NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Sejak hari di mana mereka menghabiskan waktu bersama di Central Park, ada sesuatu yang perlahan mulai bergeser. Setidaknya, perubahan besar itu sangat dirasakan oleh seorang Alexander Kingsley.

Biasanya, setiap kali terbangun di pagi hari, hal pertama yang memenuhi isi kepalanya adalah jadwal kuliah yang padat, persiapan rapat organisasi kampus, atau setumpuk urusan rumit mengenai perusahaan keluarga. Namun sekarang, rutinitas itu patah. Hal pertama yang mendadak muncul di benaknya justru adalah wajah seorang gadis.

Gadis itu adalah Aurora Quinn.

Perubahan fokus yang tiba-tiba ini lambat laun mulai membuat Alexander merasa sedikit frustrasi dengan dirinya sendiri.

---

Pagi itu, Alexander sedang duduk di ruang kelas makroekonomi. Di depan kelas, sang dosen tampak sibuk menjelaskan materi yang rumit, sementara mahasiswa lainnya fokus mencatat. Namun, Alexander justru menatap lurus ke arah layar ponselnya yang menyala di atas meja.

Ryan Walker yang duduk tepat di sampingnya menyadari gelagat aneh itu dan melirik curiga.

"Kamu sedang melakukan apa?" tanya Ryan berbisik.

Alexander tersentak kecil, lalu dengan cepat mengunci layar ponselnya. "Nggak melakukan apa-apa," jawab Alexander berkilah.

Ryan mengangkat sebelah alisnya, sama sekali tidak percaya. "Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri, tahu."

"Nggak," sangkal Alexander datar.

"Aku lihat dengan mataku sendiri, Alexander."

"Nggak, Ryan."

Ryan menyipitkan matanya, menganalisis ekspresi sahabatnya sebelum menyeringai nakal. "Ini pasti tentang Aurora, kan?" tebak Ryan tepat sasaran.

Alexander langsung menoleh, menatap Ryan dengan pandangan sedikit terkejut.

Melihat reaksi spontan itu, Ryan langsung tertawa puas. "Nah, ketahuan kan sekarang!"

Alexander menghela napas panjang, merasa terpojok. "Kenapa kamu hobi sekali ikut campur urusanku?" Keluh Alexander kesal.

Ryan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. "Tentu saja karena aku ini sahabatmu."

"Lalu apa hubungannya?" tanya Alexander ketus.

"Hubungannya adalah, aku belum pernah melihat seorang Alexander Kingsley bertingkah sekonyol ini sebelumnya," jawab Ryan jujur.

Alexander mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Bertingkah seperti apa maksudmu?"

Ryan mengangkat tangannya, lalu menunjuk tepat ke arah wajah Alexander. "Seperti orang yang sedang jatuh cinta."

Alexander langsung membeku di tempatnya selama beberapa detik. Ia tertegun mendengar kalimat itu, sebelum akhirnya tertawa kecil, mencoba menganggapnya sebagai lelucon. "Jatuh cinta? Jangan bercanda."

Ryan mengangguk mantap dengan ekspresi serius. "Iya, jatuh cinta. Bahkan tingkat parah, malah."

Alexander memilih untuk tidak membalas lagi ucapan sahabatnya itu. Namun, setelah Ryan kembali memfokuskan perhatiannya ke papan tulis, Alexander justru terdiam dan melamun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mulai memikirkan kemungkinan dari kata-kata Ryan tadi.

---

Sementara itu, di kafe kampus, Aurora sedang menjalani jam kerjanya seperti biasa. Namun hari ini, senyuman manis jauh lebih sering terukir di wajahnya. Perubahan suasana hati yang terlampau cerah itu bahkan sampai disadari oleh Mrs. Cooper, sang supervisor kafe yang terkenal galak.

"Kamu baru saja memenangkan lotre, Aurora?" tanya Mrs. Cooper tiba-tiba saat berjalan melewatinya.

Aurora mengangkat kepalanya dengan bingung. "Hah? Maksudnya bagaimana, Mrs. Cooper?"

"Kamu dari tadi tersenyum terus tanpa alasan sejak mengelap meja," ujar Mrs. Cooper terkekeh.

Aurora langsung dilanda panik dan buru-buru menyembunyikan ekspresinya. "Ah, masa sih? Aku nggak senyum kok!"

Mrs. Cooper tertawa renyah melihat kepanikan karyawannya. "Kamu itu sangat buruk dalam hal berbohong, Aurora."

Setelah Mrs. Cooper pergi, Aurora langsung terdiam di posisinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia tidak bisa mengelak bahwa selama beberapa hari terakhir ini, pikirannya memang sering kali melayang kepada Alexander Kingsley.

Bagaimana cara pria itu memperlakukannya dengan lembut, bagaimana pria itu selalu berhasil memancing tawanya, dan bagaimana sepasang mata abu-abu itu menatapnya dengan penuh perhatian. Tanpa bisa dicegah, kedua pipi Aurora mendadak terasa memanas karena malu.

---

Siang harinya, saat jam istirahat kampus tiba, Alexander kembali melangkah masuk ke dalam kafe. Seperti biasa, kedatangan sang pewaris langsung membuat beberapa mahasiswi yang sedang nongkrong menjadi heboh dan berbisik-bisik.

Namun, Alexander sama sekali tidak mengindahkan sekitar. Sepasang matanya langsung bergerak menyapu seluruh ruangan, mencari satu sosok yang menjadi tujuannya kemari. Dan ia menemukannya.

Aurora tampak sedang sibuk mencatat pesanan di meja lain. Begitu melihat gadis itu, seulas senyuman tipis langsung terbit di wajah tampan Alexander secara alami.

Ryan yang berjalan di belakangnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat pemandangan itu. "Selesai sudah," gumam Ryan dramatis.

Alexander menoleh sekilas. "Apa yang selesai?"

"Kamu benar-benar sudah jatuh cinta dengannya, Alexander," bisik Ryan yakin.

---

Beberapa menit kemudian, Aurora berjalan menghampiri meja yang ditempati oleh Alexander dan Ryan untuk mengambil pesanan.

"Mau memesan apa?" tanya Aurora profesional seraya menyiapkan penanya.

Namun, alih-alih menjawab, Alexander justru hanya diam dan menatap lekat ke arah wajah Aurora. Hal itu seketika membuat Aurora menjadi salah tingkah di tempat.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Aurora setengah berbisik, mencoba menegur.

Alexander tersenyum hangat. "Nggak ada apa-apa kok."

Mendengar jawaban manis itu, Ryan yang sedang meminum air putihnya hampir saja tersedak di kursi. Pasalnya, seumur hidup mengenal Alexander, pria itu tidak pernah tersenyum selembut dan sebanyak ini kepada siapa pun, apalagi kepada seorang wanita.

Aurora berdeham kecil, mencoba mengembalikan fokusnya pada buku catatan. "Jadi, apa pesanannya?"

"Aku pesan Cappuccino," jawab Alexander.

Aurora mengangguk sambil menulis. "Lalu, ada lagi?"

Alexander tampak berpikir sejenak sebelum kembali bersuara. "Lalu tambahkan satu potong cheesecake."

"Baik, pesanannya dicatat," ucap Aurora bersiap untuk berbalik pergi.

Namun, tepat saat Aurora hendak melangkah meninggalkan meja, Alexander tiba-tiba memanggil namanya dengan nada suara yang rendah.

"Aurora."

Aurora menghentikan langkahnya dan menoleh kembali. "Hm? Ada apa lagi?"

"Terima kasih untuk hari Sabtu kemarin, ya," ucap Alexander tulus.

Aurora sempat tertegun, sebelum akhirnya mengulas sebuah senyuman kecil yang sangat manis. "Aku... juga senang hari itu."

Dan bagi Alexander, satu kalimat balasan pendek yang keluar dari bibir Aurora sudah lebih dari cukup untuk membuat suasana hatinya menjadi sangat baik sepanjang hari itu.

---

Malam harinya, Alexander sedang berdiri seorang diri di balkon apartemen mewahnya. Hamparan pemandangan gemerlap lampu kota New York terlihat sangat indah dari ketinggian, namun fokus pikirannya justru melayang jauh.

Seluruh isi kepalanya malam ini sepenuhnya dipenuhi oleh memori tentang Aurora. Bagaimana senyumnya, bagaimana renyah tawanya, bagaimana binar matanya, bahkan cara unik gadis itu saat memanggil namanya.

Alexander tertawa pelan, merutuki dirinya sendiri yang tampak menyedihkan. "Ini benar-benar gila," gumam Alexander berbisik pada angin malam. Ia belum pernah merasakan perasaan menggebu-gebu seperti ini sebelumnya kepada siapa pun. Tidak pernah sekalipun.

Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi pesan baru masuk. Begitu melihat nama pengirimnya, sudut bibir Alexander langsung terangkat secara otomatis.

Pesan itu datang dari Aurora Quinn.

Aurora:

"Sudah makan malam?"

Alexander langsung mengetikkan balasan dengan cepat—bahkan terlalu cepat untuk ukuran seorang pria dingin. Ryan pasti akan mengejeknya habis-habisan jika melihat betapa antusiasnya ia saat ini.

Alexander:

"Sudah."

Hanya butuh beberapa detik bagi Aurora untuk membalas kembali.

Aurora:

"Bagus kalau begitu."

Alexander terus menatap layar ponselnya, menunggu apakah gadis itu akan mengirimkan pesan lagi. Dan dugaannya benar, sebuah pesan baru kembali muncul di layar.

Aurora:

"Jangan terlalu sering minum kopi malam-malam."

Alexander tertawa kecil membaca perhatian tersembunyi itu. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan untuk menggoda Aurora.

Alexander:

"Kenapa? Kamu sedang mengkhawatirkanku sekarang?"

Kali ini, Aurora tidak langsung membalas pesannya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, membuat Alexander sempat berpikir bahwa gadis itu mungkin merasa terganggu. Namun, sebuah pesan baru akhirnya masuk.

Aurora:

"Sedikit."

Deg. Jantung Alexander seketika berdebar dengan sangat kencang hanya karena membaca satu kata pendek itu.

Di bawah siraman cahaya lampu balkon malam itu, Alexander akhirnya memutuskan untuk berhenti menyangkal. Ia berhenti mencari alasan logis, berhenti berpura-pura tidak peduli, dan berhenti menutup mata. Karena kini, ia sudah tahu dengan pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hatinya.

Ia menyukai Aurora Quinn. Perasaan ini bukan lagi sekadar rasa tertarik biasa, bukan juga sekadar rasa penasaran karena Aurora berbeda dari gadis lain. Pria itu menyadari bahwa ia telah benar-benar menjatuhkan hatinya pada gadis sederhana tersebut. Dan perasaan itu terasa semakin tumbuh mendalam di setiap detiknya.

Alexander kembali menatap hamparan langit malam kota New York, lalu mengulas sebuah senyuman yang teramat tulus. Sebuah senyuman hangat yang kini hanya akan muncul setiap kali ia memikirkan satu nama yang telah mengunci hatinya.

Nama itu adalah Aurora Quinn.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!