NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: "Suaramu di Frekuensi"

"Iya," jawab Laras. "Aku marah karena keluhannya nggak masuk akal."

Di ujung telepon, Arkan tertawa pelan. Laras belum pernah mendengar suara itu sedekat ini. Bukan tawa sopan di depan orang lain, melainkan embusan singkat yang hangat di telinganya.

"Tidur," kata Arkan. "Besok kamu kerja."

"Kamu juga."

"Aku baru briefing siang."

"Tetap harus istirahat. Selamat malam."

Setelah panggilan berakhir, Laras memandangi layar yang sudah gelap. Satu kalimat sederhana tadi terasa seperti pintu kecil yang terbuka di antara mereka.

Keesokan harinya, pintu itu tetap terbuka melalui sebuah pesan.

Arkan:

Delay. Besok baru balik.

Laras membaca pesan tersebut di ruang istirahat JATSC. Tidak ada penjelasan panjang, tetapi kali ini ia langsung membalas.

Laras:

Baik. Kabari kalau jadwal berubah lagi.

Arkan:

Iya.

"Senyumnya disimpan dulu. Lima menit lagi masuk posisi," kata Rosa dari belakangnya.

Laras cepat-cepat mengunci layar. "Aku nggak senyum."

"Tentu. Aku juga nggak lihat nama suamimu."

Rosa adalah satu-satunya rekan dekat di unit yang tahu pernikahan itu. Ia menepati janji untuk tidak menyebarkannya, meski sesekali masih menggoda Laras saat tidak ada orang lain.

Bagas masuk membawa lembar pembagian posisi. "Laras, Rosa, kalian pegang sektor 03. Setelah sif ada makan bersama tim. Jangan langsung hilang."

"Siap, Pak," jawab keduanya.

Sebelum briefing berakhir, Bagas menambahkan bahwa Laras akan mulai mengamati sesi pendampingan trainee minggu depan. Ia menyampaikan hal itu tanpa pujian, tetapi sudah menandai bahan evaluasi khusus untuk Laras.

Ketika Bagas pergi, Rosa menyenggol lengannya.

"Pak Bagas perhatian sekali."

"Itu kerjaannya."

"Umurnya tiga puluh dua atau tiga puluh tiga, belum menikah, rapi, karier bagus. Banyak yang suka tipe begitu."

Laras memasang headset. "Kamu tertarik?"

"Aku sedang membahas kamu."

"Aku sudah menikah."

"Dia belum tahu."

Laras menoleh. Rosa sudah mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Aku nggak bilang ada apa-apa," katanya. "Cuma mengamati."

"Kalau begitu amati radar."

Begitu mereka mengambil alih sektor 03, percakapan pribadi berhenti. Traffic meningkat dalam dua puluh menit pertama. Laras memberi heading untuk memisahkan dua kedatangan, menurunkan pesawat berikutnya bertahap, lalu meminta konfirmasi kecepatan dari pesawat yang mengejar dari belakang.

"Nusantara 771, turun ke FL150, kurangi kecepatan menjadi 250 knot."

"Turun ke FL150, kecepatan 250 knot, Nusantara 771."

Rosa memantau strip dan koordinasi di sampingnya. Bagas berdiri beberapa langkah di belakang, mengamati tanpa mengganggu.

Sebuah pesawat dari Denpasar masuk ke batas sektor.

"Jakarta Approach, Nusantara 8802, berada di FL170, informasi Kilo."

Laras mengenali suara Arkan sebelum callsign selesai diucapkan. Dadanya menghangat, tetapi suaranya tidak berubah.

"Nusantara 8802, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke FL130, belok kiri heading 280."

"Turun ke FL130, belok kiri heading 280, Nusantara 8802."

Arkan mematuhi setiap vector tanpa tambahan kata. Laras mengatur urutan di antara dua kedatangan lain, memberi penurunan lanjutan, lalu mengurangi kecepatan saat jarak mulai mengecil.

"Nusantara 8802, kurangi kecepatan menjadi 210 knot, bersiap untuk pendekatan ILS runway 25R."

"Kecepatan 210 knot, bersiap untuk ILS runway 25R. Kami akan mengikuti panduan Anda, Nusantara 8802."

Kalimat terakhir tidak diperlukan, tetapi datang setelah seluruh instruksi dibaca ulang dengan benar. Laras tidak membalas bagian pribadi itu.

Rosa menunduk ke strip agar senyumnya tidak terlihat Bagas.

Laras terus bekerja. Ia memberi vector terakhir, izin intercept localizer, lalu memindahkan Nusantara 8802 ke Tower setelah pesawat established.

Hanya ketika jeda traffic tiba, Rosa berbisik, "Suamimu patuh sekali di frekuensi."

"Semua pilot harus patuh."

"Tapi cuma satu yang bilang mau mengikuti guidance-mu dengan suara begitu."

Laras menyentuh push-to-talk switch tanpa menekannya. "Fokus."

Setelah petugas pengganti mengambil posisi melalui briefing singkat, Bagas memanggil Laras untuk evaluasi. Ia menunjukkan satu titik ketika jarak Nusantara 771 dan pesawat di belakang sempat mengecil.

"Keputusan turunkan kecepatanmu tepat," katanya. "Tapi antisipasinya bisa lima belas detik lebih awal. Kalau trainee melihatmu menunggu terlalu lama, dia akan mengira margin sekecil itu boleh dijadikan kebiasaan."

Laras mencatat koreksi tersebut. "Siap, Pak."

"Secara keseluruhan bagus. Kamu menjaga urutan tanpa menambah beban koordinasi Tower. Pakai rekaman sesi ini untuk bahan penilaian instruktur."

Pujian Bagas selalu datang bersama tugas tambahan, tetapi justru itu yang membuat Laras mempercayainya. Ia menyimpan nomor rekaman sesi dan menyerahkan posisi dengan perasaan lebih ringan.

Sif berakhir menjelang petang. Makan bersama tim diadakan di restoran shabu-shabu dekat kawasan bandara. Karena beberapa orang tidak membawa kendaraan, Bagas menawarkan tumpangan.

Laras duduk di kursi depan agar dua rekan lain dan Rosa bisa berbagi kursi belakang. Belum sampai sepuluh menit perjalanan, Arkan menelepon.

"Katanya baru pulang besok," kata Laras setelah mengangkat.

"Jadwal berubah. Aku dapat penerbangan kembali malam ini."

"Oh."

Satu suku kata itu keluar terlalu cerah.

"Kamu di mana?"

"Di jalan. Ada makan tim."

Bagas memperlambat mobil ketika kendaraan di depan mengerem. "Laras, tolong cek maps. Keluar yang berikutnya atau setelahnya?"

Suara di telepon langsung hening.

"Yang berikutnya, Mas Bagas," jawab Laras, lalu kembali ke Arkan. "Maaf. Tadi tanya jalan."

"Pak Bagas yang bawa mobil?"

"Iya. Ada Rosa dan dua teman lain juga."

Arkan sudah tahu itu pertemuan tim. Ia juga tahu Laras tidak berdua dengan Bagas. Penjelasan tersebut tidak mencegah nada suaranya turun setingkat.

"Aku mungkin sampai rumah lebih dulu," katanya. "Tolong cek jendela kamar sebelum pergi. Tadi pagi sepertinya belum kututup rapat."

"Baik. Nanti aku cek."

Setelah panggilan berakhir, Rosa menatap Laras melalui celah antara dua kursi depan. Tatapannya berkata sangat jelas: dia cemburu lagi.

Laras pura-pura sibuk membuka maps.

Sebelum makan bersama, Bagas mengantar mereka mengambil barang di titik pertemuan. Laras meminta turun lebih dulu di dekat akses transportasi menuju rumah karena ingin mandi dan berganti pakaian. Rosa serta dua rekan lain melanjutkan perjalanan bersama Bagas untuk mengambil reservasi.

Saat tiba di rumah, Laras langsung memeriksa jendela kamar. Jendela itu tertutup rapat.

Ia menatapnya beberapa detik, lalu sadar Arkan mungkin hanya mencari alasan untuk memastikan dirinya pulang.

Laras tidak punya waktu memikirkannya. Ia harus kembali bertemu tim kurang dari satu jam lagi. Ketika membuka keran kamar mandi utama, air hanya menetes dari sambungan shower.

"Serius?"

Ia mengambil handuk dan pindah ke kamar mandi tamu. Uap segera memenuhi ruang sempit itu. Laras baru selesai membilas sampo ketika mendengar pintu depan rumah terbuka.

Ia membeku.

Arkan seharusnya masih dalam perjalanan dari bandara.

Langkah kaki mendekat ke lorong. Laras meraih handuk, tetapi belum sempat mematikannya ketika gagang pintu kamar mandi diputar dari luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!