NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Malam Pembantaian Merah

Malam di wilayah luar Perguruan Pedang Langit selalu datang bersama dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin melolong melewati celah-celah dinding barak budak yang terbuat dari kayu lapuk dan jerami kering. Di dalam ruangan sempit berukuran beberapa langkah itu, sebuah lampu minyak kecil berkedip-kedip, berjuang melawan kegelapan yang pekat.

Kala berbaring di atas tumpukan jerami dengan tubuh yang demam. Punggungnya yang robek akibat cambukan pagi tadi terasa panas dan berdenyut kencang. Setiap kali dia menarik napas, rasa sakit itu seperti mencengkeram paru-parunya. Namun, di dalam kepalanya, suara itu masih ada. Tik... Tok... Tik... Tok... Detak misterius itu kini terdengar lebih lambat, seolah ikut merasakan kelelahan fisiknya.

"Tahan sedikit ya, Kala. Ini agak perih," sebuah suara bisikan lembut memecah keheningan.

Ayla, gadis kecil berusia delapan tahun itu, duduk bersimpuh di samping Kala. Tangan kecilnya yang gemetar memegang sebilah bambu tipis, mengoleskan salep hijau pekat yang berbau menyengat ke punggung Kala. Salep itu adalah racikan sisa yang dicuri Ayla dari paviliun medis ayahnya.

Saat tanaman obat itu menyentuh lukanya, Kala mendesis menahan perih. Urat-urat di dahinya menegang. Maryam, yang duduk di sisi lain, segera menggenggam tangan Kala, menyalurkan kehangatan seorang ibu melalui telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan.

"Terima kasih, Ayla. Jika tidak ada kamu, luka anak ini pasti sudah membusuk karena dingin," bisik Maryam dengan mata yang berkaca-kaca.

Ayla tersenyum kecil, menyeka keringat di dahi Kala dengan ujung lengan bajunya yang kusam. "Kala adalah satu-satunya temanku, Bibi. Aku tidak takut pada matanya. Di mataku, Kala hanya sedang menyembunyikan sesuatu yang indah."

Mendengar kata-kata itu, Kala membuka pelupuk matanya. Selaput putih pucat tanpa pupil itu menatap Ayla. Di dunia yang mengutuknya sebagai monster, ketulusan Ayla adalah cahaya kecil yang membuat Kala tetap ingin bertahan hidup sebagai manusia. "Ayla... suatu hari nanti, aku akan melindungimu," bisik Kala dengan suara parau.

Namun, takdir tidak pernah memberikan waktu bagi si lemah untuk bermimpi.

BOOM!

Pintu barak kayu itu mendadak hancur berkeping-keping. Semburan energi angin yang sangat tajam merobek dinding jerami, menerbangkan debu dan menghancurkan lampu minyak hingga padam seketika. Kegelapan malam langsung menelan ruangan, digantikan oleh cahaya obor kemerahan yang dibawa oleh belasan orang dari luar.

"Di sini rupanya tikus-tikus fana ini bersembunyi," sebuah suara arogan bergema di ambang pintu.

Seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun melangkah masuk dengan angkuh. Dia mengenakan jubah sutra biru muda dengan sulaman benang emas berbentuk awan di dadanya—pakaian khusus untuk murid inti Perguruan Pedang Langit. Dia adalah Tuan Muda Liu, putra dari salah satu Tetua Agung sekte tersebut. Liu berada di Ranah Nadi Fana Tingkat Puncak, selangkah lagi menuju Ranah Pengendali Jiwa. Di belakangnya, berdiri murid luar yang mencambuk Kala pagi tadi, memegang obor dengan senyum licik.

Maryam dengan panik langsung berdiri di depan Kala dan Ayla, menyembunyikan kedua anak itu di balik punggungnya. "Tuan Muda Liu! Ada kesalahan apa yang kami perbuat hingga Anda mendatangi barak kotor ini?" suara Maryam bergetar hebat karena ketakutan.

Liu tidak menjawab Maryam. Matanya yang dingin berfokus penuh pada Kala yang merangkak bangun. "Pagi tadi, alat pendeteksi energi spiritual di aula utama bergetar hebat. Ada fluktuasi hukum kuno yang terdeteksi di area budak luar. Dan muridku ini bilang, bocah cacat ini sempat membuat waktu terasa melompat sebelum cambukannya meleset."

Liu melangkah maju, melepaskan tekanan energi (Qi) miliknya. Tekanan itu terasa seperti batu besar yang tidak kasat mata, menekan dada Maryam hingga wanita tua itu batuk darah dan berlutut di tanah.

"Serahkan pusaka atau teknik sihir rahasia yang kau sembunyikan, bocah sialan! Sampah seperti kalian tidak berhak menyimpan sesuatu yang bisa menggerakkan hukum alam!" bentak Liu, matanya berkilat serakah.

"Kami tidak punya apa-apa, Tuan! Kala lahir cacat, dia tidak tahu apa-apa tentang sihir!" ratap Maryam, mencoba merangkak untuk memeluk kaki Liu, memohon belas kasihan.

"Minggir, wanita tua bangka!" Liu mengayunkan kakinya, menendang dada Maryam dengan kekuatan penuh yang dilapisi energi angin.

KRAKK!

Suara tulang rusuk yang patah terdengar jelas di dalam kegemaran malam. Tubuh kurus Maryam terpental menghantam tiang barak, lalu terkapar tak bergerak. Darah segar mengalir deras dari mulutnya, membasahi jerami kering di bawahnya. Matanya yang perlahan meredup masih menatap Kala dengan penuh kekhawatiran.

"IBU!!!"

Jeritan Kala memecah malam. Jiwanya terguncang hebat melihat wanita yang merawatnya sejak bayi kini sekarat di tanah. Kemarahan yang tak terkendali meledak di dalam dadanya. Jantungnya berdegup dalam frekuensi yang sangat mengerikan. Deg... Deg... Deg... DEB!

DENG!

Dunia kembali membeku. Kobaran api di obor para murid membatu di udara, tidak lagi bergerak atau memancarkan panas. Serpihan kayu pintu yang hancur melayang diam di atmosfer. Tuan Muda Liu mematung dengan kaki yang masih setengah terangkat setelah menendang Maryam.

Kala merangkak dengan air mata darah yang mulai mengalir dari selaput putih matanya. Dia mencoba menggerakkan tubuh ibunya, mencoba mencari detak jantung Maryam, namun di dalam dunia yang membeku ini, segalanya diam. Dada Kala kembali terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit karena memaksakan kehendak waktu pada ranah fana membuatnya memuntahkan darah hitam. Usia hidupnya berkurang drastis dalam hitungan detik. Dia terlalu lemah. Dia tidak bisa merubah luka ibunya.

Dengan sisa tenaganya, Kala terpaksa melepaskan kendali waktunya.

Tik.

Waktu kembali berjalan. "Bawa bocah itu dan seret gadis kecil itu ke paviliun medis untuk diinterogasi!" perintah Liu dengan dingin, sama sekali tidak sadar bahwa waktu baru saja dijeda.

Ayla, yang melihat Maryam tidak bergerak, menangis histeris. Dia mengambil sebilah bambu runcing di tanah dan nekat berlari menuju Tuan Muda Liu. "Penjahat! Kau membunuh Bibi Maryam!"

"Ayla, jangan!" teriak Kala parau.

Namun, perbedaan ranah mereka terlalu jauh. Liu bahkan tidak perlu menoleh. Dengan lambaian tangan kirinya, sebilah bilah angin yang tajam melesat dari ujung jarinya.

SLASSH!

Bilah angin itu merobek leher kecil Ayla tanpa ampun. Tubuh gadis kecil itu terhenti, matanya membelalak menatap Kala, sebelum akhirnya tumbang ke tanah di samping jasad Maryam. Botol salep kecil yang dipegangnya jatuh, isinya tumpah bercampur dengan genangan darah merah yang mengalir pekat di atas lumpur dan salju hitam.

Dua orang yang dicintainya... tewas dalam sekejap mata di depan wajahnya.

"Ah... tidak sengaja terbunuh. Biarlah, ayahnya hanya seorang tabib fana rendahan," ucap Liu dengan nada yang sangat santai, seolah baru saja menginjak seekor semut. Dia kemudian menatap Kala yang kini bersujud di tanah, tubuhnya gemetar hebat bukan karena takut, melainkan karena dendam yang telah membakar habis sisa kemanusiaannya.

"Tangkap dia!"

Saat para murid luar mendekat, Kala mendongakkan kepalanya. Air mata darah mengalir membasahi pipinya. Kedua matanya yang putih polos tiba-tiba bergetar, memancarkan aura dingin yang membuat para murid luar terhenti karena ketakutan yang instan.

"Aku... akan membunuh kalian semua. Aku akan meratakan perguruan ini... hingga menjadi abu," bisik Kala. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara anak sembilan tahun, melainkan gaung dari dasar neraka.

Liu yang merasa terhina oleh tatapan bocah buta itu menjadi murka. Dia maju, mencengkeram kerah baju Kala, dan menyeretnya keluar dari barak. Di luar, badai salju hitam semakin menggila. Mereka berjalan menuju tebing di belakang sekte—sebuah tempat yang dikenal sebagai Jurang Kematian (The Abyss of Extinction). Jurang tak berdasar yang dipenuhi gas racun purba, tempat membuang mayat-mayat budak dan musuh sekte.

"Karena kau tidak mau bicara tentang rahasiamu, maka matilah di tempat yang cocok untuk sampah seperti dirimu!" Liu mengangkat tubuh kurus Kala dan melemparkannya tanpa ragu ke dalam kegelapan jurang yang menganga lebar.

Tubuh Kala melayang jatuh, menembus kabut hitam yang berbau busuk dan tajam. Angin malam merobek pakaiannya, dan dinginnya atmosfer mulai membekukan kesadarannya. Saat dia tenggelam semakin dalam ke dalam kegelapan abadi jurang tersebut, suara ketukan di kepalanya berbunyi untuk terakhir kalinya sebelum dia kehilangan kesadaran penuh.

Tik... Tok... Tik... Tok...

Kala jatuh ke dasar terdalam, ke tempat di mana takdir baru telah menunggunya di dalam sarang sang Naga Purba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!