Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Malam turun menyelimuti gedung pengadilan tinggi yang tampak sunyi dan megah. Lampu-lampu di lorong utama sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya remang dari lampu darurat di setiap sudut. Asep berjalan paling depan, menuntun mereka melewati pintu samping yang kuncinya sudah ia siapkan salinan lama—salah satu jalur yang dulu sering dipakai saat ia masih bertugas di bagian keamanan khusus.
“Kamera di lorong ini diprogram untuk tidak merekam pada jam-jam tertentu,” bisiknya sambil melangkah hati-hati di atas lantai marmer yang licin. “Tapi ruang arsip pusat diawasi sistem terpisah. Kita hanya punya waktu empat puluh menit sebelum pengawas malam melakukan putaran rutin.”
Mereka bergerak cepat menuju lantai dasar. Di sana, pintu ruang arsip tertutup rapat dengan kunci ganda. Dika segera mengeluarkan alat kecil, menyambungkannya ke panel samping, dan menunggu hitungan detik hingga bunyi kunci terbuka terdengar pelan.
Di dalam ruangan itu, rak-rak besi tinggi menjulang penuh berkas yang disusun rapi. Di tengah ruangan berdiri lemari besi terkunci—tempat penyimpanan bukti sidang Ibu Ratna.
“Itu dia,” tunjuk Rendra.
Saat mereka sedang membuka lemari besi, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan pengawas biasa—langkahnya berat dan tergesa-gesa. Rendra memberi isyarat diam, lalu mengintip lewat celah pintu. Ternyata Hakim utama yang memimpin sidang itu datang bersama dua orang berseragam khusus.
“Cepat ambil berkas kasus nomor 17,” perintah hakim itu dengan suara cemas. “Perintah langsung dari atas: bukti-bukti itu harus dinyatakan tidak sah dan dimusnahkan malam ini juga sebelum ada pemeriksaan ulang.”
Rendra menatap teman-temannya. Ini saatnya. Ia mendorong pintu ruang arsip hingga terbuka lebar.
“Terlambat, Yang Mulia,” katanya tenang namun tegas. “Kami sudah mengambilnya lebih dulu.”
Hakim itu terkejut mundur, wajahnya pucat pasi saat melihat siapa yang ada di dalam. “Kalian… kalian tidak boleh ada di sini! Ini pelanggaran berat!”
“Pelanggaran mana yang lebih berat?” tantang Pak Haris sambil melangkah maju. “Mencari keadilan, atau menyembunyikan kejahatan di balik jubah kehormatan?”
Saat itu juga, suara pengeras suara dari luar gedung terdengar jelas. Rian dan tim jurnalis yang sudah menunggu di halaman depan menyiarkan langsung kejadian itu lewat siaran terbuka—puluhan kamera dan ponsel warga serta wartawan yang sudah berkumpul karena berita pagi itu kini merekam setiap kata yang terucap.
Hakim itu menyadari ia sudah terpojok. Tidak ada jalan untuk berbohong lagi. Ia akhirnya mengakui bahwa ia memang diperintah oleh Ridwan untuk memanipulasi sidang dan memusnahkan bukti. Pengakuannya itu terekam jelas, disaksikan langsung oleh ribuan orang di depan gedung dan jutaan orang lewat siaran langsung.
Keesokan paginya, suasana berubah total. Keputusan sidang ditangguhkan, Ibu Ratna dibebaskan seketika, dan perintah penahanan sementara dikeluarkan untuk Hakim utama serta beberapa pejabat lain yang namanya sudah terungkap. Ridwan yang awalnya berusaha lari ke luar negeri, dicegat di bandara oleh tim penyelidik independen yang dikirim Ibu Ratna.
Namun di tengah kelegaan itu, Rendra tidak merasa puas sepenuhnya. Saat mereka berkumpul kembali di rumah aman, ia melihat ekspresi Pak Haris yang masih serius.
“Apa yang salah, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Haris mengeluarkan salinan dokumen yang baru diterima. “Kita berhasil menjatuhkan Ridwan dan jaringan lokalnya. Tapi lihat ini—dalam pengakuan terakhirnya, dia mengakui bahwa dia hanyalah salah satu dari tiga pemimpin wilayah. Ada dua orang lain yang setara dengan dia, memimpin wilayah lain di Indonesia. Dan nama ‘Bayangan Utama’ yang berada di atas mereka bertiga… belum terungkap sama sekali.”
Rendra terdiam. Ia kira mereka sudah sampai di garis akhir, ternyata ini baru permulaan. Kemenangan ini hanya membuka pintu masuk ke labirin yang jauh lebih besar.
“Babak pertama selesai,” kata Ibu Ratna yang baru saja tiba. “Kita sudah membuktikan bahwa kejahatan bisa dikalahkan. Tapi sekarang kita tahu bahwa jaringan ini menjalar ke seluruh penjuru negeri. Perjalanan selanjutnya akan lebih jauh, lebih berbahaya, dan musuh yang kita hadapi jauh lebih cerdas.”
Sore itu, Rendra berdiri di tepi jendela menghadap kota Jakarta. Ia sudah membalas dendam untuk adiknya, sudah membuktikan kebenaran bagi korban lain, dan sudah mematahkan kekuasaan satu pemimpin gelap. Tapi ia tahu, bayangan yang sebenarnya masih bersembunyi di tempat yang jauh lebih tinggi.
Dan ia berjanji: tidak akan berhenti melangkah sampai cahaya menyinari setiap sudut yang gelap di negeri ini.