NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."

Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.

Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.

Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.

Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...

Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.

Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

END | Akhir Dari Sebuah Dendam

Malam masih menyelimuti taman itu ketika sirene polisi semakin mendekat. Lampu merah dan biru berpendar di antara pepohonan, memecah gelap yang sejak tadi menyelimuti suasana.

Namun tak seorang pun bergerak.

Tatapan Arsen terpaku pada foto di tangannya.

Tangannya bergetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena nama yang baru saja kembali muncul dari masa lalu.

Rafael Mahendra.

"Kak..."

Suara itu nyaris tak terdengar.

Sudah tujuh tahun ia mengucapkan nama itu hanya dalam doa.

Tujuh tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa kakaknya telah meninggal dalam tragedi yang mengubah hidup mereka.

Kini...

Harapan yang telah lama terkubur kembali muncul.

Di saat yang sama, Ayla menatap Arsen dengan kebingungan.

"Pak Arsen..."

"Siapa Rafael?"

Arsen mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapannya begitu lelah.

"Dia..."

"...kakakku."

Keheningan langsung menyelimuti taman.

Ayla membeku.

Raka yang berdiri di samping mereka pun tak mampu berkata apa-apa.

Semua potongan teka-teki mulai menemukan tempatnya.

__________________________________________

Keesokan paginya.

Arsen memutuskan mengikuti satu-satunya petunjuk yang tersisa.

Sebuah alamat tua yang terselip di dalam map cokelat.

Gudang tua di pinggir pelabuhan.

Tempat yang sejak lama sudah ditinggalkan.

Meski Raka berkali-kali meminta tambahan pengamanan, Arsen menolak.

"Aku harus datang."

"Kalau memang ini jebakan..."

"...biarkan aku yang mengakhirinya."

Ayla berdiri di samping mobil.

"Aku ikut."

"Tidak."

"Aku harus ikut."

Tatapan mereka bertemu.

"Kejadian ini juga menyangkut hidupku."

Arsen terdiam beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

"Jangan jauh dariku."

___________________________________________

Gudang itu tampak rapuh.

Cat dindingnya mengelupas.

Atap seng berkarat diterpa angin laut.

Begitu pintu besar didorong...

Suara langkah kaki bergema memenuhi ruangan kosong.

Di tengah gudang...

Seseorang berdiri membelakangi mereka.

Tubuhnya tinggi.

Memakai mantel hitam panjang.

"Akhirnya..."

Suara itu terdengar tenang.

"...kau datang juga."

Arsen mengepalkan tangan.

"Siapa kau?"

Pria itu tertawa pelan.

Lalu perlahan membuka topeng yang selama ini menutupi wajahnya.

Bukan Rafael.

Melainkan pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan bekas luka panjang di pipi kirinya.

Ayla belum pernah melihatnya.

Namun Arsen langsung mengenal wajah itu.

"Leon..."

Pria itu tersenyum.

"Masih ingat rupanya."

"Ayahku pernah bekerja untuk keluarga Mahendra."

"Dan mati..."

"...karena fitnah yang diciptakan orang-orang serakah."

"Tapi itu bukan keluargaku!"

Bentak Arsen.

Leon menggeleng.

"Aku tahu."

"Itulah yang baru kusadari bertahun-tahun kemudian."

Ayla mengernyit.

"Kalau begitu kenapa semua ini?"

Leon memejamkan mata sejenak.

"Dendam."

"Saat seseorang kehilangan semua yang ia cintai, dendam terasa seperti satu-satunya alasan untuk tetap hidup."

"Baru setelah mengetahui kebenaran..."

"...aku sadar."

"...aku telah membenci orang yang salah."

Ruangan kembali sunyi.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara...

Suara langkah kaki lain terdengar dari lantai dua gudang.

Tak...

Tak...

Tak...

Seorang pria turun perlahan dari tangga besi.

Separuh wajahnya dipenuhi bekas luka bakar.

Namun sorot matanya...

Masih sama.

Arsen membeku.

Air matanya langsung jatuh.

"Kak..."

Pria itu tersenyum tipis.

"Sudah besar..."

"...Arsen."

Tanpa memedulikan apa pun, Arsen berlari.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

CEO dingin yang selalu mampu menyembunyikan emosi itu memeluk seseorang sambil menangis.

"Aku pikir..."

"Aku pikir Kakak sudah meninggal."

Rafael menepuk pelan bahu adiknya.

"Maaf."

"Aku terpaksa menghilang."

"Banyak orang yang masih memburu saksi malam itu."

Tatapan Rafael kemudian beralih kepada Ayla.

"Kamu pasti banyak bertanya."

Ayla mengangguk pelan.

"Kenapa saya tidak mengingat apa pun?"

Rafael menarik napas panjang.

"Malam itu..."

"...kamu melihat wajah orang yang memerintahkan kecelakaan itu."

"Tapi setelah mobil menabrak pembatas jalan, kamu mengalami benturan keras."

"Kamu selamat."

"Namun sebagian ingatanmu menghilang."

Ayla menggenggam kepalanya.

Potongan-potongan kenangan mulai kembali.

Hujan.

Jeritan.

Mobil yang berputar.

Seorang pria menyeretnya keluar.

Dan...

Kakaknya.

"Kak..."

Air mata Ayla mengalir.

"Aku ingat..."

"Malam itu Kakak berusaha menyelamatkanku."

"Tapi..."

Rafael mengangguk.

"Kakakmu, Rangga, dan aku bekerja sama mencari dalang sebenarnya."

"Sayangnya..."

"Rangga memilih bersembunyi demi melindungimu."

Ayla terisak.

Selama ini ia percaya kakaknya menghilang tanpa alasan.

Padahal...

Semua itu dilakukan agar dirinya tetap hidup.

__________________________________________

Leon menyerahkan sebuah flashdisk kepada Arsen.

"Di dalamnya ada semua bukti."

"Nama orang yang memerintahkan kecelakaan."

"Aliran dana."

"Semua."

Arsen menerimanya perlahan.

"Lalu kenapa kau tidak menyerahkannya sejak awal?"

Leon tersenyum pahit.

"Karena aku terlalu sibuk memelihara kebencian."

"Terkadang..."

"...dendam membuat kita buta terhadap kebenaran."

Tak lama kemudian, suara sirene polisi memenuhi area gudang.

Leon tidak melawan.

Ia mengangkat kedua tangannya.

"Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya."

"Sampaikan pada keluarga para korban..."

"...aku benar-benar menyesal."

Petugas membawa Leon pergi.

Gudang kembali sunyi.

Hanya tersisa Arsen, Ayla, Rafael, dan Raka.

___________________________________________

Beberapa bulan kemudian...

Mahendra Group kembali berdiri kokoh.

Kasus kecelakaan tahun 2019 akhirnya resmi ditutup setelah dalang utamanya—seorang pengusaha yang selama ini memanfaatkan permusuhan banyak pihak demi keuntungan bisnis—ditangkap berdasarkan bukti yang dikumpulkan Rafael dan Rangga selama bertahun-tahun.

Nama keluarga Mahendra dipulihkan.

Begitu pula nama keluarga Ayla.

Dendam yang diwariskan akhirnya berhenti pada generasi mereka.

Pagi itu, matahari bersinar hangat.

Ayla berdiri di depan gedung Mahendra Group.

Bukan lagi sebagai sekretaris yang gugup.

Melainkan sebagai wanita yang kini berdiri sejajar dengan pria yang dicintainya.

Arsen keluar dari mobil.

Seperti biasa.

Ia berjalan ke sisi Ayla dan membukakan pintu.

"Kita terlambat."

gumamnya pelan.

Ayla tertawa kecil.

"Dulu Bapak selalu serius."

"Sekarang masih serius juga."

Arsen mengangkat sebelah alis.

"Memangnya harus berubah?"

"Sedikit."

Ayla tersenyum jahil.

"Lagipula..."

"Sekarang Bapak bukan cuma CEO."

"Tapi juga suami."

Arsen terdiam beberapa detik.

Lalu...

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...

Senyum tulus benar-benar terlihat di wajahnya.

"Boleh."

"Hm?"

"Mulai hari ini..."

"...panggil aku Arsen."

Pipi Ayla langsung memerah.

"Baik..."

"...Arsen."

Pria itu menggenggam tangan Ayla dengan lembut.

Tak lagi karena takut kehilangannya.

Tak lagi karena ancaman masa lalu.

Melainkan karena ia ingin berjalan bersamanya.

Selamanya.

Di bawah langit pagi yang cerah, keduanya melangkah memasuki gedung Mahendra Group.

Bukan sebagai dua orang yang dipersatukan oleh dendam.

Melainkan sebagai dua hati yang memilih saling percaya setelah melewati badai.

Masa lalu memang meninggalkan luka.

Namun luka bukanlah tempat untuk menetap.

Ia adalah pelajaran agar kita lebih menghargai setiap langkah menuju masa depan.

Dan kali ini...

Arsen menggenggam tangan Ayla lebih erat.

Bukan untuk menyelamatkannya dari masa lalu.

Melainkan menemaninya membangun masa depan.

TAMAT

(sampai jumpa) 💗 btw mau eps bonus mereka menikah dan punya anak gak? SERUUUUU kalo dipikir-pikir. TUNGGU YAAAAA

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!