"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Pesta Perpisahan di Gedung Takdir
Malam berikutnya, Gedung Takdir menyala seperti menara emas di tengah Kota Awan.
Di lantai empat puluh delapan, aula perjamuan PT Takdir Nusantara Group dipenuhi cahaya hangat, rangkaian bunga putih, dan deretan meja bundar dengan taplak gelap. Para direktur anak perusahaan, kepala divisi, konsultan hukum, dan beberapa mitra penting hadir dengan batik terbaik mereka. Tidak ada musik keras. Tidak ada alkohol di meja. Hanya teh, kopi, jus, dan makanan fine dining yang disusun seperti acara korporat tingkat tinggi.
Nama acara di layar besar terdengar sederhana:
Pelepasan Internal dan Rapat Apresiasi Strategis.
Orang luar mengira ini acara biasa. Sebagian karyawan mengira ini perpisahan kecil untuk "konsultan lama" yang selama ini membantu beberapa proyek internal. Hanya orang-orang inti yang tahu bahwa malam itu adalah tanda berakhirnya satu fase penyamaran Arya.
Arya berdiri dekat jendela kaca, mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak ada jam mewah. Tidak ada pin keluarga. Tidak ada pengawal yang menempel di bahunya.
Tetapi semua orang penting di ruangan itu menjaga jarak hormat.
Dewi Suryanegara berdiri di sampingnya, gaun merah gelapnya membuat wibawanya semakin tajam. Ia memegang segelas teh melati, tetapi matanya memindai aula seperti komandan yang menghitung titik tembak.
"SUV semalam sudah pergi?" tanya Dewi.
"Pergi sebelum subuh."
"Mereka melapor ke siapa?"
"Belum pasti." Arya menatap pantulan kota di kaca. "Tapi malam ini mereka akan mendapat bahan yang cukup."
Dewi tersenyum. "Kamu benar-benar ingin mereka melihatmu dipermalukan dulu?"
"Musuh yang merasa aman biasanya bicara lebih banyak."
"Dan musuh yang terlalu banyak bicara biasanya mati lebih cepat."
Arya meliriknya. "Kakak terlalu dramatis."
"Aku turun dari helikopter ke gang kontrakan. Tentu saja aku dramatis."
Sebelum Arya sempat membalas, Eko, kepala keamanan gedung malam itu, mendekat dan menunduk.
"Pak Arya, ada tamu tidak terdaftar di lobi VIP."
Dewi tidak menoleh. "Nama?"
Eko ragu sepersekian detik. "Revan Hadinata."
Senyum Dewi menghilang.
Arya justru tampak tenang. "Dia datang dengan siapa?"
"Enam orang. Satu di antaranya bernama Dodi. Data awal: purnawirawan Kopassus, sekarang pengawal pribadi Keluarga Hadinata."
Dewi mendengus. "Dia membawa mantan Kopassus untuk menekanmu? Lucu."
"Biarkan masuk," kata Arya.
Eko menatap Dewi, lalu Arya. "Pak?"
"Biarkan masuk. Tapi pastikan jalur evakuasi bersih dan kamera internal menyala."
"Siap."
Tidak sampai lima menit, pintu aula terbuka.
Revan Hadinata masuk seolah ruangan itu miliknya.
Ia mengenakan jas abu-abu muda, sepatu Italia mengilap, dan senyum yang terlalu percaya diri. Di belakangnya, lima pengawal berbadan besar berjalan menyebar. Paling depan adalah Dodi, pria berusia akhir tiga puluhan dengan rambut cepak, leher tebal, dan mata yang tidak banyak bergerak. Berbeda dari pengawal lain yang memamerkan otot, Dodi justru tenang. Tangan kirinya kosong, posisi kakinya ringan, bahunya tidak kaku.
Arya mengenali tipe itu.
Orang yang pernah dilatih untuk mematahkan tubuh manusia tanpa perlu terlihat marah.
Percakapan di aula perlahan berhenti.
Revan bertepuk tangan pelan. "Wah. Pesta bagus. Aku kira acara internal Takdir pasti sulit dimasuki. Ternyata tidak juga."
Dewi melangkah maju, tetapi Arya mengangkat tangan kecil. Ia ingin mendengar.
Revan berjalan melewati meja, mengambil segelas jus dari nampan pelayan tanpa izin, lalu menatap Arya dari atas ke bawah.
"Arya. Aku hampir tidak mengenalimu. Kemarin masih menantu miskin yang diusir dari rumah mertua, malam ini sudah pakai jas di Gedung Takdir." Ia tertawa. "Pinjam jas siapa?"
Beberapa orang di aula menahan napas.
Seorang direktur keuangan tua hampir berdiri, tetapi Pak Satria yang duduk di baris depan hanya menggeleng sangat pelan. Semua orang inti langsung menahan diri.
Arya meletakkan gelas tehnya di meja.
"Kamu datang untuk bicara soal jas?"
"Aku datang untuk mengucapkan selamat." Revan tersenyum lebih lebar. "Selamat sudah bebas dari Sinta. Perempuan sekelas dia memang pantas bersama laki-laki yang bisa memberi masa depan, bukan lelaki yang bertahun-tahun numpang hidup."
Nama Sinta membuat beberapa tamu saling pandang.
Dewi menatap Revan seperti menatap noda di lantai.
Revan melanjutkan, "Tenang. Aku bukan orang kejam. Kalau kamu butuh pekerjaan setelah ini, Keluarga Hadinata bisa memberi tempat. Satpam gudang, mungkin? Dengan pengalamanmu jadi pembantu di rumah Permata, kamu pasti kuat berdiri lama."
Tawa kecil terdengar dari salah satu pengawalnya.
Dodi tidak tertawa.
Mata Arya justru mengarah pada Dodi. "Kamu purnawirawan Kopassus?"
Dodi sedikit menyipitkan mata. "Pernah bertugas."
"Unit?"
"Itu bukan urusanmu."
Arya mengangguk. "Benar."
Revan merasa diabaikan. Wajahnya mengeras. "Hei, aku yang bicara denganmu."
"Aku dengar."
"Kalau dengar, jawab dengan sopan." Revan maju satu langkah. "Kamu mungkin bisa menipu beberapa orang Takdir supaya menganggapmu penting, tapi di mataku kamu tetap mantan suami gagal yang dibuang keluarga istri."
Arya menatapnya. "Kamu selesai?"
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Revan tertawa, tetapi nadanya pecah. "Sombong juga. Apa karena ada Dewi Suryanegara di sini? Kamu pikir berdiri dekat perempuan kuat bisa membuatmu ikut kuat?"
Dewi meletakkan gelas tehnya.
Suara kaca menyentuh meja terdengar kecil, tetapi beberapa direktur langsung menunduk. Mereka tahu ekspresi itu. Jika Dewi bergerak, biasanya ada orang yang kehilangan jabatan sebelum malam selesai.
Namun Arya tetap lebih dulu bicara.
"Revan, pulanglah."
"Takut?"
"Bosan."
Wajah Revan memerah.
Ia menoleh pada Dodi. "Beri dia pelajaran. Jangan terlalu parah. Aku masih ingin dia bisa merangkak keluar dari sini."
Dodi tidak langsung bergerak. Ia menatap Arya sekali lagi. Ada sesuatu di mata pria itu, semacam keraguan kecil yang muncul dari insting orang yang pernah melewati latihan keras.
"Tuan Revan," katanya pelan, "ini acara perusahaan besar. Mungkin sebaiknya..."
"Aku membayarmu untuk berpikir atau bergerak?"
Kalimat itu membuat wajah Dodi mengeras.
Ia maju.
Eko dan beberapa keamanan Takdir refleks bergerak, tetapi Arya mengangkat tangan. "Tidak perlu."
Dodi berhenti dua meter di depan Arya. "Maaf."
Arya mengangguk. "Kamu masih punya sopan santun. Sayang majikanmu tidak."
Serangan Dodi datang cepat.
Tidak ada teriakan. Tidak ada gerakan berlebihan. Ia masuk dari sisi kanan, tangan kiri mengalihkan perhatian, bahu memotong jarak, lutut siap mengunci kaki Arya. Untuk orang biasa, gerakan itu terlalu cepat untuk dibaca. Untuk pengawal profesional, itu bersih dan efisien.
Tetapi Arya sudah bergerak sebelum serangan selesai.
Ia mundur setengah langkah, memutar pergelangan tangan Dodi dari sudut yang sangat kecil, lalu menekan titik siku sambil menggeser kaki ke belakang lutut lawan.
Tubuh Dodi kehilangan poros.
Dalam satu tarikan napas, pria itu jatuh berlutut.
BUK.
Lututnya menghantam karpet tebal. Tangan kanannya terkunci di belakang punggung, lehernya tertahan oleh lengan Arya. Tidak patah. Tidak berdarah. Tetapi siapa pun yang paham pertarungan tahu, jika Arya menambah tekanan sedikit saja, bahu Dodi akan lepas.
Seluruh aula membeku.
Revan tidak berkedip.
Lima pengawalnya yang lain langsung mundur setengah langkah, wajah mereka berubah pucat.
Dodi sendiri menahan napas. Keringat dingin muncul di dahinya. Ia mencoba menggerakkan kaki, lalu berhenti. Tidak ada celah.
Arya menunduk dekat telinganya. "Kamu pernah dilatih baik. Jangan membuang sisa hidupmu untuk anak manja."
Ia melepaskan kuncian.
Dodi jatuh satu tangan ke karpet, terengah, lalu perlahan berdiri. Kali ini ia tidak lagi menatap Arya seperti target. Ia menatapnya seperti seorang prajurit melihat instruktur yang tidak pernah tercatat di papan nama.
"Siapa Anda?" bisik Dodi.
Arya tidak menjawab.
Dewi melangkah maju.
Suara hak sepatunya di lantai membuat semua orang sadar kembali bahwa aula itu masih penuh manusia.
"Revan Hadinata," kata Dewi, suaranya dingin dan jelas. "Kamu masuk tanpa undangan, menghina tamu kehormatan Takdir, lalu memerintahkan pengawal menyerang di acara internal kami."
Revan menelan ludah, tetapi gengsinya memaksanya tetap berdiri tegak. "Nona Dewi, jangan dibesar-besarkan. Ini cuma salah paham."
"Salah paham?" Dewi tersenyum. "Kamu menyebut adikku satpam gudang."
Kata itu jatuh seperti petir.
Adikku.
Beberapa direktur muda yang belum tahu seluruh kebenaran langsung saling pandang. Para kepala divisi yang sebelumnya hanya mendengar rumor kini menahan napas. Revan membeku.
"A-adik?" ulangnya.
Dewi mendekat satu langkah. "Kamu tahu orang yang baru saja kamu hina itu bermarga apa?"
Revan memandang Arya, lalu Dewi, lalu kembali ke Arya.
Wajahnya mulai kehilangan warna.
Dewi tidak membuka seluruh kartu. Ia tidak perlu. Nama Suryanegara sendiri sudah cukup membuat udara di ruangan berubah berat.
"Arya," kata Dewi perlahan, "adalah orang yang bahkan ayahmu seharusnya berpikir dua kali sebelum menyebut namanya dengan nada tinggi."
Gelas jus di tangan Revan hampir terlepas.
Dodi menunduk, wajahnya kini benar-benar serius. "Tuan Revan, kita harus pergi."
"Diam," bisik Revan, tetapi suaranya lemah.
Arya mengambil kembali gelas tehnya, seolah kejadian tadi hanya gangguan kecil.
"Pulanglah, Revan. Malam ini aku masih memberi wajah untuk Keluarga Hadinata."
Revan ingin membalas, tetapi kata-kata tidak keluar. Ia melihat sekeliling. Tidak ada yang tertawa lagi. Tidak ada yang membelanya. Bahkan para pengawal yang ia bawa kini lebih sibuk menghindari mata Arya.
Untuk pertama kalinya sejak masuk aula, Revan terlihat seperti tamu tak diundang.
Ia berbalik dengan kaku.
Dodi berjalan di belakangnya, tetapi sebelum keluar, pria itu berhenti sejenak dan menunduk pendek ke arah Arya.
Gestur kecil itu dilihat semua orang.
Wajah Revan semakin buruk.
Pintu aula tertutup.
Baru setelah itu napas banyak orang kembali terdengar. Dewi menoleh kepada seluruh hadirin.
"Acara dilanjutkan," katanya. "Dan rekaman kamera internal malam ini disimpan aman. Jika ada yang bocor keluar tanpa izin, saya akan tahu."
Para direktur serempak mengangguk.
Arya memandang jendela. Di kaca, ia melihat pantulan wajahnya sendiri: tenang, basah oleh sisa hujan yang belum sepenuhnya hilang, tetapi matanya sudah tidak lagi milik menantu miskin dari rumah Permata.
Di parkiran basement, Revan masuk ke mobil dengan wajah gelap.
Ia menghubungi ayahnya, Suharto Hadinata, dengan tangan gemetar.
"Bapak..." Suaranya parau. "Arya itu... mungkin bukan orang biasa."
Di aula, ponsel Arya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor internal Takdir.
PT Takdir Nusantara Group siap mengumumkan pemutusan seluruh kerja sama dengan Keluarga Permata. Perintah eksekusi?
Arya menatap layar itu beberapa detik.
Lalu ia mengetik satu kata.
Ya.