Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 8
"Apapun metodenya, bukankah menyelamatkan nyawa adalah hal yang paling utama? Tolong jangan biarkan dia mati!"
Mendengar permohonan tulus dari murid pertamanya, Tianchen hanya bisa menghela napas panjang, menyerah pada takdir. Ia melangkah maju mendekati ranjang giok, lalu dengan gerakan yang lembut namun cepat, ia mengangkat menggendong tubuh lemah Liu Yuanling yang sudah tidak berdaya ke dalam pelukannya.
"Kau... Kamu diam saja di sini, Su Ziyan. Jangan ikuti aku," perintah Tianchen dengan nada suara yang dipaksakan untuk terdengar tegas. "Guru akan membawanya ke puncak utama untuk menjalani pengobatan khusus yang membutuhkan isolasi mutlak. Jangan biarkan siapapun mengganggu kami."
Sebelum Ziyan sempat menjawab, tubuh Tianchen dan Yuanling lenyap dari pandangan dalam kedipan mata, menyisakan keheningan di Balai Pengobatan Puncak Biru.
Sret!
Tianchen berpindah di dalam kamar pribadi utamanya di puncak tertinggi Sekte Pedang Langit. Kamar itu sangat luas, didominasi oleh dekorasi kayu cendana hitam dan sebuah ranjang besar yang dilapisi kasur sutra putih yang lembut.
Dengan sangat hati-hati, Tianchen meletakkan tubuh lemah Liu Yuanling di atas ranjangnya. Ia kemudian melangkah mundur beberapa langkah, mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan ekspresi yang sangat gelisah. Sepasang tangannya yang biasanya kokoh saat memegang pedang, kini tampak bergetar kecil. Ia benar-benar ragu dan bingung bagaimana harus memulai proses kultivasi ganda ini.
"Uhuk! Uhuk!"
Tiba-tiba, Yuanling mendadak batuk darah lagi secara hebat. Darah segar berwarna merah tua membasahi sprei sutra putih, dan tubuh gadis itu mulai kejang-kejang kecil akibat aliran Qi yang berbalik arah kini mulai mengoyak pembuluh darah di dekat jantungnya. Kondisinya memburuk dengan kecepatan yang mengerikan.
Melihat hal itu, seluruh keraguan di dalam benak Tianchen seketika lenyap, tergantikan oleh naluri seorang pelindung.
"Mau tidak mau... aku harus melakukannya sekarang. Maafkan aku, nona muda," bisik Tianchen dengan tatapan mata yang mendadak fokus dan tajam. "Semoga setelah ini, setelah kau sadar dan mengetahui segalanya... kau tidak akan menyalahkan caraku untuk menyelamatkan nyawamu."
Tianchen mendekati ranjang, duduk di tepi kasur di samping tubuh Yuanling. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar karena rasa canggung yang teramat besar, Tianchen mengulurkan jemarinya. Ia mulai melepaskan satu persatu tali jubah luar putih yang baru saja dipasangkan oleh Su Ziyan pada tubuh Yuanling.
Kain jubah luar itu terlepas, disusul oleh lapisan pakaian tengah, hingga akhirnya menyisakan selembar kain kemben dalam sutra tipis yang melekat pada tubuh molek gadis itu. Di bawah penerangan cahaya lilin spiritual yang remang-remang, kulit Yuanling yang putih mulus tampak berkilau, meskipun dipenuhi oleh bilur-bilur luka cambukan kemerahan di beberapa bagian yang justru menambah kesan tragis dan membangkitkan rasa ingin melindungi di dalam hati Tianchen.
Li Tianchen menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak untuk menenangkan jiwanya yang bergejolak, lalu membuka pakaian atasnya sendiri, menyisakan tubuh atletisnya yang kokoh dengan otot-otot yang terbentuk sempurna hasil dari latihan pedang dan kultivasi ratusan tahun.
Ia merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya di atas Yuanling. Dengan lembut, Tianchen menempelkan telapak tangannya ke dada Yuanling, mulai menyalurkan Qi Maharaja Agung-nya untuk memicu penyatuan energi yin dan yang.
Ketika penyatuan fisik dan spiritual itu akhirnya terjadi di bawah keheningan malam kamar utama, sebuah ledakan resonansi spiritual yang luar biasa dahsyat mendadak meledak di dalam ruangan yang tersegel tersebut.
CRACK!!! CRACK!!
Seketika itu juga, Tulang Harmoni Selaras di dalam tubuh Liu Yuanling yang semula tersegel mati mendadak memancarkan cahaya keemasan yang teramat menyilaukan. Segel kutukan yang mengikat jiwanya hancur berkeping-keping akibat gempuran energi murni tingkat Maharaja Agung dari Li Tianchen. Aliran Qi yang semula berbalik arah menghancurkan organ dalam, mendadak berputar balik dengan patuh, mengikuti ritme sirkulasi kultivasi ganda yang dipandu oleh Li Tianchen.
Udara di dalam kamar berputar hebat, membentuk pusaran energi spiritual berwarna pelangi yang membungkus kedua tubuh yang sedang menyatu tersebut. Liu Yuanling, yang berada di antara ambang sadar dan tidak, merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa masif mengalir masuk ke dalam jiwanya, mengusir rasa dingin dan sakit yang menyiksanya sejak tadi. Luka-luka dalam dan luar di tubuhnya mulai menutup dan beregenerasi dengan kecepatan kasat mata seiring berjalannya proses ritual penyatuan suci tersebut.
Di saat proses penyelamatan hidup dan mati sedang berlangsung di Sekte Pedang Langit, situasi yang berbeda terjadi di aula pengobatan Sekte Gunung Barat.
Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan herbal yang pekat, Putri Suci Lu Mingyue sedang duduk bersila di atas formasi giok penyembuhan. Perlahan, ia membuka matanya, mengembuskan napas panjang yang membawa sisa-sisa energi hitam dari paru-parunya.
Meskipun luka-luka fisik di sekujur tubuhnya akibat sambaran petir ungu Li Tianchen sudah mulai mengering dan membaik berkat bantuan ratusan pil obat langka, namun ekspresi wajah Mingyue sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Wajah cantiknya justru tampak sangat muram dan dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.
"Sialan! Sialan!" Mingyue mengepalkan tinjunya dengan keras hingga memukul lantai giok. "Luka dalam di jiwaku... energi petir bajingan itu benar-benar mengunci sebagian besar meridian utamaku! Basis kultivasiku... basis kultivasiku turun drastis dari Inti Emas Akhir menjadi tingkat Pencerahan Menengah!"
Penurunan tingkat kultivasi adalah pukulan yang teramat mematikan bagi seorang jenius, terutama bagi seseorang yang menyandang status sebagai Putri Suci dari sebuah sekte besar. Banyak sumber daya, pil obat tingkat suci, dan esensi spiritual yang telah diberikan oleh para tetua alkemis sekte selama beberapa hari terakhir ini hanya untuk mengobati dan menstabilkan kondisinya, terutama agar tingkat kultivasinya tidak semakin merosot ke tingkat yang lebih rendah lagi.
Sret!
Pintu aula medis terbuka, dan Ketua Umum Sekte Gunung Barat, Guo Zhenhai, melangkah masuk dengan wajah yang sangat suram. Langkah kakinya yang berat menciptakan tekanan atmosfer yang sunyi di dalam ruangan.
Guo Zhenhai menatap Mingyue yang sedang frustrasi, lalu menghela napas panjang. "Mingyue, bagaimana kondisimu sekarang?"
"Ketua Sekte!" Mingyue langsung menegakkan tubuhnya, mencoba menyembunyikan kelemahannya. "Luka fisik saya sudah sembuh, tapi... tapi meridian saya masih menolak untuk mengalirkan Qi secara penuh. Saya membutuhkan lebih banyak pil tingkat tinggi untuk menghancurkan sisa petir di dalam tubuh saya!"
Guo Zhenhai menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Mingyue dengan pandangan penuh kekecewaan yang coba ia sembunyikan. Sebagai ketua sekte, ia sangat menyayangkan terluka parahnya Mingyue. Penurunan kultivasi ini tidak hanya mempengaruhi kekuatan pribadi gadis itu, tetapi juga sangat mempengaruhi reputasi sekte, apalagi statusnya saat ini sebagai Putri Suci yang menjadi wajah dan simbol keagungan Sekte Gunung Barat di depan aliansi sekte lainnya.
"Mingyue, sumber daya sekte kita tidak bisa terus-menerus dialokasikan hanya untuk satu orang tanpa adanya hasil yang pasti," ucap Guo Zhenhai dengan nada suara yang dingin dan tegas. "Para tetua lainnya sudah mulai melayangkan protes. Oleh karena itu... aku terpaksa memintamu untuk fokus terhadap pemulihan dirimu terlebih dahulu, dan untuk sementara waktu, lepaskan posisi serta hak istimewamu sebagai Putri Suci sekte."
Mendengar kata melepaskan posisi Putri Suci, mata Lu Mingyue seketika membelalak lebar, dipenuhi oleh rasa tidak terima dan kemarahan yang meluap-luap. "Tidak! Saya menolak, Ketua Sekte! Tidak boleh terjadi!"
Mingyue berdiri dari formasi giok dengan tubuh yang masih sedikit goyah. "Posisi Putri Suci ini adalah hak saya! Saya memenangkannya dengan darah dan keringat! Saya berjanji... saya berjanji akan cepat memulihkan diri dalam waktu singkat, dan saya akan berusaha dengan segala cara untuk menembus kembali ke tingkat kultivasi awal saya sebelum invasi ke Perbukitan Wuji dimulai!"
Guo Zhenhai menatap mata Mingyue yang dipenuhi ambisi dan keputusasaan. Setelah terdiam cukup lama, pria kekar itu akhirnya mendengus pelan, memberikan kelonggaran terakhirnya.
"Baiklah. Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir, Mingyue," ucap Guo Zhenhai sambil berbalik memunggungi gadis itu. "Aku memberikan waktu tepat dalam satu bulan dari sekarang. Kau harus sembuh total seperti sedia kala dan mengembalikan basis kultivasimu ke tingkat Inti Emas. Jika dalam waktu satu bulan kau gagal... maka suka atau tidak suka, posisi Putri Suci-mu harus dilepas secara resmi dan akan digantikan oleh murid jenius dari faksi lain yang sudah mengantre di belakangmu. Pikirkan ini baik-baik."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Guo Zhenhai melangkah keluar dari aula medis, meninggalkan Lu Mingyue sendirian di dalam kegelapan ruangan.
"Li Tianchen... Sekte Pedang Langit..." Mingyue menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara derit yang mengerikan, sepasang matanya menyala kemerahan akibat dendam yang membakar jiwanya. "Kalian yang membuatku menjadi seperti ini! Dalam waktu satu bulan, aku akan memulihkan kekuatanku, dan saat Aliansi Sepuluh Sekte menyerang... aku sendiri yang akan menguliti Ketua Sektemu dan meratakan setiap jengkal tanah Perbukitan Wuji menjadi debu!"
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit