.

Baru setelah semuanya terlambat, Karin mengetahui bahwa pria yang selama ini dianggap badboy ternyata jauh lebih baik daripada banyak orang yang berpenampilan sempurna.

"Kai?"

"Hm?"

"Seandainya..., kamu tidak usah bekerja sekeras ini."

Kai terkekeh pelan.

"Kalau begitu aku yang kelaparan."

Ucapan itu membuat Karin ikut terkekeh.

Suasana yang semula sunyi berubah sedikit lebih hangat.

-

-

Ketika waktu hampir tiba, Kai berpamitan menuju bengkel. Sedangkan Karin memutuskan pergi ke perpustakaan. Ia ingin mencari data mengenai kamera pengawas yang mungkin mengarah ke area parkiran belakang.

Kalau benar ada rekaman, nama Kai bisa dibersihkan.

Sesampainya di perpustakaan, Karin langsung menuju meja petugas.

"Permisi, Kak."

"Iya?"

"Apa area parkiran belakang ada CCTV?"

Petugas berpikir sejenak.

"Setahuku ada. Tapi cuma di pintu masuk."

"Kalau rekamannya?"

"Itu dipegang bagian keamanan kampus."

Harapan Karin kembali muncul.

"Terima kasih."

Ia segera menuju gedung keamanan. Namun sesampainya di sana, seorang satpam paruh baya menggeleng.

"Rekaman hari itu sudah tidak ada."

"Hilang?" tanya Karin terkejut.

"Bukan. Terhapus."

"Kok bisa?"

"Katanya hard disk bermasalah."

Karin langsung merasa ada yang tidak beres.

Kebetulan yang terlalu sempurna.

Saat Kai dituduh berkelahi. Namun justru rekaman hari itu yang hilang.

"Apa benar rusak?" gumamnya pelan.

Satpam itu mengangkat bahu.

"Saya cuma menjalankan tugas."

Karin mengucapkan terima kasih lalu pergi.

Namun kini ia menjadi curiga bahwa ada seseorang yang sengaja menghapus bukti.

Ditempat berbeda. Kai sudah tiba di bengkel. Ia segera mengambil pekerjaan memperbaiki mesin motor di bengkel.

Pemilik bengkel menghampirinya.

"Kai."

"Iya, Pak."

"Tadi ada orang mencarimu."

"Siapa?"

"Nggak kenal. Naik mobil hitam."

Kai menghentikan pekerjaannya.

"Apa katanya?"

"Cuma tanya-tanya soal kamu."

"Terus?"

"Bapak nggak banyak jawab. Orangnya sopan sih. Tapi entah kenapa bikin Bapak nggak nyaman."

Kai mengangguk pelan. Mendengar ciri-ciri yang pemilik bengkel sebutkan, entah kenapa Kai kepikiran langsung menebak seseorang yang akhir-akhir ini sedang konflik dengannya.

Gio.

-

-

Bersambung...

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
Author.N.
ganteng tapi nyakitin 😌😌
Author.N.
eh mendadak ada teka teki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!