Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 35 : Saham Perusahaan Diperebutkan
Lantai bursa efek Jakarta baru saja dibuka satu jam yang lalu, tetapi pergerakan grafik saham Mahendra Group (MHDR) sudah menunjukkan anomali yang luar biasa ekstrem. Garis merah dan hijau saling berkejaran di monitor ruang kerja Arka, menciptakan ketegangan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya. Volume perdagangan melonjak drastis ke angka yang tidak wajar. Ratusan ribu lot saham berpindah tangan dalam hitungan menit, semuanya diserap oleh entitas-entitas misterius yang tidak terdaftar dalam lingkaran investor institusi tradisional Mahendra.
Arka Mahendra duduk di balik meja kerjanya dengan rahang yang mengeras. Kemeja putihnya yang biasa rapi kini tergulung hingga ke siku, dan dasinya sudah dilonggarkan sejak subuh. Di hadapannya, tiga orang direktur keuangan dan kepala analis pasar modal Mahendra Group berdiri dengan wajah pucat beralaskan keringat dingin.
"Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan sebanyak ini?!" suara Arka bergemuruh di dalam ruangan, meskipun ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. "Siapa yang mengoordinasikan pembelian masif ini?"
"Kami sudah melacaknya, Tuan Arka," kepala analis menyodorkan sebuah tablet komputer dengan tangan gemetar. "Ada lima perusahaan investasi baru yang berbasis di luar negeri—*Apex Venture*, *Blue Ocean Ltd*, *Zephyr Holding*, dan dua lainnya. Semuanya adalah perusahaan cangkang (*shell companies*). Mereka bergerak serentak sejak pasar dibuka kemarin sore. Mereka membeli setiap lembar saham publik yang dilepas akibat kepanikan berita Selena, dan pagi ini... mereka mulai mendekati para pemegang saham minoritas kita dengan penawaran harga dua puluh persen di atas harga pasar."
Arka merebut tablet tersebut, matanya dengan cepat memindai struktur kepemilikan yang rumit. Sebagai seorang jenius finansial, ia tidak butuh waktu lama untuk melihat pola di balik strategi agresif ini. Ini bukan sekadar spekulasi pasar biasa. Ini adalah sebuah *hostile takeover*—strategi pengambilalihan paksa yang dirancang dengan sangat rapi, dingin, dan mematikan.
"Leonard Wijaya," desis Arka. Nama itu keluar dari celah bibirnya bagaikan kutukan. "Hanya dia yang memiliki likuiditas sebesar ini dan jaringan cangkang internasional yang cukup matang untuk menyamarkan pergerakannya."
Tepat saat itu, pintu ruang kerja Arka terbuka tanpa diketuk. Pengacara senior keluarga Mahendra, Tuan haryo, melangkah masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kecemasan yang mendalam.
"Tuan Arka, situasi memburuk," kata Tuan Haryo langsung tanpa basa-basi. "Tiga dari komisaris independen kita baru saja menyatakan bahwa mereka telah menjual hak opsi saham mereka kepada pihak ketiga. Saat ini, total kepemilikan saham gabungan milik perusahaan cangkang misterius itu telah mencapai dua puluh delapan persen. Jika mereka berhasil merebut empat persen lagi dari pemegang saham ritel atau membujuk paman Anda, mereka akan memiliki hak untuk menuntut digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menggulingkan posisi Anda sebagai CEO."
Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi eksekutifnya, merasakan hantaman beban yang luar biasa berat. Posisi kekuasaannya yang selama ini ia anggap absolut kini berada di ujung tanduk. Leonard tidak hanya ingin mengalahkannya dalam bisnis; pria itu ingin melucuti segala hal yang melekat pada nama besar Mahendra.
Kabar tentang guncangan saham ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kediaman utama Mahendra. Atmosfer rumah mewah itu kembali mencekam, bahkan lebih tegang dibandingkan saat Selena ditangkap. Paman Arka dan Tante Broto berulang kali menelepon dari luar, berteriak panik tentang nilai aset mereka yang terancam merosot tajam.
Di kamar tamu ujung koridor timur, Nadira sedang merapikan beberapa berkas materi untuk anak-anak di sekolah komunitasnya ketika ia mendengar derap langkah kaki para pelayan yang berbisik panik di luar pintu. Sejak kembali ke rumah ini demi Kakek Baskoro, Nadira berusaha membatasi dirinya agar tidak terlalu terlibat dalam urusan domestik Mahendra Group. Baginya, dunia bisnis adalah labirin penuh darah yang telah menghancurkan hidup mendiang ayahnya.
Namun, ketika ia turun ke lantai bawah untuk mengambilkan air hangat bagi ibunya yang beristirahat di paviliun samping, ia melihat Arka baru saja melangkah masuk melalui pintu depan.
Pria itu tampak sangat hancur. Langkah kakinya gontai, rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan keletihan yang teramat sangat—bukan hanya keletihan fisik, melainkan keletihan jiwa seorang pria yang sedang dikepung dari segala arah. Arka tidak melihat Nadira yang berdiri di dekat pilar ruang tengah; ia langsung berjalan menuju ruang kerja pribadinya, menutup pintu dengan pelan, lalu keheningan total kembali menguasai rumah.
Nadira berdiri terpaku selama beberapa saat. Di dalam benaknya, memori tentang bagaimana bisnis ayahnya dihancurkan oleh kekejaman dunia usaha mendadak bangkit. Ia tahu persis rasa sakit dari ketidakberdayaan itu. Meskipun ia masih menyimpan luka yang mendalam atas perbuatan Arka di masa lalu, melihat pria itu berjuang sendirian di tengah badai yang diciptakan oleh musuh-musuhnya memicu sesuatu di dalam hati kecil Nadira. Kakek Baskoro masih di rumah sakit, memercayakan seluruh dinasti ini pada bahu Arka. Jika Arka tumbang, kesehatan kakek pasti akan ikut hancur.
Setelah menarik napas panjang untuk memantapkan hatinya, Nadira berjalan menuju dapur. Ia menyeduh secangkir teh chamomile hangat—teh yang sama yang biasa ia buatkan untuk Kakek Baskoro saat pria tua itu sedang stres.
Nadira berjalan menuju ruang kerja Arka dan mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan. "Arka... ini aku."
Tidak ada jawaban selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar suara gerendel pintu yang dibuka. Arka berdiri di ambang pintu. Ketika ia melihat Nadira berdiri di sana sambil membawa nampan berisi teh hangat, matanya yang redup mendadak bergetar.
"Nadira..." gumam Arka, suaranya serak. "Masuklah."
Nadira melangkah masuk dan meletakkan cangkir teh itu di atas meja kerja Arka yang dipenuhi oleh tumpukan kertas laporan saham. Ia menatap Arka yang kini duduk di tepi meja, menundukkan kepalanya sambil memegangi pelipisnya.
"Minumlah selagi hangat," ucap Nadira lembut, nadanya tidak lagi sebeku beberapa hari lalu. "Kau belum makan apa pun sejak pagi, bukan?"
Arka mendongak, menatap istrinya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus haru. "Terima kasih, Nadira. Aku... aku hanya sedang tidak berselera. Perusahaan sedang mengalami krisis besar. Leonard Wijaya... dia mulai membeli saham kita dari segala penjuru. Posisi kepemimpinanku terancam runtuh dalam waktu singkat."
Arka meremas jemarinya sendiri, membiarkan pertahanannya terbuka di depan wanita itu. "Aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, Nadira. Rapat umum pemegang saham akan digelar tiga hari lagi. Para direksi menuntutku untuk fokus penuh pada strategi pertahanan korporasi, melakukan perjalanan ke luar negeri untuk menemui investor institusional, dan mengabaikan hal lain. Tapi... jika aku pergi sekarang, aku akan kehilangan waktu untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan masa lalu keluargamu, dan aku... aku takut jika aku berpaling sedikit saja, kau akan pergi lagi dari rumah ini."
Arka menatap Nadira dengan keputusasaan yang murni. "Aku harus memilih antara mempertahankan warisan Kakek atau menyelesaikan konflik rumah tangga kita, membuktikan penyesalanku padamu. Dan aku... aku merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan keduanya dengan benar."
Nadira mendengarkan setiap keluh kesah Arka dengan saksama. Ia berjalan mendekat, berdiri di sisi meja kerja, berjarak cukup dekat namun tetap menjaga batasan yang sopan.
"Arka, dengarkan aku," ucap Nadira dengan suara yang tenang, memancarkan kedamaian yang mendadak mendinginkan atmosfer ruangan yang panas. "Aku memang tidak memahami dunia bisnis triliunan rupiah milikmu. Aku tidak tahu apa itu saham cangkang, *hostile takeover*, atau opsi pasar modal. Tapi aku memahami satu hal tentang perjuangan."
Nadira menatap lurus ke dalam sepasang mata Arka. "Dahulu, ayahku kehilangan perusahaannya bukan karena dia tidak memiliki uang, melainkan karena dia kehilangan fokus dan dukungan di saat-saat kritis ketika musuhnya menyerang dari dalam. Aku tidak ingin melihat hal yang sama terjadi pada Kakek Baskoro. Rumah ini, perusahaan ini, adalah detak jantung Kakek. Jika kau membiarkan Leonard Wijaya merebutnya hanya karena kau mengkhawatirkan keberadaanku di sini, maka kau telah gagal memenuhi janji terakhirmu pada Kakek di rumah sakit."
Arka terpaku, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Nadira.
"Aku ada di sini, Arka," lanjut Nadira lirih, sebuah pernyataan yang seperti tetesan air di padang pasir bagi jiwa Arka. "Aku kembali ke rumah ini demi Kakek, dan aku tidak akan pergi ke mana pun selama Kakek masih membutuhkan kita. Konflik di antara kita... luka di hatiku... itu adalah urusan personal yang tidak boleh kau jadikan alasan untuk menjadi lemah di hadapan musuh bisnismu. Hadapi rapat pemegang saham itu dengan kepala tegak. Pertahankan apa yang menjadi hak keluarga Mahendra."
Meskipun Nadira tidak memberikan kata-kata cinta atau janji bahwa ia telah sepenuhnya memaafkan Arka, dukungan moral yang ia berikan secara tulus di tengah badai ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada suntikan modal ratusan miliar rupiah. Arka merasa dadanya yang tadi sesak kini mendadak dipenuhi oleh kekuatan baru. Wanita yang pernah ia sakiti begitu dalam, kini justru menjadi orang pertama yang berdiri di sampingnya untuk mengingatkannya akan tanggung jawabnya sebagai seorang pria.
Arka bangkit dari posisinya, berdiri tegak di hadapan Nadira. Air mata keharuan menggenang di sudut matanya. Ia mengulurkan tangannya secara perlahan, hendak menyentuh jemari Nadira, namun ia menahannya di udara, menghormati batasan yang diinginkan istrinya.
"Terima kasih, Nadira... Terima kasih," bisik Arka, suaranya bergetar oleh emosi yang membuncah. "Kata-katamu... dukunganmu... itu adalah segalanya bagiku saat ini. Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan Leonard Wijaya menyentuh satu senti pun dari Mahendra Group. Aku akan memenangkan pertempuran ini, bukan hanya untuk Kakek, tapi untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi pria yang bisa kau andalkan untuk melindungi keluarga ini."
Nadira memberikan senyuman tipis—sebuah senyuman yang sangat samar, namun menjadi tanda pertama bahwa es batu yang membekukan hatinya perlahan-lahan mulai terkikis oleh ketulusan perjuangan Arka. "Sekarang, minumlah tehmu, dan kembalilah bekerja. Pimpin orang-orangmu, Tuan CEO."
Dua hari berikutnya berlalu seperti pusaran angin puyuh. Dengan dukungan moral dari Nadira yang setiap malam selalu memastikan ada secangkir teh hangat dan makanan kecil di meja kerjanya, Arka bekerja tanpa henti selama empat puluh delapan jam penuh. Ia mengoordinasikan tim hukumnya untuk memblokir pergerakan perusahaan cangkang milik Leonard menggunakan regulasi keterbukaan informasi bursa efek. Ia juga secara pribadi menghubungi para pemegang saham sekutu lama Kakek Baskoro, menyadarkan mereka akan bahaya jika Mahendra Group jatuh ke tangan orang luar yang kejam seperti Leonard Wijaya.
Hingga akhirnya, hari yang menentukan itu tiba.
Ruang rapat utama di lantai tiga puluh Mahendra Tower dipenuhi oleh aura ketegangan yang pekat. Meja oval besar dari kayu mahoni dikelilingi oleh para pemegang saham mayoritas, jajaran direksi, dan anggota komisaris. Di ujung meja, kursi CEO masih kosong, menunggu kehadiran Arka.
Pintu ruang rapat terbuka secara otomatis, dan Leonard Wijaya melangkah masuk dengan penuh kemenangan. Di sampingnya, berdiri Selena yang mengenakan pakaian formal elegan, berkat jaminan penangguhan penahanan yang diurus oleh tim hukum Leonard. Kehadiran Selena di dalam ruangan itu langsung memicu bisik-bisik tegang di antara para peserta rapat. Selena membawa serta dokumen-dokumen internal yang ia curi, siap digunakan sebagai senjata pamungkas untuk menjatuhkan kredibilitas kepemimpinan Arka.
"Selamat pagi, rekan-rekan sekalian," suara Leonard bergema penuh otoritas saat ia mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong di sisi meja. "Saya rasa kita tidak perlu membuang waktu lagi. Berdasarkan kepemilikan saham gabungan yang kini telah mencapai tiga puluh dua persen atas nama aliansi saya, saya menuntut agar agenda rapat hari ini diubah menjadi pemungutan suara untuk mosi tidak percaya terhadap Arka Mahendra."
Selena tersenyum sinis dari belakang Leonard, matanya berkilat penuh dendam, membayangkan detik-detik kejatuhan pria yang telah mencampakkannya.
Tepat pada detik menegangkan itu, pintu ruang rapat kembali terbuka dengan hentakan yang mantap. Arka Mahendra melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam terbaiknya, dengan rambut yang tertata rapi dan tatapan mata yang tajam bagai elang—sebuah tatapan yang sempat hilang selama beberapa hari terakhir kini telah kembali sepenuhnya, lebih kuat dan lebih fokus dari sebelumnya.
Arka tidak berjalan sendirian. Di belakangnya, melangkah Tuan Haryo yang membawa tas kerja berisi dokumen-dokumen penting. Arka berjalan lurus menuju kursi utamanya di ujung meja, mengabaikan tatapan tajam dari Leonard dan senyuman sinis dari Selena.
Arka meletakkan kedua tangannya di atas meja, menumpu badannya sambil menatap langsung ke arah Leonard Wijaya dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Silakan duduk, Tuan Leonard Wijaya," ucap Arka, suaranya terdengar begitu dingin dan berwibawa, menggema di setiap sudut ruangan. "Dan selamat datang di Mahendra Group. Saya sangat menghargai ambisi Anda untuk menghadiri rapat ini. Namun, sebelum Anda memulai drama mosi tidak percaya Anda... saya rasa ada baiknya kita memeriksa ulang keabsahan dari tiga puluh dua persen saham yang Anda klaim telah Anda kuasai melalui perusahaan-perusahaan cangkang Anda."
Arka memberikan isyarat dengan tangannya pada Tuan Haryo, yang langsung menyalakan layar proyektor besar di dinding ruang rapat. Layar tersebut seketika menampilkan dokumen investigasi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
"Dua jam yang lalu," lanjut Arka dengan senyuman tipis yang mematikan, "pihak otoritas pasar modal telah membekukan seluruh hak suara dari kelima perusahaan cangkang Anda atas dugaan praktik *insider trading*, manipulasi pasar, dan pencucian uang yang melibatkan dokumen palsu yang disediakan oleh Nona Selena di samping Anda."
Wajah Leonard Wijaya yang tadinya penuh kemenangan seketika berubah menjadi kaku. Senyuman di bibir Selena langsung lenyap, digantikan oleh rasa panik yang mendadak menyerang sistem sarafnya.
"Posisi saya sebagai CEO Mahendra Group tidak akan pernah goyah oleh gertakan dari seorang pria yang hidup dari sisa-sisa kehancuran masa lalu," tegas Arka, matanya memancarkan kekuatan mutlak yang lahir dari keyakinan dan dukungan yang ia miliki di rumahnya. "Rapat pemegang saham hari ini akan tetap berjalan sesuai agenda awal kita... dan agenda itu adalah untuk mengumumkan ekspansi baru, sekaligus mendepak setiap parasit yang mencoba merusak integritas perusahaan ini."
Suasana ruang rapat seketika berbalik seratus delapan puluh derajat. Pertempuran memperebutkan saham itu baru saja mencapai puncaknya, dan Arka Mahendra, dengan kekuatan baru yang ia temukan dari dukungan moral Nadira, siap menghancurkan setiap musuh yang berani berdiri di jalannya menuju penebusan dosa yang sejati.