Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sebuah teks notifikasi langsung muncul menyapa Budi dengan huruf yang bersinar.
Pengguna mendapatkan satu kali lemparan dadu gratis hari ini.
Silakan sentuh dadu virtual untuk mulai memutar undian nasib anda.
Dua buah dadu virtual putih kembali melayang di udara menunggu untuk disentuh.
Budi mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar karena kram mengetik seharian.
Dia menggenggam kedua dadu itu erat erat di telapak tangannya.
"Dengar sistem, kau sudah menyiksaku semalaman dengan hukuman gila itu."
"Malam ini aku butuh keajaiban sungguhan untuk menyelamatkan pekerjaanku dari bos sialan itu."
"Tolong berikan aku petak yang menguntungkan kali ini."
Budi memanjatkan doa dengan sangat tulus dan putus asa sebelum melempar dadunya.
Klak klak klak.
Dadu itu memantul di atas papan hologram dengan ritme yang membuat jantung Budi berdebar kencang.
Dadu pertama berhenti dan menunjukkan angka lima.
Dadu kedua berguling menabrak pinggiran papan dan akhirnya berhenti di angka empat.
"Sembilan, totalnya sembilan langkah."
Budi menatap avatar chibinya yang kini mulai melompat maju meninggalkan petak merah dari hari sebelumnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.
Karakter kecil itu mendarat di sebuah petak berwarna biru terang yang mengeluarkan efek cahaya bintang.
Terdapat gambar sebuah peti harta karun kecil yang terbuka di tengah petak tersebut.
Tulisan di bawah petak itu berbunyi Kesempatan Baik.
Budi langsung mengepalkan tangannya ke udara menahan sorak kegembiraan.
"Akhirnya keberuntungan memihak kepadaku."
Sebuah kotak notifikasi emas muncul di tengah layar menutupi pandangan Budi ke arah papan.
Pengguna telah menginjak petak Kesempatan Baik.
Sistem mendeteksi bahwa pengguna sedang mengalami kelelahan mental dan fisik yang ekstrim.
Hadiah telah disesuaikan dengan kebutuhan paling mendesak pengguna saat ini.
Selamat, pengguna mendapatkan satu buah Item Ajaib "Permen Fokus Pekerja Keras".
Tiba tiba muncul secercah cahaya kecil dari dalam layar hologram yang keluar mengambang menuju Budi.
Cahaya itu perlahan meredup dan meninggalkan sebuah benda kecil jatuh tepat di telapak tangan Budi.
Tap.
Budi menatap benda kecil yang kini berada di tangannya dengan tatapan penuh tanya.
Itu adalah sebuah permen bulat berbungkus plastik bening biasa dengan warna merah transparan.
Bentuknya sama persis seperti permen permen murah yang biasa dijual di warung kelontong.
Budi kembali menatap layar hologram yang kini menampilkan detail deskripsi dari item tersebut.
Permen Fokus Pekerja Keras.
Kategori Item Sekali Pakai.
Deskripsi saat pengguna memakan permen ini maka pikiran akan menjadi jernih tanpa batas selama empat jam penuh.
Efek tambahan kecepatan mengetik pengguna akan meningkat sepuluh kali lipat dengan tingkat akurasi seratus persen tanpa ada kesalahan ketik sedikit pun.
Peringatan setelah efek permen habis pengguna akan tertidur pulas secara otomatis.
Mata Budi berbinar sangat terang membaca deretan teks deskripsi tersebut.
Ini adalah jawaban langsung dari doa doanya untuk menyelesaikan tugas mustahil dari Pak Anton.
"Sistem, aku tarik kembali semua umpatanku padamu kemarin malam."
"Kau benar benar sistem penyelamat nyawa yang paling mengerti penderitaanku."
Budi segera membuka bungkusan plastik permen tersebut tanpa berpikir panjang lagi.
Dia memasukkan permen merah itu ke dalam mulutnya.
Rasa manis rasa stroberi yang sangat segar langsung meledak di dalam mulutnya.
Hanya dalam hitungan detik setelah Budi menelan sari permen itu, efek keajaibannya langsung bekerja.
Wusss.
Budi merasakan sebuah aliran energi dingin menyegarkan mengalir dari perut langsung menuju ke otaknya.
Rasa kantuk yang sedari tadi menyiksanya tiba tiba lenyap tak berbekas seolah ditiup angin kencang.
Matanya yang sebelumnya terasa perih kini menjadi sangat tajam dan jernih.
Otot otot tangannya yang kram tiba tiba terasa sangat rileks dan siap digunakan untuk maraton.
"Luar biasa, rasanya otakkuku seperti baru saja di upgrade menjadi mesin super."
Budi segera bangkit dari duduknya dan menyalakan laptop butut yang biasa dia pakai untuk menonton film.
Dia menancapkan flashdisknya dan membuka file lembar kerja laporannya tadi.
Budi menarik kardus yang berisi ribuan nota berdebu itu mendekat ke arahnya.
Dia menatap tumpukan nota pertama dengan tatapan tajam layaknya seekor elang yang melihat mangsa.
Tanpa perlu berpikir atau memicingkan mata, Budi bisa langsung membaca deretan angka pudar di nota itu dengan sangat jelas.
Tangannya bergerak dengan sendirinya di atas keyboard laptop.
Trak trak trak trak.
Suara ketikan Budi kini terdengar seperti berondongan peluru dari senapan mesin.
Jari jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh manusia normal.
Matanya hanya sesekali melirik ke arah nota lalu kembali menatap layar sementara tangannya terus mengetik tanpa melihat.
Satu nota selesai diinput hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Seratus lembar nota selesai diinput dalam waktu beberapa menit saja tanpa ada satu pun angka yang meleset.
Kardus yang awalnya penuh dengan nota belum terinput kini perlahan lahan mulai kosong.
Budi merasa dirinya menyatu dengan mesin dan tidak merasakan lelah sedikit pun.
Waktu terus berjalan menemani suara ketikan Budi yang konstan dan mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu.
Satu jam berlalu dengan sangat cepat.
Dua jam berlalu dan kardus pertama sudah benar benar kosong bersih.
Tepat di jam ketiga sejak permen itu ditelan, nota terakhir dari kardus kedua akhirnya berhasil dipindahkan ke lembar kerja.
Klik.
Budi menekan tombol simpan dengan satu jari telunjuknya yang bergerak mantap.
Ribuan data nota kusam lima tahun terakhir kini telah tersusun sangat rapi dalam format tabel digital.
Budi tersenyum menyeringai menatap layar laptopnya yang menampilkan hasil kerja sempurna.
"Selesai, semuanya selesai jauh sebelum batas waktu."
Dia melihat jam di layar laptopnya yang menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam.
"Pak Anton, besok pagi bersiaplah untuk melihat karyawan rendahan ini menampar wajah sombongmu dengan hasil kerjanya."
Budi bergumam penuh kemenangan sambil membayangkan ekspresi kesal bosnya esok hari.
Tiba tiba Budi merasakan matanya sangat berat dan seluruh energinya seolah ditarik paksa keluar dari tubuhnya.
Efek batas waktu empat jam dari Permen Fokus Pekerja Keras akhirnya telah habis.
Budi bahkan tidak sempat mematikan laptopnya sebelum tubuhnya ambruk ke belakang.
Bruk.
Dia langsung tertidur sangat pulas di atas karpet kamarnya dengan senyum puas yang masih tersungging di bibirnya.
Esok pagi akan menjadi hari pembalasan dendam yang manis di ruang divisi administrasi.