Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu yang menghujam
"Selama ini dia tinggal sama siapa, Bu? Kenapa tidak ada pihak dinas sosial yang membawa mereka untuk merawat mereka, biar kehidupan mereka jauh lebih layak?" Tanya Arkan lagi dengan nada menuntut yang bergetar.
Ia merasa sangat miris sekaligus murka pada keadaan. Di saat dirinya mengerahkan seluruh jaringan detektif swasta dan membuang uang miliaran rupiah namun selalu berujung pada jalan buntu, ia berpikir setidaknya ada lembaga pemerintahan atau dinas sosial yang menyisir jalanan ibu kota.
Harusnya mereka bisa mengamankan seorang wanita yang kehilangan ingatan dan kewarasan seperti Salsa agar mendapatkan perawatan medis yang memadai, bukan malah membiarkannya telantar di sudut kota yang kejam.
Mendengar rentetan pertanyaan Arkan, pandangan mata Bi Siti menerawang jauh menembus batasan dinding kayu warungnya. Pikirannya seketika menelisik kembali ke memori beberapa tahun yang lalu, saat sepasang matanya pertama kali menyaksikan kedatangan Salsa di wilayah kolong jembatan layang ini.
"Dia tidak sendirian sejak awal, Pak. Selama ini dia tinggal dan dirawat oleh Mbok Darmi" Ucap Bi Siti dengan suara yang mendalam.
"Rumah tempat mereka berteduh ada di sebelah sana, agak menjorok ke dalam bawah kolong jembatan. Tapi, sebenarnya tidak bisa dibilang rumah juga, Pak. Tempat itu hanya sebuah gubuk reyot yang dinding dan atapnya dibuat dari bentangan terpal plastik bekas dan spanduk-spanduk jalanan. Mbok Darmi sendiri juga seorang tunawisma, seorang janda tua renta yang menyambung hidup dari memungut botol-botol bekas"
Bi Siti menghela napas, merapatkan jemarinya di atas meja warung sebelum melanjutkan.
"Malam itu, sekitar lima setengah atau enam tahun yang lalu, hujan turun sangat lebat disertai angin kencang. Mbok Darmi yang baru mau pulang berteduh tidak sengaja menemukan Salsa sedang berjalan terlunta-lunta di pinggir jalan raya dalam keadaan basah kuyup. Saat ditemukan, perut Salsa sudah membesar, mengandung sekitar enam bulan kalau tidak salah perkiraan kami waktu itu. Dan... keadaannya sejak malam pertama ditemukan memang sudah seperti ini, Pak. Sudah tidak bisa diajak bicara, linglung, dan terus-menerus ketakutan"
"Apa?!"
Arkan seketika menegakkan tubuhnya. Kalimat itu meluncur dari mulutnya bersamaan dengan rasa hantaman godam yang luar biasa kuat di dadanya.
"Jadi, saat Salsa sedang mengandung Ayu, keadaan mentalnya sudah hancur seperti ini?"
"Iya, Pak. Benar" Angguk Bi Siti dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dia sudah tidak tahu siapa namanya, tidak tahu dari mana asalnya. Dia hanya menangis dan meraba perutnya. Karena merasa iba dan tidak tega melihat sesama wanita hamil telantar di jalanan, Mbok Darmi akhirnya menuntunnya dan membawanya pulang ke gubuk terpalnya. Selama bertahun-tahun, tidak ada petugas dinas sosial yang berani membawanya pergi, dan tidak ada warga atau preman pasar yang mengusir mereka dari kolong jembatan ini"
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Arkan dengan suara yang tercekat.
"Karena Mbok Darmi pasang badan untuknya, Pak. Setiap kali ada penertiban atau ada orang asing yang datang menanyakan asal-usul Salsa, Mbok Darmi selalu mengaku kepada semua orang dengan galak bahwa Salsa adalah anak kandungnya sendiri yang mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Mbok Darmi merawat dan melindunginya seperti darah dagingnya sendiri"
"Jadi, selama ini istri dan anak saya tinggal di dalam gubuk terpal di bawah kolong jembatan ini...?" Suara Arkan pecah di ujung kalimat.
"Iya, Pak. Di sinilah tempat Ayu dilahirkan dan dibesarkan" Jawab Bi Siti lirih.
Arkan menarik napasnya dengan sangat dalam, mencoba sekuat tenaga untuk menetralisir rasa sakit yang teramat menghujam di dalam rongga dadanya. Ia mencoba mencengkeram tepi meja kayu untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
Namun, dengan cara apa pun ia mencoba bertahan, air matanya tetap saja mengucur deras tanpa bisa dihentikan, membasahi pipi hingga menetes ke atas lantai warung yang kotor. Pria itu menangisi kenyataan bahwa putrinya terlahir di atas selembar tikar usang di dalam gubuk terpal yang pengap, sementara dirinya tidur di atas kasur sutra mewah di dalam kamar ber-AC.
"Lalu, sekarang di mana Mbok Darmi, Bu? Saya ingin menemuinya, saya ingin berterima kasih kepadanya" Tanya Arkan dengan pandangan memohon, berharap bisa membalas budi pada wanita tua penolong hidup keluarganya.
Bi Siti menggelengkan kepala perlahan, seulas senyum sedih terukir di bibirnya.
"Mbok Darmi sudah meninggal dunia sekitar satu tahun yang lalu karena sakit tua, Pak. Dan sejak saat itu, mereka berdua benar-benar hanya tinggal berdua saja di bawah kolong jembatan ini"
Bi Siti mengusap sudut matanya yang mulai basah menggunakan ujung handuk kecil di lehernya.
"Dulu, waktu Ayu masih bayi dan balita, Mbok Darmi yang paling banyak membantu mengurus dan menyuapi Ayu karena Salsa sering kali histeris atau larut dalam dunianya sendiri. Tapi sekarang, setelah Mbok Darmi pergi menghadap Yang Kuasa, Ayu yang terpaksa mengambil alih semuanya. Bocah kecil itu yang mengurus keperluan Salsa seorang diri"
Mendengarkan cerita dari Bi Siti, Arkan merasa seluruh isi kepalanya kosong. Ia menolehkan pandangannya ke arah pintu warung, menatap punggung kecil Ayu yang sedang duduk setia di samping Salsa.
"Gadis sekecil ini..." Gumam Bi Siti dengan suara yang bergetar menahan tangis yang mendalam.
"Harus mengurus ibunya yang sakit jiwa seorang diri. Di usianya yang baru menginjak lima tahun lebih, harusnya anak seusia dia sedang asyik bermain bersama teman-temannya, dia manja, dia meminta mainan baru pada ayahnya. Tapi Ayu, dia harus dipaksa dewasa sebelum waktunya oleh keadaan yang kejam"
Bi Siti menunjuk ke arah kantong plastik berisi makanan sisa yang diletakkan Ayu di dekat tikar.
"Dia yang menjaga ibunya dari gangguan preman jalanan, dia yang berjalan kaki berkilo-kilometer mencari makan sendiri, memungut atau meminta sisa makanan dari warung-warung makan demi bertahan hidup bersama ibunya. Di saat dia lelah dan ingin meminta dekapan hangat seorang ibu untuk bermanja, ibunya tidak pernah menganggap dirinya ada. Salsa hanya menganggap boneka plastik kumal itu sebagai anaknya"
Hiks... hiks...
Arkan menangis sejadi-jadinya hingga dadanya terasa sangat sesak dan tersedak mendengarkan seluruh pemaparan dari Bi Siti.
Pertahanan dirinya sebagai seorang pengusaha sukses yang dingin kini telah runtuh total, rata dengan tanah. Ia tidak memiliki rasa malu lagi meskipun harus menangis meraung-raung di hadapan Bi Siti, seorang wanita pemilik warung kelontong kecil yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya. Rasa perih di hatinya jauh lebih besar daripada harga diri mana pun di dunia ini.
Dengan tubuh yang gemetar hebat dan langkah yang limbung, Arkan bangkit dari kursi plastiknya. Ia berjalan mendekati pintu warung, lalu kembali menjatuhkan kedua lututnya, bersimpuh tepat di hadapan Salsa dan Ayu di atas lantai tikar yang berdebu.
"Maafkan aku, Salsa... demi Tuhan, maafkan aku..." Tangis Arkan semakin tergugu, suaranya pecah dipenuhi rasa penyesalan yang tiada tara. Ia menatap wajah Salsa yang kusam, lalu beralih menatap sepasang kaki kecil Ayu yang penuh dengan bekas luka goresan aspal dan tidak mengenakan alas kaki yang layak.
Ayu yang melihat pria besar itu kembali bersimpuh dan menangis di depan mereka hanya bisa terdiam. Rasa waspada di matanya masih ada, namun kini bercampur dengan kilatan rasa bingung yang mendalam menatap pundak Arkan yang naik turun karena tangisan yang histeris.
Bi Siti yang menyaksikan pemandangan memilukan itu dari balik mejanya kini menjadi sangat yakin. Ketulusan rasa sakit, air mata darah, dan hancurnya mental pria di hadapannya ini tidak mungkin sebuah sandiwara. Pria berjas mewah ini memang benar-benar suami dari Salsa, ayah kandung yang sah dari Ayu yang selama ini hilang arah.
Bi Siti berjalan keluar dari balik meja warungnya, lalu berdiri di dekat Arkan. Ia menatap ke arah Salsa yang masih saja sibuk mengayun-ayunkan dan menimang bayi boneka plastik di dalam gendongan kain jariknya dengan senyuman kosong.
"Bapak..." panggil Bi Siti dengan nada suara yang melembut namun penuh dengan penekanan yang tegas.
"Kalau memang benar Bapak ini adalah suami dari Salsa, saya mohon bawalah dia pulang hari ini juga dari tempat terkutuk ini. Rawatlah dia dengan layak, bawalah dia ke dokter terbaik untuk menyembuhkan jiwanya. Kasihan dia Pak, hidupnya sudah terlalu lama menderita, tersiksa, dan terlunta-lunta di jalanan yang dingin ini"
Bi Siti kemudian mengulurkan tangannya, mengelus rambut berantakan milik Ayu dengan penuh kasih sayang.
"Dan bukan hanya Salsa Pak, Ayu... anak ini juga berhak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Dia butuh tempat tinggal yang aman, dia butuh kasih sayang utuh dari orang tuanya, dan yang paling penting, anak secerdas Ayu butuh sekolah agar masa depannya tidak berakhir menjadi gelandangan di bawah kolong jembatan ini"
Arkan mendongak, menatap Bi Siti dengan sepasang mata yang merah dan sembap karena air mata. Ia menggenggam jemarinya sendiri dengan erat, lalu mengangguk dengan penuh tekad yang mutlak.
"Iya, Bu... Iya" Jawab Arkan dengan suara yang tegas di antara sisa tangisnya.
"Saya bersumpah, saya akan membawa mereka pulang dan saya akan menebus seluruh kesalahan saya. Saya aman merawat mereka dengan taruhan nyawa saya sendiri"
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..