Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Sebenarnya
Sejak pertemuan di restoran itu. Daniel selalu di hubungi oleh opanya. Daniel juga tahu bahwa om Christian adalah papanya dari opanya sendiri.
Hari ini dengan alasan dia akan berlatih renang. Daniel janjian bertemu dengan Christian papanya. Tian yang berada di Jakarta ketika menerima telepon itu langsung bergegas ke Bandung dengan menggunakan kereta cepat. Sikap terburu - buru suaminya di perhatikan oleh Lisa. Dia mau mengejar namun Tian sudah lebih dahulu meninggalkan halaman perusahaan.
"Kemana kamu??"
"Bandung??"
"Urusan apa??"
Christian sudah mematikan saluran telepon itu. Lisa yang di perlakukan seperti itu sangat marah, seketika dia berteriak histeris dan di lihat oleh seluruh karyawan Wijaya Grup yang berada di lobi itu.
"Benar om papa kandungku???" Tian kaget.
"Benar sayang."
"Kenapa baru sekarang datang menjumpai aku."
"Maafkan papa Daniel. Ada hal yang tidak bisa Daniel tahu."
"Daniel sudah besar. Aku benci kamu."
Luka dalam tergores di hati Daniel. Dia sangat membenci papanya. Namun tekatnya di usia sekarang dengan kondisi tubuhnya, dia mempunyai keinginan berada di tengah keluarga besarnya. Keluarga papanya. Maka ajakan opanya untuk tinggal di Jakarta di iyakan oleh Daniel Caleb.
Hari ini juga, papi Tama sudah kembali ke Bandung. Sedang menunggu hasil dari sekolah perwiranya. Daniel sedang bermain dengan Ade perempuannya Elina Naomi Pratama bayi yang sudah berumur tiga tahun ini.
"Papi, mami Daniel memohon ijin untuk tinggal bersama papanya opa dan oma Wijaya."
"Apa???" Calista melihat ke arah Daniel, dia tidak menyangka di usia tiga belas tahun ini mau beranjak empat belas tahun dia harus menerima kenyataan bahwa Daniel anak yang dia perjuangkan harus mengatakan hal ini.
"Mami.... Sayang tenang." Tama harus menenangkan istrinya yang sudah menangis. Kemudian dia menatap ke arah Daniel.
"Papi mau berbicara dengan Daniel, bisa??"
"Bisa papi."
Tama sudah meminta susternya Eliana anak gadis mereka untuk membawa anak berusia tiga tahun ini ke kamarnya. Sedangkan Calista sudah berada di kamarnya.
"Daniel sudah tahu siapa papa kandung Daniel???"
"Sudah papi."
"Papi, mohon maaf seharusnya papi yang menceritakan semua ini kepada Daniel."
"Daniel hanya mau berkunjung ke keluarga Daniel."
"Papi tidak melarang Daniel, kapan pun Daniel mau balik. Pintu hati papi terbuka lebar." Air mata Daniel mengalir membasahi pipinya. Ezra Pratama papinya menghapus air mata itu, kemudian memeluk anak pertamanya.
"Maafkan kaka papi, sudah membuat papi dan mami kecewa."
"Papi saran, kaka harus meminta ijin kepada mami. Karena mami lah yang merawat kamu selama ini."
Daniel masuk ke kamar orangtuanya. Dia melihat maminya sedang terbaring di atas tempat tidur mereka, Daniel langsung tidur di samping maminya dan memeluk maminya dari belakang.
"Kaka sayang mami. Kaka juga sangat sayang papi dan ade. Ijinkan kaka bersama opa dan oma."
Rencana kedatangan Daniel Caleb cucu pertama tuan Wijaya, sedikit membuat Lisa menjadi takut. Sekali lagi Lisa mendengar pembicaraan mertuanya dengan asistennya. Ketika melewati ruangan mertuanya waktu jam pulang kantor.
"Lisa, siapkan satu kamar ??"
"Apa kita akan kedatangan tamu??"
"Iya, kalian semua harus tahu. Bahwa besok cucuku yang pertama akan tinggal di rumah ini."
"Maksud papa Daniel Caleb??"
"Iya. Saya berencana dia yang akan mewarisi kekayaan Wijaya."
"Aku setuju pa, sangat setuju. Melany menyahuti pembicaraan papanya.
"Pa, bagaimana dengan Liam pa. Bukankah dia salah satu pewaris tunggal kerajaan wijaya."
"Daniel bukan anak yang serakah. Lagian Liam masih sangat kecil. Jangan lupa, kamu Lisa siapkan kamar buat cucuku."
"Siap pa."
"Tian, beli apa yang menjadi kesukaan Daniel dan dekorasi kamarnya agar dia betah. Aku mau dia sekolah di Jakarta."
"Papa bisa kita bicara." Christian langsung mengikuti papanya ke ruang kerjanya. Melany sangat senang sekali melihat raut wajah putus asa Lisa.
"Papa kenapa membuat keputusan tidak melibatkan aku??"
"Daniel tidak menolak ajakan ku??"
"Pa, tapi Calista maminya. Aku sudah katakan jangan sakiti dia dengan keputusan papa."
Perdebatan itu tidak membawakan hasil yang baik. Hari ini Calista dan Ezra Pratama yang mengantarkan Daniel ke keluarganya. Mereka berangkat dari Bandung menuju ke Jakarta. Dan sekarang mereka ada di hotel bintang lima.
Pukul lima sore, Tama dan Calista bersama Elina datang ke kediaman Wijaya hanya untuk mengantar cucu pertama dari keluarga Wijaya. Ezra Pratama begitu kuat dia mengandengan istrinya yang mengendong Elina dan juga Daniel masuk ke rumah besar ini, yang bagaikan sebuah istana. Mereka di sambut oleh Tuan dan Nyonya Wijaya, Melany, Christian, Lisa dan juga Liam.
Keluarga ini di undang langsung oleh tuan Wijaya waktu mendengar kabar bahwa mereka yang akan mengantar Daniel ke Jakarta.
"Saya bersama istri saya kesini, hanya untuk mengantar Daniel putra kami untuk bertemu dengan opa, oma, papanya , tante serta adiknya."
"Boleh kah Daniel tinggal bersama kami."
"Boleh pak." Tama melihat ke arah Daniel.
"Daniel, kapan pun kamu mau pulang ke papi dan mami. Pintu hati kami terbuka sayang."
"Terima kasih papi. Daniel tetap sayang papi dan mami."
Selesai makan malam, Calista dan Tama pamit pulang. Setelah Calista memberikan beberapa menu makanan yang biasa di makan olehnya mengingat penyakitnya.
"Mama janji, akan memperhatikan setiap makanan yang di makan oleh Daniel."
"Terima kasih mama."
Karena Elina putri mereka sudah tidur. Akhirnya Tama dan Calista pamit pulang. Christian yang melihat bagaimana Calista di perlakukan seperti seorang ratu membuatnya menyesal telah menyia - siakan Calista. Daniel memeluk mami dan papinya sangat erat.
"Kapan pun kaka mau pulang, mami menanti. Mami love kaka."
"I love you too mami. Papi tolong jaga cintanya kaka ya. Mami dan ade." Melany tantenya Daniel terharu melihat sikap manis dari keponakannya. Sampai air mata bahagia menetes di pipinya.
"Iya sayang." Daniel memeluk Tama sangat erat dan menciumnya. Ada rasa cemburu sedikit di hati Christian. Karena melihat keakraban anak kandungnya dengan papa sambungnya.
Meskipun Calista menangis, namun dia tidak boleh egosi. Keputusannya ini bagus untuk Daniel Caleb anaknya.
"Sayang .... Mas tahu ini berat. Tetapi kamu harus percaya bahwa Daniel akan baik - baik saja. Dia berada di rumah keluarganya."
"Mas aku takut Liza akan menyakiti hati Daniel."
"Christian seharusnya tidak bodoh. Tetapi mas yakin oma dan opa juga tantenya akan melindunginya."
Melany yang mengantar keponakannya di kamar yang sudah di atur oleh Lisa. Ada Liam juga ikut serta. Sementara Lisa sedang berada di ruang kerja papa mertuanya. Keluar dari ruang kerja mertuanya Lisa langsung mukanya cemberut. Dia tidak menyangka bahwa dia di suruh untuk mengurus secara hukum menempatan nama Wijaya dibelakang nama Daniel.