Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Sumur, Barang Curian, dan Teriakan Tuti
Keesokan paginya, Karina tidak pergi ke rumah Pak Hendi.
Ia memilih menunggu di sumur umum dekat rumah tempat laki-laki itu menumpang. Di sana selalu ada orang mengambil air, mencuci ember, atau sekadar bertukar kabar. Pak Hendi tidak akan mudah memutar cerita jika pembicaraan mereka didengar banyak telinga.
Nathan dan Lucas duduk di batu datar tak jauh dari Karina. Perban berbentuk pita masih membalut betis Nathan di balik celananya.
Karina sebenarnya bisa menitipkan mereka kepada tetangga. Namun setelah tuduhan kemarin dan kedatangan Pak Hendi malam-malam, meninggalkan kedua anak tanpa pengawasan terasa lebih berbahaya. Ia juga tak mau pertemuan ini berlangsung diam-diam seperti yang diinginkan laki-laki itu.
"Kita nggak akan masuk rumah Pak Guru," jelas Karina. "Kita bicara di sini. Kalian tetap di dekat Mama, dan kalau merasa nggak aman, bilang."
Nathan memperhatikan jalan menuju rumah tumpangan Pak Hendi. "Kalau dia marah?"
"Marah bukan berarti dia benar."
Jawaban itu membuat Nathan terdiam, seakan ia sedang mencoba memahami aturan baru yang berbeda dari semua aturan di rumah lama.
"Dia bakal datang?" tanya Lucas.
"Kalau mau mengajar, dia harus lewat sini."
Tak lama kemudian, Pak Hendi muncul dengan tas selempang dan kemeja rapi. Langkahnya terhenti ketika melihat Karina. Beberapa perempuan di sumur ikut menoleh.
"Pagi, Pak," sapa Karina.
Pak Hendi memaksakan senyum. "Pagi. Saya sedang buru-buru."
"Saya cuma mengambil barang saya."
Salah seorang perempuan menghentikan timbanya. Pak Hendi melirik ke sekeliling, lalu merendahkan suara.
"Saya sudah bilang, itu urusan pribadi."
"Kalau memang pribadi, kita bisa menyelesaikannya cepat. Gelang, buku tabungan, dan surat-surat saya."
"Saya nggak tahu apa yang Ibu bicarakan."
Karina mengangguk kecil. "Semalam Bapak bilang semua itu masih disimpan baik-baik. Sekarang Bapak nggak tahu?"
Wajah Pak Hendi menegang.
"Mungkin Ibu salah dengar. Yang saya maksud barang pemberian. Kalau sudah diberikan, bukan milik Ibu lagi."
"Semalam Bapak juga menyebutnya barang titipan."
Dua perempuan di dekat sumur mulai berbisik. Pak Hendi menggeser tasnya ke belakang tubuh.
"Ibu ini sedang sakit dan banyak lupa. Jangan membuat cerita yang bukan-bukan."
"Kalau saya lupa, Bapak bisa menjelaskan kenapa buku tabungan atas nama saya berada di tangan Bapak."
"Karena Ibu sendiri yang meminta bantuan!"
Suara Pak Hendi meninggi. Orang-orang yang tadinya berpura-pura sibuk kini terang-terangan memperhatikan.
Karina tetap tenang. "Bantuan apa yang memberi Bapak hak menahan rekening orang lain?"
"Saya mengurus banyak hal untuk kalian. Semua orang di sini tahu seperti apa sifat Ibu sebelum sakit. Galak, suka memaki, nggak ada yang mau mendekat. Kalau saya nggak membantu, siapa?"
Ancaman itu dibungkus seperti keluhan. Pak Hendi sedang mengingatkan bahwa reputasi lama Karina bisa dipakai untuk membuat siapa pun meragukannya.
Ia bahkan menyebut dua keluarga yang pernah bertengkar dengan Karina lama, seolah banyaknya musuh otomatis membuktikan barang itu boleh ia simpan. Beberapa warga saling pandang. Mereka mungkin tidak menyukai Karina, tetapi buku tabungan dengan nama orang lain tetap bukan milik seorang guru.
"Sifat buruk saya bukan surat pemindahan hak milik," jawab Karina.
Salah satu perempuan menahan tawa. Pak Hendi menatapnya tajam, membuat perempuan itu segera menunduk.
Karina meraih tali timba. "Saya minta sekali lagi. Kembalikan barang saya."
Ia menurunkan ember ke sumur, membiarkannya terisi, kemudian menarik tali. Ember penuh terasa lebih ringan daripada dugaannya. Ketika ia mengangkatnya ke bibir sumur, bagian bawah ember tersangkut.
Karina menarik sedikit lebih kuat.
Krak.
Salah satu batu pipih di tepi sumur retak. Bukan hancur, hanya sebuah garis panjang yang menjalar dari tempat tali bergesekan hingga sudut luar.
Karina menatap tangannya sendiri. "Maaf. Saya belum terbiasa mengukur tenaga."
Tak seorang pun menjawab.
Pak Hendi memandangi retakan itu, lalu cepat-cepat membuka tas selempangnya. Dari saku dalam ia mengeluarkan bungkusan kain kecil dan melemparkannya ke batu datar.
Gelang emas bergulir keluar. Sebuah buku tabungan dan beberapa lembar surat terlipat jatuh di sampingnya.
"Ambil," katanya. "Saya juga nggak butuh barang begitu."
Karina memeriksa nama pada buku tabungan, membuka halaman pertama, lalu menghitung surat-suratnya. Semuanya memakai nama Karina Tanaya. Gelang itu juga memicu potongan ingatan yang sama seperti semalam.
"Terima kasih."
Ucapan sopan itu justru membuat wajah Pak Hendi semakin gelap.
"Mama."
Suara Nathan terdengar dari belakang.
Karina menoleh. Anak itu sudah berdiri. Jemarinya saling meremas, tetapi ia memaksa dirinya berjalan mendekat.
"Aku pernah lihat buku itu," katanya.
Pak Hendi langsung menyela, "Anak kecil jangan ikut campur."
Karina bergeser, menempatkan Nathan di sisinya. "Biarkan dia bicara."
Nathan menelan ludah. "Waktu dulu, aku lihat Mama kasih buku itu ke Pak Guru. Setelah Pak Guru pergi, Mama cari uang di lemari, terus marah karena nggak ada."
Karina menunggu tanpa mendesak.
"Aku mau bilang ke Papa," lanjut Nathan. "Tapi... waktu aku pernah cerita hal lain, Lucas dihukum karena katanya aku kebanyakan bicara. Jadi aku diam. Aku takut Lucas kena lagi."
Lucas meraih tangan kakaknya.
Nathan menunduk. "Maaf."
Satu kata itu membuat dada Karina terasa berat. Anak ini menyimpan kebenaran bukan untuk mendapatkan keuntungan, melainkan karena pernah diajari bahwa kejujuran bisa melukai adiknya.
Karina berjongkok agar mata mereka sejajar.
"Terima kasih sudah cerita," katanya. "Kamu nggak salah karena dulu takut. Mulai sekarang, kalau ada sesuatu, kamu boleh bilang. Mama akan dengar dulu."
"Lucas nggak dihukum?"
"Nggak. Kamu juga nggak."
Bahu Nathan turun. Ia mengangguk kecil, lalu menggenggam tangan Lucas lebih erat.
Pak Hendi mendecakkan lidah. "Drama keluarga pagi-pagi. Saya pergi."
Sebelum berbalik, ia menatap Karina dan Nathan dengan sorot penuh kebencian. Tidak ada lagi senyum guru ramah. Hanya wajah seorang laki-laki yang kehilangan barang, kendali, dan muka di hadapan warga.
Karina membalas tatapannya tanpa gentar.
Pak Hendi pergi. Orang-orang di sumur mulai berbicara lebih keras setelah punggungnya menjauh. Seorang ibu meminta Karina memeriksa saldo rekening secepatnya. Yang lain berkata surat-surat itu sebaiknya disimpan di tempat berbeda.
Karina membungkus kembali semua barang.
Saat ia hendak mengajak anak-anak pulang, terdengar teriakan dari ujung jalan.
"Tolong!"
Suara perempuan muda, parau dan pecah oleh tangis.
Langkah kaki berlari mendekat, tidak teratur. Seorang gadis dengan pakaian robek dan lebam di wajah muncul dari tikungan. Rambutnya kusut. Satu tangannya memegangi sisi tubuh, tangan lainnya mencengkeram sebilah golok kayu berkarat.
Orang-orang di sumur mundur.
Gadis itu nyaris jatuh dua kali sebelum mencapai Karina. Tatapannya menyapu wajah-wajah di sana, lalu berhenti seolah menemukan satu-satunya tempat yang mungkin memberinya kesempatan.
Ia menjatuhkan golok ke tanah dan berlutut di depan Karina.
"Tolong saya, Bu..."