Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Seminggu setelah Ridwan ditahan, suasana mulai tenang di permukaan. Berita tentang kejatuhan gubernur itu masih ramai dibicarakan, tapi Rendra dan kawan-kawannya tidak merasa bisa beristirahat lama. Di ruang kerja Ibu Ratna di Komisi Pengawas Independen, mereka kembali menyebarkan peta besar Indonesia di atas meja.
“Dari pengakuan Ridwan dan berkas yang kita temukan,” kata Ibu Ratna sambil menunjuk dua titik di peta, “ada dua pemimpin wilayah lain yang setara dengan dia. Satu berkuasa di Sumatera bagian selatan, dan satu lagi di Sulawesi utara. Mereka beroperasi dengan cara berbeda, tapi terhubung erat dalam satu jaringan yang sama.”
“Siapa nama mereka?” tanya Surya.
“Yang di Sumatera bernama Rusli Karim, pemilik perusahaan pelayaran terbesar di sana. Dia jarang tampil di media, tapi memiliki pengaruh kuat di pelabuhan dan perdagangan. Sedangkan yang di Sulawesi bernama Mayor Jenderal Purnawirawan Bimo, yang sekarang menjabat sebagai penasihat keamanan daerah. Dia dikenal sangat tegas dan disiplin,” jelas Pak Haris.
Asep yang kini resmi membantu tim itu menggeleng cemas. “Keduanya jauh lebih berhati-hati daripada Ridwan. Tidak ada jejak langsung yang menghubungkan mereka dengan kejahatan. Semua bukti disembunyikan di balik perusahaan resmi atau laporan dinas yang rapi.”
Rendra menatap peta lama. “Kalau begitu kita tidak bisa menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Kita tidak bisa datang dengan tuduhan langsung tanpa bukti yang tak terbantahkan. Kita harus pergi ke sana, melihat sendiri bagaimana sistem mereka bekerja, dan mencari celah yang tidak sengaja mereka tinggalkan.”
Mereka memutuskan berangkat ke Sumatera lebih dulu. Perusahaan Rusli menguasai hampir seluruh jalur logistik di sana—artinya jika ada barang selundupan atau dana gelap yang bergerak, pasti melewati jalur yang dia kendalikan.
Tiga hari kemudian, mereka tiba di kota pelabuhan di Sumatera Selatan. Kota ini tampak makmur dengan gedung perkantoran baru dan jalan lebar, tapi ada suasana yang aneh: warga berbicara pelan, tidak ada yang berani berkomentar tentang perusahaan besar, dan setiap sudut pelabuhan dijaga ketat oleh petugas keamanan swasta yang tampak seperti tentara.
Mereka menyewa rumah sederhana di kawasan nelayan tua yang terpinggirkan. Malam harinya, Bapak Harun yang dulunya sering berlayar ke sini bercerita: “Dulu pelabuhan ini milik rakyat. Nelayan kecil bisa berlabuh di mana saja. Tapi lima tahun lalu, perusahaan Rusli mengambil alih. Sekarang siapa pun yang mau masuk harus membayar biaya mahal, dan banyak kapal nelayan yang dilarang berlayar tanpa izin khusus.”
Keesokan harinya, Dika menyusup sebagai tenaga administrasi baru di kantor pusat pelabuhan. Sore itu dia kembali dengan wajah serius. “Ada hal yang aneh. Setiap bulan ada beberapa kapal yang tercatat berlayar ke pulau tak berpenghuni di tengah selat. Tidak ada muatan yang tercatat, tidak ada tujuan resmi, dan kapal itu tidak pernah kembali ke pelabuhan utama—melainkan merapat ke dermaga pribadi Rusli.”
“Pulau apa itu?” tanya Rendra.
“Pulau Beras,” jawab Dika. “Dulu tempat itu dipakai untuk menambang pasir, tapi sudah ditutup bertahun-tahun lalu. Tidak ada penduduk, tidak ada fasilitas. Tapi menurut data satelit, baru-baru ini ada pembangunan besar di sana yang tidak tercatat di laporan pemerintah.”
Malam itu juga, mereka berencana menyusup ke pulau itu. Namun sebelum berangkat, seorang wanita tua datang ke rumah sewa mereka. Dia adalah ibu dari salah satu pekerja pelabuhan yang menghilang setahun lalu.
“Saya mendengar kalian mencari tahu tentang kapal yang berlayar ke pulau itu,” katanya dengan suara gemetar. “Anakku juga bekerja di sana. Dia bilang kapal itu membawa muatan tertutup rapat, dan ada orang yang dibawa ke pulau itu tapi tidak pernah kembali. Dia berjanji akan memberi tahu saya lebih banyak, tapi keesokan harinya dia hilang begitu saja.”
Wanita itu menyerahkan selembar foto kusut. Di dalamnya terlihat anak mudanya berdiri di depan kapal dengan lambang khusus—tiga garis melengkung—sama persis dengan lambang kelompok “Penjaga Keseimbangan” yang pernah mereka lihat dulu.
“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana,” lanjutnya. “Tapi saya tahu satu hal: tidak ada orang yang berani bicara tentang pulau itu. Siapa pun yang mencoba, akan hilang seperti ditelan laut.”
Rendra memegang foto itu erat. Dia tahu bahaya yang menanti di pulau itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Tapi ini satu-satunya jalan untuk mengetahui kebenaran tentang Rusli, dan mendekati jejak “Bayangan Utama” yang sebenarnya.
Malam itu, saat bulan tertutup awan gelap, mereka naik perahu nelayan kecil menuju pulau misterius itu. Lautan di sana tampak gelap gulita, seolah menyembunyikan ribuan rahasia di dalamnya. Dan di kejauhan, di atas bukit pulau itu, cahaya lampu sorot bergerak perlahan—seolah mata raksasa yang sedang mengawasi siapa pun yang berani mendekat.