NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Oliver yang Mulai Mengamati

Kesibukan di kantor pusat Oliver Group berjalan seperti biasa—cepat, menuntut, dan tanpa ampun.

Di lantai teratas gedung pencakar langit yang menghadap langsung ke jantung distrik bisnis kota, Oliver duduk di balik meja kaca besarnya.

 Di hadapannya, beberapa direktur divisi berdiri dengan tubuh tegap namun tegang, menanti ulasan atas laporan kuartalan yang baru saja mereka serahkan.

Biasanya, dalam situasi seperti ini, tatapan mata elang Oliver akan membedah setiap angka dengan ketajaman yang membuat bawahannya berkeringat dingin.

 Namun siang ini, ada sesuatu yang berbeda.

Pria itu memang menatap berkas di tangannya, tetapi jemarinya ketukan pulpennya di atas meja memiliki ritme yang tidak biasa.

 Pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruang rapat.

"Tuan Besar?"

Pak Pelayan yang merangkap sebagai asisten pribadinya di luar urusan kantor, melangkah mendekat setelah para direktur keluar dengan napas lega karena bos mereka tidak meledak marah seperti biasanya.

Oliver meletakkan pulpennya.

Ia menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran, lalu menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

"Bagaimana situasi di mansion hari ini?"

Pak Pelayan tersenyum tipis, gurat kebahagiaan tidak bisa disembunyikan dari wajah tuanya.

"Sangat baik, Tuan Besar. Nyonya Viona sedang berada di halaman belakang bersama Nona Kecil Yoyo dan Goldie. Mereka sedang membuat... kalau tidak salah Nyonya menyebutnya 'istana kardus' untuk Ksatria Emas."

Oliver mendengus kecil, namun sudut bibirnya terangkat membentuk garis samar yang hampir tak terlihat.

"Istana kardus? Dia benar-benar punya banyak ide konyol."

"Tapi ide-ide konyol itulah yang membuat Nona Kecil tertawa sepanjang hari, Tuan," sahut Pak Pelayan dengan nada penuh arti.

"Dan jika saya boleh menambahkan, Nyonya Viona juga memastikan semua pelayan mendapatkan bagian kue bolu karamel yang ia panggang bersama Nona Kecil siang tadi. Suasana di rumah benar-benar berubah total."

Oliver tidak membalas. Ia meraih tablet pribadinya yang terhubung langsung dengan sistem keamanan kamera pengawas (CCTV) di mansion.

Tangannya bergerak lincah, membuka siaran langsung dari kamera yang menyorot halaman belakang.

Di layar tablet yang jernih, Oliver mulai mengamati.

Di atas hamparan rumput hijau yang disiram cahaya matahari siang, Viona tampak sedang sibuk memotong kardus bekas berukuran besar dengan gunting plastik.

Ia mengenakan terusan katun sederhana berwarna biru muda dengan rambut yang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya.

Di sampingnya, Yoyo dengan antusias menempelkan stiker-stiker bintang di dinding kardus, sementara Goldie dengan sabar duduk di dalam kotak yang belum jadi tersebut, menjulurkan lidahnya dengan ekspresi menggemaskan.

Oliver memperbesar gambar pada wajah Viona. Wanita itu sedang tertawa mendengar celotehan Yoyo.

Tawa yang lepas, murni, dan tanpa beban.

Sangat kontras dengan sosok wanita rapuh, gemetar, dan ketakutan yang ia temukan di depan gerbang perumahan mewah keluarga Lin beberapa malam lalu.

Pria itu memperhatikan bagaimana jemari Viona yang kurus bergerak dengan lembut saat mengusap pucuk kepala Yoyo.

Ada aura keibuan yang begitu alami, sebuah kehangatan yang selama dua tahun ini hilang dari hidup putrinya.

Namun, di balik tawa dan ketenangan itu, Oliver yang tajam juga bisa melihat sisa-sisa keletihan di bawah mata jernih Viona.

Wanita itu masih bertarung dengan iblis di dalam jiwanya sendiri, tetapi ia memilih untuk menggunakan sisa energinya demi menerangi kegelapan di jiwa Yoyo.

"Siapa sebenarnya dirimu, Viona?" batin Oliver.

Mengapa seorang wanita yang dihancurkan secara mental oleh mantannya bisa memiliki kekuatan untuk menyembuhkan orang lain dengan begitu mudah?

"Pak Pelayan," panggil Oliver tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

"Ya, Tuan Besar?"

"Batalkan pertemuan makan malam dengan investor dari EuroCorp nanti malam. Minta Wakil CEO untuk menggantikanku," perintah Oliver datar.

Pak Pelayan sedikit terkejut. Pertemuan dengan EuroCorp adalah salah satu agenda penting minggu ini.

"Apakah ada urusan mendesak yang harus Anda hadiri, Tuan?"

"Aku harus pulang lebih awal. Ada dokumen internal yang perlu kuperiksa,"

 jawab Oliver dingin, alasan klasik yang ia gunakan untuk menutupi keinginannya yang mendadak untuk melihat "keajaiban" itu secara langsung, bukan melalui layar digital.

Pukul lima sore, mobil Rolls-Royce milik Oliver sudah memasuki gerbang mansion.

Suasana sore itu sangat tenang. Ketika Oliver melangkah masuk melalui lobi utama, ia tidak langsung menuju lantai tiga seperti biasanya.

Langkah kakinya yang tegap membawanya menuju ruang tengah yang terhubung dengan akses ke taman belakang.

Namun, sebelum ia sampai di pintu kaca, langkahnya terhenti di dekat ruang keluarga.

Di atas karpet tebal berbulu domba di depan perapian yang belum dinyalakan, Viona dan Yoyo tampak sedang duduk bersandar pada tubuh besar Goldie yang tertidur pulas sebagai bantal raksasa.

Sebuah buku cerita bergambar besar terbuka di pangkuan Viona.

"Lalu, setelah monster bayangan itu pergi karena takut pada keberanian sang Putri dan Ksatria Emas, langit di atas kerajaan tidak lagi mendung,"

Viona membacakan cerita dengan suara yang lembut dan berirama, seolah sedang menyanyikan nina bobo.

"Matahari bersinar terang, dan sang Putri tahu, ia tidak akan pernah kesepian lagi karena ksatria setianya akan selalu berjaga di sisi tempat tidurnya."

Yoyo mendengarkan dengan mata yang sudah setengah terpejam, kepalanya bersandar nyaman di bahu Viona.

"Apakah... apakah Ksatria Emas tidak akan pernah pergi, Bibi?"

tanya gadis kecil itu dengan suara parau menahan kantuk.

"Tidak akan pernah," bisik Viona, mengecup dahi Yoyo dengan penuh kasih sayang.

 "Dan Bibi juga tidak akan pergi. Kita semua akan menjaga rumah ini bersama-sama."

Oliver yang berdiri di kegelapan koridor merasakan sebuah hantaman emosional yang halus namun mendalam di dadanya.

Kata-kata "Bibi juga tidak akan pergi" menggema di benaknya.

Itu adalah janji yang manis, namun Oliver menyadari realita di antara mereka: Viona berada di sini karena kontrak satu tahun.

Apa yang akan terjadi pada Yoyo—dan dirinya—ketika kontrak itu berakhir dan wanita ini melangkah keluar dari gerbang rumahnya?

Rasa kepemilikan dan keinginan untuk melindungi yang mendadak muncul di hati Oliver membuatnya sedikit gelisah.

Ia sengaja melangkah dengan suara yang agak keras untuk memberitahu kehadirannya.

"Tap. Tap."

Viona menoleh cepat, matanya sedikit melebar saat melihat Oliver sudah berdiri di sana dengan jas yang disampirkan di lengannya.

Ia segera meletakkan buku cerita dan berniat berdiri agar tidak terlihat lancang, namun Oliver memberikan isyarat tangan agar ia tetap duduk, takut gerakan mendadak itu akan membangunkan Yoyo yang baru saja terlelap sepenuhnya.

Oliver berjalan mendekat, lalu dengan santai duduk di sofa beludru yang terletak tepat di samping karpet tempat Viona berada.

Pria itu menunduk, mengamati putrinya yang kini tidur dengan napas teratur yang damai di pelukan Viona.

"Kau pulang cepat, Oliver,"

 bisik Viona pelan, mencoba memecah keheningan yang mendadak terasa intens.

"Pekerjaanku selesai lebih awal,"

bohong Oliver, matanya beralih dari Yoyo menuju wajah Viona. Dari jarak sedekat ini, di bawah temaram lampu ruang keluarga, Oliver bisa melihat dengan jelas binar mata jernih Viona.

"Bagaimana harimu?"

"Sangat menyenangkan. Yoyo makan siang dengan lahap, dan kami berhasil membangun istana untuk Goldie di luar,"

Viona tersenyum, kilatan kebahagiaan terpancar dari wajahnya.

"Dia anak yang sangat pintar, Oliver. Dia hanya butuh waktu dan kesabaran."

Oliver terdiam selama beberapa saat, tatapannya begitu intens hingga membuat Viona merasa sedikit canggung dan mengalihkan pandangannya ke arah buku cerita.

"Aku membatalkan rapat malam ini karena aku ingin memastikan sesuatu,"

ucap Oliver tiba-tiba, suaranya rendah dan terdengar sangat pribadi.

Viona menoleh kembali, alisnya bertaut bingung.

"Memastikan apa?"

"Memastikan bahwa keputusan impulsifku untuk membawamu ke rumah ini bukan sebuah kesalahan,"

ujar Oliver, tubuhnya condong sedikit ke depan, memperpendek jarak di antara mereka.

"Dan setelah mengamatimu sepanjang hari ini melalui kamera pengawas, dan melihatmu sekarang... aku sadar bahwa kau bukan sekadar ibu tiri kontrak, Viona. Kau adalah potongan teka-teki yang selama ini kucari untuk menyembuhkan keretakan di rumah ini."

Mendengar pengakuan jujur dari pria yang biasanya menyembunyikan rapat-rapat emosinya, Viona merasakan jantungnya berdegup tidak karuan.

Ada rasa dihargai yang begitu besar, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang hinaan keluarga Lin.

"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Oliver," bisik Viona, suaranya sedikit bergetar.

"Karena dengan menyembuhkan Yoyo, saya juga merasa sedang menyembuhkan diri saya sendiri."

Oliver menatap bibir Viona yang melembut saat tersenyum.

Dorongan untuk mengulurkan tangan dan merapikan anak rambut wanita itu sempat melintas di benaknya, namun ia menahannya dengan melipat tangan di depan dada.

Pengamatannya hari ini telah membawanya pada satu kesimpulan baru:

Viona bukan lagi sekadar investasi atau pekerja domestik dalam rencana bisnisnya.

Wanita berjiwa rapuh di depannya ini perlahan-lahan telah menarik perhatian sang tirani dingin dengan cara yang paling halus, membuat Oliver mulai mengamati setiap gerak-gerik, senyuman, dan luka batin Viona dengan rasa ketertarikan yang tidak lagi bisa ia sangkal di bawah nama sebuah kontrak pernikahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!