Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
"Alasan yang sangat amat buruk, Nyonya Raymond," bisik Brian rendah, suaranya bergema halus di celah sempit antara wajah mereka yang kian terkikis jarak.
Tangan Brian yang kokoh terulur, menjangkau pinggang Kyra yang terbalut pakaian halus dan merengkuhnya tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap dan bertenaga, ia menarik tubuh Kyra keluar dari bawah meja. Kyra tersentak kecil saat Brian mengangkatnya ringan lalu mendudukkannya tepat di atas tepi meja kerja mahoni yang dingin.
"Brian, apa yang kau..." Kyra mencoba protes, namun napasnya tercekat saat Brian merangsek maju dan berdiri tepat di antara kedua kakinya, mengurung pergerakan gadis itu sepenuhnya.
"Kau merambat berkas-berkas pribadi milikku, berpura-pura merapikan meja, lalu meringkuk di kolong meja seperti pencuri kecil," Brian menatapnya lekat-lekat, matanya berkilat penuh dominasi yang pekat.
"Di dunia bisnis, tindakanmu itu disebut spionase dan hukuman untuk seorang penyusup tidak pernah ringan," sambungnya.
Kyra menelan ludahnya, dadanya naik turun tak beraturan menahan sensasi mendebarkan yang merayapi sekujur tubuhnya.
"Aku... aku tidak berniat melakukan. A-aku...," Kyra tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Aku apa?" tanya Brian, ia sengaja memancing Kyra agar mengatakan yang sebenarnya padanya.
"A-aku ha-hanya ingin mencari cara untuk menjatuhkan keluarga Andreas! Aku ingin mereka membayar semua penderitaanku selama ini!" Kyra akhirnya, menyuarakan kejujuran yang didorong oleh keputusasaan dan gengsi.
Mendengar pengakuan jujur itu, seringai di bibir Brian tidak memudar, justru kian dalam. Jemari hangat Brian terangkat, mengelus rahang Kyra dengan sangat perlahan sebelum jemarinya menyusup ke belakang tengkuk gadis itu.
"Memangnya apa yang sudah mereka lakukan sampai kau ingin balas dendam?" tanya Brian.
Dengan ragu, Kyra pun menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya. Tentu saja ia tidak menceritakan tentang insiden pembunuh*n, ia hanya menceritakan tentang nasibnya yang dibuang keluarganya.
"Jadi begitu, lalu sekarang kau ingin membalaskan dendamu," gumam Brian.
"Iya, aku tidak terima mereka hidup bahagia. Sedangkan aku selama 28 tahun harus hidup menderita," balas Kyra.
"Anak yang pintar," gumam Brian penuh ketenangan.
"Tapi kau salah arah, Kyra. Kau tidak perlu merangkak di bawah mejaku untuk mencari kelemahan mereka, kau cukup minta padaku," ujar Brian.
Kyra terpaku, matanya membelalak pelan. "Minta padamu?" tanyanya.
"Aku suamimu segala kekuasaan, hukum dan pengaruh yang kumiliki berada di bawah kendalimu jika kau tahu cara memintanya dengan benar. Jadi, kenapa kau harus bersusah payah mencari kerikil, jika kau bisa memerintahkan badai untuk menghancurkan rumah mereka?" bisik Brian tajam, mendongakkan wajah Kyra agar mata mereka beradu sempurna.
Kalimat itu menghantam kesadaran Kyra begitu telak. Brian tidak sedang marah karena kepergok, pria itu justru sedang menyodorkan seluruh taring kekuasaannya untuk ia gunakan.
Belum sempat Kyra merangkai kata-kata balasan, Brian sudah menundukkan kepala. Bibirnya menyambar bibir Kyra sekali lagi, kali ini tanpa ada sembunyi-sembunyi di bawah meja. Ci*man itu dalam, sarat menuntut dan menenggelamkan seluruh pertahanan mental Kyra dalam hitungan detik. Kyra meremas bahu tegap Brian yang tak terlapisi kain, merasakan kepatuhan dan kepasrahan asing yang perlahan merayapi benaknya.
Saat Brian akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, deru napas keduanya saling berkejaran di udara.
"Nanti malam, aku ada jamuan makan malam privat dengan gubernur dan jajaran petinggi perbankan. Keluarga Andreas dipastikan akan kesana untuk menjilat ke berbagai pihak, dan mereka nanti akan berada di luar karena bukan tamu kehormatan," bisik Brian seraya merapikan ikatan rambut Kyra yang sedikit berantakan.
"Kau mau ikut? Nanti kau tunjukkan pada mereka siapa yang memegang kendali sekarang," ajak Brian.
"Boleh?" tanya Kyra.
"Tentu saja boleh," jawab Brian.
"Kalau gitu, aku siapin bajuku dulu," ucap Kyra.
Dengan santai, Kyra berdiri dan keluar dari ruang kerja sang suami, Brian yang melihat pun hanya tersenyum.
"Lihatlah keluarganya Andreas, anak yang kalian buang dan kalian anggap sebagai pembawa sial, sekarang yang akan menghancurkan masa depan keluarga kalian," gumam Brian dengan senyum penuh misteri.
.
Malam harinya, area ballroom privat di Hotel Grand Hyatt Jakarta dipenuhi oleh jajaran elite papan atas. Kyra melangkah berdampingan dengan Brian, mengenakan gaun malam emerald green buatan perancang busana Paris yang membalut tubuhnya dengan sangat indah.
Perhiasan zamrud yang melingkar di leher Kyra memancarkan kilau mewah dan menegaskan posisinya yang tak tersentuh sebagai Nyonya Raymond muda.
Di sisi lain barikade pengaman hotel, kenyataan pahit menghantam keluarga Andreas. Papa Freddy dan Mama Dania berdiri di balik pembatas kaca luar bersama beberapa pengawal hotel yang menjaga ketat pintu masuk, mereka telah menghabiskan waktu bertiga jam berdiri di sana dan mengabaikan rasa malu dan tatapan sinis dari orang-orang yang lalu lalang, demi bisa menyapa satu saja pejabat yang bisa menyelamatkan aset mereka.
"Lihat itu... Papa, lihat!" bisik Mama Dania dengan suara bergetar dan mata membelalak lebar.
Melalui dinding kaca bening, mereka melihat Kyra berjalan anggun di lengan Brian Sebastian Raymond. Beberapa petinggi bank dan menteri yang biasanya sangat sulit ditemui oleh Papa Freddy, kini justru membungkuk hormat dan menyapa Kyra dengan sebutan Nyonya Raymond penuh kehangatan.
"Dia... dia benar-benar menjadi penguasa, Ma. Dia sangat berbeda saat dia datang ke rumah kita," bisik Papa Freddy parau.
Kaki Papa Freddy mendadak lemas, anak yang dulu ia buang ke desa, anak yang ia beri makan roti tawar kering di dalam gudang gelap, kini berdiri di puncak tertinggi hierarki sosial yang bahkan tak sanggup dijangkau oleh keluarga Andreas sepanjang hidup mereka.
Saat langkah Brian dan Kyra melewati lorong kaca menuju area VIP, mata Kyra tak sengaja melirik ke arah luar.
Pandangannya berbenturan langsung dengan mata Papa Freddy dan Mama Dania yang menatapnya penuh memohon dari balik kaca. Untuk sejenak, Kyra menghentikan langkahnya.
Di bawah sorot lampu kristal yang berkilauan, Kyra tidak menunjukkan raut dendam yang meledak-ledak. Ia hanya menatap kedua orang tua kandungnya itu dengan tatapan dingin, datar dan asing, seolah sedang melihat dua sosok asing yang sama sekali tak berarti dalam hidupnya.
Kyra menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, lalu memalingkan wajahnya dan kembali melangkah berdampingan dengan Brian tanpa menoleh lagi.
Di balik kaca, Mama Dania menutupi wajahnya dan terisak histeris saat menyadari satu hal yaitu Kyra tidak lagi membenci mereka dengan amarah, melainkan telah menghapus keberadaan mereka sepenuhnya. Dan di dunia kaum elite, diabaikan oleh keluarga Raymond adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧