NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMOR YANG BERBALIK ARAH

Dunia remaja di lingkungan sekolah elite seperti Harapan Elite International School digerakkan oleh satu bahan bakar utama: informasi. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang memegang kendali atas kasta sosial. Di kehidupan pertamanya, Rina selalu menjadi korban dari narasi-narasi busuk yang diciptakan oleh Sherly di grup-grup obrolan WhatsApp angkatan. Namun kini, roda takdir mulai berputar ke arah yang berlawanan.

Saat jam istirahat kedua dimulai, suasana di koridor kelas 11 terasa berbeda. Layar ponsel pintar milik para siswa menyala bergantian, menampilkan rentetan pesan di grup obrolan besar tanpa nama yang berisi seluruh siswa angkatan 2016.

Sebuah foto buram yang diambil diam-diam dari sudut kelas beredar luas. Foto itu menampilkan Rina yang sedang berdiri dengan anggun di depan papan tulis, menuliskan rumus kalkulus rumit di bawah tatapan kagum Pak Bambang. Di bawah foto tersebut, sebuah takarir tertulis: “Si kuper Rina ternyata menyembunyikan kejeniusannya selama ini? Geng Sherly ketahuan bohong dan dihukum bersihin lab karena mau fitnah dia!”

Rentetan balasan langsung membanjiri grup dalam hitungan menit.

“Gila, seriusan? Sherly yang hobi nyuruh-nyuruh orang akhirnya kena batunya?”

“Gue emang udah lama curiga sih, tugas-tugas Sherly selama ini kan mirip banget sama gaya tulisan Rina.”

“Pamor sang putri hotel langsung anjlok nih senggol dong wkwk.”

Sherly yang sedang duduk di bilik toilet perempuan menatap layar iPhone 6s miliknya dengan tangan gemetar hebat. Air mata kemarahan dan rasa malu yang mendalam menggenang di pelupuk matanya. Dadanya kembang kempis menahan sesak. Di dunia sosialnya, dicap sebagai pembohong dan pelaku perundungan yang gagal adalah sebuah hukuman sosial yang jauh lebih kejam daripada skorsing sekalipun.

"Rina... bajingan kecil itu!" desis Sherly, melempar ponselnya ke atas tas makeup di samping wastafel toilet hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.

Sementara itu, Rina sedang berjalan dengan tenang menuju area loker siswa di koridor barat. Dia mengabaikan tatapan mata dan bisikan para siswa yang berpura-pura sibuk membetulkan tali sepatu saat dia lewat. Baginya, riak rumor ini baru awal dari badai yang sesungguhnya.

Saat Rina memasukkan beberapa buku tebal ke dalam loker besi birunya, sebuah bayangan panjang mendadak menghalangi pantulan cahaya di pintu loker. Rina tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma parfum vanila menyengat yang bercampur dengan bau keringat karena emosi sudah cukup menjadi penanda.

Sherly berdiri di sana, didampingi oleh dua kaki tangannya, Clarissa dan Keysha. Wajah Sherly tampak sangat kaku di bawah sapuan bedak yang mulai luntur.

"Puas kamu sekarang, Rina?" desis Sherly, suaranya bergetar hebat, ditekan sedalam mungkin agar tidak menarik perhatian siswa lain yang mulai berkerumun di ujung koridor. "Kamu sengaja kan bikin foto itu tersebar? Kamu mau hancurin nama baikku di sekolah ini?"

Rina menutup pintu lokernya dengan pelan, memunculkan bunyi klik yang tajam di tengah keheningan koridor. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada barisan loker dengan santai. Di balik poni tebal dan kacamata besarnya, mata Rina menatap Sherly dengan pandangan yang sangat tenang—sebuah ketenangan yang justru terasa sangat mengintimidasi bagi lawan bicaranya.

"Foto apa yang kamu maksud, Sherly?" Rina balik bertanya, nadanya terdengar sangat datar tanpa ada emosi sedikit pun.

"Jangan pura-pura bodoh, kuper!" potong Clarissa dengan ketus, melangkah maju mencoba mengintimidasi Rina dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. "Semua orang di grup angkatan lagi ngomongin soal kamu yang sok pahlawan dan bikin kita dihukum kemarin! Kamu pasti kan yang bayar anak lain buat sebarin foto itu?"

Rina mengalihkan pandangannya kepada Clarissa selama satu detik, lalu kembali menatap Sherly. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan Clarissa. Di mata dewasanya, kemarahan remaja-remaja ini tampak sangat kekanak-kanakan dan mudah dibaca.

"Sherly," ucap Rina, melangkah satu langkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter saja. Kehadiran Rina mendadak memancarkan tekanan aura yang begitu dingin dan mahal, membuat Clarissa secara refleks mundur selangkah tanpa dia sadari. "Selama satu tahun penuh, aku selalu diam saat kamu mengambil hasil kerja kerasku. Aku selalu tersenyum saat kamu menjadikanku bahan tertawaan agar posisimu di geng ini aman. Aku mengalah, bukan karena aku bodoh atau takut kepadamu."

Rina mendekatkan wajahnya ke telinga Sherly, berbisik dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman mutlak. "Aku hanya sedang mengumpulkan semua bukti kelakuanmu. Mulai hari ini, kerjakan tugasmu dengan otakmu sendiri, atau rahasia tentang ibumu yang menyogok komite sekolah sebesar lima puluh juta rupiah demi meloloskanmu di tim pemandu sorak tahun lalu akan menjadi tajuk utama di mading sekolah besok pagi."

Mendengar bisikan itu, seluruh persendian di tubuh Sherly mendadak lemas. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini berubah menjadi pucat pasi seputih kertas koran. Rahasia suap itu adalah rahasia paling sakral keluarganya yang bahkan tidak diketahui oleh Clarissa maupun Keysha. Bagaimana bisa Rina—gadis yang selama ini dia anggap tidak lebih dari seonggok daging tak berguna—bisa mengetahui hal tersebut?

"K-kamu... dari mana kamu tahu..." suara Sherly terbata-bata, matanya melebar penuh rasa horor yang luar biasa.

Rina kembali menegakkan tubuhnya, merapikan letak kerah seragamnya yang sedikit bergeser dengan gerakan yang sangat anggun. "Dunia ini memiliki telinga yang sangat tajam untuk mendengarkan kebusukan, Sherly. Jadi, saranku adalah jaga sikapmu dan teman-temanmu. Jangan pernah memancing singa yang sedang tidur jika kamu tidak siap untuk dicabik-cabik."

Tanpa menunggu balasan, Rina melangkah melewati celah di antara Sherly dan Clarissa yang masih terpaku membeku di tempatnya. Langkah kaki Rina terdengar sangat mantap, meninggalkan ketiga gadis populer itu dalam keheningan yang dipenuhi oleh rasa takut yang baru pertama kali mereka rasakan seumur hidup.

 

Hari Sabtu tiba, membawa angin segar bagi rencana jangka panjang Rina. Akhir pekan adalah waktu terbaik untuk melakukan eksekusi fase berikutnya: transformasi fisik secara berkala. Rina tahu, untuk memimpin di sekolah seperti Harapan Elite, kecerdasan otak saja tidak cukup. Dia membutuhkan penampilan yang selaras dengan aura dominasi yang dia miliki agar tidak ada lagi celah bagi orang lain untuk meremehkannya.

Bermodalkan uang tabungan pribadinya yang dia kumpulkan dari sisa uang saku mingguan—serta sedikit hasil dari analisis saham mikro yang dia lakukan lewat internet malam sebelumnya—Rina mendatangi sebuah salon kecantikan profesional yang terletak di kawasan berkelas di Jakarta Selatan, jauh dari area perumahan teman-teman sekolahnya.

"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa kami bantu hari ini?" sapa seorang penata gaya pria berpenampilan modis saat Rina melangkah masuk ke dalam salon yang beraroma terapi lavender tersebut.

Rina melepas kacamata besarnya, menatap refleksinya di cermin salon yang besar dan bersih. "Saya ingin mengubah potongan rambut saya. Hilangkan poni tebal ini, rapihkan menjadi potongan layer modern yang membingkai wajah, dan berikan perawatan vitamin intensif untuk memperbaiki teksturnya," ucap Rina dengan nada suara yang sangat tegas dan penuh keyakinan, membuat sang penata gaya langsung mengangguk hormat karena menyadari pelanggan remajanya ini bukanlah tipe orang yang bisa diatur sembarangan.

Proses transformasi itu memakan waktu hampir tiga jam. Rambut Rina yang tadinya kusam, acak-akan, dan tidak terawat perlahan-lahan mulai memancarkan kilau hitam alaminya setelah dicuci, diberikan masker rambut esensial, dan dipotong dengan teknik presisi tinggi oleh sang ahli. Poni tebal yang selama ini menjadi tameng ketakutannya dipangkas habis secara elegan, mengekspos dahinya yang bersih dan sepasang alisnya yang melengkung indah.

Setelah urusan rambut selesai, Rina mendatangi sebuah optik ternama di mal yang sama. Dia memutuskan untuk mengganti kacamata plastik hitam murahnya dengan lensa kontak transparan berkualitas tinggi yang nyaman dipakai untuk aktivitas harian.

Malam harinya, di dalam kamarnya yang sunyi, Rina berdiri di depan cermin lemari pakaiannya. Lampu kamar yang terang benderang menyinari sosok yang kini berdiri di dalam pantulan kaca.

Rina tertegun selama beberapa detik.

Sosok gadis kuper yang menyedihkan, yang di kehidupan pertamanya selalu menangis di pojok kamar mandi, telah lenyap tanpa bekas. Di dalam cermin itu, sekarang berdiri seorang wanita muda yang sangat anggun dan cantik. Tanpa poni tebal dan kacamata besar, fitur wajah asli Rina yang mewarisi kecantikan aristokrat ibunya terpancar dengan sangat sempurna: mata bulat hitam yang tajam dan pekat seperti malam, hidung bangir yang proporsional, serta garis rahang yang tegas yang memancarkan aura wibawa yang sangat mahal. Rambut layer barunya jatuh dengan sangat indah di atas bahunya, memberikan kesan mandiri sekaligus karismatik.

Rina menyentuh pipinya perlahan. Senyuman tipis yang dingin terukir di bibirnya. "Selamat tinggal, Rina yang lama," bisik Rina pada refleksinya sendiri. "Hari Senin besok, panggung yang sesungguhnya akan dimulai. Dan aku pastikan, seluruh pasang mata di Harapan Elite tidak akan pernah bisa melupakan hari itu."

 

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!