Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ada beberapa catatan kunjungan atas namamu. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuktikan kalau kamu tidak benar-benar meninggalkan anak itu."
Rani mengangkat wajahnya perlahan. Jemarinya semakin kuat mencengkeram berkas di tangan.
"Tunggu..." Ia menggeleng pelan, berusaha memahami semuanya. "Kalau aku masih menjenguknya, kenapa aku memasukkannya ke rumah sakit jiwa?"
"Itu yang sedang coba kita cari tahu," jawab Rico. "Karena semakin aku menyelidikinya, semakin banyak hal yang terasa janggal."
Rani kembali menunduk. Matanya menyapu lembar demi lembar dokumen di hadapannya. Kepalanya terasa penuh oleh pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
"Ran." Sekar akhirnya ikut bersuara. "Sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri." Wanita itu menarik berkas dari tangan Rani lalu menunjuk beberapa bagian yang sudah diberi tanda oleh Rico.
"Coba pikirkan. Kalau kamu benar-benar ingin membuang anak itu, untuk apa kamu terus membayar biaya perawatannya? Untuk apa kamu diam-diam datang menjenguknya? Aku nggak percaya seorang ibu yang menolak anaknya masih melakukan semua itu selama bertahun-tahun."
Rani terdiam. Semakin banyak fakta yang muncul, semakin ia merasa ada bagian penting yang hilang dari cerita ini. Seolah seseorang sengaja menyembunyikan potongan-potongan kebenaran, sementara yang ditunjukkan kepadanya hanyalah bagian yang membuat dirinya tampak seperti ibu yang kejam.
"Aku yakin Sintia terlibat dalam semua ini," ucapnya tiba-tiba.
Sekar dan Rico saling pandang.
"Kamu yakin?" tanya Rico. "Jangan sampai ini cuma prasangka karena kamu nggak suka padanya."
"Kalau hanya satu atau dua kejadian mungkin aku bisa menganggapnya kebetulan." Rani menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tapi semakin aku mengingat apa yang terjadi sejak kemarin, semakin aku merasa semua benang masalah ini selalu mengarah ke Sintia."
"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal." Rico mengetuk pelan meja dengan jarinya. "Kalau memang Sintia ingin merebut posisi kamu, kenapa Roy tidak menceraikanmu? Dan lagi anak itu juga darah daging suamimu, tapi ia tidak melakukan apapun saat anaknya masuk rumah sakit jiwa."
Pertanyaan itu membuat Rani terdiam. Ia kembali membuka berkas yang berisi informasi tentang Roy, Sintia, dan ketiga anak tirinya. Tidak ada hubungan yang terlihat mencurigakan. Di atas kertas, Roy dan Sintia hanyalah rekan kerja. Ketiga anak itu juga dikenal sebagai anak-anak berprestasi dengan citra yang baik.
"Ric, data yang kamu dapat ini sama sekali nggak sesuai dengan apa yang aku lihat di rumah," gumam Rani. "Kemarin dan tadi pagi mereka memperlakukan Sintia seperti keluarga mereka sendiri."
"Itu artinya ada dua kemungkinan," sahut Sekar. "Mereka berhasil menipu semua orang, atau mereka memang sengaja menyembunyikan sesuatu."
Rani mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak membaca berkas itu, sorot matanya berubah. Tidak lagi bingung atau terpukul, melainkan penuh perhitungan.
"Kalau mereka mau bermain sandiwara, aku juga bisa ikut bermain."
Sekar langsung mengernyit. "Jangan bilang kamu mau kembali jadi Rani yang selalu mengalah."
Rani terkekeh pelan lalu menggeleng.
"Tentu saja tidak." Ia menutup berkas di tangannya. "Selama ini mereka mengenal Rani yang rela melakukan apa saja demi diterima keluarga itu. Kali ini mereka akan berhadapan dengan Rani yang berbeda."
Rico menatapnya penuh khawatir. "Ran, jangan sampai kamu terluka lagi."
Rani tersenyum tipis. Namun kali ini senyum itu tidak terlihat rapuh.
"Aku sudah pernah kehilangan sepuluh tahun hidupku, Ric. Percayalah, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Iya, tapi kamu tetap harus rutin datang ke rumah sakit untuk memeriksa kondisimu." Rico menatap Rani dengan serius. "Dan obat antinyeri itu jangan dikonsumsi terlalu lama. Tubuhmu masih dalam masa pemulihan."
Rani mengangguk pelan. "Iya, Dokter."
"Cuma mengangguk?" Rico mengangkat sebelah alisnya. "Biasanya pasien seperti kamu yang paling susah diatur."
"Tenang saja. Aku belum berniat mati lagi."
Kalimat itu membuat Rico menghela napas panjang. Entah kenapa, mendengar Rani mengucapkannya dengan santai justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Sekar yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya akhirnya berdeham pelan.
"Hem."
Rani dan Rico menoleh bersamaan.
"Ada apa?" tanya Rani.
Sekar menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Nggak ada. Aku cuma baru sadar ada orang yang ternyata masih cerewet setelah sepuluh tahun."
Rico yang merasa tersindir langsung menjawab, "Sebagai dokter, itu tugasku."
"Oh iya?" Sekar mengangguk-angguk penuh arti. "Aku kira karena alasan lain."
Seketika Rico melempar tatapan peringatan.
"Diam, Sekar."
Wanita itu justru tertawa.
Rani yang akhirnya mengerti arah pembicaraan mereka hanya menggelengkan kepala malas. Sebelum Sekar sempat melanjutkan godaannya, ia buru-buru menarik lengan sahabatnya itu.
"Sudah, hentikan."
"Loh, aku belum selesai."
"Tapi aku sudah selesai mendengarnya." Rani berdiri sambil menarik Sekar ikut bangun. Senyum cerah kembali menghiasi wajahnya. "Sekarang kita lakukan rencana yang tertunda."
Sekar langsung melupakan Rico. "Maksudmu..."
"Foya-foya, besti."
Mata Sekar membelalak. "Astaga!"
Rani terkekeh kecil. "Aku baru saja kehilangan sepuluh tahun hidupku. Jadi hari ini aku mau menikmati hidup."
"Kalau begitu aku setuju."
Melihat dua wanita itu bersemangat kembali, Rico hanya bisa menggelengkan kepala. Namun ia juga merasa sedikit lega karena warna di wajah Rani perlahan mulai kembali.
***
Rani dan Sekar tiba di sebuah salon ternama di pusat kota. Sebelum menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, Rani memutuskan untuk memperbaiki penampilannya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin masuk ke butik-butik mewah dengan penampilan berantakan lalu menjadi bahan pembicaraan orang.
Beberapa jam kemudian, gunting terakhir berhenti bergerak. Rani perlahan membuka mata dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Rambut panjang yang selama ini dibiarkan apa adanya kini dipotong sebahu dengan warna burgundy gelap. Potongannya sederhana, tetapi memberi kesan tegas dan elegan. Wajahnya memang masih sedikit pucat karena masa pemulihan, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sorot yang selama ini redup perlahan kembali hidup.
Sekar sampai bersiul pelan. "Gila," komentarnya. "Ini benar-benar Rani versi baru."
Rani tersenyum kecil sambil berdiri dari kursinya. "Cukup. Sekarang kita ke mall."
"Manicure-nya nggak sekalian?" tanya salah satu nail artist.
Rani menggeleng. "Lain kali saja."
Ia langsung berjalan menuju kasir. Sekar yang berada di belakangnya hanya terkekeh pelan, sebelum Rani mengeluarkan kartu hitam milik Roy dan menyerahkannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Begitu keluar dari salon dan memasuki area pusat perbelanjaan, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.
Rani menarik napas panjang. Entah kenapa rasanya berbeda, setelah bertahun-tahun, ia berjalan dengan punggung tegak tanpa merasa harus mengecilkan diri di hadapan siapa pun.
"Amnesia membawa berkah," gumamnya pelan sambil melangkah mantap menyusuri deretan butik mewah yang berjajar di sepanjang koridor.
Sekar berjalan di sampingnya sambil sesekali memainkan ponsel.
"Target pertama?" tanyanya.
Rani berhenti di depan sebuah etalase butik mewah. Pandangannya jatuh pada pantulan dirinya di kaca. Sudut bibirnya terangkat perlahan.
"Ganti semuanya."
Sekar menoleh.
"Dari ujung kepala sampai kaki," lanjut Rani tenang. "Kalau mereka melihatku malam ini, aku ingin mereka sadar kalau Rani yang dulu sudah tidak ada."
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏