Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: KIRANA DIPANGGIL KE RUANGAN DOSEN
Pengumuman jadwal sidang mini kelompok tugas tambahan tertempel di papan mading jurusan, membuat seisi kelompok tiga berkumpul di depan mading itu dengan wajah tegang. Kirana berdiri paling depan, membaca nama nama dosen penguji yang akan menilai presentasi mereka minggu depan.
"Kir, kok nama Pak Alden nggak ada di daftar penguji ya?" tanya Ferra, ikut membaca daftar itu dengan seksama.
Kirana mengernyit, memeriksa ulang tulisan di papan. Benar saja, meski Alden adalah dosen pembimbing kelompok mereka, nama penguji sidang mini justru diisi oleh dua dosen lain yang jarang mereka temui.
"Aneh juga sih, biasanya pembimbing yang jadi penguji utama," Bagas menggaruk kepala, bingung.
"Mungkin kebijakan baru kali," Nadia mengangkat bahu, tidak terlalu mempermasalahkan.
Kirana masih menatap papan itu ketika ponselnya bergetar. Notifikasi email masuk dari alamat kampus, dan nama pengirimnya membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Alden Rafael Wicaksono.
Dia membuka email itu di tengah kerumunan teman temannya, membaca isi pesan singkat yang tertulis di sana.
"Kirana, tolong datang ke ruang dosen sepulang kelas hari ini. Ada yang perlu didiskusikan terkait progress kelompok. Alden."
"Kir, kenapa mukamu?" tanya Tesa yang baru bergabung, memperhatikan raut wajah Kirana yang tiba tiba berubah.
"Dipanggil Pak Alden ke ruangannya," jawab Kirana, menunjukkan layar ponselnya.
"Wih, dipanggil khusus," Bagas menyeringai jahil. "Pasti soal progress kelompok kita nih."
"Atau soal yang lain," Tesa menambahkan dengan nada menggoda, membuat Kirana melototinya cepat.
Sepulang kelas siang itu, Kirana berjalan menuju ruang dosen dengan perasaan campur aduk. Sejak percakapan mereka di taman beberapa hari lalu, tentang Sarah dan masa lalu Alden yang kelam, ada semacam kedekatan baru yang tumbuh di antara mereka, tapi juga kecanggungan yang belum sepenuhnya hilang.
Dia mengetuk pintu yang setengah terbuka.
"Permisi, Pak. Saya Kirana."
"Masuk," jawab Alden dari dalam, duduk di mejanya dengan setumpuk berkas di depan.
Kirana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya sesuai kebiasaan. "Ada yang perlu didiskusikan, Pak?"
"Duduk dulu," kata Alden, menunjuk kursi di depan mejanya. Setelah Kirana duduk, dia melanjutkan, "Saya mau kasih tau, saya mundur sebagai penguji sidang mini kelompok kalian minggu depan."
Kabar itu membuat Kirana terkejut. "Kenapa, Pak? Bukannya Bapak pembimbing kelompok kami?"
Alden menghela napas, meletakkan pena yang tadi dia pegang. "Karena saya rasa, kalau saya yang jadi penguji, ada risiko penilaiannya nggak objektif."
"Maksud Bapak?" Kirana bertanya, meski dalam hati dia sudah mulai menduga arah pembicaraan ini.
"Kamu tau maksud saya, Kirana," jawab Alden, menatapnya lurus. "Setelah semua yang terjadi belakangan ini, saya khawatir penilaian saya ke kelompok kamu bakal dipertanyakan orang lain. Baik itu lebih baik maupun lebih buruk dari yang seharusnya."
Kirana terdiam, mencerna penjelasan itu. Ada rasa kecewa yang muncul, meski dia tahu keputusan itu masuk akal dan bahkan bijaksana. "Jadi... ini karena saya, Pak?"
"Bukan salah kamu," Alden buru buru menjelaskan, nadanya melunak. "Ini keputusan saya sendiri, untuk melindungi integritas penilaian, dan juga melindungi kamu dari gosip yang mungkin muncul kalau saya terus jadi penguji kelompok kamu."
"Tapi kan Bapak yang paling ngerti progress kami selama ini," Kirana mencoba protes, meski suaranya lebih pelan dari biasanya.
"Dosen lain mungkin nggak seteliti Bapak pas nilai."
"Saya udah kasih catatan detail ke dosen penguji baru soal progress kelompok kalian," Alden meyakinkan. "Mereka bakal nilai berdasarkan hasil kerja kalian, bukan berdasarkan opini pribadi saya."
Kirana mengangguk pelan, meski hatinya masih terasa berat dengan keputusan itu. "Saya ngerti, Pak. Makasih udah mikirin ini baik baik."
Alden menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang menunjukkan pergulatan batin. "Kirana, saya juga mau ngomong hal lain."
"Apa, Pak?" tanya Kirana, jantungnya kembali berdebar menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Setelah saya cerita soal Sarah kemarin," Alden memulai, memilih kata katanya dengan hati hati, "saya sadar, saya udah mulai buka diri ke kamu dengan cara yang nggak biasa saya lakuin ke orang lain. Dan itu bikin saya khawatir."
"Khawatir kenapa, Pak?" Kirana bertanya, meski dia sudah bisa menduga jawabannya.
"Khawatir kalau saya nggak bisa lagi bersikap objektif sebagai dosen kamu," jawab Alden jujur. "Dan itu nggak adil buat kamu, juga nggak adil buat mahasiswa lain."
Kirana terdiam, merasakan berat di dadanya mendengar kejujuran itu. "Jadi, Bapak mau kita... jaga jarak lagi?"
Alden menghela napas panjang, matanya menerawang sejenak sebelum kembali menatap Kirana. "Saya nggak tau lagi harus gimana, Kirana. Di satu sisi, saya nggak mau ngerusak masa depan akademik kamu karena situasi yang rumit ini. Tapi di sisi lain, saya juga nggak bisa terus terusan pura pura nggak ada apa apa."
Pengakuan jujur itu membuat dada Kirana terasa hangat sekaligus sesak di saat bersamaan. "Saya juga ngerasa hal yang sama, Pak. Bingung harus gimana."
Mereka terdiam sejenak, keheningan yang penuh makna mengisi ruangan itu. Kirana bisa mendengar detak jamnya sendiri yang berdetak lebih keras dari biasanya, seolah waktu terasa berjalan lebih lambat dalam momen itu.
"Kirana," Alden akhirnya bicara lagi, suaranya lebih pelan dari biasanya, "saya mau minta maaf, kalau selama ini sikap saya bikin kamu bingung. Itu nggak adil buat kamu."
"Bapak nggak perlu minta maaf," Kirana buru buru menjawab. "Saya juga sama bingungnya kok, Pak. Bukan cuma Bapak."
Alden menatapnya lama, senyum tipis muncul di sudut bibirnya, senyum yang sarat dengan kelegaan sekaligus kesedihan yang sulit dia sembunyikan sepenuhnya. "Terima kasih udah selalu jujur sama saya."
"Sama sama, Pak," Kirana tersenyum kecil, meski matanya mulai terasa panas menahan perasaan yang campur aduk.
"Untuk sementara," Alden melanjutkan, kembali ke nada yang lebih formal, "saya rasa lebih baik kita fokus dulu ke urusan akademik. Biar semuanya berjalan sesuai jalurnya."
Kirana mengangguk, meski dalam hati ada rasa kecewa yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan. "Saya ngerti, Pak. Saya bakal coba fokus lagi ke kuliah."
"Kalau ada kesulitan soal tugas atau materi, kamu tetap bisa konsultasi kok, seperti mahasiswa lain," tambah Alden, mencoba meredakan suasana yang terasa berat. "Saya cuma mau kita berdua lebih hati hati aja ke depannya."
"Siap, Pak," Kirana berdiri, bersiap untuk pamit. "Kalau gitu saya permisi dulu."
"Kirana," panggil Alden sekali lagi sebelum Kirana benar benar keluar ruangan.
"Iya, Pak?" Kirana menoleh, menunggu.
Alden menatapnya lama, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri. "Hati hati di jalan pulang."
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya terasa berat mendengar kalimat sesederhana itu, jauh dari apa yang mungkin sebenarnya ingin dikatakan Alden. "Siap, Pak. Bapak juga, hati hati."
Dia keluar ruangan dengan langkah pelan, pikirannya dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dia urai satu per satu. Di satu sisi, dia mengerti alasan di balik keputusan Alden untuk menjaga jarak lagi, tapi di sisi lain, dia tidak bisa menampik kekecewaan yang muncul, mengingat kedekatan yang baru saja mereka bangun lewat kepercayaan tentang masa lalu Alden.
Di dalam ruangan yang kini kosong, Alden duduk diam, menatap pintu yang baru saja tertutup. Dia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi sambil menutup mata sejenak.
"Ini keputusan yang benar," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri, meski jauh di lubuk hatinya, dia tahu keputusan itu terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya, terutama ketika bayangan wajah Kirana yang mencoba tersenyum meski menyimpan kekecewaan terus terngiang di kepalanya.