menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Tabib Dadakan.
Pendopo Kademangan Kaliwungu siang itu terasa cukup sejuk. Angin sepoi-sepoi berembus melewati sela-sela tiang jati besar yang menyangga atap joglo. Erlang duduk bersila di atas tikar pandan yang halus. Di hadapannya, beberapa piring kosong sisa nasi jagung, sayur lodeh, dan urap ayam menjadi bukti betapa kelaparannya pemuda lima belas tahun itu setelah berjalan jauh.
Roro Wilis yang duduk tidak jauh di sampingnya tersenyum senang melihat Erlang yang tampak begitu lahap. "Bagaimana, Kangmas Erlang? Masakannya cocok? Kalau kurang, saya bisa minta bibi di dapur untuk menambah nasi lagi."
Erlang menyeka sisa sambal di sudut bibirnya dengan saputangan kain lusuhnya, lalu mengembuskan napas lega. "Waduh, Nimas Wilis, ini sudah lebih dari cukup. Perut saya rasanya sampai mau pecah karena kekenyangan. Maturnuwun sanget, masakan di sini enak sekali, jauh lebih enak daripada singkong bakar buatan saya di hutan."
"Ah, Kangmas bisa saja memuji," sahut Roro Wilis, wajahnya merona merah jambu karena senang.
Namun, suasana santai di pendopo itu mendadak terusik oleh suara erangan pelan dari dalam rumah utama kademangan. “Aduh... Gusti... dada saya... sesak sekali... Uhuk!” Suara parau itu terdengar sangat tersiksa, disusul oleh suara mangkuk yang pecah membentur lantai batu.
Roro Wilis langsung bangkit berdiri dengan wajah cemas yang amat sangat. "Astagfirullah! Ayahanda kambuh lagi!"
Erlang ikut bangkit berdiri, merapikan duduknya. "Ayahanda Nimas sedang sakit? Sakit apa kalau saya boleh tahu?"
"Iya, Kangmas," jawab Roro Wilis sambil melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, memberi isyarat agar Erlang mengikutinya. "Ayahanda sudah dua tahun ini menderita penyakit dada yang kronis. Setiap siang menjelang sore, napasnya selalu sesak dan jantungnya berdebar kencang. Sudah puluhan tabib dari kadipaten dipanggil, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan. Mereka bilang ada sumbatan darah hitam di dalam dadanya."
Mereka berdua memasuki sebuah kamar besar yang beraroma wewangian kemenyan dan jamu-jamuan yang pekat. Di atas amben jati yang empuk, seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun sedang mengerang sambil memegangi dada kirinya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh tubuhnya. Dialah Ki Demang Wijaya, kepala desa Kaliwungu.
"Ayah... Ayahanda bertahanlah," ratap Roro Wilis sambil memegangi tangan ayahnya yang terasa dingin. "Bibi! Cepat ambilkan air hangat dan jamu yang baru!"
"U-uhuk... tidak usah, Wilis... Jamu-jamu itu sudah tidak mempan lagi... Dada Ayah... rasanya seperti dihantam godam besi... sesak sekali..." bisik Ki Demang dengan napas yang terputus-putus, sepasang matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa.
Erlang melangkah mendekati tepi tempat tidur. Sesuai dengan pemahamannya tentang aliran darah dan titik-titik meridian tubuh yang ia pelajari dari kitab tanpa nama di dalam gua tempo hari, Erlang bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres pada warna kulit di sekitar leher dan dada Ki Demang. Garis-garis urat darah di leher pria tua itu tampak menegang berwarna keunguan.
"Nimas Wilis, jika Nimas dan Ki Demang mengizinkan, bolehkah saya mencoba memeriksa keadaan beliau?" tanya Erlang dengan nada bicara yang santai namun sarat akan keyakinan.
Ki Demang yang dalam kondisi setengah sadar melirik Erlang dengan pandangan sangsi. "S-siapa... siapa pemuda ini, Wilis? Apakah dia... tabib baru?"
"Bukan, Ayah. Ini Kangmas Erlang, pendekar muda yang tadi menolong warga kita di pasar dari amukan Ki Jatmiko. Dia... dia orang baik, Ayah," jelas Roro Wilis dengan cepat.
"Nyuwun sewu, Ki Demang," kata Erlang sambil berlutut di samping amben. "Saya bukan tabib asli yang punya ijazah, tapi saya sedikit paham tentang cara menyelaraskan hawa hangat di dalam tubuh manusia untuk mengusir rasa sakit. Tolong tenangkan pikiran Ki Demang, jangan dilawan."
Erlang meraba pergelangan tangan kanan Ki Demang, meletakkan tiga jarinya di atas urat nadi pria tua itu. Begitu sentuhan terjadi, Erlang secara otomatis mengalirkan sedikit pernapasan sejatinya. Di dalam benak Erlang, ia bisa merasakan dengan sangat jelas adanya gumpalan darah kotor yang membeku di jalur meridian ulu hati Ki Demang, yang menyumbat jalannya aliran darah menuju jantung. Itulah penyebab penyakit kronis yang dideritanya selama bertahun-tahun.
“Oh, sumbatannya di titik ulu hati. Sesuai lembar ketiga di kitab tanpa nama, ini harus didorong menggunakan hawa murni yang lembut, seperti mengalirkan air untuk menghanyutkan lumpur di selokan,” batin Erlang menganalisis situasi.
Erlang melepaskan tangan Ki Demang, lalu memposisikan telapak tangan kanannya dalam keadaan terbuka tepat berjarak dua senti di atas dada kiri Ki Demang, tanpa menyentuh kulitnya secara langsung. Erlang menarik napas dalam-dalam menggunakan pola empat hitungan jantung, memusatkan energi tak terbatas dari pusarnya menuju ujung-ujung jemarinya.
"Kangmas Erlang... apa yang akan kau lakukan?" tanya Roro Wilis berbisik dengan nada khawatir namun penuh harap.
"Saya cuma mau menyalurkan sedikit hawa murni untuk menghancurkan sumbatan darahnya, Nimas. Tolong jangan ada yang bersuara dulu ya," jawab Erlang lembut.
Erlang memejamkan mata. Seketika itu juga, udara di dalam kamar yang tadinya pengap mendadak terasa sedikit bergetar halus. Dari telapak tangan Erlang, memancar seberkas hawa hangat tak kasatmata yang sangat pekat namun sangat lembut. Hawa hangat itu merembes masuk menembus pakaian dan pori-pori kulit Ki Demang, langsung menuju ke pusat sumbatan di ulu hatinya.
Ki Demang Wijaya tiba-tiba membelalakkan matanya. "O-oh... hangat... dada saya rasanya hangat sekali..."
"Tahan sebentar, Ki Demang. Biarkan rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuh. Jangan ditahan napasnya," tuntun Erlang dengan suara yang tenang.
Erlang menggerakkan telapak tangannya memutar secara perlahan di atas dada Ki Demang. Hawa murni tak terbatas miliknya bekerja dengan sangat cerdas, ia mengikis perlahan-lahan gumpalan darah kotor yang membeku tanpa melukai pembuluh darah di sekitarnya. Proses itu berlangsung sekitar beberapa menit. Keringat yang keluar dari tubuh Erlang terlihat bersih, sementara dari pori-pori dada Ki Demang, mulai keluar cairan keringat berwarna hitam pekat yang berbau agak anyir.
“Satu dorongan terakhir...” batin Erlang. Ia mendorong sedikit energinya ke arah atas.
"Uhooekk!"
Ki Demang tiba-tiba tersedak dan langsung memalingkan kepalanya ke lantai, memuntahkan segumpal besar darah hitam kental yang menyumbat dadanya selama dua tahun ini. Setelah darah kotor itu keluar, Ki Demang langsung terkulai lemas di atas kasur, namun raut wajahnya berubah drastis.
Roro Wilis menjerit kecil penuh kecemasan. "Ayahanda! Ayahanda tidak apa-apa?!"
Erlang perlahan menurunkan tangannya, lalu mengembuskan napas panjang untuk menetralkan kembali aliran energinya ke posisi semula. Ia tersenyum ramah pada Roro Wilis. "Tenang saja, Nimas Wilis. Justru darah kotor itulah musuh utamanya. Sekarang sumbatannya sudah bersih total."
Benar saja apa yang dikatakan Erlang. Sedetik kemudian, Ki Demang Wijaya membuka matanya lebar-lebar. Ia menarik napas panjang-panjang lewat hidungnya, lalu mengembuskannya dengan lega. Wajahnya yang tadinya pucat pasi dan biru, kini perlahan-lahan berubah menjadi segar dan kemerahan. Rasa sakit yang menghantankannya seperti godam besi selama dua tahun ini lenyap seketika tanpa bekas.
Ki Demang langsung bangkit duduk di atas amben dengan gerakan yang sangat lincah, seolah-olah ia tidak pernah sakit sebelumnya. Ia meraba-raba dadanya sendiri dengan ekspresi takjub yang luar biasa. "Gusti Allah... napasku... napasku plong sekali! Jantungku tidak lagi berdebar kencang. Tubuhku rasanya enteng seperti waktu saya masih muda dulu!"
"Benarkah, Ayah? Ayah beneran sudah sembuh?" tanya Roro Wilis dengan air mata kebahagiaan yang mulai mengalir di pipinya.
"Benar, Wilis! Benar beneran sembuh! Ini keajaiban!" seru Ki Demang gembira. Ia langsung beralih menatap Erlang, lalu dengan tanpa ragu, kepala desa yang dihormati itu turun dari amben dan berlutut di hadapan Erlang, menjatuhkan kedua tangannya untuk menyembah. "Angger... Angger Erlang... kau adalah dewa penolong keluarga kami! Puluhan tabib sakti menyerah, tapi kau menyembuhkanku hanya dalam hitungan menit! Tolong katakan imbalan apa yang kau inginkan? Rumah, tanah, atau emas? Aku akan memberikan segalanya!"
Erlang yang kaget melihat orang tua berlutut di depannya langsung buru-buru ikut berlutut dan memegangi pundak Ki Demang untuk menegakkannya kembali. "Waduh, Ki Demang! Jangan begitu, saya jadi tidak enak hati ini. Tolong berdiri, Ki. Saya tidak butuh imbalan apa-apa kok. Saya menolong murni karena kebetulan saya tahu cara membersihkan selokan darahnya. Masalah sembuh itu semua karena kemurahan Gusti Allah, bukan karena kesaktian saya."
Roro Wilis yang menyaksikan ketulusan Erlang yang kesekian kalinya itu berdiri terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa cinta dan kagum yang kian mendalam. Pemuda di depannya ini memiliki kemampuan medis tingkat dewa yang bisa mengguncang dunia persilatan, namun pembawaannya tetap santai, lugu, dan sama sekali menolak keduniawian.
Erlang berdiri, merapikan baju lusuhnya dengan senyuman santai tanpa sadar bahwa aksi tabib dadakannya siang itu telah membuat getaran asmara di hati Roro Wilis terkunci mati hanya untuk dirinya seorang.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/